Diary Ramadhan #27, Sahur Pertamaku di Puskesmas

www.andinugraha.com – Kakek dan nenek sudah terlihat senang ketika aku datang, sudah lama ketika aku belum mudik kakek selalu menanyakan kedatanganku, kapan mudik dan kapan mudik ? Wajar beliau sangat kanget dengan cucunya terutama dengan Fikri adikku yang masih kecil sudah merantau ke Bekasi untuk sekolahnya.
Karena kakek dan nenek sedang dirawat jadi dirumah sepi tak ada orang satupun. Untuk urusan kebersihan dan ternak seperti ayam dan bebek alhamdulilah ada bibi yang membantu mengurusnya. Setiap pagi dan sore pasti kerumah nenek untuk menyalakan dan mematikan lampunya. Meskipun tak ada orangnya lampu tetap dinyalakan ketika malam karena kalau tidak terlihat seperti tak ada penghuninya.

Tak hanya aku dan ibu saja yang menunggu kakek dan nenek melainkan anak-anaknya juga, seperti ua dan bibi secara bergantian. Ibuku jarang sekali pulang bahkan tidak pernah karena menunggu nenek dan kakek terus, untuk pakaian gantinya ada ua yang membawakannya dari rumah. Malam pertamaku di puskesmas tidak bisa tidur sama sekali, selain dingin banyak nyamuk juga mengigiti badanku.

Tengah malam terkadang nenek terbangun karena kesakitan perutnya, aku dan ibu harus siap terus membantunya, mulai dari makan hingga ke kamar mandi. Kakek sendiri Alhamdulilah sudah mendingan, beliau sudah bisa nyenyak tidurnya. Aku sempat sedih sekali ketika mendengar nenenk nangis kesakitan perutnya. Ibu terus membantunya agar tak sakit, menyuapinya, membuatkan bubur. Tapi lagi-lagi setiap makanan yang masuk selalu dikeluarkan kembali.

Meskipun aku tak sakit, aku bisa merasakan bagaimana sakit perut ketika nenek terbangun terkadang hingga nangis. Apalagi nenek yang punya penyakit maag membuatnya sakit ketika telat makan. Aku hanya bisa berdoa agar nenek cepat sembuh. Nenek selalu menyebut ingin pulang ke rumah, karena sudah tidak betah. Siapa sih yang betah tinggal di puskesmas. Selain tak betah, biayanya juga mahal.

Menurutku di puskesmas setiap orang yang sakit tak begitu serius ditangani, hanya di infus, diperiksa dan dikasih obat. Terkadang setelah itu dokternya pulang, yang ada hanya perawat dan kadang mahasiswa yang magang disitu. Pernah ketika mahasiswa menggantikan infusannya tapi mereka belum bisa karena sampai keluar darahya. Meskipun banyak dokter di puskesmas, tapi tak banyak dokter yang membuat nyaman pasiennya. Mulai dari cara bicaranya yang bisa membuat sakit hati pasien dan cara penanganannya.

Seperti waktu nenek diperiksa oleh salah satu dokter tapi bukan dokter yang meriksa pertama kalinya ketika siang, ini berbeda. Memang sih terkenal dokternya, banyak orang yang tahu dan beliau membuka praktek juga di rumahnya. Tapi aku sendiri kurang suka terhadap sikapnya. Untungnya nenek bisa tidur setelah dikasih bubur oleh ibu. Meskipun belum bisa nyenyak tapi setidaknya bisa intirahat.

Waktu begitu cepat berlalu hingga akhirnya waktu sahur pun tiba. Rasanya mataku tak bisa diajak kompromi, bawaannya waktu itu ngantuk terus. Makan sahur rasanya tak ada semangatnya lagi. Tapi karena ibu memaksanya aku pun sahur, buat nambah tenaga juga ketika siang harinya. Padahal waktu itu tak ada semangat sama sekali, karena tempat sangat berpengaruh buatku, apalagi di puskesmas yang terkadang bisa mencium bau tak sedap, seperti obat-obatan dan yang lainnya. Tapi alhamdulilah bisa sahur juga meskipun tak ditemani dengan es.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *