#DiaryLebaran #10, 100 KM Menuju Neraka

DiaryMahasiswa.com | Siang itu setelah sholat Duhur Adnan seperti biasa melaksanakan kegiatannya, yakni mengajar mengaji. Semenjak kepergian ayahnya dia menghabiskan kebanyakan waktunya di Mushola peninggalan ayahnya. Ibunya sangat bahagia Adnan bisa mengajar anak-anak mengaji di kampungnya. Selepas mengajar ngaji biasanya dia meluangkan waktu bersama Angga, Rendi dan Putri.

Mereka bertiga sangat suka dengan yang namanya maksiat. Mulai dari minum khamr, berjudi dan yang lainnya. Namun Adnan tak henti-hentinya mengingatkan. Karena dia sangat sayang kepada teman-temannya. Terutama dengan Putri.

Setiap hari Minggu Angga dan kedua temannya mengajak Adnan pergi bermain. Tapi Adnan tak pernah bisa ikut karena harus mengajar mengaji anak-anak. Begitupun dengan Ibunya yang sering mengikuti pengajian bersama masyarakat di kampungnya. “Sangat jarang melihat pemuda seusia Adnan mau mengajar ngaji. Kalau Ayahnya masih hidup pasti akan senang melihat anaknya bisa seperti sekarang ini”, Ucap ibunya kepada Adnan.

Siang itu ada salah seorang bapak bernama Samsul yang tengah diperjalnan bersama putrinya, Fani. Sembari jalan mereka mencari Masjid untuk melaksanakan sholat Duhur. Mereka terhenti ketika melihat Mushola dimana tempat Adnan sedang mengajar mengaji. Karena waktu duhur sudah hampir habis, mereka berbegas mengambil wudlu. Namun ketika hendak berwudlu, Fani dan Ayahnya terkejut melihat seorang pemuda mengajar mengaji. “Jarang loh pah, pemuda zaman sekarang seperti dia”, ucap Fani kepada ayahnya.

Selain bertemann dengan Angga, Rendi dan Putri, Adnan sudah lama memiliki rasa suka terhadap Putri. Awalnya dia malu untuk mengungkapkannya. Tapi sore itu dengan yakinnya Adnan mengungkapkan rasa sukanya kepada Putri melalui telefon.

Namun Putri tidak mau menjawab pada waktu itu juga. Dia akan menjawab kalau Adnan ikut berlibur ke pantai bersama teman-temannya. Dengan tegas Adnan mengatakan tidak bisa janji untuk ikut ke pantai, karena Ibunya pasti tidak mengizinkannya. Keesokan harinya ketika dia bertemu dengan Angga dan Rendi. Mereka mengajak lagi untuk pergi ke pantai sembari menceritakan berbagai tempat yang menarik dan menggiurkan yang membuat Adnan ikut tertarik menerima tawaran mereka. Selain itu dia juga ingin mendengar jawaban atas perasaannya kepada Putri.

Setelah sholat Isya, Adnan berusaha meminta izin kepada ibunya. Tapi sang ibu tidak mengizinkan, karena Adnan tidak boleh meninggalkan anak-anak yang mengaji. Selain itu jarak ke pantai juga sangat jauh karena harus seharian untuk menempuhnya. Di hari Minggu pagi Ibunya ada acara arisan bersama teman-temannya.

Dengan berat hati, Adnan nekat meninggalkan anak-anak yang mengaji demi bisa ikut ke pantai bersama teman-temannya. Dia juga dengan sengaja tidak membawa handphone agar tidak di hubungi oleh ibunya. Karena capek dia tertidur ketika di mobil. Dan bermimpi sesuai apa yang sedang terjadi dengan kenyataannya. “Ketika di perjalanan ada seroang laki-laki yang mengendarai motor yang hampir menabrak mobil yang mereka tunggangi. Untungnya Angga yang mengemudi bisa mengatasinya. Meskipun demikian Adnan, Rendi dan Putri ketakutan dan menyalahkan Angga yang kurang hati-hati dalam mengemudi.” Tak lama Adnan terbangung dari tidur karena kaget akan mimpinya itu.

Sedangkan Rendi dan Putri sedang berebut minuman yang ingin dibuka oleh Rendi. Minuman itu merupakan minuman haram. Karena mereka berdua tetap merebutkannya akhirnya Adnan melerainya. 15 menit kemudian apa yang terjadi dalam mimpinya tadi benar-benar terjadi pada mereka. Dengan terkejut Adnan menceritakan kejadian itu tadi sama persis dengan apa yang ada dalam mimpinya. Tapi teman-temannya menganggap remeh dan mentertawakannya.

Sembari istirahat kembali, Adnan selalu mengingat Allah agar dilindungi dalam perjalanan untuk sampai ke pantai. Tak lama dia tertidur lagi dan anehnya bermimpi kembali. “Di depan sana di perempatan mobil yang mereka tunggangi akan menabrak mobil yang sedang menyebrang.” Lagi-lagi dia terbangung karena kaget dengan mimpi yang dia alamai kedua kalinya.

Astagfirullah!! Adnan terkaget dan melompat dari tempat duduk. Dia bertanya kepada teman-temannya, “Apakah kalian tadi membaca petunjuk jalan ?”. Rendi, Putri dan Anggga bertanya, “Membaca apa ?” Adnan menjawab, “Ada rambu-rambu jalan bertuliskan 100 KM menuju Neraka.” Mereka bertiga berkata sembari mentertawakannya, “Kamu jangan ngaco ahh, kamu sepertinya kecapean dan kurang istirahat. Sebaiknya istirahat.” Mereka hanya menganggapnya berhalusinasi.

Namun setelah 50 KM, muncul lagi rambu-rambu kedua bertuliskan “100 KM Menuju Neraka.” Setelah itu Adnan berusaha meyakinkan teman-teman untuk segera menghentikan perjalanan. Karena firasatnya akan ada kejadian buruk yang akan terjadi. Namun mereka tetap menghiraukan apa yang dibicarakan oleh Adnan. Akhirnya dengan terpaksa Adnan meminta untuk turun dari mobil dan kembali ke rumah. Walau perjalanan sudah jauh. Sedangkan teman-temannya  tetap ingin melanjutkan perjalanan.

Setelah Adnan keluar dari mobil dan pergi. Kemudian teman-temannya keluar mobil dan berkata, “Pengecut kamu, sudah setengah perjalanan malah tidak jadi”, ucap Angga. Putri pun yang tadinya bersikap baik tiba-tiba jadi beda sikapnya. Dan yang paling mengejutkan, ternyata Putri sudah jadian dengan Angga. Adnan menghiraukan masalah perasaannya terhadap Putri. Karena dia lebih mementingkan pulang ke rumah dengan selamat. Sedangkan ibunya di rumah sangat khawatir dengan keadaan Adnan.

Sejak pulang firasatnya mengatakan kalau Adnan pergi ke pantai. Ibunya memutuskan untuk menelfon. Tapi setelah ditelfon suara handphon terdengar di kamarnya. Ibunya hanya bisa menangis dan mendoakan agar anaknya selamat.

Malam itu sudah malam. Adnan bingung menggunakan apa untuk pulang ke rumah. Karena tak ada satu pun kendaraan yang lewat di jalan itu. Sekitar pukul 02.00 pagi ada seorang Ustadz yang menghampiri Adnan ditepi jalan. Tak lama sang Ustadz mengajaknya ke Musholat. Selain beribadah disana bisa juga untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 03.00 Adnan pamit untuk melanjutkan perjalanan. Sembari berjalan dia berusaha memberhentikan setiap mobil yang lewat. Kebetulan waktu itu sudah ada beberapa mobil yang lewat. Namun usaha Adnan belum membuahkan hasil untuk mencari tumpangan.

Tak lama ada mobil yang berhasil Adnan hentikan. Yang ada di mobil itu adalah pak Samsul dan Fani. Ketika Fani membukakan jendela mobilnya, dia merasa tidak asing dengan muka Adnan. Dia pun bertanya kepada ayahnya, “Pah, sepertinya Fani pernah melihat pemuda itu ?”, “Iya nak, waktu itu kita melihatnya ketika dia sedang mengajak ngaji di Mushola tempat kita sholat.”,ucap pak Samsul.

Karena tujuannya sama Adnan diijinkan untuk menumpang. Setelah di dalam mobil Adnan sedikit aneh terhadap pak Samsul dan Fani. Mereka terlihat sedih. Adnan pun bertanya, “Kenapa bapak dan Fani sedih seperti itu ?”, dengan tersedu-sedu Fani menjelaskan, “Jadi seperti ini mas, tadi kami melihat ada mobil yang baru saja tabrakan dan terbakar. Semua yang ada di mobil itu meninggal. Saya berusaha membantu tetapi api telah membakar mereka semua.”

Adnan bertanya penasaran, “Apa warna mobil itu pak ?”. “Kalau tidak salah warnanya merah”, ucap pak Samsul. Sembari menangis Adnan mengatakan bahwa mobil itu adalah mobil yang baru saja dia tunggangi. Dan mereka yang terbakar itu teman saya semua.

Dengan mohon, Adnan meminta tolong agar pak Samsul mau mengantarkan Adnan ke tempat kejadian itu. Mereka pun mengiyakan untuk mengantarkannya. Setelah sampai disana Angga dan Rendi sudah tergeletak dengan badan terbakar. Adnan langsung menghampirinya. Memeluk sembari menangis. “Kalian tak percaya tadi siang apa yang aku katakan. Kalau kalian mengikuti untuk pulang pasti semuanya tidak seperti ini.”

Kemudian dia mencari Putri yang tak terlihat di sekitar mereka. Ternyata Putri memang terpisah sedikit jauh dari tempat Angga dan Rendi tergeletak. Ketika menemukan Putri, dia bersyukur karena dia masih hidup dan Adnan berharap Putri masih bisa bertahan untuk pulang. Namun Allah berkehendak lain, disaat itu juga Putri tergeletak meninggal. Sembari memeluknya, Adnan terus mencucurkan air mata.

Singkat cerita setelah itu Adnan pulang ke rumah untuk menemuinya. Sembari meminta maaf kepada ibunya, Adnan langsung nangis dan tersungkur. Mengucapakan syukur kepada Allah Swt, karena dengan rahmat-Nya masih bisa selamat.

Kepada siapa saja yang pecandu maksiat, kembalilah kepada jalan yang benar. Selagi masih ada waktu di dunia ini. Bertaubatlah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Karena langkah-langkah yang ternodai dengan dosa, mendekatkan kita dengan neraka Nya.

Ya Allah, berikanlah rahmat Mu kepada kami dan jadikanlah akhir hidup kami dalam keadaan husnul khotimah, aamiin.

***
Kisah di atas merupakan kisah nyata yang aku ambil dari film yang waktu itu aku lihat di TV pagi hari. Intinya sama saja, namun alur cerita dan nama tokohnya sudah aku ganti.

10 Responses for #DiaryLebaran #10, 100 KM Menuju Neraka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *