Diary Ramadhan #26, Mudik ke Kampung Halaman

DiaryMahasiswa | Mudik kali ini merupakan mudik yang aku tunggu-tunggu, selain ingin cepat bertemu dengan ibu, aku juga ingin sekali bertemu dengan Fikri Haikal, adekku.

Adikku juga sudah satu tahun merantau di Bekasi untuk melanjutkan sekolah menengah pertama. Tapi dia sendiri belum bisa pulang dihari yang sama denganku, karena hari Sabtu baru dibagi rapot. Jadi pulang ke rumah kemungkinan hari Minggu.

Awalnya ibu mau menjemput adek untuk pulang ke rumah, tapi gak jadi karena ayah yang jadi jemput ke pondoknya. Selain memang pulangnya bareng, ongkosnya juga sedikit murah dibandingkan jika ibu harus menemput ke Bekasi.

Mendekati hari raya idul fitri sudah biasa dapet kejutan. Apa? Harga tiket naik..he.. Seperti halnya aku yang mudik dari kota Yogyakarta ke Ciamis, yang tadinya harganya Rp. 98,000,- sekarang menjadi Rp. 145,000,- Lumayan kan naiknya, kalau untuk di Yogyakarta sudah bisa buat makan satu Minggu..hee

Lagi-lagi mudik kali ini aku sendiri, (ciee jomblo), #ehh maksudnya duduknya sendiri. Jomblo iya, tapi masalah duduk sendiri memang waktu mudik tak sepenuh seperti berangkat orangnya dan tak macet juga.

Di perjalanan tiket yang biasa ditukarkan dengan makan siang, kali ini juga tetap ditukarkan namun bukan makanan, tapi dengan satu toples qurma, karena sedang berpuasa jadi tidak makan siang. Meskipun demikian, tetap ada saja yang makan siang ditempat dan bahkan merokok secara terang-terangan di siang bolong. #JanganDitiruYa 🙂

Sesampainya di pasir kunyit, tempat dimana aku diturunkan bis, kurang lebih pukul 17.00 dan dijemput oleh saudara dan sesampainya di rumah aku baru dapet kabar kalau ibuku sedang di puskesmas nungguin kakek dan nenek yang tengah sakit sudah hampir dua malam dirawat.

Mendengar itu tentu aku kaget, sedih juga. Gak lama aku langsung kesana untuk menyusul sekaligus bertemu. Biasanya sih kalau ada di rumah aku selalu di sambut ceria oleh ibu, kakek dan nenek juga.Terutama nenek yang mengerti akan kesukaan cucunya. Bukan hal mewat kok, apa itu? Es, iya es. Cukup buatkan es batu untukku juga sudah senang..hehe

Dimanapun dan kapanpun aku terbiasa harus ada es, gak harus ada minuman mewah kok. Cukup air putih dikasih es batu juga cukup. Sore itu kulkasnya tak terurus karena banyak saljunya yang melekat didalam begitu keras. Untuk membersihkannya pun sedikit susah. Terpaksa harus dilepas colokannya untuk melelehkan esnya.

Btw, kalian mudik gak nih? Kalau iya kemana? Hati-hati ya di perjalanan semoga selamat sampai tujuan. Lanjut baca Diary Ramadhan #27 ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *