#BerburuTakjil, Masjid Kampus UGM


DiaryMahasiswa| Hai sadayana, kali ini aku masih seperti biasa menceritakan kegiatan #BerburuTakjil. Semoga puasa teman-teman lancar ya, bisa sampai hari kemenang tiba. Sebelumnya terima kasih sudah mau ngabuburit sembari baca ceritaku ini πŸ™‚

Tak perlu dijelaskan lagi kan UGM itu apa. Aku rasa kalian sudah tahu. Ya, UGM (Universitas Gadjah Mada). Selain para wisatawan yang ke Jogja berburu kuliner dan wisatanya. Banyak juga yang merencanakan ingin sekedar berkunjung ke UGM.

Masjid kampus UGM merupakan masjid kampus milik Universitas Gadjah Mada. Menurut wikipedia, masjid ini merupakan masjid terbesar se Asia Tenggara. Awalnya masjid ini dinamakan Masjid Sholahudin UGM. Masjid ini terletak di Komplek Masjid Kampus UGM, Jl. Olah raga, Bulaksumur, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Masjid Kampus UGM ini pertama kali dibangun pada tanggal 21 Mei 1998 di bakas komplek pemakanan Tionghoa. Pembangunan masjid ini dikerjakan seluruhnya oleh mahasiswa Teknik Arsitektur UGM dan untuk menyelesaikan pembangunannya menghabiskan dana sebesar 9,5 miliar Rupiah. Kemudian masjid ini digunakan untuk pertama kalinya pada tanggal 4 Desember 1999.

Aku kasih tahu foto masjidnya disaat malam hari. Coba kalian lihat dibawah ini.

pict : IGΒ @jogja24jam

Ahad, 28 Mei 2017
Tepat diawal-awal puasa, setelah aku #BerburuTakjil gowes ke Masjid Gedhe Kauman, aku mengajak teman-temanku untuk mencoba ke masjid UGM. Kebetulan temanku ada yang pernah ke UGM, ada juga yang belum. Jadi biar semuanya tahu, sekalian aku ajak.

Aku memang sering banget wisata religi. Artinya, suka mengunjungi masjid-masjid besar atau ternama di Yogyakarta. Aku sangat suka memperhatikan kebersihannya dan juga desain masjidnya. Dan yang terutama kenyamanan dalam beribadah.
Jujur, aku suka banget merasakan kenyamanan, tentram rasanya kalau ada di masjid yang bagiku cukup besar. Serasa shalat itu lebih lega, lebih leluasa, meskipun yang datang sampe ratusan, bahkan ribuan. Begitupun dengan masjid Kampus UGM.
Ditahun kemarin aku juga pernah ke masjidnya. Aku suka pengajian disaat menjelang berbuka puasa ramadhan. Apalagi pembahasannya tentang remaja gitu, selain jadi tahu, nambah ilmu juga untuk dituliskan kembali atau dikasih tahu sama orang.
Sebelum lanjut baca tentang #BerburuTakjil di masjid UGM, kalian boleh kok baca-baca #DiaryRamadhanΒ aku tahun kemarin, bisa dibaca dibawah ini ya πŸ™‚
.
#DiaryRamadhan Tahun 2016
  1. Diary Ramadhan #1, Shalat Tarawih di Masjid Al-Munir
  2. Diary Ramadhan #2, Terimakasih Atas Pinjaman Payungnya Bu…
  3. Diary Ramadhan #3, Makan Sahur Oseng Kangkung ala Anak Kost
  4. Diary Ramadhan #4, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Masjid Kauman Yogyakarta, Namun Kurang Beruntung
  5. Diary Ramadhan #5, Ngopi di Lembayung
  6. Diary Ramadhan #6, Makan Sahur Terong Dicabein ala Anak Kost
  7. Diary Ramadhan #7, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Kampung Ramadhan
  8. Diary Ramadhan #8, Tidak Kebagian Takjil
  9. Diary Ramadhan #9, Teringat Ketika Membangunkan Sahur
  10. Diary Ramadhan #10, Pertama Kalinya Keluar Mencari Makan Sahur
  11. Diary Ramadhan #11, Belajar Memahami SKS, Hindari dan Jauhi
  12. Diary Ramadhan #12, Buka Puasa di Kedai Cadudu
  13. Diary Ramadhan #13, Teringat Masa Kecil Yang Menyenangkan
  14. Diary Ramadhan #14, Buka Puasa Bareng Keluarga Teknik Informatika
  15. Diary Ramadhan #15, Dua Malam Tak Sempat Tidur
  16. Diary Ramadhan #16, Ngabuburit Bareng Vebi Keliling Malioboro
  17. Diary Ramadhan #17, Tokai Bangkit
  18. Diary Ramadhan #18, Bukber Makan Bakso Jumbo
  19. Diary Ramadhan #19, Ngabuburit Sembari Menikmati Senja di Candi Ijo
  20. Diary Ramadhan #20, Alasan Mengapa Jamaah Sholat Tarawih Semakin Sedikit
  21. Diary Ramadhan #21, PPT (Para Pencari Takjil) | Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
  22. Diary Ramadhan #22, Kurangnya Persiapan Seminar KP
  23. Diary Ramadhan #23, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Masjid Islamic Center Ahmad Dahlan
  24. Diary Ramadhan #24, Gagal Mudik di Akhir Bulan Juni
  25. Diary Ramadhan #25, Kado Terindah Sebelum Mudik (Bukber di Ayam Panggang Mbah Dinem-Bantul)
  26. Diary Ramadhan #26, Mudik ke Kampung Halaman
  27. Diary Ramadhan #27, Sahur Pertamaku di Puskesmas
  28. Diary Ramadhan #28, Masih Merasakan Sahur di Puskesmas
  29. Diary Ramadhan #29, Alhamdulilah Kakek Sudah Bisa Pulang ke Rumah
  30. Diary Ramadhan #30, Menikmati Malam Takbir di Rumah

activate javascript activate javascript activate javascript

Bisa juga baca #DiaryLebaran yang aku tulis tahun kemarin. Gak maksa kok, kalau ada waktu lebih mau baca alhamdulilah, gak juga sudah terima kasih banget. Karena kalian yang baca tulisan ini, apalagi yang memberikan komentar. Membuatku semangat lagi untuk berbagi dan menginspirasi lewat tulisan.
.

activate javascript activate javascript activate javascript

Sore itu tepat belum pukul 17.00 kami sampai di masjid kampus UGM. Aku bersama Maman, Tri dan Mukhlas. Kami sampai disana duduk santai terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam masjid. Dan, tak lupa juga untuk mengabadikan sekitar dengan kamera smartphoneku.Uniknya di Masjid Kampus UGM ini menu untuk berbuka puasanya sudah tertera di jadwal. Seperti gambar dibawah ini :

Pasti kalian juga tertarik kan buat berbuka di masjid kampus UGM. Hayo ngaku? Suasana sore itu memang tak mendukung, alias mendung. Tapi antusian para jamaah tetap rame yang datang, baik laki-laki ataupun perempuannya.

Setiap aku ke masjid besar untuk berbuka, aku berharap dapet hadiah atau bonus dari Allah Swt.Β Bonus?Β Ya, bonus berupa makanan takjil yang lengkap dengan hidangannya. Aku percaya dimana ada keberhasilan pasti ada kegagalan. Begitupun dengan berbuka di masjid yang besar, tentu ada yang namanya dapet dan ada yang namanya tidak.Β 

Tapi kita kembali lagi ke niat awal kita. Niat untuk beribadah di masjid tersebut. Seperti yang aku bilang tadi. Kalau dapet takjil berbarti itu bonus dari Allah. Kalau belum, gak masalah. Berarti belum rezekinya.

Jangan salah dengan #BerburuTakjil di judul tulisan ini. Bukan hanya berburu takjil semata sebenarnya. Tapi #BerburuTakjil ini aku sengaja buat untuk kategori ceritaku selama bulan Ramadhan 2017 ini.

Gak semua masjid menghidangkan atau menyediakan makanan full untuk semua jamaah yang datang. Apalagi masjid yang terletak di tempat umum. Atau gak masjid kampus. Gak mungkin kan kalau menyediakan untuk puluhan ribu mahasiswanya.
Disaat kami sedang asik ngobrol, tak lama hujan turun, meskipun gerimis tapi cukup besar. Sehingga membuat kami berpindah tempat ke dalam masjid. Sudah seperti jemuran aja, ketika hujan cepat-cepat diangkat. Yang sedang duduk, semuanya bergegas pergi.
Kami gak jadi masuk ke masjid terlebih dahulu, karena kami ikut antri sama teman-teman yang lainnya. Kami akan dibagi makanan untuk berbuka puasa lengkap dengan minum serta qurmanya sebelum masuk. Antriannya kalian bisa lihat dibawah ini. Itu baru satu yang aku foto, sore itu gak banyak foto, selain susah, hujan juga. Itu aja kurang jelas fotonya.

Ketika sampai depan antri, aku mendengar panitia pembagian makanan bicara tentang kupon, aku kurang jelas mendengarnya. Yang pasti tinggal nunggu giliran ditanya. Setelah maju kedepan, aku ditanya.

Panitia: “Mas, kuponnya mana ya?

Aku Β  Β  : “Kupon apa ya, Mas?

Panitia: “Kupon untuk penukaran nasi?”

Dengan bingung, aku ikut Mukhlas jawabnya, “Habis kuponnya tadi mas”.

Tak lama aku dan teman-teman lainnya yang khusus tak kebagian kupon hanya mendapatkan 2 buah qurma saja. Sedangkan Maman sendiri gak ambil qurma karena kurang begitu suka. Gak cuma sama qurma, buah-buahan aja kurang suka.
Waktu adzan berkumandang, kami berbuka dengan qurma. Kasian lihat Maman, gak makan qurma. Dia juga sih yang salah, kenapa gak mau ambil qurma.
Tapi tak lama ada orang yang duduknya sebelah kami kasih aqua kecil. Alhasil kami buka diawali dengan minum air. Alhamduliah banget, rezeki gak kemana. Bahkan, tak lama kemudian, ada salah seorang laki-laki kasih makanan berupa pepaya. Tapi, kami menolaknya, karena beliau datang bersama keluarganya, ibu dan anak-anaknya. Jadi pikir kami lebih baik buat anaknya saja.
Disaat niat kita baik untuk beribadah, gak dapet takjil sekalipun tak masalah. Percaya, Allah pasti menggantinya. Seperti sore itu, ada yang kasih aqua minum kepada kami. Jangan dilihat sedikit atau besarnya. Gara-gara aqua itu kami bisa membatalkan puasa dengan air minum.
Kalaupun sore itu kami tak dikasih minum. Pasti diantara aku, Tri dan Mukhlas akan kasih satu qurmanya untuk Maman. Gak apa-apa kurang suka juga, yang terpenting menyegeragakan membatalkan puasa jika sudah waktunya.
Inilah suasana disaat berbuka puasa di Masjid Kampus UGM. Karena hujan jadi para jamaah makannya di masjid semua. Biasanya kalau cuaca bagus makannya banyak di luar, alias halaman masjid. Banyak juga yang biasanya bawa tikar.
Alhamdulilah aku senang, bisa mengajak teman-temanku untuk berbuka puasa sekaligus shalat berjamaah di Masjid Kampus UGM.

Sore itu kami gak dapet makan takjil yang lengkap dengan lauknya di UGM. Itu tandanya, belum rezeki kita. Dan tetap woles, yang penting banyak syukurnya. Pasti ada hikmah yang dapat diambil.

Setelah selesai sholat kami bergegas pulang menuju warung makan padang. Alhamdulilah atas izin Allah kami selamat sampai tempat makan. Sekalipun agak cepat dijalan, karena ngejar takut gak keburu taraweh.

Oh, ya, setelah aku cari tahu ternyata untuk bisa mendapatkan makan ketika berbuka puasa di UGM itu harus punya kupon untuk ditukarkan. Dan setiap sorenya ada beberapa panitia yang buka semacam stand gitu depan masjid. Dan mereka membagikan kupon untuk ditukarkan makan saat buka.

Tapi, kupon itu terbatas. Jadi kalau mau dapet harus lebih awal datengnya, jangan sampe telat. Dan menurut sumber yang aku baca juga kalau Masjid Kampus UGM (Universitas Gadjah Mada) menyediakan sebanyak 1.000 hingga 1.500 porsi makanan berat bagi masyarakat untuk berbuka puasa.

Tapi 1.000 hingga 1.500 porsi untuk 10 hari pertama, kalau untuk 10 hari kedepannya sekitar 750 hingga 1.000 porsi, dan untuk 10 hari terakhir jumlahnya dikurangi menjadi 500 hingga 750 porsi.

* * *
Rabu, 7 Juni 2017
Tepat dihari ke-12 puasa, aku mengajak teman-temanku lagi untuk bisa berbuka puasa sekaligus melaksanakan shalat Maghrib di Masjid Kampus UGM. Kebetulan dihari itu, jika Allah mengizinkan kami semua ingin rasanya mencicipi rasanya ayam geprek Semarang.
Kalian juga tertarik bukan? Aku sendiri sering makan ayam geprek di Yogyakarta, tapi aku penasaran dengan ayam geprek Semarang. Terutama rasanya.
Bagi yang tinggal di Semarang, atau merantau disana, dan pernah merasakan ayam gepreknya. Gimana sih rasanya? Kasih tau dong, penasaran nih. Mana bentar lagi sahur. Aku nulis ini kebetulan sebelum sahur. Eh, kamu, jangan lupa sahur ya πŸ™‚ | kasaha nya πŸ˜€
Sore itu ada yang beda, karena Tri tak mau ikut lagi ke UGM. Alhasil aku ajak Sutik, kebetulan dia bisa. Jadi kami berempat sama Sutik, Mukhlas dan Maman. Aku sengaja biar 4 orang, biar semuanya boncengan, dan di motor gak bengong, alias bisa ngobrol.
Sore itu kami berangkat lebih awal, tujuannya biar bisa ambil kupon. Sesampainya di tempat parkir kami langsung diberi karcis. Sama seperti di masjid Islamic Center UAD, gratis gak bayar. Tapi bedanya di UGM disediakan kotak infak, jadi bagi yang mau memberi boleh, dan tidak juga tidak apa-apa.
Yang membuatku senang, selain di parkiran belum banyak orang yang datang. Cuaca juga mendukung, alias lebih bagus dibandingkan dengan hari pertama ke UGM.
Sama seperti di pasar ramadhan, disini juga banyak sekali yang jualan. Lantas, apakah banyak beli, secara bisa buka di UGM? Tentu, malahan yang beli banyak, sampe sedek-sedekan. Rezeki para penjual memang tak pernah tertukar.

Baca juga : #BerburuTakjil, Pasar Ramadhan Yogyakarta

Setelah menyimpan motor, kami bergegas pergi ke depan masjid dengan tujuan mengambil kupon untuk ditukarkan. Tapi ketika ke depan masjid meja yang biasa digunakan untuk kupon sudah tidak ada.
Kuponnya sudah habis pemirsa. Ternyata cuaca bagus, malah makin banyak yang datang. Tapi kami tak kaget sih, udah biasa kalau ada yang dapet, pasti ada yang tidak. Oh, ya, ini foto mencusuar atau apa ya, kalian biasanya menyebutnya apa.
Kebetulan masih dalam proses penyelesaian. Dan untuk tingginya cukup lumayan bagi aku yang masih takut akan ketinggian.
Maman sendiri mengajaku untuk kedepan gerbang masuk. Beli aqua dan gorengan untuk membatalkan puasa. Meskipun sore itu masih pukul 17.00, tapi gak ada salahnya untuk mempersiapkannya.
Di tempat seperti ini biasanya agak mahal kalau beli sesuati. Dan, itu benar. Ketika Maman beli aqua harganya Rp.5.000,- tapi gak apalah.
Sekilas melihat es campur dan es pisang ijo pengen. Tapi aku masih bisa menahan, uangnya buat makan aja nanti. Saat ini untuk minum masih cukup pake ari putih. #AlesanNgirit πŸ˜€

Untuk harga gorengan masih sama Rp.5.00- meskipun kecil sih. Tapi cukup membayar keinginan Maman pengen gorengan kalau ke UGM.

Sebagai penikmat es buat, aku cuup mengabadikannya saja. Biasanya aku suka lihat kira-kira penjual es buah yang satu dengan yang lainnya apa saja perbedaannya. Kalau sudah sreg baru beli.
Setelah beli minum dan gorengan, aku tiba-tiba ada ide pengen naik ke mercusuar masjid UGM. Ternyata banyak juga yang naik ke atas. Jangankan laki-laki, perempuan, anak kecil aja banyak yang naik.
Kami cuma berdua aja, sedangkan Sutik dan Mukhlas duduk depan kolam depan masjid. Aku sendiri lebih ingin mengabadikan momen, selagi cuacanya cerah kan tak ada salahnya. Pertama kali naik aku gemeteran, karena tangganya terlihat transparan. Alias bisa lihat ke bawah.

Perlahan naik ke mercusuar tingkat pertama. Dari situ aku bisa melihat indahnya orang-orang yang sedang duduk berbuka, pemandangan sekitar UGM juga terlihat. Tingkat satu sampai ketiga sepertinya belum terlihat bagus, alias belum di cat dan lainnya. Sedangkan atasnya sudah terlihat bagus.

Untuk malam hari sih terlihat keren, seperti foto paling atas diblog ini.

Coba kalian lihat keramaian dibawah ini. Setiap orang yang terkumpul di bawah dalam satu kelompok. Tapi kalau yang dibawah mercusuar, kebanyakan perempuan.

Sedangkan dibawah ini jalan menuju mercusuar, terlihat sepintas seperti lorong, tapi transparan. Tadinya pengen foto dibawahnya, tapi banyak orang yang lewat dan duduk, jadi gak jadi.

Aku serasa foto pake droen..hehe. Dari ketinggian gini jadi terlihat jelas ramainya orang yang datang. Dan ini gak semuanya diluar, tapi banyak juga di dalam masjid.

Semakin lama mengabadikan foto dilantai satu, Maman mengajaku untuk naik lebih tinggi lagi. Waktu itu awalnya aku menolak karena sudah sore juga. Tapi disisi lain aku penasaran pengen lihat pemandangan dibawah dari ketinggian.

Setelah naik keatas, banyak berpapasan dengan orang yang mau turun, dan ada juga yang masih diatas. Aku berpapasan lagi dengan anak kecil, sempat bingung karena gak ada orangtuanya. Salut aku dengan keberanian anak kecil itu. Dia dengan lincahnya turun tangga, tanpa terlihat ada rasa takut.

Ini pemandangan disebelah jalan, dimana banyak sekali perumahan yang terlihat. Begitu juga dengan jalan yang penuh dengan kendaraan.

Sesekali aku memaksa Maman untuk foto juga. Biar bisa aku masukan fotonya di blog. Sejauh ini dia sangat membantu dalam mengabadikan foto untuk blogku ini.

Sampai akhirnya suara adzan berkumandang, kami tetap masih di atas. Selain bisa mengabadikan foto, kami juga senang. Secara tidak langsung bisa melupakan kekecewaan gagalnya mendapatkan takjil.
Dilanjut untuk minum, setelah itu kami turun tepat dilantai bawah untuk memakan gorengan. Setelah itu barulah untuk mengambil wudhu dan melanjutkan shalat maghrib.
Kesimpulannya adalah ketika kami punya rencana berharap ingin berbuka dengan ayam geprek Semarang tapi belum rezekinya. Karena Allah punya rencana lain, dan tentu rencana Allah yang terbaik. Seperti arti ayat ke-54 di surat Ali Imran.

β€œDan berencanalah kalian, Allah membuat rencana. Dan Allah sebaik-baik perencana.” (Ali Imran: 54)

Dan, sore itu kami bisa makan gorengan. Keinginan Maman dari hari pertama ke UGM akhirnya terkabul juga. Alhamdulilah. Selain terkabul, uang yang kami keluarkan memang sudah jadi rezekinya penjual gorengan.
So, itu aja dulu ya. Ditunggu cerita selanjutnya.

81 Responses for #BerburuTakjil, Masjid Kampus UGM

  • belum pernah dateng ke masjid kampusnya UGM, masuk kampusnya aja pol-pola;an cuma sampai di GRHA SABHA PRAMANA doang mas hehe. dari GSP itu masih jauh nggak mas masjidnya?

    pas lihat daftar menunya ajib banget euy, setiap hari beda-beda terus dan itu kayaknya juga perwakilan dari menu-menu tiap provinsi nggak si? ada sulawesi, NTT, betawi, totalitas sekali takmir masjidnya. salut!

    • hehe.. gak ko mas dekat, tapi lebih dekat lagi dari fakultas ekonomi menurutku πŸ™‚

      Aku rasa juga gitu, Mas. Soalnya tiap hari menunya bedanya bukan dari Jogja aja. Tiap kota ada..

  • Masjid kampus sekarang keren yaa..! He eh, serasa pake drone hasil fotonya.

    Baru tahu kalau takjilnya pake kupon. Klo masjid2 besar gitu kali yaa.. Kalo masjid kecil malah nggak?

    Eh..ndi, dah pernah ke masjid yang di Kotagede itu? Yang ada makamnya itu lho..

    • Betul teh, selain itu bikin betah para mahasiswanya yang shalat. Adem!

      Tahun kemarin setahuku sih gak pake kupon gitu teh, tapi baru kali ini aku tahu pake kupon. Kalau di masjid kecil menurutku sih gak. Dan, gak semua masjid besar juga gitu ko teh.. Baru kali ini di UGM pake kupon..

      Kalau ke kotagedenya udah, tapi ke masjidnya belum teh, ada sih rencana. Tapi, sepertinya keburu mudik deh..hehe

  • Asyiknya jalan-jalan ke masjid UGM bareng temen temen, menikmati area masjid dari atas mercusuar dengan ketinggian seperti itu tentu merupakan pengalaman yang cukup langka ya kang, jarang jarang bisa mendapatkan momen seperti itu.

    Pengen ikut saya kang dengan perjalanan #BerburuTakjil kang Andi Nugraha.

    • Betul kang, setidaknya bisa eksis di mercusuar itu untuk mengobati gak dapetnya takjil. Tapi sebenarnya gak ke itu sih, aku memang suka di mercusuar itu, terlihat lebih indah untuk menikmati pemandangan πŸ™‚

      Boleh kang, ayo. Tapi sepertinya beberapa draf #BerburuTakjil gak akan selesai di publish semua deh, keburu mudik kang..hehe

    • Belum, bahkan ada beberapa draft yang aku yakin gak keburu di publis. Karena dua hal, aku keburu mudik, dan ramadhan berakhir πŸ™

      Semoga bertemu di ramadhan berikutnya ya, Mas..aamiin..

  • Wah, seru. Biking inget masa-masa kuliah. Dulu saya juga gitu berburu takjil di masjid-masjid. Gak cuma itu aja, say sering sengaja berbuka di masjid-masjid bareng temen-temen. Suasananya asyik banget. Kayaknya tahun depan kudu agendakan Hal itu lagi. Kangeeen…

    • Ceritanya nostalgia ya, Teh, wah sama ternyata ya masa muda atau kuliahnya suka berburu takjil juga..hehe

      Setuju, bikin senang dan asik, apalagi banyak teman-temanya. Semoga terlaksana ya, Teh, untuk bisa terlaksana berburu takjilnya πŸ™‚

    • Nah itu, drone dari smartphone..hehe
      Bagus banget emang, apalagi ditambah cuaca yang cerah πŸ™‚
      Gak cuma di UGM betah mah, tapi di Yogyakarta juga betah …

  • Duh lur,, kesempatan kedua gagal maning yah lur,,, coba kalau kuponnya print sendiri,,,,, :v gak bakalan si maman murung kayak gitu, haduuh,,,, sebagai friend tentunya maman sudah banyak membantu sekali yah lur,, coba kali – kali tlaktir dia nasi padang..
    aku tunggu kesempatan ketiga buka di UGM,,,, kalau bisa sambil wawancara sama mahasiswi UGM yang cakep… πŸ˜€

    • Hehe.. itu tandanya belum rezeki kang πŸ™‚
      Haha..kalau print sendiri aku print banyak lah. Teman-teman blog aku bagi juga..hehe

      Betul, sejak 2014-an sudah banyak membantu memang πŸ™‚
      Telaktir mah sering, tapi lebih ke ayam geprek..hehe

      Sebenarnya sebelum tulisan di di publish ada satu rencana lagi, aku dan Maman untuk mencoba yang ke-3 kalinya ke UGM. Tapi Allah berkata lain, Maman waktu itu sakit. Jadi harus istirahat total.

      Dan, waktunya gak sempat. Dia keburu mudik juga. Pengennya yang capet ya, Mas..haha

  • Wow…keren banget…diary nya lengkap bin komplit….Jogja memang menyenangkan apalagi kuliner dan tempat wisatanya….jadi ingat waktu kecil dulu berburu takjil sambil gowes sama almarhum bapak

    • Terima kasih teh Sri Wahyuni πŸ™‚
      Wah, kenangan banget ya, Teh, gowes dengan almarhum bapak..

      Semoga dilain kesempatan bisa gowes lagi untuk berburu takjil ya, Teh..

    • Wah, udah mahal juga ya, Mas.. Di Jogja sendiri gak semuanya Rp.500.- sih, ada juga yang harga Rp.2.000,- dapat 3. Tapi untuk harga seribu dapet satu sepertinya aku belum nemu, apalagi dua ribu satu.

      Beda dengan tempe mendoan, di Yogyakarta sendiri harganya rata-rata yang perna aku beli Rp.3.000,- Tapi itu ukurannya cukup besar, dan bikin kenyang kalau makan beberapa..

      In shaa Allah mas, sembari menunggu waktunya mudik πŸ™‚

  • Waahh lengkaap ceritanya…
    Itu menunya enak2 banget dan porsinya utk sekian orang yaa di masjid UGM, luar biasa
    Rameee bangeet pasti yaa.
    Kangen jogjaaa

  • yah dua kali datang ga dpt juga emang belum rezeki kang namanya usaha ya kadang sesuai harapan kadang ya meleset yg penting niatnya dan ikhlasnya jadinya ga bikin ngeluh 😁
    fotonya bagus2 ya dan luar biasa peminat pemburu tajil mesjid panitia menyediakan dari 500-1000 sll habis mantap banget πŸ‘Œ

    • Betul teh, kalau belum rezeki mah gpp. Dan, kalau rezeki tak bakal salah salamat πŸ™‚

      Iya teh, tapi ada yang lebih dari itu, seperti di Jogokariyan sendiri bisa sampai 2500 porsi setiap harinya πŸ™‚

  • Walaupun cuma dapet kurma itu sudah di bisa dikatakan bonus kan mas.., yang penting dapet siraman rohani yang dapat kita amalkan dalam menjalani hidup ini, ya itu itung2 buat bekal kita nanti.

  • Waaalahhhh yang ngantri rame banget yaa mas,, haha iyalahhh satu jogja disitu semuaaa, sayang banget gak bisa ikut disanaaa ish ish ishh sedih saya, hha , UGM deket banget sama kost πŸ™ , aaaahhhh

  • Pemburuan yang menyenangkan dengan pengalaman dan Pesonanya. Saya sangat senang membaca dari awal hingga akhir, disini tentu tidak semewah Indonesia Tengah. Nuansanya beda! Bahkan Ada masjid dijokja juga yang menyediakan menu buka melebihi pengunjung. Nuansa Ramadhan. SubhanALLAH..

  • Suatu moment yang indah apalagi bisa berburu takjil ke sebuah masjid yang cukup mewah.

    Benar-benar tak bisa saya bayangkan andai saya bisa berburu takjil seperti sampean, mas.

    • Tentu teh, Ramadhan memang bikin rindu. Terutama suasana di masjidnya yang begitu ramai orang berbondong-bondong shalat berjamaah πŸ™‚

      Semoga Ramadhan berikutnya bisa bertemu kembali ya, Teh…

  • teteh mah gak ngebuburit da bacanya juga πŸ˜›

    temen blogger sha ada yang alumni ugm. kemaren jauh2 dr jatim ke ugm buat ke mesjid ini πŸ™‚ kangen katanya πŸ˜€

    yang ini pake kupon gitu ya? mungkin karena mahasiswanya banyak πŸ™‚

    jogja emang terkanal murah. masi ada ya gorengan lima ratusan. di kampung teteh skrg seribuan. paling murah dua ribu tiga πŸ˜€

    kalo teteh dah gemeteran naik tangga setinggi itu hahaa

    beda ya ayam geprek jogja sama semarang?

    sabar ya, insyaallah rejeki mah moal kamana sareng moal patuker πŸ™‚

    • Masa sih, pan eta ngabuburitna pas di banyak acarana teh πŸ˜€

      Oh, yah. Wah keren, terkadang kangen akan suasana dan tempat itu obatnya yang didatengin..

      Ya begitulah teh, buka puasa gini mah gak cuma mahasiswanya aja, tapi semua warna dan mahasiswa luar bebas masuk. Asal kebagian kupon aja, pasti dapet..hehe

      Di Jogja juga sebenarnya ada yang 2rb dapet tiga teh, sama. Tapi tetap ada yang murah sih..hehe.. Kalau yang seribu sepertinya belum nemu aku..

      Ih, aku aja gemeteran teh, takut tapi tetap penasaran pengen naik..haha

      Aku juga kurang tahu, pengen coba makannya yang Semarang tapi belum beruntung πŸ™‚

      Tah eta, setuju teh. Always sabar πŸ™‚

  • Betul, kita dibolehkan untuk berencana dan menyusun rencana, kemudian berusaha dan serahkan pada yang maha pembuat rencana terindah Dia-lah Allah Aza wajalla
    Pemandangan dari atas tampak lebih indah ya ..
    Ya memang ada yang tidak suka kurma, tak ada yang kebetulan Allah kirimkan orang membawakan minuman untuknya
    Indahkan kalau kita sll berprasangka baik pada Allah

    • Betul teh, urusan dikabulkan atau tidak itu urusan Allah..

      Iya, seperti foto pake drone gitu ya..hehe
      Semua akan tetap indah jika kita bisa always berfikir positif πŸ™‚

  • Maman beneran nggak suka buah? Waduh. Kalau saya, sih, kurma emang kurang suka. Tapi buah-buahan lainnya, suka banget, kecuali pisang dan durian. Enek. 😐

    Owalah, pakai kupon segala, ya. Sedih pasti kalau nggak kebagian. πŸ™

    Gokil! Udah kayak di Jakarta aja itu Aqua seharga goceng. Tapi enak itu gorengan masih 500, di Jakarta mana ada. Bisa 1.500-2.000. πŸ™

    Nggak apa-apa, Mas. Semoga lain kali bisa cobain ayam gepreknya. πŸ˜€

    • Suka sih tapi gak semuanya, kadang aku suka suruh beli sup buah, biar bisa makan buah-buahan. Tapi ya gitu, gak begitu lah mas..hehe

      Iya gitu durian bikin enek mas?
      Aku sudah lupa akan rasanya..hehe

      Iya sih, tapi gak apa lah mas. Mungkin dengan gak dapetnya, sudah jadi rezeki para pedagang kalau kita beli makan πŸ™‚

      Iya mahal mas, gak heran lah kalau dihari yang seperti itu suka dinaikin secara dadakan.. Wah lumayan juga di Jakarta ya..

      Siap, semoga bisa langsung coba di Semarang πŸ™‚

  • Dari hastag judul post ini awalnya aku sempet berfikir klo kak andi ngebet pengen dapat takjil……hehe. Eh, ternyata itu hanya hastag untuk judul post.

    Btw, murah banget gorengan disana cuma rp.500, klo di bandar lampung rata rata sudah 800, bahkan 1000.

    Aku pengen ikut ikutan bertakjilan di masjid tapi nggk pernah ikut ikutan acara masjid.

    • Hehe..tuh tahu kalau udah baca πŸ˜€

      Oh ya, banyak juga yang bilang murah gorengan 500 gitu. Setiap daerah memang beda-beda ya πŸ™‚

      Next time ayo bareng, biar lebih seru..hehe

  • Wowww.. keren ya UGM untuk urusan takjil aja bisa tersusun rapi lengkap dg daftar menunya; dan pembagiannya juga pakai kupon supaya tertib. Wajib dicontoh nih πŸ™‚

    Jadi pengen muda lagi supaya bisa ngabuburit dan nakjil ke tempat2 yg berbeda nih mas, pasti seru yaa.. πŸ™‚

    • Betul teh, sebenarnya hampir semua masjid juga gitu. Tapi cuma beberapa aja yang nyediain menunya untuk bisa dilihat oleh jamaah πŸ™‚

      Pasti seru teh, tapi gak harus jadi muda lagi juga bisa ko teh..hehe
      Eh, tapi emang bisa ya jadi muda lagi..wkwk

  • Saya belum pernah ke masjid kampus UGM. Sekilas justru teringat dgn Masjid Salman punya nya ITB di Bandung.. tapi klo liat foto kayaknya area masjid UGM lbih lega ya.
    Sempat takjub jg lihat menu buka di masjid… Benar2 mnggiurkan ya. Ga heran klo pada sering kehabisan kupon juga.
    Senang bisa baca diari wisata religi seperti ini. Nice.

    • Puasa juga kan udah sekalian diet teh..hehe, dapet puhala juga.

      Belum beruntung jadi belum dapet kupon teh..hehe..
      Aku masih penasaran sama ayam gepreknya ini.. πŸ˜€

  • Ini udah nggak bulan puasa kayaknya aku telat deh komentarnya …

    Hmmm ternyata masjid UGM terbesar se asia ya, waduhhh baru tahu aku nih, oh iya coba ke masjid UII ya puasa tahun depan, ada takjilnya juga kok

    • Hehe..gak apa-apa. Suasana masih terasa nih πŸ˜€

      In shaa Allah, Mas. Soalnya belum ada agenda kesana. Selain jarak yang lumayan jauh dari tempatku, sepertinya kalau kesana perlu lebih awal..

  • lanjut terus ya petualangan berburu takjilnya. Setiap tahun kalau begitu jadinya seru sih, tapi rasa kecewa pasti ada kalau berburu takjilnya jadi gagal kayak gitu ya :")

  • Kapan itu aku baca berburu takjil juga, sekarang yg di ugm ya. Seru kali bisa jalan sama sahabat sekaligus makan gorengan, naik mercusuar, serta sholat jamaah bersama. Bulan puasa emang banyak berkah, niatnya berburu ganjil tapi tetap dapat pengalaman seru ya Andi

  • Ini kayak mengisi waktu ngabuburit nggak sih? Soalnya belom pernah berburu takjil hehehe. Tapi kalo ke masjid ugm pernah, soalnya waktu itu pas nyari foto sama temen…. Dan kalo dari foto dipostinganmu, justru yang paling aku sukai yang foto pas malam hari dan difoto dari atas

    • Iya, Mas. Karena sebelum acara dibagi makan ada tausiahnya juga. Tapi terkadang kalau aku berburu takjil agak jauh tempatnya dari kost. Suka tertinggal dari awal. Tapi tetap masih bisa mengikuti πŸ™‚

      Terlihat indah ya, Mas. Kalau cuacanya cerah apalagi lebih bagus πŸ™‚

  • Baru tau masjid terbesar itu disini. Bukannya masjid Istiqlal Jakarta ya? Belum pernah ke masjid UGM sih, baru Istiqlal aja. Hehe

    Hebat ada daftar menunya. Jadi kita bisa pilih hari untuk menu favorit. Klo gak suka ya gak usah Dateng. Hihihi

    • Mungkin versinya beda. Maksudnya bisa jadi ini versi kampus bukan khusus masjid..he

      Haha..iya sih, tapi sering gagal kalau di UGM aku, soalnya pake kupon. Gak seperti tahun kemarin πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *