#DiaryLebaran #2, Kongkow Alumni “Nostalgia” SD Negeri 1 Sukanagara Angkatan 2007

DiaryMahasiswa.com | Salah satu agenda yang seringkali dinantikan oleh banyak orang terutama alumi yaitu acara reuni. Dimana dalam acara tersebut banyak hal yang tentunya akan kita dapatkan, selain untuk silaturahmai bisa juga untuk mengenang masa-masa sekolah dasar dulu. Biasanya reuni diadakan setiap satu tahun sekali, karena setiap Idul Fitri hampir semua orang merantau baik itu kerja ataupun kuliah pasti mudik, meskipun pada kenyatannya ada saja yang tidak mudik karena tuntutan kerjaan.

Masa-masa sekolah dasar merupakan masa yang menyenangkan, dimana kita semua belum mempunyai banyak masalah. Belum kenal cinta, belum mempunyai gadget. Meskipun demikian kita semua tetap happy, setiap main janjian pukul sekian tentu tepat waktu. Begitu juga dengan cinta, meskipun dulu pernah bermain cinta melalui surat yang dititipkan kepada temannya ataupun dikasihkannya sendiri. Tapi hal itu tidak mengganggu sekolah ataupun yang lainnya.

Masa-masa sekolah dasar angkatan 2007 pasti merasakan membawa uang jajan tak perlu puluhan ribu, melainkan dengan Rp. 500,- juga sudah bisa membeli jajan yang bisa membuat kenyang. Bahkan masih bisa sisa, sekarang seiring berjalannya waktu harga makanan pun mulai berubah sehingga uang jajan untuk anak sekolah dasar sudah dua sampai tiga kali lipatnya uang jajanku dulu ketika sekolah dasar.

Tidak hanya uang jajan saja, tapi sekarang banyak juga yang sudah mempunyai gadget. Yang namanya media sosial sudah tak aisng lagi bagi anak-anak sekarang, banyak yang sudah mempunyai facebook, twitter, instagram dan yang lainnya, untuk bermain youtube juga sudah hal yang biasa. Berbeda dengan zamanku dulu, dulu awal membuat facebook kelas dua SMP, namun jarang aku gunakan, ketika SMA sudah mulai aktif bermain facebook itupun belum tahu untuk apa.

Berbeda dengan anak zaman sekarang, meskipun demikian tapi banyak yang menggunakannya dengan hal-hal yang negative. Baik itu di youtube ataupun di media sosial yang lainnya. Banyak juga positifnya, seperti reuni sendiri. Sebelum reuni tentu ada diskusi terlebih dahulu, biasanya melalui grup facebook. Berkali-kali aku mengadakan reuni tapi teman-teman yang diharapkan selalu tidak seuai. Reuni sekolah dasar ini sebenarnya sudah lama sekali direncanakan tapi karena tidak ada action jadi tak pernah berhasil.

Di tahun 2016 ini aku berharap bisa reuni dengan teman-teman alumni SD Negeri 1 Sukanagara angkatan 2007. Terbayang kan berapa lamanya tak bertemu lagi, harapannya bisa berkumpul semua satu kelas. Sudah hampir 9 tahun tak berkumpul rasanya kangen sekali. Dulu yang biasanya main bareng, kerja kelompok bareng, ke kantin bareng bahkan ke kamar mandi juga bareng..hee.. Tapi laki-laki dengan laki-laki dan perempuan juga demikian.

Meskipun grup facebook sudah ada tapi karena sekarang semuanya menggunakan android, jadi diskusi untuk reuni di BBM. Mulailah aku membuat grup dan mengundang teman-teman alumni sekolah dasar. Tak jauh berbeda dengan facebook, selalu ramai tidak sesuai topik pembahasan. Yang dibahas apa tapi yang dibicarakan apa. Tak terbayang jika bertemu langsung ramainya seperti apa, di grup BBM saja sudah ramai sekali.

Uniknya di grup BBM semua masa lalu ketika sekolah dasar dulu ada saja yang mengingat dan membahasnya. Terkadang hal itu bisa bikin ketawa sendiri dan mengingat bahwa dulu ternyata aku seperti ini dan ini. Begitu juga dengan Siti Nasiroh yang nama di BBM nya tidak menggunakan nama asli yakni Iir, entah apa maksudnya aku juga tidak tahu. Waktu itu Tia menyinggunya dengan bertanya di grup, Iir ini siapa ? Selain itu juga ada yang mengingat kejadian dulu lagi seperti, “Dulu siapa yang jarinya masuk ke dalam lubang suling dan tidak bisa keluar ?” lagi-lagi Nasiroh kena.

Sebenarnya tidak hanya Nasiroh yang namanya menggunakan nama samara di BBM nya. Mending kalau nama samara tapi tak jauh dari nama aslinya. Seperti Supinah yang menggunakan nama samara pada awalnya Asep, aku sempat bingung juga karena teman SD yang ada di grup namanya Asep Muhlasin. Aku pikir Asep itu, tapi tak lama fotonya perempuan dan namanya juga berubah jadu Vinay. Dari situ aku sudah bisa menebak bahwa dia adalah Supinah.

Kenangan ketika sekolah dasar memang susah dilupakan, dan itu akan tetap menjadi kenangan. Mulai dari kelas satu hingga lulus banyak sekali kenangan, dari yang tidak kenal sama sekali sampai menjadi akrab, dari guru yang tidak disukai ataupun difaforitkan akan tetap teringat sampai kapan pun.


Reuni pertama kali ini bertempat di salah satu teman kami yakni Johan. Sebelum fix sebenarnya banyak pilihan tempat untuk reuni, ada rumah Ade, Tia dan Lia yang manawarkan sendiri. Karena 5 hari setelah hari lebaran Lia melepas kelajanganya alias menikah. Tidak hanya Lia saja, jauh sebelum Lia juga sudah ada yang menikah, seperti Haryanti, Devi, Tia, Eva, Tujiati serta bapak-bapaknya seperti Topik dan Novi. Setelah Lia mungkin akan banyak lagi yang menyusul.

Memang bagus megadakan reuni di rumah Lia, selain banyak makanan karena hajatan, pasti banyak juga teman-teman yang akan datang nantinya. Tapi hal itu dipertimbangkan lagi, karena di acara hajatan sendiri tak mungkin bisa bebas untuk mengadakan reuni meskipun sebelum hari H acara pernikahan itu dimulai. Pasti dihari-hari sebelumnya banyak orang yang masak dan mempersiapkan untuk hari H pernikahannya.

Begiju juga di rumah Tia dan Ade kurang setuju, selain sang pemilik rumah tidak mengizinkan, di tempat mereka juga kurang mewakili jauh dekatnya dari rumah teman-teman semua. Jadi ditepatkanlah di rumah Johan yang letaknya tidak jauh dari SD Negeri 1 Sukanagara. Jarak dari rumah teman-teman juga tidak begitu jauh. Awalnya reuni ini bingung hari apa dan tanggal berapa akan dilaksanakan. Karena kebanyakan setiap ditentukan pasti ada satu atau dua orang yang tidak setuju karena berbagai alasan.

Selain aku yang menjadi admin di grup BBM, aku juga menjadikan Amalia sebagai admin agar tidak hanya satu orang saja. Waktu itu juga ketika diskusi sedikit redup karena mungkin sudah capek satu sama lain membalas candaannya. Amalia menetapkan bahwa reuni dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 08 Juni 2016 pukul 15.00 dan iuran Rp. 5.000,-

Teman-teman yang lain merespon pengumuman tersebuh dengan sip, setuju dan oke. Tiba-tiba salah satu teman diskusi yaitu Tika membalas dengan sedikit membuat teman-temannya tersinggung. Karena iurannya hanya Rp. 5.000,- dia membalasnya dengan, “Masa cuma segitu, sih cukup buat apa?’, kurang lebih seperti itu. Mungkin menurut Tika sendiri dengan iuran segitu tidak cukup, padahal jika dikumpulkan dengan jumlah yang datang nantinya akan cukup untuk membeli cemilan, entah itu berupa sncak ataupun yang lainnya.

Menurutku bukan masalah kecil atau besarnya iuran untuk reuni, tapi lebih kepada kehadiran. Kehadiran teman-teman untuk reuni lebih berarti dibandingkan iuran Rp. 5.000,- jika nantinya sudah hadir semua, masalah iuran yang terlalu kecil bisa ditambahkan atau iuran  lagi. Hal itu tak ada susahnya untuk dilakukan. Hal ini dibicarakan kurang lebih satu minggu terakhir mendekati Idul Fitri. Setelah satu persatu pulang kampung tak ada satupun tanda-tanda bahwa reuni akan dilaksanakan.

Satu hari sebelum hari H reuni dilaksanakan aku dan Johan berinisiatif beli ayam untuk reuni. Tapi yang membuatku bingung yakni kepastian teman-teman untuk datang. Bukan masalah uang, untuk uang bisa menggunakan punyaku dan Johan terlebih dahulu. Tapi jika teman-teman tidak hadir kan jadi mubajir ayamnya. Dengan demikian Johan kembali membuka pembicaraan di grup BBM mengenai kehadiran teman-teman.

Di hari H paginya banyak yang mengirimi pesan singkat kepadaku, baik itu melalui SMS ataupun BBM. Pertanyaan yang ditanyakan sedikit aneh yakni, jadi tidak reuni ?, Gimana reuni ? dan semuanya tidak jauh dari pertanyaan itu. Sebenarnya ketika pengumuman yang Amalia posting di grup sudah jelas bahwa reuni dilaksanakan hari Jum’at. Mungkin teman-teman butuh kepastian dari yang lainnya. Dan aku menyuruh Johan agar datangnya pukul 14.00 saja karena jika tetap dilaksanakan pukul 15.00 aku yakin datangnya pasti  ngaret, jauh dari perkiraan.

Sebelum pukul 14.00 aku bergegas untuk pergi ke rumah Johan, sesampainya disana memang belum ada siapa-siapa, tak lama setelah di hubungi melalui grup BBM, Azis datang dan disusul oleh Amalia yang datangnya jauh dari aku dan Azis. Yang lainnya belum ada kabar sama sekali, aku dan Johan jadi bingung jadi atau tidak. Sampai jam segitu aku belum belanja juga karena bingung takut nantinya belanja tapi teman-teman tak ada yang datang.

Sedari awal masalah belanja tadinya mau di handle Amalia, tapi karena beberapa hari mendekati hari H reuni dia sakit jadi belum bisa belanja. Jadi aku dan Johan yang bertanggung jawab untuk makanan. Tapi karena sampai ashar teman-teman yang lainnya belum juga kumpul. Jadi belum bisa beli ikan ataupun makanan yang lainnya. Sekitar pukul 16.00 teman-teman yang lainnya menyusul datang.

Kurang lebih ada 12 orang sudah berkumpul di rumah Johan. Aku berusaha menghubungi calon pengantin yaitu Lia tapi dia belum bisa hadir karena belum dapat izin, bukan tak mau hadir tapi karena Lia sebenatar lagi akan nikah, selain kesehatan mungkin persiapan yang lainnya juga harus tetap dijaga. Terakhir Ade dan Yudis datang karena baru pulang menyebarkan undangan nikahannya Lia. Sampai pukul 16.30 tak ada yang lainnya lagi yang datang, jadi reuni hanya dihadiri oleh 14 orang. Ada aku, Johan, Azis, Ade, Yudis, Topik, Suryanto, Riswara, Andrianto, Darmawan, Amalia, Tia, Siti Gusyani dan Devi.

Karena sudah cukup banyak orangnya, Johan berbegas untuk beli ikan gurame, sedangkan yang lainnya ada yang menyiapkan tempat, membeli bumbu dan membawa tepas untuk bahan bakar ikannya.


Sebelum ikan di bakar, sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu mulai dari sisik dan kotorannya. Kebetulan waktu itu Azis dan Johan yang membersihkan sedangkan yang lainnya sibuk memberesekan seperti peralatan untuk membuat bumbu dan menanak nasi. Memang segalanya serba mendadak tapi kami yakin reuni ini akan berjalan dengan lancar.


Ikannya satu persatu dibersihakan, setelah itu baru dicuci dan siap untuk dibakar. Ikan guramenya tidak sebesar ikan-ikan dipasaran, tapi buat kami bukan masalah besar kecilnya apa yang dimakan, tapi tentang kebersamaan. Kebersamaan yang sudah lama hilang. Sekarang meskipun tak semuanya datang kebersamaan dengan keluarga alumni SD Negeri 1 Sukanagara tetap berjalan.
 

Setelah selesai dibersihkan sisiknya kemudian dibersihkan menggunakan air, agar kotoran yang masih menempel bisa hilang terbawa air mengalir. Meskipun sederhana yang namanya kebersihan harus tetap dijaga. Lebih baik menjaga daripada mengobati.

Inilah ikan yang sudah dibersihkan dan siap untuk dibakar. Besarnya ikan terlihat tidak sama tapi in shaa Allah cukup untuk dimakan 14 orang. Di tambah nasi dan sambalnya pasti lebih joss, belum juga di bakar sama sekali tapi pikirannya sudah makan terus.

Sebelum dibakar, Aku, Darmawan dan Andrianto bergantian untuk membakar tapas terlebih dahulu. Sengaja apinya dipanaskan terlebih dahulu agar nantinya ikan yang sudah bersih langsung bakar. Banyaknya orang yang datang bisa bergantian untuk membakarnya, sengaja perempuan tidak disuruh untuk membakar ikannya, mereka khusus di dapur selain menanak nasi membuat bumbu juga.

Disaat membakar ikan, terkadang perempuan mendekati hanya untuk melihat apakah sudah matang atau belum ikannya. Terlihat di foto atas ada dua anak kecil yang ada dibelakang Johan. Bukan adek dari siapa-siapa melainkan itu anak dari Devi salah satu teman alumni SD Negeri 1 Sukanagara yang dia ajak reuni. Awalnya aku pikir akan mengganggu karena anak kecil biasanya akan rewel dan susah untuk diataur. 
Tapi kedua anak ini justru sebaliknya, mereka diam dan hanya melihat saja. Terkadang hanya ingin jajan, waktu itu mereka ingin makan es cream. Setelah dibelikan tentu mereka diam melihat proses pembakaran ikan sembari menikmati es cream. Satu sama lain saling menikmati. Kami yang sudah cukup dewasa ini tidak begitu tertarik lagi untuk makan es cream, tapi tak ada salahnya jika dikasih yang diterima dan diakan 😀

Ketika lelah membakar ikan, Aris, Andrianto dan Darmawan memilih untuk santai sembari melihat proses pembakaran ikannya. Selain itu mengabadikan momen juga untuk difoto, meskipun backgroundnya tidak begitu mendukung tapi foto diatas membuktikan bahwa kami pernah berkumpul untuk mengadakan silaturahmi yang kami beri nama kongkow alumnni.

Setelah cukup istirahatnya Andrianto dan Aris melanjutkan membakar ikan dengan bergantian dengan Johan. Karena tempat kecil jadi membakar ikannya dua-dua. Meskipun agak lama proses membakarnya tapi kami menikmati semua itu, sembari mencium bau asap yang perlahan menempel di baju.
Amalia, Yani dan Tia sedang sibuk membuat sambal kecap  untuk bumbu ikan yang dibakar tadi. Setelah capek bakar ikan, Johan datang menghampiri yang sedang membuat sambal untuk mengambil air. Cukup capek juga tapi senang bisa merasakan kebersamaan kembali setelah hampir 9 tahun tak berkumpul.
Johan sendiri ada inisiatif untuk mencampurkan kacang ke bumbu kecap tadi. Aku juga setuju, selain jadi lebih enak ditambah kacang jadi terasa lengkap bumbunya. Awalnya Tia menambahkan bumbu kecapnya dengan bawang putih, awalnya aku heran dan setahu aku bumbu kecap itu tak perlu dengan bawang putih, hanya cukup dengan bawang merah dan cabai saja. Yani juga demikian heran karena tak seperti biasanya menggunakan bawng putih.
Tak lama Ibunya Johan datang menghampiri kami untuk mengecek, beliau juga heran ko dikasih bawang putih. Karena penasaran aku tanya sama Tia, “Ti kok menggunakan bawang putih segala, bukannya tidak usah ya ?”, Tia menjawab dengan bingung juga,“Aku juga tidak tahu karena ini disuruh sama Devi”. Aku biarin saja, mungkin dia lebih tahu soal masak memasak.
Tak lama Devi datang, dan setelah ditanya katanya agar lebih wangi saja dikasih bawah putih. Setelah masalah bawang selesai selanjutnya menambahkan kacang ke  bumbu. Tapi kami lupa karena tidak ada kacang, kalau beli tak memungkinkan. Tapi Kami tak kehaisan akal ketika tak ada kacang. Karena makanan yang disajikan untuk teman-teman dari Johan kebetulan kacang kulit. Jadi aku dan yang lainnya mengupasnya satu persatu kemudian disimpan di toples.
Setelah selesai dikupas semua, tiba-tiba Azis datang dengan muka polosnya mengambil kacang yang sudah dikupas kemudian duduk di ayunan dan langsung lahap dimakan. Sengaja aku tegus agar dia tak mengambil kacang selanjutnya. Karena jika dimakan terus menerus akan cepat habis nantinya.
Tak terasa waktu semakin sore, sambal yang dibuat pun akhirnya selesai juga. Terlihat hampir semuanya merah tapi itu sudah ada campuran dari tomat. Pedas atau tidaknya silahkan dicoba nanti akan tahu sendiri .. hee…
Setelah sambal jadi tak lama datang ikan bakar yang tadi sudah selesai dibakarnya. Melihatnya saja membuat perut ini bergoyang kelaparan. Hmmm, nyammii.. Coba kalau bisa kumpul semua bisa jadi makan besar. Selagi longgar aku pergi ke mushola terlebih dahulu karena sudah memasuki waktu ashar. Kebetulan di samping rumah Johan ada mushola. Jadi tak khawatir tertinggal sholat.

Setelah selesai sholat saatnya makan, namun sebelum itu sembari menunggu dipersiapkan. Kami bersantai terlebih dahulu, dan mengabadikan momen foto laki-laki semua untuk dijadikan kenangan ketika reuni. Jarang-jarang bisa foto bareng seperti ini. Selagi ada waktu kami manfaatkan sebaik mungkin. Karena setelah itu, baik besok atau lusa ada yang harus berangkat kerja lagi ke kota. Memang waktu liburan lebaran bagi mereka yang pekerja tidak lama, tapi bersyukurlah ketika waktu yang tidak lama itu bisa menyempatkan untuk berkumpul dengan teman-teman untuk mengadakan kongkow alumni.

Saking asiknya mengabikan kenangan dengan foto sampai lupa bahwa waktu semakin sore. Hampir Maghrib, malahan ketika menata ikan dengan nasi suara adzan berkumandang. Tapi kami memilih untuk makan terlebih dahulu kemudian baru makan. Kami memilih tidak di piring makannya tapi di daun yang bisa digelar panjang dan bisa dimakan secara bersama-sama tanpa harus mencucinya nantinya ketika selesai.
Bagi kamu yang belum bisa ikut kongkow atau reuni tentu sangat tergiur kan dengan masakan teman-teman yang kita ini. Sudah jangan dilihat terus makanannya nanti laper gimana… hee..hee..

Meskipun acaranya kongkow, santai tapi kami tak lupa untuk berdoa terlebih dahulu. Dan diawal dengan sedikit sambutan yang dibuka oleh Tia untuk mewakili kami semua. Aku sendiri bersyukur sekali karena sampai saat ini bisa bertemu dengan hari kemengan yakni Idul Fitri dan yang bisa berkumpul dengan teman-teman alumni SD yang sudah lama tidak pernah bertemu. Bertemu pun tak pernah duduk, berkumpul dan bertukar informasi.
Terkadang sebelumnya kalau bertemu di jalan jarang sekali bertanya karena mungkin sebagian teman-teman termasuk aku sudah sedikit berbeda wajah-wajahnya dengan yang dulu. Tapi in shaa Allah setelah acara kongkow ini jadi ingat terus kalau bertemu dan bahkan aku ingin mengadakan acara seperti ini lagi dengan harapan bisa hadir semua.

 
Terkadang kalau kumpul seperti ini aku jadi teringat dulu ketika zaman sekolah dasar. Biasanya kalau kumpul di rumah Johan pasti kerja kelompok, setelah itu main bersama. Entah sepedahan bareng ataupun ngelotis bareng. Pokoknya zaman dulu masih teringat sampai sekarang dan tak akan pernah terlupakan.

Bedanya dulu ketika berkumpul dengan sekarang yaitu pembicaraannya. Dulu ketika sekolah yang dibicarakan tak jauh dari main, sekolah dan yang lainnya yang tak jauh dari obrolan sekolah. Namun sekarang berbeda, meskipun pada kenyatannya masih ada yang sekolah (kuliah). Sekarang yang diobrolin banyak, mulai dari seputar pekerjaan dan nikah. Dari ke-14 orang yang hadir di acara kongkow alumni mungkin ada 3 yang sudah berkeluarga.

 
Dulu kumpul untuk makan seperti ini paling di kantin sekolah, itupun sendiri-sendiri tapi sekarang di tempat yang sama dengan makanan yang sama kami semua menikmatinya. Meskipun dengan 4 ikan gurame untuk ber-14 tapi alhamdulilah cukup. Karena bukan banyak atau sedikitnya ikan yang di dapat untuk setiap orangnya. Tapi masalah kebersamaan yang membuat kami bahagia. Apapun makanannya asal kebersamaan itu ada pasti akan terasa nikmat.

Bedanya dulu dengan sekarang ada di gadget. Dulu meskipun pernah kumpul tapi belum bisa mengabidan momen makan atau main bersama. Karena belum punya gadget untuk mengabadikannya, meskipun ada dan bahkan kamera juga sudah ada. Tapi zaman dulu ketika sekolah dasar jangankan memikirkan gadget, untuk main bersama juga sudah senang sekali. Dan yang luar biasanya tanpa gadget untuk janjian bertemu selalu tepat waktu.
Berbeda dengan sekarang yang serba mudah tapi terkadang ngaret juga setiap megnadakan sesuatu. Seperti halnya acara kongkow acara reuni ini, yang seharusnya pukul berapa tapi dimulai pukul berapa. Tapi semua itu tak harus disesali mari kita jadikan pelajaran agar kedepannya setiap mengadakan acara bisa lebih disiplin lagi.
Tak terasa ngobrol terus, nasi dan ikan bakarnya sudah siap di santap. Di tambah kerupuk dan sayur-sayuran untuk menambah makannya agar semakin mantap.

Seolah bukan seperti ikan gurame bakar tapi kalau dari dekat dan dimakan, hmmmm rasanya wuenake pol. Yang lebih nikmat lagi karena dikasih bumbu kebersamaan. Coba bayangkan jika sudah ada makanan sebanyak itu tapi hanya aku atau kamu sendiri yang makan. Pasti rasa lapar jadi hilang begitu saja. Tapi berbeda jika ada temannya untuk makan bersama. Selain lebih nikmat makan pun serasa bersama keluarga.

 
Setelah beberapa menit saja makanan pun habis sekejap saja. Karena teman-teman sudah lapar begitu juga dengaku yang sedari siang belum makan..hehe.. Karena aku tahu akan ada acara makan-makan nantinya. Ingin rasanya setiap hari makan bersama teman-teman setiap ada acara. Sekalian nostalgia ketika zaman sekolah dasar dulu…he.he..

Setelah makan selesai aku melaksanakan sholat Maghrib terlebih dahulu kemudian membereskan kembali bekas makan. Setelah makan ada beberapa orang yang pulang. Selain mau mandi ada acara juga. Sedangkan yang lainnya mengabadikan foto bersama sebelum pulang. Meskipun gelap bagaimana caranya foto bersama, mulai dari selfie hingga minta difotokan. 
Setelah dicoba foto ternyata hasilnya membuat perut sakit karena tak berhenti tertawa, ada yang matanya nyala seolah GGS, ada yang tak fokus ketawa tapi kena foto, bisa dilihat di atas. Sebelumnya malah tidak di depan rumah Johan, tapi di samping yang tempatnya gelap dan hanya mengandalkan flash handphone, tapi tetap saja hasilnya tetap seperti di atas, malahan tak begitu jelas.
Aku ada inisiatif untuk menaikan bangku yang di dudukin dipindah ke atas agar tidak usah mengguanakan flash handphone juga bisa karena sudah ada cahaya dari lampu di atas. Sebagai percobaan Ade dan Topik yang di foto dan hasilnya seperti dibawah ini.
Setelah dicoba ternyata lumayan jelas meskipun masih sedikit buram. Hasilnya dibawah ini. Tak terasa waktu sudah Isya. Kami semua pamit untuk pulang, dilain kesempatan gampang bisa main lagi ke rumah masing-masing jika belum puas ngobrolnya.
  
Teman-teman yang lainnya yang berhalangan datang semoga dilain waktu bisa datang ya, teman-teman yang belum bisa datang karena ada yang memang belum mudik. Ada juga yang harus berangkat kerja lagi, seperti Siti Nasiroh yang harus berangkat lagi ke kota untuk kerja. Jadi terpaksa dia tidak ikut kongkow. Ada juga yang sedang diperjalanan seperti Riska yang tengah mudik diperjalanan dan Nurrohim yang besok baru bisa pulang.
Kongkow Alumni SD Negeri 1 Sukanagara Angkatan 2007 Alhamdulilah berjalan dengan lancar meskipun tak semuanya bisa hadir. Yang belum bisa hadir bisa membaca tulisan ini agar kalian juga tahu cerita kongkow kemarin. Untuk yang sudah hadir semoga di acara-acara berikutnya bisa tetap ikut dan menyukseskannya.
Yuk tuliskan apa harapan teman-teman untuk kedepannya. Apakah akan diadakan kongkow lagi dan dengan konsep seperti apa. Silahkan tinggalkan komentar ya dibawah ini..
**Sebenarnya setelah acara ini, malamnya aku mengadakan reuni dadakan dengan teman-teman SMA dan bahkan aku yang tidak tahu apa-apa disuruh membuka acara dan berdoa sebelum makan. Mau tahu seperti apa, silahkan baca : Diary Idul Fitri #4, Reuni Dadakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *