Diary Ramadhan #6, Makan Sahur Terong Dicabein ala Anak Kost

www.andinugraha.com– Makan sahur akan terasa nikmat jika makan masakan ibu dirumah. Tapi karena aku ada diperantauan belum bisa pulang. Salah satu obat untuk mengobati kangen masakan rumah yakni dengan masak sendiri. Di kost aku tidak hanya sendiri tapi rame-rame. Kurang lebih ada delapan orang yang masak. Kalau dijumlah semua yang kost lebih dari sepuluh orang. Senang rasanya bisa kumpul semua, apalagi disaat makan sahur. Serasa masak keluarga. Bagiku sahabat di perantauan seperti keluarga, karena mereka selalu ada disasat senang ataupun sedih.
Sepulang sholat tarawih aku dan teman-teman yang lainnya istirahat terlebih dahulu. Ada Sulis, Endro, Mukhlas, Sabbih, Juna, Lambang dan Umar. Sulis sendiri malah tertidur pulas, mungkin saja karena capek. Sedangkan Sabbih dan Mukhlas belanja terong dan bahan-bahan lainnnya. Aku dan Endro pergi ke Lembayung, salah satu tempat ngopi yang ada di kota Yogyakarta. Tempat kopi ini dihari biasa tutupnya pukul 24.00. Tapi karena Ramadhan buka sampai sahur.
Sebelum tidur Sabbih memasak nasi terlebih dahulu, agar ketika sahur sudah tinggal masak terong dicabein..hee Masak kali ini cukup banyak, kurang lebih ada 7 gelas takar. Enaknya masak dengan teman-teman kost itu, ada yang khusus masak terong, masak nasi, beli bumbu dan yang tak lupa bagiku itu es batu. Ya es batu selalu ada menemaniku setiap makan. Entah itu berbuka puasa ataupun sahur. Rasanya ada yang kurang kalau dalam sehari belum minum es.
Inilah suasana ketika masak, Sabbih dan Sulis sibuk memasak terong. Ada yang cuci piring dan yang lainnya. Kegiatan masak seperti ini tak hanya kami lakukan pada saat bulan Ramadhan saja, melainkan hari-hari biasa juga demikian. Karena dengan memasak akan lebih irit lagi. Selain itu bisa menikmati hasil masakan sendiri.Meskipun terlihat sederhana, kami tetap senang bisa masak untuk sahur bersama. Dan yang terpenting bersyukurnya disini. Berikut beberapa foto dokumentasi selama masak terong dicabein.

Setelah terongnya sudah selesai dimasak, aku berbegas mencabut magicom untuk menyiapkan nasi.
Sembari menunggu nasi dan terongnya mateng, Endro memanfaatkan waktunya untuk menyelesaikan skripsinya. 

Meskipun terlihat sederhana, kami tetap senang bisa masak untuk sahur bersama. Dan yang terpenting bersyukurnya disini. Tunggu tulisan lainnya selama bulan Ramadhan ya teman-teman 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *