Sarapan Pagi? Soto Lamongan atau Soto Rempah?


DiaryMahasiswa.com | Bagiku Yogyakarta tempat yang sangat nyaman untuk bersepeda. Baik pagi ataupun sore. Dalam seminggu biasanya aku meluangkan waktu untuk gowes pagi, biasanya dua sampai tiga kali. Tapi tidak gowes yang jaraknya jauh-jauh. Cukup ke Tugu, Malioboro, Alun-alun ataupun menelusuri tempat-tempat pedesaan. Selain tempatnya asri, serasa di kampung halaman sendiri.

Baca juga : Gowes ke Pantai Ngunggah, Gunung Kidul

Pagi itu aku keliling di daerah Krapyak, entah kemana tujuannya. Karena aku juga tidak tahu, yang jelas aku menelusuri jalan terus. Dengan begitu jadi tahu tembusnya dimana dan kemana. Di daerah krapyak pagi itu rasanya adem, lingkungannya bersih dan masyarakatnya juga ramah-ramah.

Seperti biasa aku ditemani oleh sahabatku, Maman. Sebelumnya dia pernah ke jalan-jalan di Krapyak, makannya dia tahu beberapa tempat. Dia juga ngasih tahu kalau di daerah tersebut ada patung pahlawan gitu. Mendengarnya aku semakin penasaran. Sesampainya di temap, aku seperti biasa mengabadikan foto.

Kalau dilihat-lihat sih seperti patung perjuangan gitu. Tapi prosesnya belum selesai semua. Dibalik patung yang aku foto itu ada patung yang besar juga sedang proses pembuatan tapi belum jadi. Lingkungannya bersih, rasanya nyaman ada di daerah tersebut.

Setelah dari situ aku melanjutkan perjalanan untuk menelususi jalan yang ada di kampung itu. Dengan rencana setelah keluar, kami sarapan soto sebelum pulang. Dari gowes-gowes sebelumnya aku biasa sarapan soto setelah pulang. Ada dua opsi soto yang biasa aku makan. Yang pertama soto lamongan dan yang kedua soto rempah.

Dari kedua soto tersebut, kami seringnya makan soto lamongan. Pengen banget nyoba soto rempah sebenarnya, tapi sudah 5x kami belum kesampaian karena penuh dan kehabisan terus. Oke, sebelum ke soto rempah aku cerita soto lamongan terlebih dahulu.

Pertama makan soto lamongan, sepulang gowes dari Malioboro. Di papan soto lamongan tersebut tertulis harganya Rp. 6.000,- tapi setelah selesai makan dan bayar harganya tidak sesuai yakni Rp. 8.000,- Tapi kami berfikir positif aja lah, mungkin saja bapaknya lupa. Soto lamongan ini penyajian nasi dan sotonya terpisan, satu piring nasi, dan di mangkongnya soto. Seperti ini penampilanya.

Soto lamongan ini ada tambahan seperti kriuk gitu buat dicampur sama soto ataupun nasinya. Entah apa namanya tapi aku suka. Maman sendiri lebih suka makannya dicampur. Jadi terlihat penuh dan hampir tumpah gitu. Belum lagi ditambah gorengan.

Harga gorengan di soto lamongan Rp.1.000,- Untuk ukuran gorengannya terbilang kecil menurutku, harusnya Rp. 500,- tapi itu hak si penjual. Untuk di angkringan harga gorengan masih seperti biasa Rp. 500,- Untuk minum kami seringnya beli air es. Alasannya ngirit, sekalipun pengen yang manis-manis kami bawa dari rumah. Misalnya susu saset ataupun minuman berasa.

Baca juga : Menikmati Bakso Klenger Ratu Sari

Setiap makan soto lamongan kami menghabiskan, soto + air es + gorengan 2. Kalau dijumlah jadi segini.

1 porsi soto lamongan : Rp. 8.000,-
2 gorengan : Rp. 2.000,-
1 gelas air es : Rp. 1.000,-

Jadi totalnya Rp. 11.000,- Tapi itu tidak setiap pembelian menghabiskan uang segitu. Biasanya kami sering membawa gorengan sendiri yang kami beli dari angkringan atau burjo. Yang harganya tentu Rp. 1.000,- dapet dua. Untuk kerupuk juga sama.

Kalau di soto rempat. Kami baru 3x kali mampir itu pun sudah kecewa 5x datang tak pernah kebagian, lagi-lagi selalu habis. Yang membuatku penasaran itu rasanya. Pasti terbuat dari bahan-bahan rempat. Tempatnya berada di pinggir jalan, daerah kerapyak. Seperti ini tempatnya.

Foto diatas aku ambil ketika ada beberapa pelanggan yang sedang makan. Tapi itu belum seberapa, biasanya ketika ramai lebih banyak lagi yang datang, bahkan sampe susah lewat juga. Pertama kali mencoba makan kami tidak kaget dengan harganya. Karena sudah terpampang di dinding tempat makan soto rempah. Bisa dilihat dibawah ini, apakah harganya sama seperti di tempat teman-teman ?

Setelah pesan rasanya tidak sabar ingin cepat menyantap soto rempah. Uniknya soto ini disajikan tidak dalam mangkon seperti pada umumnya, melainkan dalam batok yang dibuat mangkok. Seperti ini jika sudah disajikan. Aku dan Maman tak beda jauh, dimana-mana minumnya air es. 

Tidak hanya orang tua, remaja dan para ibu-ibu juga banyak yang makan disini. Mungkin mereka tidak masak jadi bisa makan di luar..he Awalnya sempat penuh harus nunggu tempat duduk untuk makan. Di soto rempah ini tempenye tidak terbalut dengan terigu, namun rasanya sangat enak. Karena bumbu rempahnya terasa sekali.

Kedua kalinya mencoba kami merasakan beruntung karena masih sepi pembelinya. Apalagi Rabu pagi kemarin, kami lebih pagi lagi, malahan jadi pelanggan pertama. Ibunya terlihat teliti menyajikannya. Aku pertama nyooba langsung jatuh cinta sama rasanya. Sangat cocok untuk sarapan pagi sampai siang (anak kost) ๐Ÿ˜€

Selain tempe, di tempat ini tersedia juga tahu bakso. Makanan yang sangat disukai oleh Maman. Rasanya juga cocok jika dipadukan dengan soto rempat ini.
Gimana, teman-teman sudah merasakan enaknya meskipun hanya melihat ? Jangan minta tanggung jawab ya, kalau kalian baca sampai laper, apalagi pengen..hehe

Itulah soto yang biasa aku makan setelah gowes pagi. Di tempat kalian apakah harganya sama atau berbeda. Kasih tahu di kolom komentar ya.

142 Responses for Sarapan Pagi? Soto Lamongan atau Soto Rempah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *