Keseruan Festival Budaya Kampoeng Musikanan 2018

DiaryMahasiswa – Dear Diary, maafkan aku di Agustus ini, yang sudah mengabaikanmu. Bukan aku tak peduli, bukan juga aku melupakanmu. Serius, buktinya buku diaryku selalu terisi setiap harinya. Nah saat ini aku mau cerita yang ada kaitannya dengan musik. Apa, Ndi? Lanjut baca aja ya πŸ™‚

Sebelumnya aku ucapkan terimakasih buat SDM (Sahabat Diary Mahasiswa) yang sudah menanyakan sekaligus perhatian tentang updatean diaryyang sudah beberapa minggu ini tak kunjung tayang.

Terakhir di hari Sabtu kemarin mas Himawan pemilik blog tripofmine.com menanyakan tentang updatean diary. Nah niatnya hari itu aku mau nulis dan di updatedi malam minggunya. Tapi belum jadi karena suatu hal.

Gini ceritanya, hari Sabtu seperti biasa masih ngantor, pulang sudah ada teman yang siap ngajak ke Malioboro. Bukan sekedar main tapi memang ada keperluan yang mau dibeli, kalau nemu. Pulangnya sudah capek, di hari Minggunya tepat setelah subuh, aku dan Maman sudah berangkat ke Mangunan.

Mangunan? Mau ngapain, Ndi?
Biasa, jalan-jalan, hehe.. Kebetulan sudah ada jadwal dimana diri ini main sekaligus refrest otak gitu. Gak cuma aku dan Maman, aku mengajak Anin, teman gowesku juga yang kebetulan sekarang mempunyai profesi menjadi seorang guru. Mulia bukan?

Baca juga : Kemit Forest Education, Wisata Kekinian di Sidareja Cilacap

Well, singkatnya kami pulang dari Mangunan itu siang, tepatya setelah Duhur. Harusnya lanjut nulis. Tapi berhubung aku dapet undangan untuk hadir di Festival Budaya Musikanan. Jadi siang itu kami gunakan untuk istirahat alias bobo siang. Jarang-jarang kan.

Oh, iya, Festival ini seperti yang tertulis dalam judul. Dan aku menghadirinya. Kebetulan baru bisa datang di malam harinya. Karena acaranya ada sedari pagi. Seperti ini famplateacaranya.

Dan festival budaya musikanan ini di tahun 2018 sudah yang ke-2 lho. Baru tahu kan? Hayo ngaku? Eh, tapi kalau orang Jogja mah pasti sudah tahu ya? Kalau belum jadi tahu kan. Ucapkan apa? πŸ˜€

Dan aku punya rundownacaranya sedari pagi. Kalian bisa baca jadwalnya dibawah ini ya :))

Setelah shalat Maghrib aku datang kesana. Sendiri? Nggak, masih tetap ditemani sahabatku, Maman dan Anin. Jujur sih aku baru pertama kalinya menghadiri acara musikanan ini.Oh, iya, aku sharesedikit tentang musikanan ya. Siapa tahu kalian ada yang belum tahu. Atau memang belum tahu.Β Festival Budaya Kampoeng Musikanan ini digelar di sepanjang jalan Kampoeng Musikanan Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton Kota Yogyakarta.

Seperi di famplatenya itu, tidak hanya berbagai pertunjukan musik saja yang ada. Tapi terdapat juga bazaar, culinarydan musikanan talkshow. Dan spesial performancenyaada dari Cakra Budaya yang menampilkan dance, Musikanan Brass Band, Tingang Tatu (Ethnic Music), sobooh yang membawakan keroncong musik, songket arttra (Ethnic Music) dan PS Gelora Bahana Patria (Choir).

Nah sedangkan untuk sejarahnya sendiri, musikanan sendiri diambil dari kata muzikant dan -anyang berarti tempat tinggal para abdi dalem pemain musik Kraton Yogyakarta.

Musik tidak bisa terlepas dari dan menjadi penghibur keluarga keraton.Β  Musikanan berarti tempat tinggal para abdi dalem pemain musik Keraton Yogyakarta.

Dari rasa kepedulian dan kekhawatiran musnahnya kegiatan bermusik di kampung tersebut maka dirasa perlu untuk mengenalkan kembali, melestarikan dan mengembangkan tradisi musikanan, baik kepada masyarakat sekitar maupun wisatawan.

Di festival ini kami tidak sampai akhir, karena aku harus packing buku yang siap di kirim dihari Seninnya. Oh, iya, selama disana, aku juga mengabadikan beberapa foto dan video lho. Namanya juga festival musik, jadi gak heran kalau di panggungnya terdapat peralatan musiknya.

MC dalam acara ini ada dua, laki-laki dan perempuan. Aku lupa namnya siapa, padahal malam itu sempat tahu. YangΒ  jelas ganteng dan cantik πŸ™‚

Sebelum masuk ke pementasan musiknya, sambutan dari Bapak Sigit Wicaksono, selaku Ketua Panitia Festival Budaya Musikanan tahun 2018.

Bapak Sigit Wicaksono

Dilanjutkan dengan sambutan dari ketua JMBN, yaitu Bapak Priyo Mustiko.

Bapak Priyo Mustiko

Dan ada sambutan juga dari Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, yaitu Bapak Ir. Eko Suryo Maharsono, MM.

Bapak Ir. Eko Suryo Maharsono, MM.

Pengunjung makin malam makin rame yang datang. Terlebih para pengunjung yang sedang makan di angkringan dan bakmi. Karena tempat makan tersebut ada di sekitar alun-alun juga. Yang datang gak cuma masyarakat biasa, tapi ada pejabat, polisi dan siapa pun boleh dateng. Cukup registrasi dikasih snack terus duduk sembari makan sncaknya deh. ^_^

Nah sebenarnya pembukaan acara ini diawali dengan sebuah tarian. Cakra Budaya namanya. Anak-anak yang nari ini keren. Meskipun mereka terlihat lelah. Andai kalian lihat juga pasti seru. Tunggu aja deh tahun depan pasti ada lagi festival seperti ini.

Yang berikutnya ada paduan suara yang mengenakan seragam batik. Awalnya aku agak heran waktu duduk bareng mereka. Kok pada pake seragam, pas naik ke atas panggung ternyata mereka paduan suara.

Jadi teringat waktu sekolah dasar dulu, aku pernah ikut paduan suara. Sayang, gagal karena suaraku gak bagus..haha. Suka pengen ketawa kalau teringat. Btw, kalian punya pengalaman gak sama nyanyi. Atau memang kalian ini suka nyanyi ya. Ngaku! Di kamar mandi kan πŸ˜›

Setelah paduan suara selesai menyanyikan beberapa lagu. Kemudian pertunjukan dariΒ musikanan Brass Band yang dipandu oleh Bapak Wawan. Pertunjukan yang satu ini bener-bener keren dan membuat para penonton semangat.

Kenapa semangat? Karena semua terpukau dengan penampilan pertunjukan tari maupun musiknya. Terlebih salah satu band dengan drummernya seorang perempuan. Lincah dan semangat. Orang yang pegang kamera juga semua fotonya lebih banyak ke drummernya. Termasuk aku..haha

Baca juga : Bernostalgia dengan Jajanan Lawas di Pasar Kangen Jogja 2018

Nah yang ini cukup unik dan langka. Karena aku baru melihatnya juga.Β Songket Arttra namanya. Dimana para pemainnya ada yang memainkan gitar kecil atau biasa di sebut kentrung. Terus seruling dan semacam gendang yang asalnya dari India. Seruling yang di mainkan itu berasal dari Cina. Unik juga bentuknya, semacam seruling pemanggil ular..he

Sebenarnya masih ada pertunjukan lagi sih, tapi kami keburu pulang karena mau packing buku yang besoknya harus di kirim. Semoga diary kali ini dapat memberikan informasi untuk para SDM yang membaca.

Segitu dulu aja ya, mau istirahat dulu. Besok dilanjut lagi. Semoga SDM sehat selalu serta doa-doanya Allah kabulkan. Aamiin.

105 Responses for Keseruan Festival Budaya Kampoeng Musikanan 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *