Diary Ramadhan #10, Pertama Kalinya Keluar Mencari Makan Sahur

www.andinugraha.com – Sebagai anak kost tak heran jika saling tolong menolong. Bahkan seharusnya sudah seperti itu. Mulai dari urusan pribadi hingga yang bukan tentu teman satu kost harus bisa menolongnya. Bagiku sahabat di perantauan sudah seperti keluarga, karena mereka selalu ada saat senang ataupun sedih.
Aku bersyukur sekali karena bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun 2016 ini. Tentunya dengan harapan bisa lebih baik lagi terutama urusan dalam keagamaan. Yang paling aku sukai Ramadhan di Yogyakarta ini adalah ketika berbuka dan sahur. Berbuka tentu tak jauh dari yang namanya PPT (Para Pencari Takjil). Sebagai anak kost tentu hal itu sangatlah dicari-cari. Namun tak dicari juga setiap Masjid yang ada di Yogyakarta tentu selalu menydiakan makan untuk berbuka puasa.

Begitu juga dengan makan sahur. Ada juga beberapa Masjid di Yogyakarta yang menyediakan makan sahur. Sebagai anak kost aku belum pernah mengalami makan sahur di Masjid. Karena Masjid dekat kostku tidak seprti itu. Tapi tidak menjadi masalah. Aku dan teman-teman lebih suka keluar untuk mencari makan. Terkadang ke tempat yang ini, itu dan kembali lagi yang ini. Bagaimana selera makannya.

Sejak hari pertama puasa Ramadhan ditahun 2016 ini. Aku belum pernah keluar untuk mencari makan sahur. Hanya nitip terus sama teman-teman. Mulai dari hari pertama, kedua hingga ketujuh sekalipun. Namun puasa dihari kedelapan ini aku tak tahu kenapa rasanya ingin keluar untuk mencari makan. Dan terlihat juga teman-teman yang lainnya sedang santai dan aku lihat seperti mereka malas untuk keluar mencari makan.

Maka dari itu aku mengajak temanku Sabbih yang ada kendaraan untuk mencari makan sahur. Tak lupa aku menawarkan teman-teman barangkali ada yang mau nitip untuk makan sahur. Tak lupa juga aku menyempatkan untuk selalu membeli es batu. Tak tahu kenapa rasanya ada yang kurang kalau aku tak minum es. Meskipun di perantauan es selalu menemaniku..hee.

Tak heran jika pemilik warung sudah familiar denganku, karena setiap aku pergi ke warung membeli es, aku tinggal bicara, “Pa biasa ya satu”. Bapaknya pasti paham, karena setiap aku ke warung pasti membeli es batu, meskipun tidak hanya itu saja yang aku beli. Ya itulah aku, si pecinta es.

Sekian dulu ya, sudah waktunya sholat Subuh nih. Tunggu cerita di puasa ke sembilan ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *