Welcome To Diary Mahasiswa

DiaryMahasiswa |Hallo semuanya, selamat datang di Diary Mahasiswa. Digital diary yang isinya keseharian mahasiswa, mulai dari jalan-jalan, kulineran, sepedahan dan juga Jogja.

Bagiku sebutan mahasiswa gak melulu bagi mereka yang sedang kuliah di gedung-gedung mewah ataupun bagi mereka yang sedang belajar mengejar gelar sarjana. Tapi kita semua adalah mahasiswa. Karena sejatinya kita semua sedang belajar di Universitas Kehidupan.

Sebenarnya ini postingan keberapa, lupa kau juga. Yang jelas sebelum diary ini ada banyak kumpulan diary yang dulunya ada karena tugas. Tapi aku ganti dan saat ini lebih banyak ke kegiatan sehari-hari.

Di Digital Diary ini aku mengusahakan setiap satu minggu sekali posting diary terbaru. Tapi gak janji, karena tidak tahu selama seminggu kedepan aku ada diluar kamar (berpergian) atau tidak. Mudah-mudahan bisa istiqomah untuk terus berbagi dan menginspirasi lewat tulisan yang dipublis disini.

Dulu ketika sekolah menengah atas, aku jarang sekali yang namanya nulis, karena memang tidak suka menulis juga sih apalagi membaca. Rasanya males banget membaca buku kalau tidak saat ujian, ulangan dan sebagainya.

Jadi gini, aku punya paman yang pada waktu sekolah menengah atas susah untuk bertemu, karena beliau kuliah di Jakarta, sedangkan untuk pulang satu tahun sekali. Itupun tidak lama dirumah. Tapi beliau selalu menyempatkan main ke rumahku dan sering menanyakan gimana aku disekolah, terlebih perkembangan belajarnya.

Sering sekali paman membawa buku yang membuatku tak tertarik ketika melihatnya. Apalagi buku tanpa ada gambarnya. Beliau menyuruhku untuk rajin membaca dan menulis. Padahal kedua hal tersebut paling tidak aku sukai. Tapi pada waktu itu paman memberiku sebuah buku yang judulnya aku masih ingat yakni “Cita Diri Remaja Muslim”. Dengan seringnya paman mengingatkan, apalagi sampai bilang ke Ibu. Terpaksa aku menurutinya dengan hati tak ikhlas

Gimana mau ikhlas, aku saja tidak suka dengan hal yang aku kerjakan. Tapi mau gimana lagi aku tetap menurutinya meskipun malas-malasan. Terutama ketika menulis, aku disuruh menuliskan kegiatan sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Entah apa yang mau aku tulis, bingung tak ada gambaran sama sekali. Apalagi ketika menulis bertemu dengan titik (.) Setelah itu pasti aku menulis kelanjutan kalimatnya dengan lalu, kemudian, terus, lalu kemudian dan terus hingga berulang-ulang.

Misalnya, pagi itu aku bangung tidur, lalu mandi kemudian makan terus main. Lalu aku pulang. Pokoknya seperti itu terus dan aku bingung sampai-sampai malas untuk membaca tulisanku sendiri. Tapi perlahan aku mulai tertarik untuk menceritakan apa kesibukanku, kegiatanku yang sedang dilakukan. Disisi lain rasa males masih terus menghampiriku.

Disitu aku mulai gelisah, bingung apakah mau dilanjutkan menulis kegiatan sehari-hariku ini. Apakah aku membantuku pada suatu saat nanti ? Dengan malas-malasan aku tetap terus menuliskan kegiatanku dan membaca buku yang dikasih oleh paman. Membaca buku bukan pelajaran rasanya malas banget.

Beberapa hari tidak menulis, akhirnya aku mencoba lagi. Tapi waktu itu ada sedikit yang berbeda dari hari-hari sebelumnya ketika aku menulis. Serasa ada yang beda, aku sedikit mudah untuk mengolah kata meskipun belum seberapa. Tapi aku merasa mulai ada perkembangan dalam menulisku.

Hingga akhirnya aku berlangganan majalah remaja kepada Ustadz sekaligus guru ngajiku, dimana majalah tersebut terbit setiap satu minggu sekali. Banyak kisah inspiratis setiap majalah yang terbit, topik bahasannya juga menarik, ada tentang pengetahuan, agama, hingga memuat kisah orang-orang yang sukses didalamnya.

Dimana mulai dari nol hingga suksesnya mereka ceritakan. Email dan nomer kontak pun dicantumkan, sehingga para pembaca akan mudah untuk menghubunginya.

Waktu itu kebetulan memuat tentang salah seorang penulis muda dari kota muna yang tengah merantau di Yogyakarta untuk kuliah. Sebut saja La Ode Munafar, saat ini mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama beliau, mungkin sudah ribuan training yang sudah beliau isi.

Singkat cerita aku mencoba untuk menghubungi La Ode dengan tujuan ingin belajar bagaimana caranya menulis. Aku mulai tertarik ingin bisa jadi seorang penulis setelah melihat profil beliau.

Makannya aku menanyakan hal demikian, awalnya aku tak berharap beliau membalas pesan singkatku, karena setiap orang yang aku anggap sudah besar atau sukses tak mungkin ada waktu untuk membalas pesan singkat ataupun mengangkat telfon.

Tapi hal itu jauh dari dugaanku, beliau merespon dan membalas pesan singkatku. Beliau masih kuliah di salah satu sekolah tinggi swasta di Yogyakarta. Setelah seringnya kirim pesan singkat itu, gairahku untuk menulis bergitu membara.

Hingga akhirnya setiap kemana-mana aku selalu membawa buku atau catatan kecil untuk mencatat kegiatan yang sedang terjadi. Aku biasa menyebutnya buku diary. Sekalipun itu tak penting. Tapi karena aku orangnya pelupa jadi wajarlah bawa buku kemana-mana.

Sempat ada  yang tanya, kenapa dalam tasmu isinya sarung dan buku, kaya mau kemana saja. Dulu memang seperti itu, tujuannya setiap aku pergi ke suatu tempat aku tuliskan, mulai dari alamat, nama tempat dan yang lainnya. Meskipun capek nulis tangan tapi aku tetap meneruskannya, hingga akhirnya aku menamai buku itu disebut dengan diary.

Hingga lulus aku suka menceritakan kegiatanku dalam sebuah tulisan. Hari ini nulis, tiga hari kemudian aku baca kembali. Terkadang ketika membaca ada kalimat yang tidak enak dibaca. Tapi aku terus berusaha untuk menuliskan kegiatan sehari-hari. Setelah Ujian Nasional aku sibuk mengikuti SNMPTN untuk kuliah, begitu juga dengan teman-temanku.

Aku berusaha ingin bertemu dengan La Ode, Alhamdulilah Allah mengabulkannya dan setiap aku tanya bagaimana caranya menulis, beliau menjawab ya tinggal menulis saja. Begitu juga dengan para penulis yang lainnya jawabannya sama.

Hingga akhirnya aku tahu apa maksud paman menyuruhku menuliskan kegiatan sehari-hari. Untuk melatih menulis. Dan sekarang aku mulai menyukainya.

Waktu itu aku mendapatkan tugas dari kampus untuk membuat blog dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan oleh dosen. Karena aku belum bisa membuatnya jadi minta ajarin temanku yang memang sedari sekolah menengah kejuruan sudah bermain blog. Mezi Aris namanya. Masih aku ingat malam itu dari pukul 22.00 hingga pukul 02.00 pagi di warnet. Saking asiknya sampai lupa waktu.

Setelah tugasnya selesai aku sendiri masih tetap otak-atik blog, mulai dari merubah template hingga puluhan kali, tulisan, warna dan yang lainnya. Hingga suatu hari aku berfikir, “kenapa aku tidak mencoba menuliskan diaryku di blog, pasti orang-orang akan lebih mudah membacanya, mengkritik dan kasih masukan”.

Setelah memilih tema yang cocok, baru menulislah kegiatan sehari-hari. Mulai dari jalan-jalan, kulineran, mendaki, gowes dan tentunya keseharianku bersama Jogja. Dan berusaha untuk terus berbagi dan mengispirasi lewat digital diary ini.

Aku ingin terus menuliskan pengalaman dalam untaian kata. Aku yakin diary-diary itu akan mudah dibaca di suatu saat nanti. Dan harapannya bisa bermanfaat.

Segini dulu aja ya, tunggu diary terbaruku ya ūüôā

Sahabatmu, Andi Nugraha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *