#DiaryLebaran #5, Liburan Ke Jembatan Mangrove dan Batu Karas

DiaryMahasiswa.com | Libur lebaran biasanya banyak orang memanfaatkan waktu untuk refresing, entah itu ke pantai, puncak, pegunungan dan yang lainnya. Kebanyakan di daerahku pergi ke pantai Pangandaran. Aku sendiri malas untuk pergi kesana, bukan karena tidak mau, tapi macetnya yang aku tidak mau berpanas-panasan di jalan. Tapi lebaran kali ini aku pergi ke Pangandaran. Selain menemani teman-temanku yang besoknya mau berangkat kerja. Kasihan mereka tidak sempat main kalau di hari itu tak jadi ke Pangandaran.

Awalnya bukan ke pantainya, tapi ke Jembatan Mangrove Pangandran. Tepat satu tahun yang lalu aku kesana pergi bersama Budi sahabatku. Kali ini aku juga tetap bersama Budi ditambah Iga dan Agung, sebenarnya kurang satu orang lagi yakni Pangat. Tapi kata teman-teman dia tak ada kabar, jadi aku tidak tahu juga. Pangat sendiri aku tak punya no handphonenya. Karena dia hanya mengguankan BBM. Sedangkan dirumah aku sendiri jarang menggunakan BBM, bukan malas tapi karena sinyalnya kurang bagus saja.
Dulu awal ketika ke jembatan mangrove masih baru dibangun, kurang lebih baru tiga bulanan. Aku juga sempat ngobrol dengan orang-orang setempat yang sedang menunggu antrian mengantarkan penumpang naik perahu. Dan kabar baiknya mau diperpanjang 100 meter. Tapi kemarin ketika kesana belum diperpanjang sama sekali. Mungkin belum saja, karena butuh waktu yang cukup lama juga.

Kabupaten Pangandaran ini memang terkenal dengan tempat wisata alamnya yang eksotis. Pangandaran juga banyak menyimpan keragaman wisata alam yang indah, selain itu dikenal juga dengan destinasi wisata alam pantai. Jembatan Mangrove tak jauh dari Batu Karas, karena pintu masuknya sama, hanya saja hujan mangrove berada sebelum batu karas.

Letak hutan Mangrove ini tak jauh dari Green Canyon yang lokasinya berada di sebelah Timur dengan jarak tempuhnya hanya 10 menitan dengan menggunakan kendaraan. Lengkapnya ada di Dusun Sanghyang Kalang, Desa Batu Karas, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Satu minggu pertama dibuka jembatan ini banyak dikunjungi wisatawan lokas. Untuk yang belum pernah ke mangrove Pangandaran bisa melalui dua jalur, yakni jalur darat dan air.

Yang pertama jalur darat, dimana penunjung harus masuk melalui pintu gerbang wisata Pantai Batu Hiu. Sedangkan yang kedua bisa melalui kawasan Bandaran Nurawiru dengan menggunakan perahu pesiar dengan taris Rp. 10.000/orang. Selain tempatnya bagus untuk berfoto, jembatan ini juga bisa digunakan untuk menghilangkan rasa penat dari rutinitas kerja.

Waktu itu aku pergi dari rumah (Sukanagara-Lakbok) pukul 09.30, ketika diperjalanan Agung teringat ketika sampai Cawitali. STNK motor yang aku naikin ternyata tertinggal, dengan sedikit bingung mau dibawa atau tidak. Antara dibawa atau tidak berulang kali dipikirkan terus menerus. Meskipun yakin tidak ada polisi tapi aku rasa itu penting juga, karena yang namanya razia tak ada yang tahu, terkadang dadakan.

Alhasil, Agung menelfon adiknya untuk mengantarkan STNK ke jembatan Cawitali dimana kami berhenti. Sekitar 20 menitan menunggu akhirnya datang juga. Kemudian langsung melanjutkan perjalanan dan berharap Dzuhur sudah sampai di mangrove Pangandaran. Tapi ketika suara adzan berkumandang kami masih diperjalanan. Dan tak lama ada Masjid, kami pun melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu sembari istirahat.
Sembari menunggu antri wudlu kami duduk santai terlebih dahulu sembari menurunkan keringat. Panasnya luar biasa, jemur pakaian kayaknya setengah hari juga kering. Selain panas, ramai juga diperjalanan. Memang beda hari-hari biasa dengan hari libur lebaran. Di jalan juga banyak polisi yang mengatur lalu lintas. Bahkan tak hanya polisi saja, warga juga ikut membantu.
Sekiranya keringat sudah turun, aku bergegas mengambil air wudlu dan kemudian masuk ke dalam masjid untuk sholat. Ketika sampai masjid aku dikagetkan dengan dua orang polisi yang sedang tidur di dalam masjid. Coba lihat begitu nyenyak tidurnya.
Padahal di Masjid sendiri tak boleh untuk tidur, boleh pun diluar. Waktu itu padahal jarum jam sudah menunjukan pukul setengah satu lebih. Dalam hatiku berkata, “Polisi itu malah enak-enakan tidur, padahal di depan Masjid yang kebtulan pertigaan jalan banyak sekali kendaraan yang lewat dan itu malahan di atur oleh warga bukan polisinya”. Terlepas benar atau tidaknya aku tidak tahu. Semoga tak ada yang seperti itu lagi.
Setelah selesai sholat kami langsung melanjutkan perjalanan. Dari Masjid pukul 13.00, harapannya ingin cepat selesai. Rasanya aku sudah mulai lelah karena kepanasan dan ingin minum juga. Namun diperjalanan motor yang aku tunggangi tiba-tiba sedikit berbeda ketika melaju. Akhirnya aku memutuskan untuk menepi melihat ban belakang. Dan ternyata sedikit kempes, aku dan Iga berusaha mencari bengkel motor. Sedangkan Agung dan Budi tak melihat aku ketika di bengkel. Mereka melaju terus. Pikirku tak apa-apa, nanti juga kesusul diperjalanan.
Ketika diperjalanan kami melewati tiket masuk ke Green Canyon. Selain banyak polusi karena banyaknya kendaraan yang masuk keluar. Tak hanya motor dan mobil biasa, bis juga sangat banyak. Sesampainya di pintu masuk pertama jalan sudah mulai tidak bersahabat. Selain banyak lubangnya, macet juga banyak orang yang mau berlibur, entah itu ke pantai batu hiu atau ke jematan mangrove sepertiku. Di pintu gerbang pertama kami membayar tiket masuk seharga Rp. 7,500,- satu motornya.
Kemudian aku dan Iga melanjutkan perjalanan sembari tetap menghubungi Agung dan Budi. Tapi ketika aku sudah berjalan cukup jauh belum bertemu juga dengan mereka. Bahkan sampai ke papan petunjuk Jembatan Mangrove belum sampai juga. Aku mencoba menyuruh Iga agar menghubungi Agung atau Budi melalui BBM. Tapi tak ada jawabannya. 

Ketika sampai pintu masuk ke jembatang mangrove belum ada balasan juga. Tapi aku berfikir mereka sudah sampai, karena Budi yang pernah ke mangrove satu tahun yang lalu denganku, aku rasa masih ingat jalannya. Sesampainya di tempat palkir ternyata mereka sudah ada sedang duduk menunggu aku dan Iga. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp. 5.000,- kami langsung masuk menuju jembatan.
Ssesampainya disana pukul 14.00. Jadi teringat satu tahun yang lalu ketika pertama kalinya ke jembatan mangrove ini. Bedanya dulu cuacanya sedikit mendung sehingga teduh, berikut foto dokumentasi di jembatan mangrove.


Dulu  dengan bebasnya aku dan Budi jalan-jalan kesana kesini sampai tak ada bosan-bosannya. Karena memang cuacanya mendukung juga. Apalagi sebelum naik ke jembatannya kami makan terlebih dahulu jadi semangat..hee..hee..
 
Dari beberapa fotoku satu tahun yang lalu banyak yang memegang buku berwarna pink. Itu buku berjudul Revolution Of Love, buku ke-4 karyaku. Di tahun ini juga Alhamdulilah aku menerbitkan buku lagi. Dari pada tanya, silahkan simak ulasan dan beberapa testimoni dari yang sudah membaca disini
 
Dulu sembari menikmatik pemandangan aku dan Budi sempat ditawarin naik perahu, tapi kami belum berminat karena harganya cukup mahal yakni Rp. 20.000/orang, Itupun bukan perahu seperti pada foto diatas, melainkan perahu kecil. Kalau perahu yang diatas bayarnya Rp. 750.000,- tapi harus satu rombongan kurang lebih antara 20-30an orang. 
Selain perahu yang bentuknya seperti pada foto diatas, ada juga perahu yang tingkat. Harganya tak jauh berbeda dengan perahu yang di atas. kelebihannya di dalam sudah ada restorannya. Namun jika makan tetap membayar lagi. Awalnya aku kira sudah gratis tapi belum. Meskipun mahal tapi banyak juga yang naik perahu seperti di atas.
Selain bisa menikmati pemandangan, naik perahu disini juga bisa melihat pesawat Susi Air yang tengah latihan dan terlihat langsung dengan jelas.

Karena bosa foto sendiri terus, akhirnya aku minta tolong kepada pengemudi perahu untuk memotokan kami. Selain buat kenang-kenangan bisa juga sebagai bukti bahwa aku dan Budi pernah kesini bersma.
Tapi hanya dua kali saja difotin karena waktu itu yang naik perahu banyak sekali. Untungnya Budi membawa tongsis punya kakaknya. Meskipun sedikit malu tapi tak apalah mencoba selfie dengan tongsis. Telihat sepi dibelakang tak ada orang. Padahal disamping kiri kami terdapat 3 buah warung dan waktu itu sedang ramai yang makan. PD saja dan cekrek.. he.he..

Tak ada bedanya dengan satu tahun yang lalu. Hanya saja cuaca yang berbeda, dulu kami sempat kehujanan beberapa kali di jembatan. Namun sekarang justru sebaliknya cuaca sangat panas sekali. Aku jadi tidak begitu semangat main disana. Meskipun demikian yang namanya mengabadikan foto tetap saja perlu. Seperti inilah.
Sesampainya disana cuaca panas sekali, aku awalnya tak mau membuka sorbanku yang aku jadikan masker sedari berangkat tadi. Tapi lama-lama gerah juga. Setiap menitnya semakin banyak orang yang datang untuk berkunjung dan naik perahu. Aku sendiri jalan melewati jembatan yang tak ada pohon mangrovenya tidak berani, karena saking panasnya. Tapi banyak orang yang melewatinya demi ingin menaiki perahu.
Atau mungkin mereka baru pertama kalinya ke jembatan mangrove, sedangkan aku dan Budi sudah pernah sebelumnya. Tapi meskipun demikian Iga dan Agung tetap ikut bersamaku, mereka juga kepanasan dan lebih memilih selfie di tempat teduh dengan background jembatan mangrove.
 
Setelah puas foto selfie kami mulai bergantian untuk bergoto, entah itu sendiri ataupun berdua dan bertiga. Meskipun ramai tapi kami tetap mengabadikan foto. Dan justru ketika ramai itu baru di foto selain bisa buat background bisa juga sebagai bukti bahwa di jembatan mangrove ketika libur lebaran sangat ramai.

Foto yang tadi Agung yang foto dan sedangkan yang ini gantian Iga yang foto. Terus saja seperti itu bergantian. Tapi tak terbayang kalau sendirian pergi ke jembatan mangrove, paling-paling selfie ataupun minta difotokan oleh orang baru bisa foto full seluruh badan.

 

Sebenarnya foto yang di atas ini tak sengaja di foto oleh Iga. Tak diminta tapi lumayan bagus juga menurutku, kalau menurut kalian gimana ? Karena waktu sudah ashar kami bergegas pulang dan ingin pergi ke Batu Karasnya juga. Agar sekali pergi dapat dua momen yang berbeda. Dulu ketika aku dengan Budi juga demikian, hanya saja waktu larut sore jadi tak jadi ke batu karas. Makannya di waktu itu berharap sekali bisa pergi kesana. 
Namun sebelum pergi ke batu karas kami ingin mengabadikan foto bersama dengan minta bantuan orang untuk fotokan. Tapi ketika sedang asik dan sudah fose, tiba-tiba aku teringat dengan kunci motor Agung yang aku bawa. Aku mencari-carinya tidak ada, mulai dari kantong celana, jaket hingga tas semuanya tidak ada. Tak hanya aku yang panik, tapi semua.
Momen untuk foto bersama pun jadi ancur dan tak jadi karena kesalahanku yang lupa entah dimana kunci kusimpan. Setelah itu kami bergegas kembali lagi ke tempat awal di jembatan untuk mencari kunci. Melihat ke bawah takutnya jatuh ke air tapi tak ada. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tempat palkir.

Seampainya di tempat palkir aku berusaha mencari, begitu juga dengan Agung yang sangat panik. Karena itu motor miliknya. Ketika sampai motor tak ada satu pun kunci yang menempel tertinggal, baik itu di kontak motornya ataupun di jok motor. Tak lama melihat seorang tukang palkirnya yang tengah duduk mengenakan kalung kunci milik Agung. Alhasil dibawalah dan alhamdulilah tenang dan bisa pulang.
Tak berfikir panjang kami langsung pergi ke Batu Karas. Awalnya aku kira jauh tapi ternyata tidak hanya saja jalannya yang tidak mendukung. Coba saja kalau di aspal mungkin akan sedikit cepat. 
Begitu sampai pantai batu karas, rasanya senang bisa menikmati keindahan alam ciptaan-Nya yang begitu indah. Meskipun cuaca pans, tapi banyak orang yang bermain sky dan berenang.

Pantai Batu Karas merupakan salah satu pesona kota Pangandaran yang menjadi tujuan banyak wisatawan. Pantai ini terletak di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Pantai ini tak jauh jaraknya dari pantai Pangandaran, apalagi dari pantai Batu Hiu. Untuk menuju ke pantai ini tidak begitu jauh jaraknya dari pusat Kabupaten Pangandaran, bisa juga menggunakan kendaraan pribadi ataupun sewa.

Meskipun sore hari, tapi cuaca cukup panas terkena muka. Ingin rasanya menuliskan sesuatu kalau lihat pasir. Waktu itu pasir yang aku pilih terletak dengan bebatuan yang sebelumnya aku anggap bisa buat duduk ternyata tidak karena batunya cukup runcing. Jika terkena kepala mungkin akan berdarah.

Waktu itu aku menuliskan DiaryMahasiswa.Com. Setelah selesai aku berdiri dan dengan kagetnya Agung teriak, “Awassss…!!” dan aku teriak, “Awww..” Sembari memegang kepala yang terkena batu ketika hendak berdiri. Terimakasih Agung sudah mengingatkan, meskipun telat. Rasanya waktu itu pusing sekali dan nyut-nyutan.

Percayalah waktu itu juga kepalaku sakit sekali. Foto diatas sudah tak terlihat begitu merah darah yang keluarnya. Karena aku tutup dengan tangan terus. Selain sakit pusing juga yang aku rasa. Dan yang membuatku kaget, Agung yang sempat mengingatkanku ketika hendak berdiri terkena batu. Ehh, dia juga malah terkena batu juga setelah menulis di pasir dan ketika hendak berdiri juga kepalanya mengalami seperti apa yang aku rasa. Namun dia lebih parah karena mungkin sedikit keras sehingga darah yang keluar cukup banyak.

Merahnya lebih terlihat kan, aku yakin itu terasa sakit dan pusingnya luar biasa. Untuk saja kami tidak mengalam sobek di kepala yang besar, jika iya mungkin bisa dilarikan ke rumah sakit. Dengan pusing yang masih nyut-nyutan kami duduk di tepi pantai sembari berteduh di samping bebatuan sembar melihat Iga dan Budi berfoto-foto.

  
Setelah melihat mereka berfoto, rasanya ingin juga bergabung dengannya. Aku dan Agung berusaha berdiri perlahan untuk menghampiri mereka. Kami berharap ketika pulang nanti sudah tidak pusing lagi, karena akku dan Agung bagian di depan alias mengendarai motornya.

Kemudian aku juga ikut berfoto bersama teman-teman. Selain memang pgengen, buat kenangan juga bahwa aku pernah ke pantai batu karas.

Panasnya luar biasa, aku tak kuat sehingga menutu sebagian mukaku dengan sorban kesayanganku. Dengan kepala yang masih nyut-nyutan Agung berusaha foto terus untuk mengabadikan momen ini. Tempat foto diatas memang berhadapan langsung dengan matahari akan terbenam, sehingga cahaya matahari sangat jelas terlihat.

Berusaha berpindah tempat yang teduh tapi backgroundnnya bukan pantai. Tapi meskipun pasan masih banyak juga orang-orang berenang. Begitu juga yang menunggangi perahu. Entah berapa tarifnya, kami tak naik atau nyewa apapun di pantai batu karas ini. Jikalau berenang pun kami tak mungkin karena tak membawa pakaian ganti. Jangankan pakaian ganti, tas juga tak membawa.
Biasanya setiap pergi kemana-mana aku selalu membawa tas, tapi waktu itu aku hanya membawa tas kecil yang aku kenakan di samping. Biasanya Budi juga membawanya tapi dia malah berharap aku yang membawa. Sedangkan Iga tak ada jadi terpaksa tidak bawa tas besar. Sehingga ketika membawa bekal minum dan jeruk yang aku bawa dari rumah hanya disimpan di motor.
Aku berusaha membelakangi terbenamnya matahari agar punggungku terasa hangat. Dan itu rasanya nikmat apalagi ditambah hembusan angin yang sepoi-sepoi. Fotoku di atas terlihat PW ya duduk nyaman seperti tak ada bebas pikiran. Padahal kalau kalian tahu, aku duduk seperti itu sakit pantanya, karena tak ada batu yang datar untuk duduk. Semuanya sama batunya seperti yang telah membuat kepalaku dan Agung berdarah.
Agung sendiri mengikutiku dengan foto duduk menghadap pantai. Namun dia berpindah tempat ke tempat yang memang teduh terhalang matahari. Selain teduh, bisa melihat pemandangan orang-orang yang sedang berenang ataupun bermain perahu di tepi pantai.
Ketika asik menikmati pemandangan pantai, tak lama Iga mendekati tepi pantai yang ombaknya sedikit besar. Sehingga sepatunya terkena basah dan dia loncat-loncat untuk menghindari air laut. Karena terlihat lucu aku tertawa dan karena terkena basah juga aku tertawa. 
Tak lama aku juga ingin mendekati tepi pantai untuk menaiki sebuah akar pohon yang mendekati pantai berbentuk ayunan. Aku pun menaikinya dan ketika ada ombak besar aku tetap di atas akar tersebut karena tak mungkin air akan melewatiku.
Tapi tetap saja air laut sampai kepadaku dan membahasi sepatu yang aku kenakan. Bahkan sampai ke celanaku. Hampir sampai ke lutut basahnya dan teman-temanku tertawa karena lucu, begitu juga dengan Iga. Mungkin ini karena aku tadi mentertawakan Iga yang sepatunya basah terkena air laut ketika ombak datang.
Tak terasa jarum jam menunjukan waktu yang mengharuskan kami pulang. Namun sebelum pulang kami ingin berfoto bersama dengan menyuruh orang untuk memotretkan. Awalnya ada dua orang laki-laki dan perempuan yang siap kami mintai tolong untuk fotoin kami. Tapi belum juga bicara, mereka menyuruh kami juga untuk fotoin. Aku pun setuju dan nantinya gantian kami yang difotoin.
Kebetulan Iga yang mau fotoin laki-laki dan perempuan itu. Setiap beberapa kali selesai foto, merek aminta lagi dan lagi. Aku sampai heran dengan Budi, kok bisa sampai banyak sekali. Mungkin lebih dari 10 kali foto mereka. Tak lama setelah selesai, mereka hanya mengucapkan terima kasih dan kemudian pergi begitu saja. Entah lupa atau memang tak mau gantian fotin kami.
Terpaksa kami mencari lokasi lagi untuk foto dan berharap ada orang yang ikhlas untu fotoin kami. Ketika sampai lokasi dimana yang kami inginkan, kami menemui seorang laki-laki yang tengah jongkong lama sekali. Awalnya kami tak memperhatikan, tapi setelah aku lihat dia sedang buang air besar di atas batu. Mentang-mentang batunya berwarna hampir sama dengan kotoran, dia seenaknya buang air besar dimana saja.
Ternyata yang melihat hal itu tidak hanya aku tapi banyak, sehingga mereka yang sedang asik berkumpul, tiba-tiba pergi untuk mencari tempat lain. Ketika kami berpindah tempat, terlihat ada dua orang laki-laki yang sedang santai berfoto. Aku pun meminta fotoin untuk kenang-kenangan dan alhamdulilah mau. Seperti inilah hasilnya.

Tak terasa ternyata waktu sudah sore. Kami memutuskan setelah sholat Maghrib pulang. Rasanya capek dan ngantuk sekali ketika diperjalanan. Apalagi rasa nyut-nyut yang masih terasa di kepala. Ingin rasanya tergeletak di kasur dan kemudian tidur untuk istirahat. Sepanjang jalan aku dan Iga ingin sekali beli mendoan, tapi belum ada juga, setiap yang ada di jalan pasti belum ada, kebanyakan mereka masih mempersiapkan untuk menggoreng. Sedangkan aku ingin yang sudah jadi.
Diperjalanan kami berhenti sejenak di Indomaret tepat depan pom bengsin. Selain mengisi bengsin kami juga membeli minum dan membuka sisa bekal makanan yang dibawa. Sembari istirahat kami meliahat hasil jepretan foto-foto. Tapi sayang handphone teman-teman sudah habis semua baterainya kecuali punyaku. Setelah cukup istirahatnya kami melanjutkan perjalanan pulang kembali.
Setiap ada kesempatan untuk mendahuli motor dan mobil kami pasti lakukan. Hati-hati dan selalu baca doalah yang kami lakukan. Setelah lebih dari tiga puluh menit berjalan tiba-tiba di depan banyak mobil mengantri. Dan itu ternyata macet, dan cukup panjang sekali dan susah sekali untuk menerobos. Bahkan ada juga penumpang mobil yang pulang dari pantai turun di jalan, karena panas dan mobil lama tak jalan-jalan.
Awalnya aku kira setelah mendahuli mobil bis yang satu kami sudah terbebas dari kemacetan, ternyata macet masih panjang sekali. Kalau dihitung mungkin sudah 100 kendaraan yang macet tak jalan. Kami yang menggunakan motor masih bisa mendahuli lewat samping jalan atau rumput. Ketika sedang melewati mobil-mobil lewat rumput aku dan Iga merasa tidak kuat untuk jalan motornya. Selain memang sedikit naik jalannya, aku juga berusaha untuk mengegas kencang, tapi motor tak secepat gas yang aku tekan.
Iga pun turun dan memeriksa motor. Agung yang memiliki motor juga turun dan ternyata kami mendapatkan kendala motornya harus diganti oli. Dengan jalan lumayan jauh kami sembari menanyakan bengkel yang dekat disebelah mana. Setelah dikasih tahu ada di depan namun harus menyebrang. Waktu itu juga kami mendorongnya sampai bengkel. Dan di bengket tersebut ramai sekali. Entah itu orang membetulkan motor yang rusak, ada juga yang menambal bannya yang bocor.
Tapi alhamdulilah tidak lama motor kami jadi. Sengaja tidak langsung melanjutkan perjalanan, selain mengistirahatkan motor terlebih dahulu kami juga beli kopi dan makanan di warung dekat bengkel. Serasa sudah cukup barulah melajutkan perjalanan pulang. Lagi-lagi kami terjebak macet yang panjangnya tak terkira. Perlahan dilewati hingga akhirnya bisa terbebas dari macet.
Tak terasa suara perut semakin kencang karena lapar. Awalnya ketika sampai di Padaherang berniat beli makan di Banjarsari. Tapi karena perut sudah tak tahan lagi, dan tanpa rundingan terlebih dahulu Iga berhenti di tempat nasi goreng pinggir jalan dan sudah pesan 4 untuk kami semua. Karena yang lainnya setuju ya sudah makanlah nasi goreng.

Sebelum makan aku berfikir enak makan nasi goreng. Tapi setelah dimakan ternyata hambar dan tak ada rasanya. Begitu juga dengan Budi yang merasakan hal sama seperti aku. “Kalau bukan karena lapar aku tidak mau makan nasi goreng ini”, ucap Budi. Tapi ya sudahlah buat kedepannya agar tidak salah beli lagi kalau mau makan. Setelah selesai makan kami melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah Iga, aku dan Budi istirahat terlebih dahulu. Sedangkan Agung yang masih kesakitan kepalanya akibat kena batu waktu di pantai pulang duluan. Iga sendiri melanjutkan makan, karena sama nasi goreng yang tadi tak membuat kenyang dan tak berasa kalau sudah makan nasi goreng.
Itulah perjalanan kami selama libur lebaran. Kalau kalian libur lebaran kemana ? Share yang di komen ? Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak…

2 Responses for #DiaryLebaran #5, Liburan Ke Jembatan Mangrove dan Batu Karas

Leave a Reply to Mae Csn Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *