#BerburuTakjil, Kampoeng Ramadhan Yogyakarta

DiaryMahasiswaΒ | Hallo, SDM (Sahabat Diary Mahasiswa), kalian yang sedang duduk ataupun berdiri, dan baca tulisanku ini semoga sehat selalu ya. Doa dan cita-citanya semoga tercapai. aamiin..

Oh, ya, kali ini aku masih menceritakan edisi #BerburuTakjil. Tapi kali ini gak ke masjid dulu, aku keliling ke pasar ramadhan. Tujuan utamanya sih mau ke Kampoeng Ramadhan Jogokariyan Yogyakarta.Β Tapi, sebelumnya aku pergi dulu ke pasar sore kampung ramadhan nitikan.

Teman-teman tahu kan pasar ramadhan? Aku rasa sudah pada tahu semua, karena hampir setiap kota atau tempat selalu ada pasar ramadhan yang isinya banyak orang jualan. Baik pedagang lama, ataupun baru.

Nah, dipasar ramadhan di Yogyakarta ini selain jual makanan ada juga pakaian, baik perempuan ataupun laki-laki ada. Yang jelas pakaian muslim ya.

Sebelum lanjut baca tentang pasar ramadhan, kalian boleh kok baca-baca #DiaryRamadhanΒ aku tahun kemarin, bisa dibaca dibawah ini ya πŸ™‚
.
#DiaryRamadhan Tahun 2016
  1. Diary Ramadhan #1, Shalat Tarawih di Masjid Al-Munir
  2. Diary Ramadhan #2, Terimakasih Atas Pinjaman Payungnya Bu…
  3. Diary Ramadhan #3, Makan Sahur Oseng Kangkung ala Anak Kost
  4. Diary Ramadhan #4, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Masjid Kauman Yogyakarta, Namun Kurang Beruntung
  5. Diary Ramadhan #5, Ngopi di Lembayung
  6. Diary Ramadhan #6, Makan Sahur Terong Dicabein ala Anak Kost
  7. Diary Ramadhan #7, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Kampung Ramadhan
  8. Diary Ramadhan #8, Tidak Kebagian Takjil
  9. Diary Ramadhan #9, Teringat Ketika Membangunkan Sahur
  10. Diary Ramadhan #10, Pertama Kalinya Keluar Mencari Makan Sahur
  11. Diary Ramadhan #11, Belajar Memahami SKS, Hindari dan Jauhi
  12. Diary Ramadhan #12, Buka Puasa di Kedai Cadudu
  13. Diary Ramadhan #13, Teringat Masa Kecil Yang Menyenangkan
  14. Diary Ramadhan #14, Buka Puasa Bareng Keluarga Teknik Informatika
  15. Diary Ramadhan #15, Dua Malam Tak Sempat Tidur
  16. Diary Ramadhan #16, Ngabuburit Bareng Vebi Keliling Malioboro
  17. Diary Ramadhan #17, Tokai Bangkit
  18. Diary Ramadhan #18, Bukber Makan Bakso Jumbo
  19. Diary Ramadhan #19, Ngabuburit Sembari Menikmati Senja di Candi Ijo
  20. Diary Ramadhan #20, Alasan Mengapa Jamaah Sholat Tarawih Semakin Sedikit
  21. Diary Ramadhan #21, PPT (Para Pencari Takjil) | Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
  22. Diary Ramadhan #22, Kurangnya Persiapan Seminar KP
  23. Diary Ramadhan #23, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Masjid Islamic Center Ahmad Dahlan
  24. Diary Ramadhan #24, Gagal Mudik di Akhir Bulan Juni
  25. Diary Ramadhan #25, Kado Terindah Sebelum Mudik (Bukber di Ayam Panggang Mbah Dinem-Bantul)
  26. Diary Ramadhan #26, Mudik ke Kampung Halaman
  27. Diary Ramadhan #27, Sahur Pertamaku di Puskesmas
  28. Diary Ramadhan #28, Masih Merasakan Sahur di Puskesmas
  29. Diary Ramadhan #29, Alhamdulilah Kakek Sudah Bisa Pulang ke Rumah
  30. Diary Ramadhan #30, Menikmati Malam Takbir di Rumah

activate javascript activate javascript activate javascript

Bisa juga baca #DiaryLebaran yang aku tulis tahun kemarin. Gak maksa kok, kalau ada waktu lebih mau baca alhamdulilah, gak juga sudah terima kasih banget. Karena kalian yang baca tulisan ini, apalagi yang memberikan komentar. Membuatku semangat lagi untuk berbagi dan menginspirasi lewat tulisan.

activate javascript activate javascript activate javascript

Di sore itu aku mendatangi 2 pasar ramadhan di Yogyakarta. Seperti biasa aku ajak Maman, sahabatku. Bukan kang Maman pemilik saungmaman(.)com ya..hehe.Pertama aku sengaja pergi ke pasar sore ramadhan kampung nitikan. Nitikan ini nama tempat ya, jadi pasarnya berada di sepanang jalan nitikan. Sebelum lanjut sudah ada gambaran kan, tentang pasarnya gimana?

* * *


PASAR SORE RAMADHAN KAMPUNG NITIKAN
Pasar sore ramadhan ini tempatnya tidak jauh dari rumah sakit Yogyakarta, dekat juga dengan kampus 4 dan 5 UAD (Universitas Ahmad Dahlan) dan untuk sampe ke masjid Islamic Center UAD juga gak begitu jauh. Kalau menggunakan kendaraan bermotor 5 menit sampai. Sebelum ke pasar ramadhan aku juga sering ke masjid UAD.

Bagi kalian yang belum tahu, bisa dibaca ditulisanku sebelumnya tentangΒ #BerburuTakjil. Baca disini :

#BerburuTakjil, 3 kali Berturut-turut di Masjid Islamic Center UAD (Universitas Ahmad Dahlan)

#BerburuTakjil, Pengajian Kebangsaan bersama Jendral TNI Gatot Nurmantyo

Di pasar ramadhan nitikan ini aku gak turun, alias menelusuri sepanjang jalan menggunakan motor. Meskipun ramai, tapi kami tetap sabar. Sebenarnya lebih mudah jalan, naik motor pun seperti jalan karena tak bisa cepat.

Aku hanya mengabadikan foto saja tak beli apapun, karena sudah ada rencana sama Maman untuk beli makanan di pasar ramadhan Jogokariyan saja.

Di nitikan ini aku amati tak seramai tahun kemarin. Selain para pedagang baru, sebenarnya di nitikan juga sudah banyak yang jualan. Mulai dari makanan, seperti bakso, siomay, makanan padang dan yang lainnya. Ada juga tempat cukup, dua halte trans Jogja. Ada juga JNE. Di nitikan sendiri merupakan tempat kantor pusat JNE pusat. Jadi cukup besar juga tempatnya.

Aku rasa tak bingung kalau cari makan disiang hari saat tak berpuasa. Aku sendiri sering cari makan ke daerah nitikan, kebetulan tak jauh dari kos jaraknya. Seringnya beli nasi orak-arik ataupun magelangan. Kalian pernah coba?

Setiap jalan penuh dengan orang yang jualan, mulai dari minuman dingin, es pisang ijo dan masih banyak lagi yang lainnya. Cocok banget buat kalian yang tak masak untuk berbuka, selain cari ke masjid bisa belanja ke pasar ramadhan.

Awalnya aku mengendarai motor dan fokus untuk foto. Tapi ternyata susah, hasilnya agak buram karena susah sembari bawa motor. Padahal foto dibawah merupakan pedagang yang jual jajanan lawas, alias lama.
Biasanya jajanan lawas itu suka bikin kangen masa kecil, dimana masa itu masa puasa yang paling aku kangenin saat ini.
Untuk foto selanjutnya aku minta tolong Maman yang duduk dibelakang. Lumayan lah gak goyang dan cukup terlihat jelas hasilnya. Semakin sore semakin banyak yang datang, baik berhenti untuk beli ataupun sekedar lewat saja.
Selain yang jualan, di sepanjang jalan nitikan juga ada masjid dan mushola. Untuk masjidnya cukup besar dan sering ngadain kegiatan juga. Seperti masjid yang aku foto, kebetulan fokus ke panggungnya saja.
Di nitikan ini juga ada kedai kopi yang namanya DialogKopi. Tepat sebelah tempat makan Iga Bakar. Mungkin, kalau besok atau kapan kalian melewati jalan nitikan bisa sekalian mampir ke kedai kopinya.
Itu aja sih, sebenarnya banyak yang aku abadikan fotonya. Tapi banyak yang sama dan aku rasa kalian tahu lah seperti apa ramainya pasar ramadhan.
* * *

KAMPOENG RAMADHAN JOGOKARIYAN
Sebelum aku ceritakan dan kasih hasil foto di kampoeng ramadhan jogokariyan, aku mau tanya dulu.

Kalian sudah pernah dengan kata “Jogokariyan” ?

Kalau sudah berarti beruntung dan alhamdulilah, kalau belum aku kasih tahu singkatnya saja ya. Jogokariyan itu nama kampung dan di kampung itulah ada masjid yang namanya Masjid Jogokariyan.
pict : masjidjogokariyan.com

Masjid Jogokariyan ini berawal dari sebuah langgar kecil di Kampung Pinggiran Selatan Yogyakarta, Masjid Jogokariyan terus berusaha membangun Ummat dan Mensejahterakan Masyarakat.

Logo Masjid Jogokariyan terdiri dari tiga bahasa. Arab, Indonesia, dan Jawa. Ini adalah wujud dari semangat kami, untuk menjadi Muslim yang salih seutuhnya tanpa kehilangan akar budaya.

Masjid Jogokariyan berdiri di tengah-tengah kampung Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta. Di kampung yang terdiri dari 4 RW inilah, kami berkhidmah. (masjidjogokariyan.com).

Masjid ini bagiku cukup makmur, dimana hampir setiap bulannya diadakan pengajian seperti tablig akbar. Yang ngisinya juga para ustadz ternama. Seperti Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Felix Y. Siauw, Ustadz Arifin Ilham, dan masih banyak lagi.

Jika posisi saat ini masjid Jogokariyan dilihat dari atas akan tampak seperti foto dibawah ini.
pict : fanspage Masjid Jogokariyan Yogyakarta

* * *

2.500 PORSI SETIAP HARI
Setiap bulan ramadhan, masjid ini menyediakan 2.500 porsi setiap harinya. Jadi bagi siapa saja bisa datang kesini dan rasakan nikmatnya berbuka puasa dengan ribuan jamaah lainnya.

Selain itu, masjid Jogokariyan membuka peluang bagi siapa saja yang mau berinfak atau sedekah lewat menu untuk berbuka. Setiap satu porsinya Rp.8000,- Jadi setiap bulan ramadhan, masjid ini kurang lebih menghabiskan dana Rp.200.000.000,- (empat ratus juga rupiah).

Sedangkap di UGM sendiri kalau tidak salah, waktu itu aku pernah melihat ketika hendak berwudhu. Menghabiskan dana selama bulan Ramadhan sekitar Rp.400.000.000,- (empat ratus juga rupiah).

Foto diatas tepat depan masjid jogokariyan terdapat kain yang menjulur panjang. Kebetulan di tahun ini berwarna merah dan putih. Biasanya tahun-tahun sebelumnya berwarna merah, kuning biru dan lainnya. Yang jelas lebih berwarna, untuk tahun ini sesuai dengan bulan dimana hari lahirnya pancasila.
Sepanjang jalan jogokariyan juga dijadikan pasar kampoeng ramadhan jogokariyan. Dan ini sudah ke-13 kalinya kampung ramadhan jogokariyan di adakan.
Tiap tahun tentu ada perbedaan, terutama yang aku alamai di tahun ini, yaitu adanya dua hotel samping kanan dan kiri ketika masuk gapura yang bertuliskan “Kampoeng Ramadhan Jogokariyan”.Di sebelah kirinya menuju jogokariyan terdapat hotel Lynn.
Mereka juga tak mau kalah dengan para penjual makanan lainnya. Ikut serta juga jualan, tepat di depan hotenya. Bisa kalian lihat dibawah ini.
Begitu juga depan hotel Burza, terdapat banyak para penjual makanan. Sore itu tepat ketika aku foto-foto, tak lama suara adzan berkumandang, itu artinya kami harus bergegas untuk berbuka puasa. Kebetulan tepat dengan tempat kami berdiri ada yang jual minuman. Sore itu kami beli klamud nongko. Kalian pernah coba?
Tepat disamping kananku terdapat kedai kopi seperti di nitikan tadi. Kalau yang ini namanya balai kopi Jogokariyan. Bisa mampir kesini kalau kalian maen ke Jogja ya. Dan jangan lupa untuk mampir ke Jogokariyan, meskipun tak sedang bulan Ramadhan.
Setelah membatalkan puasa kami lanjut jalan untuk melihat kampoeng ramadhan hingga selesai. Sebenarnya gak ada yang beda, karena aku sering kesini. Sore itu aku datang lagi ke kampoeng ramadhan demi kalian semua. Biar kalian bisa baca dan melihat seperti apa suasana kampoeng ramadhan jogokariyan ini.
Sembari melanjutkan perjalanan, Maman teringat dengan takoyaki. Dimana kalau ke kampoeng ramadhan jogokariyan lagi aku diajak beli takoyaki. Tujuannya agar aku bisa mencicipi rasanya seperti apa. Jujur, baru makan sore itu.
Sembari nunggu matangnya takoyaki, tak lupa aku mengabadikannya juga. Untuk masalah harga disini aku rasa hampir sama yakni Rp.10.000,- satu kotaknya, isinya 4 buah takoyaki lengkap dengan bumbu serta sumpitnya.
Sebelah kanan dimana aku beli takoyaki ada yang jualan sosis. Tapi aku belum tertarik, sudah sering makan sosisnya juga. Tak hanya satu atau dua orang saja yang jualan takoyaki, tapi ada lebih dari 3. Baik para penjual baru ataupun lama yang memang sudah mempunyai stand depan rumahnya sendiri.
Ayam geprek langgananku ketika dibulan biasa pun tak kalah larisnya. Bahkan sebelum isya sering sekali habis. Rezeki ramadhan, alhamdulilah.
Para pedagang sedang pada khusyu membatalkan puasa, ada yang sedang minum, makan dan ada juga yang masih melayani para pembeli yang berdatangan.
Foto dibawah ini yang bertulisakan Masjid Jogkokariyan itu agak susah aku dapatkan fotonya. Karena samping kanan dan kiri jalan, jadi banyak sekali yang lewat, ibaratnya itu perempatan, namun kecil jalannya.
Suasana depan masjid juga sudah cukup kosong, karena sebagian jamaahnya sudah bubar dan beberapa diantaranya membereskan bekas berbuka.
Dekat masjid Jogokariyan juga ada juga yang jualan pakaian muslim, baik untuk perempuan, laki-laki ataupun anak-anak tersedia. Tempat jualannya tepat di lantai satu Omah Dakwah Pro-U Media.
Sedangkan yang jaraknya lebih dekat dengan masjid Jogokariyan ada gerai Pro-You, tempat dimana buku-buku terbitan Pro-U Media dijual. Selain buku ada juga pakaian muslim lengkap, mulai dari peci, baju koko, kaos dakwah dan ada juga Al-Qur’an. Dulu aku pernah beli Al-Qur’an juga.
Disaat ramadhan tak hanya gerainya saja yang buka, di depan halamannya banyak yang jualan, seperti yang terlihat pada foto dibawah ini, ada ayam keprok Jogokariyan. Biasanya kan ayam geprek, kalau ini ayam keprok.
Kalau dilihat dari suasana siang maka kalian akan lebih jelas melihat Omah Dakwah Pro-U Media. Coba kalian lihat dibawah ini.
pict : google maps
pict : kiblat.net
Selain itu ada juga stand beard brand atau lebih dikenal dengan susu beruang. Aku sendiri sangat suka dengan susu beruang. Meskipun pada awalnya gak suka karena tak ada rasanya, namun saat ini malah ketagihan, bahkan sering beli sampe 2-3 kaleng dalam sekali beli.
Aku lebih suka dimakan dalam keadaan dingin, kalian suka juga ?
Sebelum aku pulang, aku melanjutkan jalan ke arah para penjual di kampoeng ramadhan. Karena waktu itu sudah nanggung mau sampai ujung, jadi aku lanjutin saja.
Selain itu, banyak juga yang jualan es kelapa. Mulai dari es kelapa dengan gula pasir, dan ada juga dengan gula jawa.
Terakhir aku mampir ke stand jualan es buah temanku. Lebih tepatnya adek kelasku di kampus. Ada Izudin Al, Siswanto, Satria dan kadang dibantu juga oleh Yanal teman satu kostnya. Mereka mulai jualan sedari pukul 16.00 hingga berbuka.
Untuk satu porsi es buah dijual seharga Rp.4.000,- dan istimewanya setiap beli 5 gratis 1. Jadi dapet 6 es buah, hanya cukup bayar Rp.20.000,- saja. Murah kan, lebih cocok ajak teman-teman untuk belinya.
Aku sendiri pernah mampir, hanya ingin melihat dan duduk. Kebetulan tersisa 4 es buah lagi. Dengan senangnya semuanya dikasihkan sama aku dan Maman. Kami masing-masing meminumnya satu-satu. Sisanya aku bagikan ke teman-teman kost.
* * *

TARLING (Taraweh Keliling)

Oh, ya. Sekalian aku ceritakan pengalamanku ketika taraweh keliling ya. Biasanya dari tahun ketahun, selain #BerburuTakjilΒ aku juga suka #Tarling. Mulai dari masjid yang jaraknya dekat kost, dan masjid yang jaraknya lumayan jauh harus menggunakan motor.Di tahun ini aku ceritakan sedikit tentang taraweh di masjid Jogokariyan saja dulu ya. Kebetulan ini sudah cukup lama, alias awal-awal Ramadhan 2017 ini.

Tepatnya di tanggal 30 Mei 2017. Dimana sahalat tarawehnya di imamin oleh Muzammil Hasballah (Architect & Qur’an Reciter).

Jujur, awalnya aku dan Sutik, milih taraweh di masjid itu bukan karena adanya Muzamill Hasballah. Meskipun sering juga taraweh di masjid Jogokariyan. Tapi waktu itu kami benar-benar tak tahu kalau pada malam itu ada Muzammil.
Ceritanya ketika sore aku #BerburuTakjil di Masjid Islamic Center UAD (Universitas Ahmad Dahlan). Malamnya aku diajak Sutik untuk #Tarling. Kami berangkat ke masjid Jogokariyan. Awalnya kaget karena sudah penuh.
Kami berdua naik ke lantai dua dan tiga. Tapi hasilnya nihil. Alias tak kebagian tempat. Tak lama bertemulah dengan mas Yanal. Teman satu kampus, tapi dia sudah lulus karena memang duluan dia kuliahnya. Tak hanya dihalaman dan dalam masjid saja yang penuh. Tapi dijalan sekalipun penuh.
Jalan sepanjang jogokariyan ditutup, karena khusus untuk taraweh. Aku dan mas Yanal nemu koran, kami bergegas cari tempat untuk bisa duduk. Kurang lebih 5 menit lamanya sampe keringetan aku baru bisa dapet tempat duduk, itupun depan halaman rumah orang, tepat dibelakangku tempar parkir mobinya. Tapi alhamdulilah pemilik rumah memberikan pinjam tikar kepada kami.
Sutik sendiri nyerah dan pulang, nanti kalau sudah taraweh aku suruh kabarin dia untuk di jemput. Memang beruntung banget bagiku bisa taraweh disaat imam tarawehnya yang super keren ini. Sering dengerin ngajinya tapi cuma lewat youtube, dan malam itu tanpa diagendakan Allah menemukanku dengan Muzamill.
Meskipun tak bisa bertatap muka secara langsung, apalagi bisa berjabat tangan. Tapi aku sudah sangat senang dan bersyukur. Malam itu aku tak banyak mengabadikan foto, karena susah dan penuh banget. Banyak orang juga, mungkin sampe puluhan yang berdiri karena tak kebagian tempat. Aku juga cuma bisa lihat Muzamill dari layar monitor yang tersedia diluar masjid saja.
Oh, ya. Kalau kalian mau lihat suasana taraweh pada malam itu, bisa diilhat dibawah ini. Foto di bawah ini aku ambil dari fanspgaenya Masjid Jogokariyan Yogyakarta.Β Silahkan teman-teman like dan kunjungi juga websitenya di MasjidJogokariyan.com

KAMPOENG RAMADHAN JOGOKARIYAN
Suasana Sholat Isya dan Tarawih bersama Muzammil Hasballah di Masjid Jogokariyan Yogyakarta Selasa, 30 Mei 2017.
“MasyaAllah Ramadhan malam 30 Mei 2017 seperti malam ramadhan di Gaza, dimana masjid masjid penuh hingga ke jalan. AllahuAkbar!”
“wah teringat suasana 212 kemarin, khusyuk dengan suara imam merdu hingga sholat dijalan..”
“ini seperti suasana Sholat ied mbludak hingga ke jalan-jalan..”
Islam ini akan bangkit di Indonesia jika masjid2kita penuhi dengan ibadah dan aktivitas dakwah, mari ajak keluarga dan sabahat-sahabat untuk selalu berjamaah ke masjid.
β€œHanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18)






Itulah keseruan #BerburuTakjil di kampung nitikan, kampoeng ramadhan Jogokariyan dan #Tarling di masjid Jogokariyan. Gimana kaian tertarik untuk mengunjungi Jogja kembali.

Kapan ke Jogokariyan lagi?

112 Responses for #BerburuTakjil, Kampoeng Ramadhan Yogyakarta

  • Aku termasuk mahasiswa yang sering nyari buka gratisan di masjid, tiap hari bisa ganti masjid, tapi untuk masjid Jogokariyan belum pernah kesana, sepertinya harus kesini, denger2 makanannya tiap hari ganti ta

    • Oh, yah? Tos dulu mas. Kita sama. Aku juga gitu, selain cari takjil, biasanya keliling masjid juga disaat taraweh.

      Di Jogokariyan sendiri sama ko, tiap harinya ganti menu kalau tidak salah..

  • wah asyik amat berburu takjil terus,
    pinter deh dibuat serial tulisannya..

    aku tertarik dengan ibu yang jual makanan lawas, ada apa aja di situ?

    • Hehe.. Alhamdulilah, kegiatan rutin setiap sorenya πŸ™‚
      Terima kasih ya, silahkan mampir ditulisan lainnya, jangan sungkan. Kalau mau takjil, silahkan ambil πŸ™‚

      Sama, aku juga tertarik ko. Kalau gak salah ada makanan seperti pepes teri, rica ayam, dan yang lainnya yang tak kebaca tulisannya. Agak blur soalnya fotonya..hehe..

      Kebetulan juga sore itu aku gak beli apa-apa kalau di pasar Nitikan..

  • baru denger ada kampung ramadhan juga di nitikan.
    kalau yang jogokariyan udah lumayan sering denger, ya walaupun belum pernah nyicipi menu berbuka disana juga sih hehe. menunya komplit mana mas, nitikan apa jogokariyan?

    omah dakwah dari pro-u bagus e. ada kesan etnik-etnik nya gitu.
    itu gerai aja apa sama kantor pusatnya mas andi?

    • Oh, gitu. Kebetulan deh aku ceritakan, setidaknya ini bisa jadi referensi sekaligus informasi buat mas Wisnu.

      Tentu, Jogokariyan itu sering dengar dan aku rasa banyak orang yang tahu juga. Aku rasa lebih komplit di Jogokariyan deh mas, daripada penasaran semoga dilain kesempatan disaat ramadhan bisa mencicipinya langsung ya, Mas πŸ™‚

      Kalau kantor pusatnya setahuku di Omah Dakwah Pro-U Medianya itu mas. Kalau yang di gerai setahuku itu cuma jualan buku serta pakaiannya aja..

      Kapan-kapan main ke situ mas, siapa tahu mau beli buku atau yang lainnya? πŸ˜€

  • kalau saya suka banget bang sama susu beruang, karna harganya cukup mahal menurut kantong. jadi, saya belinya kalau sedang lelah banget.

    itu yang solat tarawih banyak banget yaa.
    mudah-mudahan jama'ahnya ngak berkurang karna sindrom baju lebaran.

    *aamiin

    • Setuju, memang sih agak mahal ya, Mas. Terutama bagi anak kost..hihi
      Tapi ketika diminum disaat lelah atau capek, itu rasanya kerasa banget ke badan bagiku. Terlebih kalau aku sedang gak enak badan, biasanya suka minum susu beruang mas..

      Aamiin.. Semoga mas, aku kangen suasana shalat taraweh seperti itu. Semoga tak hanya di saat bulan ramadhan aja ya, Mas..

  • Maman diajak tapi gak eksis di foto yah,,,, berarti sama si maman itu best friend yah mang…
    Kalau ditempatku ada juga sih pasar ramdhan,, tapi tak sermai seperti di yogya,, tapi bagus juga sih pasar ramadhan buat mereka para wirausaha,, omset jadi naik, tambah2 buat beli baju lebaran,, ditempatku saja penjual kompyor bisa kantongi Rp. 900 ribu dalam sehari,,, Jadi kalau liat pasar ramdahan seperti diatas,, aku lebih tertarik ke sisi bisnisnya,,, orangnya banyak, kesempatan jualan kita dibeli semakin besar,,, Ramdhan memang berkah…

    • Jadi gini kang Ahmad Zaelani, Maman itu agak malu untuk foto, dan narsis kaya aku gitu..hehe Jadi ya, wajar lah kalau fotonya jarang di post. Memang gak ada, bukan gak di post..he

      Betul, wah itu keren bisa ngantongi segit ya dalam sehari. Gimana kalau sampe satu bulan. Tinggal kalikan aja ya, Mas..hehe

      Ramadhan berkah, ramadhan mubarak. Peluang bisnisnya ada, peluang pahalanya apalagi ya, Mas, buanyakkk banget …

  • Baca ini pas belum waktunya buka puasa, terus lihat foto-foto takjilnyaa hahaha…menggoda selera, ada jajanan lawas pula πŸ™‚ Dan, tarawih di Jogokariyan bisa luber kayak gitu! Subhanallah…

    • Haha.. tak masalah sebenarnya, karena bagi yang puasa sudah tertamengi niat yang kaut. Jadi lihat begituan mah, pasti pengen πŸ˜€ πŸ˜€

      Sabar teh, nunggu aja bentar lagi buka kan πŸ™‚

      Subhanallah banget, luber seperti air aja ya..he

  • Pasar Ramadhan ia ada deket rumah malahan, yang dijual ya sepertinya sama saja, aneka takjil, gulai, kue, pakaian, sendal sepatu bahkan ada arena bermain untuk anak-anak

    Wah senang ya bisa imaman dg Muzamill Hasballah. Ya jarang-jarang bisa hehe, sama Maya juga suka lihat lewat youtube
    yang pasti bukan suatu kebenaran tapi Allah sdh mengaturnya

    ok salam slmt menantikan saat berbuka puasanya lk satu jam lagi nih

    • Betul, aku rasa juga gitu. Hampir gak beda jauh apa yang dijual di pasar ramadhan. Yang membedakan hanya suasana dan tempatnya saja πŸ™‚

      Alhamdulilah teh, senang banget. Jarang-jarang juga sih, dan ini baru pertama kalinya. Betul, sesagalanya sudah ada yang mengatur, seperti halnya jodoh, rezeki dan mati..

      Aamiin.. Sudah buka, dan ini aku bales di saat setelah subuh. Udah setengah delapan malah, saatnya Dhuha ini..

  • Mun aya awewe ngajak buru-buru merit tonk di tolak kang, over keun we ka sayah moal nolak lah hahaha…

    Indahnya Ramadan ya kang, kalau dari awal sampai akhir masjid2 selalu penuh dengan jamah yang beribadah….

    • Haha..wah wah, kang Maman siap nangkap ieu nya.. Siap dikabaran.. πŸ˜€

      Alhamdulialh, ramadhan mubarak kang..
      aamiin, semgoa selalu penuh, terutama disaat tidak bulan ramadhan juga..

        • Tapi dari sekarang juga aku ngamati sudah semakin mengurang kang, termasuk masjid dekat kostku. Semalam taraweh aja cuma tiga baris, berbeda dari awal-awal yang penuh. Bahkan, berangkat habis adzan terkadang tak kebagian tempat πŸ™‚

  • Ternyata disana ada pula kampung ramadhan toh, pasti ramai dan padat mas..

    Liat takoyaki jadi kepingin he..he..! Oh ya harganya sama saja seperti disini Rp.10.000 4/pcs..

    Tapi saya liat es buah disana cukup murah, kalau ditangerang sudah Rp.10.000 satu bungkusnya..

    Ternyata disana masih ada tarling yang dulu sempat populer.

    • Betul mas, terutama diawal dan diakhir-akhir gini, setiap sorenya selalu ramai dan penuh orang berdatangan. Dan, untuk lewat aja susah banget..

      Ayo beli mas. Oh, ternyata sama ya, rata-rata memang segitu harganya..

      Wah di Tangerang sih udah gak asing lagi mas, apalagi membandingkannya dengan di Yogyakarta.

      Kurang tahu kalau ada tidaknya Tarling di Jogja mas, ini mah hanya bahasaku aja ketika keliling ke masjid-masjid untuk taraweh..

      Dan, di daerahku sendiri biasanya masih ada budaya tarling mas..

  • Berlanjut terus nih mas perburuan takjil nya. Btw, tiap aku baca tulisan mas andi ni aku jadi ingat momen2 aku awal kuliah duku di jogja tahun 2011 hahahaha 😁😁

    • Berlanjut mas, masih banyak draf tentang #BerburuTakjil nih, mungkin aja gak cukup kalau lihat waktunya. Soalnya tahun ini gak selaluasa tahun kemarin untuk nulisnya. Jadi belum bisa nulis #DiaryRamadhan lagi..

      Oh, gitu. Sekarang dimana gitu mas? Masih di Jogja atau udah lulus?

  • Belom pernah dneger malahs ebelumnya tentang jogokarian, baik masjid atau daerah/nama jalan/nama kafenya. ke jogja juga tujuannya ke wisata pantai ama bukitnya doang.. hihi

    cara meramaikan/memakmurkan mesjid memang beragam ya.. dengan mendatangkan tokoh terkenal atau disegani salah satunya. dan bener saja, itu rame beeeettt ampe ke jalan2nya macam ada acara akbar atau salat Id.

    Mamannya kenapa dah buka puasa ngidam takoyaki.. xD dan rezeki juga mengunjungi adik tingkat dapat es buah. di makan ama takoyaki, enak ituh.. keputusan Maman tepat berarti.

    Kadang kumau juga pergi ke tiap masjid untuk berbuka, tapi lagi di rumah di kampung, masjidnya gada ngadain buka bersama, dan lebih enak juga buka di rumah sih.

    • Nah, untung mas Haw baca kesini. Jadi tahu kan, setidaknya ini tulisan jadi referensi sekaligus informasi buat mas Haw πŸ™‚

      Memang sih kalau ke Jogja selain pantai, tentu bukitnya yang terkenal. Tapi tak ada salahnya juga mengatahui wisata religinya. Aku sendiri kalau ke setiap kota, suka penasaran sama masjid-masjidnya mas, terutama masjid agung atau masjid pusat kotanya..

      Betul mas, kalau shalat Id sendiri biasanya setiap masjid selalu ramai. Terutama masjid dekat kostku, sampe gak muat. Jadinya pindah shalat di lapangan. Sering sekali aku gak kebagian tempat juga meskipun sudah di lapangan. Alhasil di jalanan dengan alas tikar..he

      Betul. Aku sendiri semenjak nyoba takoyaki jadi suka dan pengen lagi..hehe

      Setuju mas, lebih baik buka dirumah. Aku juga gitu kalau lagi di kampung. Ya, sama seperti mas Haw, masjid di daerahku ketika buka puasa gak seperti di Yogyakarta.

      Ada sih bagi-bagi takjil atau makanan. Itu pun mulainya dari malam Nuzulul Qur'an, dan yang membedakannya lagi dibaginya setelah shalat taraweh. Jadi bukan untuk menu berbuka puasa.

  • weh lengkap banget acara ngabuburitnya , semua kena jepret kamera sampai sampai ada juga tuh sosis bakar nongol di sono…wah pokonya rame banget …

  • Wah keren banget. Sangat teratur dan terencana dgn baik ya kegiatan ramadannya. Pernah sekali ke masjid Jogokariyan itu, aura kekeluargaannya sangat terasa.

  • Lihat photo-poto yang tersusun rapi di atas jadi pengin liburan lagi ke jogja sama teman2., ya siapa disana ketemu sama mas @Andi terus diajak keliling ke kampung Jogokariyan.., hehe

    beberapa tahun yang lalu, aku sering keliling di daerah jogja, walau tempatnya jauh dari tempat dimana aku tinggal, tapi tiap satu bulan aku datang dua kali di kota jogja ini, ya rombongan sama teman2 buat nyewa angkutan.

    • Ayo mas, ke Jogja..hehe
      Boleh tuh, saling berkabar aja. Tapi baiknya memang kalau mau ke kampoeng ramadhan itu disaat bulan ramadhan. Kalau di bulan biasa sudah tidak ada, dan yang jelas tak seramai disaat bulan ramadhan.

      Alhamdulilah, senang ya, Mas. Sepertinya sudah lama ya, Mas, semoga dilain kesempatan bisa menginjakan kaki di Jogja lagi πŸ™‚

    • Iya nih mas, waktunya sudah mau habis. Setelah itu aku mau berburu menu hidangan lebaran ke setiap rumah..haha

      Mas Dwi Bekasinya sebelah mana ya?
      Kebetulan aku punya adek yang sekolah di sana. Siapa tahu kalau lagi ke Bekasi bisa bertemu..

  • Es nya menggoda Ndi..☺☺ aku malah blm pernah ke kampung ramadhan Jogokaryan. Paling ke kotagede aja mentoknya. Oh..iya, dulu aku asli banguntapan ndi.. Sekarang masih di Jogja..tapi dah hampir magelang. Di sini ndak banyak yang jual makanan se lengkap itu.. Tapi kalo cuma untuk buka puasa, ya cukup lah apa yang ada di sini..

    • Hehe.. jadi pengen buat berbuka juga ya, Teh..
      Oh, gitu, aku udah lama ada rencana gowes ke Magelang lho teh, kira-kira ada saran ke tempat mana gitu teh?

      Iya sih, yang penting cukup untuk berbuka, dan tentu tak lupa untuk bersyukur πŸ™‚

  • Weheheh yang yoi banget tuh "jajanan lawas" pake tag line sebelum aku lahir, gak mungkin gak nengok kesana.. Pasti penasaran beli kalo gw

  • Beuh, Kang Andi mah PPT sejati yeuh. Ti episode kahiji nepika episode ieu sukses ngabibita batur kang. Hahahaa

    Kalapa sareng es buahna kang, aduh jadi ngiler. Oh enya, Quotes Nga-bu-bu-rit na kocak pisan hahahaaaa

  • Jalan-jalan di nitikan emang paling jos deh, mau cari apa aja banyak banget. Rasanya kalau cuman jalan bentaram itu kayak gak afdol deh. Tapi kalo jogokariyan saya baru denger mas, ini letaknya di kecamatan yah mas soalnya selama keliling di jogja gak nemu masjid ini atau mungkin saya kelewatan.

    Itu shalat taraweh rame bener sampe keluar masjid , berasa shalat ied itu mah. Biasanya kalau kmasuk 10 hari menjelang lebaran masjid-masjid pada sepi, tapi ini masih rame. Bagus banget nih jamaahnya penuh semangat ramadhan. Mudah-mudahan di lain kesempatan bisa kesini juga. Gimana mas, mau ikutan gak?

    • Hehe..iya juga sih mas, tapi waktu itu aku memang berniat ke kampoeng ramadhan Jogokariyan. Tapi sekalian mampir ke nitikan. Kalau untuk beli ini itu sering di nitikan mah, terutama makanan..hehe

      Bisa jadi tuh, mas Bimo kelewat. Next time kalau ke Jogja lagi harus ke Jogokariyan mas πŸ™‚

      Iya mas rame, mungkin juga berpengaruh karena imam shalat tarawehnya Muzammil.

      Boleh tuh mas, kapan mas Bimo ke Jogja lagi?

  • Jogja, selalu bikin kangen bang. Jogja selalu punya tempat tersendiri di hati. ^_^

    Soal kampung Ramadhan emang selalu ditunggu-tunggu, cari makanan masa kecil itu bener kata Lo tadi bang. Mengenang masa kecil. Hehe

    • Hehe..betul mas, apalagi kalau yang udah lama di Jogja, kangennya nambah..

      Terakhir ke Jogja kapan mas?

      Betul, terlebih bulan Ramadhannya, sudah jelas ditunggu-tunggu, karena bulan yang suci inilah, bulan dimana ditingkatkannya amal ibadah kita:)

  • Ada banyak cerita dari Jogja, tapi kelihatannya ini yang paling shocking. 2500 paket nasi… Wow.

    Di tempat lain berburu takjil di Jogja juga asyik, kelihatannya. Jadi mirip pesta rakyat, ya. Apakah tiap Ramadhan di sana banyak wisatawan juga?

  • Walopun ga ikut puasa, aku selalu suka suasana bulan ramadan ini. Khususnya muncul berbagai penjual makanan yg hanya ada di bulan ini hehe.
    Lalu, yg gak kalah seru ya bukber alias buka bareng sama temen2. ^^

    • Alhamdulilah πŸ™‚
      Betul mas, baik para pedagang lama maupun baru. Nah, itu bukber memang sepertnya sudah jadi tradisi mas πŸ™‚

      Semoga bertemu ramadhan kembali…

  • aamiin πŸ™‚

    ndi, nulis dadakan sebanyak ini? keren ih!

    ini posisinya deketan ya bisa ke dua tempat sekaligus? atau sekalian lewat.

    sha mudik nih kamis besok. kebetulan ngelewatin jogja. gegara postingan sebelumnya, nanti pengen banget makan ayam geprek sekarang nambah lagi pengen nyoba klamud nongko hahaha

    • Ku niat jadi tiasa teh..hehe

      Ini posisinya ibarat kanan dan kiri teh, jadi aku ada di tengah..hehe

      Iya kah, ko sama teh. Aku kalau jadi in shaa Allah kamis juga. Gak apa-apa teh, cocok malahan, jadi makannya ayam geprek, minumnya klamud nongko πŸ™‚

  • wih, membuat momen buka jadi semakin semarak ya berburu takjil sampe ke tempat yang lumayan jauh. Kampoeng Ramadhan dan nitikan pastinya udah punya budaya ramadhan yang cukup kental dari tahun ke tahunnya ya..

  • wah surga dunia banget ini.. kalo aku tinggal di daerah situ pasti berat badan nggak bakal turun :O bulan ramadhan memang penuh berkah ya πŸ™‚

  • Saya belum pernah ke Jogokariyan, pengen kesana, semoga suatu saat bisa ya mas, aamiin.. πŸ™‚

    Foto-fotonya sangat mewakili kondisi pasar Ramadhan disana, sangat menyenangkan. Meskipun dimanapun selalu ada pasar Ramadhan tapi di Jogja selalu ada kesan tersendiri. Mungkin kalau saya ditanya kota mana yang ingin saya tinggali selain Semarang, pasti Jogja deh πŸ™‚

    Dan ada Muzammil..!! Ya Allah semoga dia selalu sehat supaya bisa terus menginspirasi generasi muda ya.. Saya salah satu fans dia loh, meskipun udah ibu-ibu gini hehe.. Suaranya sangat emezing ngalahin qori jazirah Arab sekalipun πŸ™‚

    • Wah, jadi tahu ya lewat foto ini..he
      Semoga di ramadhan selanjutnya bisa ke Jogokariyan, biar pas momennya ya pas ramadhan..hehe

      Setuju, Jogja memang bikin betah bagiku πŸ™‚

      Aamiin.. semoga ya, Teh. Semoga ada kesempatan bisa bertemu langsung..
      Bikin adem suaranya ..

  • Mas Andi… Maaf baru sempet mampir. Akunya lagi sakit kemarenn…

    Di kampong ramadhan banyak bgt ya sajiannya, mas. Akunya jadi pgn ikut merasakan… Hahahaha

    Syukurnya buka ini pas lebaran. Kalo puasa. Mgkn aku ngiler…

    • Iya gak apa-apa ko, Mas πŸ™‚
      Sekarang sudah sembuh kan?

      Semoga sehat selalu ya, Mas..aamiin..

      Betul, jadi kangen sama jajanan pasar..hehe
      Ayo jalan-jalan mas..hehe

      Hehe..jangan ngiler dong, kan kuat sama niat.. πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *