Diary Ramadhan #18, Bukber Makan Bakso Jumbo


www.andinugraha.com – Melaksanakan puasa Ramadhan di Yogyakarta tentu mempunyai cerita sendiri, terutama ketika berbuka puasa. Banyak ceritanya, mulai dari PPT (Para Pencari Takjil) keliling Masjid, ada juga yang menunggu gratisan dari kampus. Tapi terkadang aku sendiri ada beberapa hari yang memang tidak keliling masjid untuk berbuka. Karena biasanya ada buka bersama bareng teman kampus, kost bahkan sahabat yang biasa kumpul bareng. Sore itu aku berkumpul dengan teman satu kelompok kuliah kerja lapangan satu bulan yang lalu. Harapannya bisa berkumpul semua, tapi hal itu tidak memungkinkan karena Abdul sudah mudik ke Flores sedangkan Darman yang dari Bantul tak bisa datang. Jadi hanya ada aku, Bahrul, Tri dan Maman. Tapi lagi-lagi Maman belum bisa ikut karena ada janji dengan teman yang lainnya.
Sedari Duhur aku, Bahrul dan Tri memikirkan dimana tempat untuk bukber, tadinya mau di kedai langganan ketika kuliah kerja lapangan namun teman-teman ingin makan yang lainnya. Karena terakhiran jadilah mencari tempat yang terjangkau dan enak. Mulai dari tanya-tanya hingga googling di si mbah google hanya untuk mencari tempat makan. Tadinya mau makan di angkringan bang Harjo yang tempatnya seperti prasmanan tapi tak jadi, begitu pula ditempat makan yang satu lagi langganan Bahrul beberapa bulan yang lalu. Lagi-lagi tak jadi. Tak lama aku teringat dengan makanan kesukaanku yakni bakso.
Setelah aku tanyakan sama teman-teman, Bahrul dan Tri juga setuju. Karena aku tak punya motor jadi pinjem teman kost, awalnya aku, Bahrul dan Tri saja yang akan pergi ke bakso jumbo, namun Mukhlas, Sabbih dan Juna ketika aku ajak mereka mau. Ya sudah aku ajak sekalian saja, biar rame dan aku tak sendirian diperjalanan. Bagi kamu yang membaca diary Ramadhan ke #18 aku pasti tahu kan bakso. Makanan Indonesia yang tak asing lagi, tapi tahu belum sejarah bakso. Aku ceritakan sedikit ya;
Aku yakin orang Indonesia mana sih yang tak kenal bakso, banyak sekali kita jumpai pedagang bakso di jalanan baik yang menggunakan gerobak, ruko ataupun di mall yang harganya selangit. Aku sendiri sering makan yang ada dipinggir jalan, selain bisa mencicipi berbagai macam baksonya, harganya pun masih terjangkau.
Pada awal abad ke -17 akhir Dinasti Ming di Fuzhou, Hidup seorang pria bernama Meng Bo yang tinggal di sebuah desa kecil. Meng Bo sangat baik dan sangat berbakti kepada orang tuanya. Kebaikan dan bakti kepada ibunya sudah dikenal di kalangan tetangganya. Suatu hari, ibunya yang sudah mulai tua sudah tidak dapat makan daging lagi, karena giginya sudah mulai tidak bisa makan sesuatu yang agak keras. Ini sedikit mengecewakan karena dia suka sekali makan daging.
Meng Bo ingin membantu ibunya agar bisa mengonsumsi daging lezat lagi. Sepanjang malam duduk, memikirkan bagaimana mengolah daging yang bisa dimakan oleh ibunya. Hingga suatu hari, ia melihat tetangganya menumbuk beras ketan untuk dijadikan kue mochi. Melihat hal itu, timbul idenya. Meng Bo langsung pergi ke dapur dan mengolah daging dengan cara yang digunakan tetangganya dalam membuat kue mochi. Setelah daging empuk, Meng Bo membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil sehingga ibunya dapat memakannya dengan mudah. Kemudian ia merebus adonan itu, tercium aroma daging yang lezat.
Meng Bo menyajikan bakso itu kepada ibunya. Sang ibu merasa gembira karena tidak hanya baksonya yang lezat, tapi juga mudah untuk dimakan. Meng Bo sangat senang melihat ibunya dapat makan daging lagi.
Cerita bakti Meng Bo cepat menyebar ke seluruh kota Fuzhou. Penduduk berdatangan terus menerus untuk belajar membuat bakso yang di buat Meng Bo. Dan resep terus menyebar dari keluarga ke keluarga lain, kota ke kota lain dan bahkan sekarang diindonesia.
Mungkin bentuk dan rasa yang di buat Meng Bo dan kita makan sehari-hari pasti beda. Cuma sama-sama daging empuk yang di buat bulat2.  Diindonesia bakso sudah dikembangkan resepnya jadi beda2. Dari segi warna bakso, resep soup dan lain2 sudah berbeda dari dulu sampai sekarang. [www.kioskaoscoupleku.com]
Itulah sedikit sejarah bakso yang aku ambil dari kioskaoscoupleku.com. Sekitar pukul 17.00 aku berbegas berangkat ke tempak bakso jumbonya, karena tak begiju jauh jarak dari kost jadi berangkatnya mepet ke Maghrib. Sesampainya disana juga masih nunggu 10 menitan sampai adzan. Tapi aku berbegas untuk memesan terlebih dahulu. Setelah ditanyakan cuma tinggal 4 saja bakso jumbonya, terpaksa harus ada 2 orang yang mengalah. Dan itu adalah Sabbih dan Mukhlas.
Sembari menunggu menunggu adzan Maghrib kami duduk sembari ngobrol di tempat duduk yang sudah disediakan tempat baksonya. Ketika adzan berkumandang, bakso pun dihidangkan.

Di momen ini Bahrul tak terlihat dalam dokumentasi, tapi berkat dialah ada dokumentas. Karena selain aku, Bahrul juga yang mengabadikan momen bukber makan bakso jumbo ini. Sembari makan bakso banyak hal yang kami bahas dalam cerita, terutama masalah mudik. Banyak diantara teman-temanku yang sudah mudik, kalau belum pasti lebih seru lagi makan baksonya, bakalan rame. Teman-teman yang sudah mudik selain sudah kangen kampung halaman, mereka mengejak tiket murahnya juga.

Karena semakin mepet lebaran mudiknya semakin mahal juga biayanya. Terutama bagi yang rumahnya diluar Jawa, Jambi, Palembang, Bengku, kalau menggunakan pesawat tentu sampai jutaan harganya, seperti sahabatku Maman yang memesan tiket pada tanggal 23 Juli untuk ke Lombok biayanya 1,3 Jt.
Buka kali ini sangat seru dan bisa dibilang sebelum mudik. Terutama Tri yang pada hari Jum’at mudik, nanti disusul oleh Juna yang pada malam harinya mudik. Mukhlas dan Sabbih hari Minggunya dan terakhir aku sendiri. Dan itu belum pasti kapan tanggalnya, nanti in shaa Allah aku post di diary Ramadhan mudik..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *