Gowes Sore ke Parkiran Abu Bakar Ali Malioboro


DiaryMahasiswa.com | Selepas Duhur waktu itu, udara di Yogyakarta terasa panas sekali. Aku dan teman-teman kuliah kerja lapangan (KKL) dulu berkumpul di temapt favorit. Kedai Cadudu namanya. Makanan yang sering kami beli tidak jauh dari kebab dan es jeruk atau teh. Tapi waktu itu aku mencoba beli milshake, pengen coba sesekali.

Di kedai ini ada banyak pilihan makanan dan minuman. Salah satunya ada roti maryam. Tapi maaf, aku belum sempat memoto kedainya untuk dikasih tahukan teman-teman disini. Sebenarnya sederhana tapi berada di lingkungan pesantren, tepatnya di daerah Krapyak. Dimana setiap sore hingga menjelang Maghrib banyak para santri dan santriwatinya berkeliaran.

Ada yang sengaja jalan-jalan atau duduk santai. Tapi paling banyak beli makanan atau cemilan. Di Krapyak sendiri banyak yang jual makanan. Mulai dari makanan ringan dan berat ada disitu. Hargana juga terbilang murah dan tentu banyak pilihan. Aku juga sering makan di daerah Krapyak kalau malam.

Ini milshake dan roti maryam yang aku beli. Teman-teman ada yang mau ? Eit, jangan kepengen ya. Kalau ada yang ngiler, aku gak tanggung jawab ya.

Milshake yang aku pesan rasa coklat. Dicampur dengan serutan keju dan kacang. Rasanya nikmat dan sangat cocok aku minum di siang hari yang panas. Sempat aku pesan rasa duren, tapi aku kurang suka, habis minum yang rasa duren, pulang pusing kepalaku. Ah, aku rasa teman-teman sudah tahu seperti apa rasanya minuman yang aku pesan.

Oh, iya foto diatas adalah roti maryam yang aku pesan. Entah apa namanya kalau di tempat teman-teman. Yang jelas itu seperti roti bakar gitu. Aku juga kurang tahu asal muasal kenapa dikasih nama roti maryam. Atau yang buat Maryam, ya ? Tapi seperti bukan, karena yang jualan di kedai cadudu laki-laki semua.

Setelah selesai kami bergegas pulang. Istirahat di kost masing-masing sembari menunggu shalat Ashar. Setiap cuaca sore yang cerah, aku berusaha meluangkan waktu untuk bersepeda. Dari beberapa teman kost yang dulunya sering gowes bareng sekarang cuma tinggal satu. Itupun jarang gowes, Sulis yang biasa gowes pagi dulunya, sekarang sudah tidak ngekost bareng lagi. Endro juga semenjak kerja di Solo jadi jarang gowes.

Tapi aku masih punya sahabat yang sekarang ini sering gowes bareng. Meskipun tidak satu kost tapi dia sering aku ajak gowes. Baik itu menikmati udara pagi keliling Jogja ataupun hanya sekedar cari makan. Kalau teman-teman sering baca tulisan gowesku di blog pasti tahu sahabatku siapa. Ya, Maman namanya.

Sore itu selepas shalat Ashar kami bergegas mandi kemudian lanjut gowes ke Malioboro. Hanya untuk menghilangkan penat sembari menikmat udara sore di Malioboro dan sekitarnya. Suasana sore itu sangat adem, tidak panas tapi cerah. Mendukung sekali untuk jalan-jalan santai bersama keluarga.

Sesampainya di Malioboro aku duduk santai sembari menikmati pemandangan. Beberapa kali melihat banyak kendaraan maupun orang yang berkunjung ke Malioboro juga. Di tempat ini teman-teman jangan khawatir kalau lapar. Banyak yang jualan makanan, terutama sate lontong dan minuman dingin yang ada di sekitaran trotoar.

Setelah itu kami melanjutkan untuk menelusuri Malioboro. Tidak jauh dari tempat dimana aku duduk, kami melihat pertunjukan angklung. Hal ini yang aku suka. Pertunjukan angklung ini biasa ada dari sore hingga malam. Beberapa pertunjukan angklung juga tidak hanya ada di Malioboro saja. Tapi di jalan tepatnya dekat lampur merah.

Dimana lampu merah menyala, salah satu dari team angklung menyodorkan tempat untuk meminta uang. Aku sendiri kalau lagi ada ya kasih, kalau tidak ya tidak. Tapi jujur, selama kita nunggu lampu merah berubah jadi hijau itu cukup lama. Tapi kita bisa menunggunya sembari menikmati alunan musik yang dihasilkan oleh angklung.
Berhubung waktu sudah mendekati maghrib, kami bergegas pergi ke Taman Palkir Portable Abu Bakar Ali (TPP ABA). Yang aku suka dengan Malioboro sekarang itu lebih terlihat tertata karena sudah tidak boleh lagi kendaraan palkir di kawasan Malioboro. Jadi saat ini sudah disediakan Taman Palkir Portable Abu Bakar Ali (TPP ABA), menurut sumber yang aku baca, untuk menyelesaikan pembangunan taman palkir tersebut menghabiskan biaya 21,9 miliyar, wow. Seperti ini palkirannya.
Tempat palkir ini mulai di operasikan mulai tahun 2016. Parkiran ini memiliki tiga lantai, kapasitas 40-50 kendaraan untuk mobis dan bus. Untuk dilantai dua dan tiga masing-masing menampung sekitar 1.000 kendaraan. Selain tempat parkir, dilantai 1 juga ada kios yang digunakan pedagang yang dulu kiosnya dibongkar. Terdapat 76 kios dengan luas 2,2 meter x 1,6 meter. Kemudian disediakan juga toilet dan P3K. 


Awalnya kami menyimpan sepeda di lantai 2. Setelah dipikir-pikir lebih baik dibawa saja karena kami juga mau pergi ke lantai 3. Lantai paling atas. Di tempat ini udaranya dingin, kami juga bisa melihat pemandangan dibawah dan sekitarnya. Beberapa bus juga banyak yang masuk ke parkiran ini. Kebanyakan memang rombongan stady tour dari berbagai kota di Indonesia.

Gowes sore itu aku masih seperti biasa ditemani fijo (fixie ijo). Jogja memang tempat yang sangat nyaman untuk bersepeda. Tidak hanya kami yang ada di lantai tiga parkiran Abu Bakar Ali ini. Tapi banyak orang juga.

Tidak hanya aku dan Maman yang mengabadikan momen sore di Taman Parkir Abu Bakar Ali ini. Tapi semua orang juga. Semakin sore, semakin banyak orang yang datang. Melihat ke bawah, motor dan mobil terus berganti dari tempat parkir ini. Bersyukur, karena pemandangannya cerah, tidak hujan.

Perjalanan untuk turun dari lantai tiga ke dua juga lumayan menurun. Aku lebih baik menuntunnya agar lebih aman. Kalau sepedanya ada remnya tidak jadi masalah. Tapi demi menaga keselamatan lebih baik jalan sembari menuntun sepeda saja. Karena banyak orang juga yang bergantian naik turun. Ada yang baru mau parkir dan ada juga yang mau pulang.

Jiengyang. Sepeda Maman yang sudah menemaninya selama di Yogyakarta dari tahun 2013 akhir. Terlihat biasa, tapi manfaatnya luar biasa. Sepeda itu juga sudah sampai ke hutan pinus bareng fijo dan teman-teman yang lainnya. Teman-teman bisa baca disni.

Perlahan waktu terus berjalan, hingga akhirnya adzan Maghrib berkumandang. Kami sengaja diam terlebih dahulu sembari mendengarkan lantunan suara adzan. Setelah itu kami bergegas turun ke bawah untuk melaksanakan sholat di mushola sekitar tempat parkiran. Tapi kami harus mengantri karena banyak para stady tour yang shalat. Karena musholanya kecil jadi harus bergantian shalatnya.
Setelah shalat kami pergi ke Malioboro. Duduk santai di tempat duduk yang baru. Ya, tampilan malioboro yang baru. Untuk duduknya juga harus mengantri karena ramai. Satu hal yang paling aku tidak suka, banyak sekali pengamen. Baru selesai yang ini tak lama datang lagi. Begitu seterusnya. 
Karena capek, kami duduk aja di teras bawahnya, sembari duduk internetan. Karena di Malioboro sendiri kami bisa menikmati internet gratis. Sepeda kami simpan di belakang tempat kami duduk.

Semakin lama duduk, semakin ramai yang datang berbondong-bondong. Kami tidak nyaman akhirnya pindah tempat. Berusaha mencari tempat duduk yang kosong. Beberapa kali sempat gagal, karena siapa cepat dia yang dapat. Tapi kami mendapat kesempatan untuk duduk juga.
Saking senengnya, Maman senderan sembari senyum manis. Lelahnya terasa sedikit terobati ketika dapat tempat duduk. Begitupun aku, bisa santai sembari menikmati pemandangan malam di Malioboro.

Setelah cukup istirahatnya, kami memutuskan untuk pulang. Sembari mencari makan. Kebetulan malam itu kami sepakat makan bakso. Bakso jumbo. Tapi tak sebenar bakso klenger. Karena ini harga terjangkau dibandingkan bakso klenger yang ukurannya 1kg. Bagi yang belum tahu bakso klenger, aku kasih tahu ya.

Bisa dibaca : Bakso Klenger Ratu Sari

Bakso jumbo ini harganya Rp.10.000,- satu porsi. Aku rasa masih terjangkau buat anak kost sepertiku. Setelah selesai kami langsung pulang, cuci kaki kemudian istirahat. Ya itulah perjalanan gowesku disore hari ke Malioboro. Semoga dilain kesempatan cuacanya tetap sama mendukung.

Teman-teman kapan terakhir ke Malioboro ?

145 Responses for Gowes Sore ke Parkiran Abu Bakar Ali Malioboro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *