Diary Ramadhan #25, Kado Terindah Sebelum Mudik (Bukber di Ayam Panggang Mbah Dinem-Bantul)

 

www.andinugraha.com – Rasanya cuma aku yang terakhir mudik diantara belasan teman kostku. Bukan ku tak mau mudik duluan, tapi memang sejak awal aku merantau di Yogyakarta aku selalu mudik di akhir-akhir mendekati lebaran. Karena aku lebih suka menjalankan puasa Ramadhan di Yogyakarta. Pertama memang shalat tarawehnya dekat ke masjid, bisa pindah-pindah masjid sesuka hati dan yang paling patut di syukuri bisa berbuka puasa tanpa mengeluarkan dana. Setiap masjid di kota Yogyakarta setiap harinya menyediakan takjil dan makanan untuk berbuka puasa. Mulai dari yang menyediakannya ratusan hingga ribuan porsi lebih.
Selama bulan Ramadhan ini aku sering menyempatkan waktu keliling masjid untuk berbuka puasa. Selain bisa merasakan menu berbuka puasa yang setiap harinya berbeda, aku juga bisa menghadiri ceramah sebelum berbuka puasa. Kadang di masjid gedhe kauman, bisa dibaca disini;
Selain itu, di Masjid Islamic Center Ahmad Dahlan juga pernah. Di masjid ini tentu lebih berbeda lagi, dari sebelum bulan Ramadhan saja menu untuk berbuka puasa sudah banyak berbedar di media sosial dengan menu yang berbeda setiap harinya, ada sate wirosaban, nasi rames, nasi ayam, nasi padang, tongseng. Begitu juga minumnya berbeda-beda. Bisa dibaca disini :
Tidak hanya di Masjid saja, kadang kalau ada yang ngajak buka bersama aku pasti siap hadir. Seperti buka puasa bareng teman-teman kampus, tapi itu diawal bulan Ramadhan, dimana teman-temanku belum pada mudik, Di akhir bulan Juni ini merupakan hari terakhir untuk puasa di kota Yogyakarta, karena besoknya aku mau mudik alias pulang kampung ke Ciamis. Di akhir bulan Ramadhan ini aku mendapatkan kado sebelum mudik yakni buka puasa bersama di ayam panggang mbah dinem.
Jadi ceritanya seperti ini, sekitar pukul 09.42 aku dikirim pesan singkat melalui whatsapp oleh coach Hendri Hariyanto yang isinya mengajak bukber. BIasa aku memanggilnya Mas Hendri, beliau merupakan guru bagiku, akhir-akhir ini aku banyak belajar tentang penjualan online di sosial media. Selain sebagai Co-Founder Mr. Teto beliau juga sebagai penulis buku.
Awalnya aku berfikir hanya aku dan mas Hendri saja yang buka puasa, namun ada juga mas Junaidi, beliau merupakan pemilik Mr. Teto (Sate Madura dan Soto). Sebelumnya aku hanya bisa melihat mas Junaidi di media sosial saja, namun sore itu aku bisa melihat langsung, Alhamdulilah bisa bertemu dengan orang-orang sukses, semoga saja aku bisa seperti beliau. aamiin..
Ayam Panggang Mbah Dinem terleatak di Jl Katamso Dipowinatan 300m utara JOKTENG wetan. Kami berangkat menggunakan mobil mas Hendri sekitar pukul 16.00. Sesampainya disana aku melihat tempatnya yang khas seperti rumah Yogyakarta.
Setelah duduk ternyata di dalam sudah ramai ada lebih dari 5 orang. Dan ada beberapa orang yang mengenakan kaos mirip dengan yang dipakai mas Hendri, kaos polos dengan tulisan, “Bisa Bikin Brand” yang diadakan oleh Pa Subiakto (Praktisi Branding). Aku tahu orangnya tapi belum pernah bertemu, semoga bisa segera 🙂
pict : fb.com/Ayam-Panggang-Mbah-Dinem
pict : fb.com/Ayam-Panggang-Mbah-Dinem
Aku pun ikut duduk di meja no 5, dengan pak Junaidi, sembari duduk aku melihat daftar menu dan harga, seperti di ini daftar menunya; 
Aku sendiri selain membaca sejarah mbah Dinem, melihat harganya juga.
pict : fb.com/Ayam-Panggang-Mbah-Dinem
Ayam Panggang Mbah Dinem ini dipanggang dengan traditional oven, jadi pengolahan dari daging segar langung, kemudian diproses dalam grabah. Dan yang paling beda dari ayam panggang yang lainnya yakni prosesnya, karena proses ayam panggang ini dengan digoreng terlebih dahulu, kemudian ayamnya direbus. Selain itu juga ayam panggang ini dilengkapi dengan rempat-rempat alami resep turunan dari Mbah Dinem tanpa MSG, kurang lebih seperti dibawah ini cara memasaknya :

Kenapa namanya Mbah Dinem, jadi Mbah Dinem itu seorang petani dan pengusaha desa pada jaman dulu, selain memiliki beberapa petak sawah, beliau juga memiliki industri kreatif rumah tangga pemintalan benang serat nanas yang kala itu sangat dibutuhkan masyarakat. Penjualannya pun sampai ke Solo bahkan Semarang.
Bahkan berkat kegigihannya, beliau pernah menjual hasil pertanian dari hasil sendiri maupun sebagai pengepul dari petani lain dengan cara berjalan kaki ke Solo yang jaraknya lebih dari 70 km. Tradisi Mbah Dinem waktu itu adalah membuat Ayam Panggang yang disajikan untuk acara-acara spesial seperti nikahan, sunatan, selamatan, syukuran, dan acara spesial lainnya. Tidak ketinggalan pula ketika anak cucunya berkumpul, Ayam Panggang menjadi menu favorit yang tidak pernah ketinggalan.
Kemudian kenapa dibelakang nama Ayam Panggang Mbah Dinem ini ada nama Bantul. Jadi resep tradisi Mbah Dinem yang istimewa itu telah diwariskan ke anak cucunya. Yang menjadi lebih isitmewa ketika resep tradisi itu dipadukan dengan proses masak dengan peralatan gerabah asli Bantul yang menjadikan cita rasanya semakin istimewa.
Sembari menunggu waktu berbuka, mas Hendri meminta untuk menggabungkan mejanya agar kami semua dapat berkumpul dalam satu meja dan bisa saling bertukar informasi. Setelah digabungkan, mas Hendri pun membuka diskusi yang akan disampaikan oleh pak Saiful Hadi yang membahas tentang branding. 
Ketika aku mendengarkan apa yang tengah disampaikan oleh pak Hadi, aku serasa tidak percaya kalau aku bisa duduk bersama para orang-orang yang sukses. Semoga aku pun bisa mengikuti jejak beliau jadi pengusaha.. aamiin.
Setelah selesai tak lama suara adzan berkumandang. Dan padahal ada sesi kedua yang akan menyampaikan materi lagi yakni pak Bambang pemilik Ayam Panggang Mbah Dinem Bantul ini. Tak lama makanan yang kami pesan pun datang.
Baru saja minum untuk berbuka, tak lama pak Bambang datang dan sedikit berbagi cerita tentang ayam panggang tersebut, dan ternyata mas Mbah Dinem itu neneknya beliau dan rumah makan ini juga belum lama dibuka, kurang lebih dari empat hari sebelum bulan Ramadhan, berarti hampir satu bulan ini. Dan yang membuatku kaget beliau juga ternyata pemilik Bakso Tengkelng Mas Bambang.
Alhamdulilah, aku bersyukur selain bisa berbuka puasa bareng dan bertemu dengan orang-orang yang sukses. Sampai saat ini aku belum sempat mencicipi bakso tengkelng, padahal aku sendiri suka banget makan bakso, tapi belum coba makan bakso tengkelngnya mas Bambang, mudah-mudahan segera.
Setelah makan selesai, kami langsung bersiap-siap untuk sholat Maghrib, begitu juga dengan mas Bambang yang mengajak ke Masjid, karena jaraknya dekat jadi tidak jadi sholat di mushola rumah makan ayam pangganya tersebut. Sebelum ke Masjid mas Hendri berkata ke semuanya, “nanti bayarnya langsung ke kasir saja ya”. Tak lama mas Bambang, selaku pemilik Ayam Panggang Mbah Dinem Bantul tersebut berkata bahwa makan tersebut semuanya gratis.
Lagi-lagi berucap syukur Alhamdulilah. Setelah sholat Maghrib kami kembali lagi ke rumah makan dan dilanjut disi dengan materi branding lagi yang disampaikan oleh pak Bambang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *