Diary Ramadhan #4, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Masjid Kauman Yogyakarta, Namun Kurang Beruntung

DiaryMahasiswa| Sore yang cerah, secerah libur kuliah. Tetap semangat menjalani puasa ke-3 di bulan Ramadhan yang suci ini. Sejak siang hari aku mencuci baju yang begitu banyak, wajar karena beberapa hari belum nyuci. Setelah nyuci kemudian nganterin Endro teman satu kost ke tempat kerja. Motor yang biasa Endro guanakan aku pinjam karena ada keperluan.

Sorenya, aku mengajak Sulis untuk mencari makan atau buka puasa di Masjid yang berbeda. Setelah dua hari buka puasa di Masjid Al-Munir dekat kost, rasanya aku ingin keliling menjadi PPT (Para Pencari Takjil) ke Masjid lain. Aku mengajak Sulis ke Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Berharap bisa buka puasa disana, mengingat Ramadhan tahun lalu Sulis belum bisa ikut denganku ke Masjid Gedhe Kauman, karena dia lebih dulu untuk mudik.

Kebetulan sore itu ada Tri dan Eko yang sedang main di kostku. Sengaja aku mengajaknya untuk mencari buka puasa di Masjid Gedhe Kauman. Setelah Ashar, Tri pulang ke kostnya terlebih dahulu karena ada keperluan. Kami rencana berangkat pukul 16.30 ke Masjid Gedhe Kauman. Karena mengingat jarak dan jalan yang sudah diprediksi macet. Terutama di jalan Kampung Ramadhan Jogokariyan. Sangat ramai dan tentu macet.

Sore itu aku menunggu Tri lama tak kunjung datang ke kost. Hingga akhirnya jarum jam menunjukan pukul 17.00 Tri belum juga datang. Setelah di SMS dia malaham memutuskan untuk buka puasa di Masjid Al-Munir dekat kost. Terpaksa aku langsung berangkat dengan tergesa-gesa karena takut keburu adzan Maghrib. Jadinya yang bisa berangkat hanya aku, Sulis dan Eko.

Kasihan sebenarnya Eko tak ada temannya dijalan. Karena Tri tak bisa ikut. Sore itu juga mengirim pesan singkat kepada Tri, “Coba dari tadi bilang kalau tidak jadi ikut, jadi gak nungguin lama”. Tak lama Tri membalas dengan alesan karena dia tadi ada yang minta tolong untuk dipotongkan rambutnya. Aku pun mengerti dan tak ada alasan untuk marah.

Tak pikir panjang, disore itu juga aku langsung berbegas berangkat ke Masjid Gedhe Kauman. Seperti yang sudah diprediksi di daerah Kampung Ramadhan sangat ramai dan padat sekali orang yang jalan dan membeli takjil. Seperti ini kepadatannya :


Cukup capek naik motor dengan pelan karena macet dijalannya, terutama ketika papasan dengan mobil. Setelah keluar melewati kampung Ramadhan Jogokariyan jarum jam sudah hampir menunjukan pukul 17.20. Kami mempercepat perjalanan agar tidak telat untuk mengikuti tausiah sebelum buka puasa di Masjid Kauman.
Sesampainya disana, sudah sangat ramai sekali di Masjidnya. Ratusan, bahkan ribuan orang sudah memenuhi Masjid baik di dalam ataupun diluar.
Kebanyakan orang yang ada disitu sudah duduk dengan posisi nyaman sembari memegang nasi untuk berbuka puasa. Aku, Sulis dan Eko berbegas mendatangi ibu-ibu yang membagikan nasi untuk buka puasa. Namun nasinya sudah habis, alhasil kami hanya kebagian roti dan satu gelas minum.

Foto dibawah ini ketika pembagian nasi untuk berbuka puasa di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Setiap harinya lebih dari 1000 porsi menu berbuka puasa yang disediakan.

Sayangnya sore ini kami belum beruntung, karena kehabisan nasinya. Lain kali harus lebih awal lagi datangnya agar bisa mendengarkan tausiyah juga. Tapi meskipun demikian, aku tetap mensyukurinya.

Setelah mengambil roti aku kembali ke depan Masjid untuk melihat jadwal Ustadz yang akan menjadi imam selama tarawih di Masjid Gedhe Kauman hingga malam takbir sembari menunggu adzan Maghrib. Berikut ada foto siapa saja yang akan menjadi Imam disetiap shalat tarawihnya.

Setelah selesai makan roti dan minum, kami berbegas untuk mengambil air wudlu. Namun lagi-lagi ngantrinya sangat panjang, puluhan orang mengantri sedangkan suara iqomah sudah dikumandangkan. Terpaksa kami keluar mencari tempat sholat. Selain itu kami juga mencari makan lagi, karena Eko dan Sulis juga ingin makan, Namun kami bingung mau makan dimana, setiap aku tanya, jawabannya “aku ngikut aja mau makan dimana”. Begitu juga denganku..hee

Kami memutuskan untuk ke daerah pasar telo, ke rumah padang langganan yang biasa kami sebut, Padang Masyarakat. Karena harganya cukup murah dan bisa dikategorikan sebagai makanan masyarakat. Harganya terjangkau untuk mahasiswa. Tapi sesampainya disana rumah makannya tutup, lagi-lagi kami kurang beruntung. Setelah itu kami memutuskan untuk diskusi terlebih dahulu, akhirnya kami memutuskan untuk makan di Karista. Salah satu tempat makan yang harganya juga terjangkau.

Tapi tidak tahu kenapa Eko ketika mau palkir malah pergi ke tempat makan Lika, yang tempatnya justru berjauhan dengan Karista. Setelah aku dan Sulis di Karista, tak lama Eko mengirim pesan singkat menanyakan lagi dimana. Aku membalasnya agar dia segera ke tempat makan Karista. Sembari menunggu Eko, Aku dan Sulis santai di depan Karista. Ada salah satu orang yang membeli makan juga dan aku hanya bisa melihat sembari menunggu kedatangan Eko.

Setelah datang, kami langsung mengambil piring untuk makan. Karena sudah tak terbendung rasa laparnya, Eko langsung membuka majikom untuk mengambil nasi. Namun kami belum beruntung karena nasinya kosong alias habis. Tak lama ibu warungnya keluar, kami berharap nasinya masih ada dibelakang. Namun tidak ada lagi, habis.

Dengan sedikit kecewa kami pergi ke warung andalan yakni burjo. Nasi telur lagi nasi telur lagi.hee. Setelah dibungkus kami pulang untuk makan bersama-sama di kost. Itulah kegiatanku untuk mencari takjil di Masjid Kauman. Lain kali aku ceritakan lagi kegiatan selama bulan Ramadhan.

2 Responses for Diary Ramadhan #4, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Masjid Kauman Yogyakarta, Namun Kurang Beruntung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *