Jalan-Jalan di Solo Sembari Interview Kerja


DiaryMahasiswa.com |Hallo SDM (Sahabat Diary Mahasiswa). Di#DiaryTravellingkali ini aku akan ajak kalian mengikuti perjalan kami disaat pergi ke Solo. Semenjak nyaman tinggal di Yogyakarta, aku merasa ingin berkunjung atau sekedar jalan-jalan di kota yang jaraknya tidak jauh dari Yogyakarta. Misalnya Solo, Semarang ataupun yang lainnya. Semenjak ngekos aku punya sahabat, Sulis namanya. Dia yang biasa gowes bareng denganku. Dan kami punya rencana untuk main ke Solo.

Sampai dia pindah, alias tidak ngekost lagi, kami belum kesampean untuk main ke Solo bareng. Ke Solo ini sebenarnya udah bulan-bulan kemarin, tapi tak apalah aku ceritakan lagi. Sayang file fotonya numpuk tapi belum dikasih lihat kalian semua..hehe

Jadi ke Solo ini aku nemenin sahabatku, Endro namanya. Dia yang waktu itu aku ceritakan kisahnya selama merantau di Yogyakarta hingga dia di Wisuda pada bulan Oktober 2016 lalu. Kalau kalian sempat baca mungkin akan tahu kisahnya seperti apa. Oh, iya. Aku mau kasih tahu tentang cerita Endro sampai wisuda. Dan apa kata meraka :

Kelima komentar diatas tentang perjuangan Endro sampai wisuda tidak aku buat-buat, itu murni aku ambil dari artikel sebelumnya ketika Endro wisuda. Oke, aku kasih tahu kalian lagi, bagi yang belum baca.

Bisa dibaca : Wisuda yang Tak Pernah Terlupakan, Hendro Yuwono

Nama lengkapnya Hendro Yuwono, tapi aku lebih akrab memanggilnya dengan sebutan Mas Endro. Aku salut atas perjuangannya sesama kuliah, mulai dari pekerjaan apapun dia lakukan demi untuk makan dan bisa membayar kuliah. So, bagi yang belum baca, monggo baca ceritanya dulu ya sampe bagaimana dia bisa di wisuda.

Nah, setiap orang yang sudah lulus atau di wisuda tentu ada yang melanjutkan kuliah lagi, melanjutkan bisnisnya atau mencari kerja. Itu semua tergantung diri kita masing-masing. Kebetulan Endro sendiri memilih untuk mencari pekerjaan.

Mulai dari lembar demi lembar lamaran pekerjaan dia kirimkan. Ada yang di Yogyakarta maupun di kota lainnya. Selang beberapa Minggu, ada panggilan. Tapi sayang tempatnya jauh, di Jakarta. Ada juga yang di Bandung. Bukannya tidak mau kesana, Endro memutuskan untuk menunggu panggilan yang dekat terlebih dahulu.

Tempatnya yang jauh, tentu harus dipertimbangkan juga berapa uang yang harus di keluarkan. Lagipula disana belum ada kenalan. Jadi harus mencari tempat tinggal sementara dan itu perlu biaya. Singkat cerita ada panggilan kerja di Solo. Tepatnya aku kurang tahu. Yang aku ingat, sehari sebelumnya dia mengajaku untuk menemani interview kerja di Solo.

Karena aku juga longgar dihari itu, aku pun menemaninya. Kami pergi ke Solo menggunakan kereta. Karena interview pukul 08.00 pagi. Sehabis Subuh kami siap-siap untuk berangkat. Awalnya sempet bingung karena kendaraan untuk sampai ke stasiun lempuyangan.

Untungnya ada Isya, sahabat kostku juga. Dia mengantarkan kami ke stasiun. Kami dirempet bertiga gitu, layaknya cabe-cabean. Awalnya tidak mau karena takut ada polisi. Tapi Isya meyakinkan kami jam segitu belum ada polisi. Ya sudah mau giamana lagi, pagi itu yang bisa nganter cuma dia.

Sesampainya di stasiun, belum juga masuk ke pintunya. Peringatan kereta yang pergi ke Solo sudah berbunyi, aku dan Endro berlari agar tidak tertinggal kereta. Sebelum masuk kami beli tiket terlebih dahulu. Harga untuk satu tiketnya Rp.8.000,- Pikirku sekarang ternyata sudah naik ya, karena dulu masih Rp.6.000,-

Setelah dibayar, kami masuk pintu dan di cek sama petugas. Setelah di dalam, kami harus menunggu karena keretanya sedang jalan menuju arah kami. Senang rasanya karena tidak tertinggal. Coba kalau ketinggalan kereta, harus nunggu lagi. Bukan masalah nunggunya, tapi bakal gagal interview.

Lumayan banyak juga yang antri dengan kami. Aku berharap perjalanan ke Solo ini bisa berjalan dengan lancar. Sebelum berangkat, aku kasih kabar Ibu di rumah. Meskipun terbilang dekat, tapi tak ada salahnya jika bilang ke ibu. Karena ibu selalu mendokan yang terbaik untuk anaknya. Aku yakin di doa ibuku, namaku disebut.
Ketika masuk dalam kereta ternyata sudah penuh, dan kami tidak duduk. Tidak masalah juga sih, yang penting bisa sampai dengan selamat dan tidak telat untuk Endro interview. Masalah jalan-jalan disana itu bonus bagiku.

Tidak hanya kami yang berdiri, tapi banyak yang lainnya juga. Sepanjang perjalanan alhamdulialh cuaca mendukung alias cerah. Padahl waktu itu cuaca di Yogyakarta sendiri kurang stabil, sering hujan, meskipun disore hari. Aku bahagia ketika bisa melihat pemandangan pegunungan, sawah dan pepohonan dari balik kaca kereta. 

Begitu indah ciptaan-Mu Tuhan, bantu kami untuk menjaganya. Kalau menikmati pemandangan sembari bersyukur itu rasanya seperti gak percaya kalau aku pernah mendaki ke beberapa gunung. Alhamdulilah, semua yang terjadi pada diri kita tak lain atas izin Allah Swt. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan..aamiin..
Di sela-sela perjalanan Endro tak kuat menahan rasa pegal di kaki karena berdiri lama. Melihat jarum jam, aku rasa masih lama untuk sampai di stasiun balapan Solo. Aku pun ikut duduk karena capek. Aku salut sama salah satu penumpang, beliau bapak-bapak. Tak kebagian duduk juga, sama denganku. Namun menyempatkan waktu untuk membaca buku.
Meskipun aku bawa buku dalam tas, tapi waktu itu aku rasa belum bisa untuk membaca, karena posisiku masih jongkok. Beruntung bapa itu bawa alas duduk (koran). Jadi bisa dengan santai membaca sembari menikmati perjalanan.
Tak terasa satu jam berlalu. Kami pun sampai di stasiun balapan Solo. Dimana nama stasiun tersebut dinyanyikan dalam lagu oleh Didi Kempot. Bagi yang pernah mendengar lagunya pasti tahu. Karena banyak penumpangnya, jadi harus bersabar untuk bisa turun secara teratur.
Jujur sesampainya di stasiun aku bingung arah untuk sampai ke tempat interview. Pun Endro, kami melanjutkan perjalanan dengan petunjuk google maps dan bertanya kepada orang selama di jalan. Sebelumnya kalian menyangka tidak kalau kami jalan kaki untuk sampai ke temapt interview Endro ?
Oke, alasannya simpel. Waktu itu kami takut telat jadi kami jalan dari pada membuang waktu yang bisa membuat gagal interview. Karena prediksi kami waktu untuk sampai ke jam interview tersisa 1 jam lagi. Kami harus memanfaat itu. Aku melihat Endro serasa tahu jalan, meskipun pada kenyataannya itu tidak. Kami berdua menelusuri kubangan yang becek, melewati pasar.

Aku hanya mengikuti Endro dari belakang sembari melihat para penjual yang sedang berinteraksi dengan pembeli. Aku melihat bawang, jeruk dan yang lainnya. Jadi teringat kebersamaan masak di kos Reges. Tempat tinggalku dari tahun 2013 sampai sekarang. Kalian bisa lihat kondisi kamar kosku seperti apa. Secara kos laki-laki biasanya kan. Ahh. Lihat sendiri aja ya.. 

Bisa dilihat : Kamar Kos Kesayanganku

Pertama bertemu teman baru di kos itu ya dengan Endro. Sampai sekarang dia jadi sahabatku, sahabat gowes, jalan-jalan dan yang lainnya. Oke, kembali ke perjalan di pasar ya. Jadi selama di pasar itu aku bingung karena awam sekali jalan yang aku lalui. Secara baru pertama kalinya. Tapi aku merasa yakin ketika mengikuti langkah demi langkah Endro di depan.

Sesekali ketika bingung kami melihat google maps untuk mengetahui berapa lama lagi untuk sampai ke tempat interview Endro. “Ini mah tinggal sebentar lagi, ayo kita cari masjid untuk ganti baju”, ucap Endro kepadaku. Dari kost Endro sengaja mengenakan celana dan pakaian biasa. Karena baju khusus untuk interview dia simpan dalam tas.
Selama jalan, kami lihat kanan dan kiri sembari mencari masjid untuk ganti baju. Endro merasa tahu, dia mengajaku untuk belok di gang yang ada di depan jalan. Selama mencari masjid aku banyak bertemu warga sekitar. Ada yang sedang bermain, duduk santai depan rumah, adapun yang bersantai di jalan sembari lari-lari. Dan mereka semua ramah.
Entah sial atau apa. Aku sendiri sempat bertemu dengan beberapa anjing. Dan aku takut, takutnya cuma satu. Digigit.

Sempat was-was ketika melewati anjing itu. Tak lama si pemilik anjing keluar dan berkata kepadaku, “tenang saja, Mas, aman kok.” Mendengar itu aku sedikit tenang dan melanjutkan perjalanan mencari masjid. Kalau boleh jujur selama perjalanan rasanya kakiku kayak mau patah. Keringat bercucuran layaknya sedang jalan dipadang pasir yang panas.. #Alahh.. 
Perlahan terik matahari mulai membuatku merasa kepanasan. Sesekali aku mengeluarkan tisu dalam kantong jaketku untuk mengelap keringat. Aku sedikit lega ketika Endro berhasil menemukan masjid. Dia masuk, dan aku menunggunya diluar sembari menghilangkan haus dengan bekal minumku.

Perjalanan ini aku rasa cukup untuk pemanasan main futsal. Rasanya capek dan betisku nyut-nyutan. Tapi tak apalah demi sahabat, apa sih yang enggak. Setelah Endro selesai ganti pakaian kami melanjutkan perjalanan kembali. Karena tinggal sedikit lagi untuk sampai. Sengaja juga sendal yang Endro gunakan belum diganti, nanti saja kalau sudah sampai depan tempat interviewnya, ujar Endro. Oke lah, aku mengiyakannya sembari jalan. 
Tak lama Endro berkata, “Alhamdulilah” sampai juga. Tempatnya ada di sebrang jalan. Jadi kami harus menyebrang untuk sampai. Endro bergegas ganti sendalnya dengan sepatu.

Setelah diganti dengan sepatu, dia pergi ke tempat kerja untuk bersiap-siap interview. Bismillah mas, yang penting sudah berusaha. Urusan diterima atau tidaknya itu urusan nanti. Aku sendiri disuruh nunggu dekat kantornya. Aku juga sudah tidak sabar pengen duduk karena capek.

Beruntung, karena dekat kantor tersebut ada sebuah warung. Dimana warung tersebut sering digunakan makan oleh karyawan kantor. Rasanya lega dan bersyukur bisa sampai Solo dan tidak telat untuk interview. Hal pertama yang aku lakukan adalah pesan es teh kepada ibu pemilik warung.

Sembari menunggu es tehnya jadi, aku mengamati sekitar. Dan melihat-lihat warungnya. Aku rasa ini warung sederhana dan aku suka suasananya karena dekat dengan pohon yang rindang. Terasa adem dan semilir anginnya. 

Terlihat di spanduk warung, pemiliknya namanya ibu Sri. Dan warung ini terletak di jalan Juanda, No.300 Puncangsawit Jebres. Di warung ini banyak ayam berkeliaran, entah itu punya ibu Sri pemilik warung atau bukan. Yang jelas aku tidak apa-apa asal tidak mengganggu. Setelah es tehnya datang, aku langsung membuka topi dan siap minum. Bismillhah. β€œAllahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar”

Aku selalu menyempatkan membawa topi kemana-mana, selain bisa digunakan ketika jalan ataupun bersepeda. Dan yang pasti aku memang hobi, dulu ketika SMA sampe ngoleksi banyak topi. Sampe sekarang suka gatel rasanya kalau melihat yang jual topi, bawaannya pengen beli aja.
Bagiku topi tak perlu yang harganya mahal, yang penting nyaman dipake dan aku mampu untuk membelinya. Di warung ini juga tersedia tahu biasa dan tahu bakso. Cocok lah sembari nunggu Endro selesai interview bisa ngemil dulu.

Tidak hanya itu yang aku lakukan untuk menunggu Endro selesai. Tapi aku lakukan untuk membaca buku. Kebetulan aku membawanya dalam tas. Buku yang sebelumnya aku baca belum selesai. Dari pada buang waktu, aku gunakan untuk baca aja.

Setelah berhenti membaca, aku teringat ibu di rumah. Aku telefon untuk kasih tahu kabar kalau aku sudah sampai. Setelah itu mau lanjut baca, ada ibu Sri pemilik warung menghampiriku. Tanya ini, itu, aku penasaran juga kira-kira berapa kilo meter jarak tempat interveiw ini dengan stasiun balapan Solo. Kata ibu Sri kurang lebih ada 6 kilo meter. 
Mendengarnya, aku kaget, ternyata jauh juga. Pantas saja kaki ini merasakan pegalnya. Tapi tak apalah, aku gunakan untuk pemanasan aja, toh besoknya aku ada jadwal futsal dengan teman-teman. Jadi pas aja gitu, kira-kira kalau kalian ada di posisi aku, apakah akan jalan juga atau tidak ? Hhmm..

Sesekali aku melihat orang yang menggunakan seragam jalan kesana sini. Aku tanya ibu Sri. Ternyata mereka para pegawai di tempat kerja Endro interview. Katanya dulu banyak karyawan yang kerja di tempat itu, tapi beberapa kali ini sering ada yang keluar masuk. 
Di tempat kerja ini juga tidak ada perempuannya. Semuanya laki-laki. Aku sengaja tidak kasih tahu nama tempatnya apa. Tapi yang jelas disitu tempat pembuatan printer. Dan Endro melamar pekerjaan sebagai programmer di tempat itu. Aku berharap bisa diterima, kalau tidak, aku yakin Allah sudah mempersiapkan yang lebih indah.
Lumayan capek juga nunggu Endro, kurang lebih pukul 10.00 dia baru keluar. Dan itu termasuk cepat kata ibu Sri, karena biasanya yang interview gitu sampe duhur. Disitu kami santai lagi sembari ngobrol-ngobrol dan minum es. Aku minta izin ibu Sri untuk ikut ngecas handphoneku. Belum lowbet sebenarnya, tapi aku pengen full lagi. Aku rasa dalam perjalanan pulang nanti ada hal yang harus diabadikan.
Tidak sampai satu jam duduk, kami rencana melanjutkan perjalanan pulang. Belum juga di panggil, ibu Sri sudah kasih handphoneku, aku senang dan berterima kasih. Berharap bisa ke warung itu lagi suatu saat nanti. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Dan kailian tahu ? Kami jalan lagi, sebagai anak laki mah gak apa-apa.
Sebenarnya niat kami pengen ke kraton Solo, pasar klewer dan yang lainnya. Tapi waktu itu aku rasa kurang memungkinkan waktunya. Lagi pula melihat cuaca mulai mendung. Bagiku tak jadi masalah. Bisa nganter interview aja aku seneng. Untuk masalah travelling di Solo bisa lain kali lagi. 
Sembari melanjutkan perjalanan kami merasa laper ingin makan. Ketika berangkat tadi, aku melihat ada warung makan dekat stasiun balapan Solo. Oke, kami sepakat untuk makan disana saja. Tapi harus melewati perjalanan seperti dipagi hari. 6 kilo meter kami taklukan. Tapi perjalanan pulang kami merasa sedikit lelah dibandingkan berangkatnya. Dan itu karena cuaca yang panas sehingga kami cepat lelah.
Foto diatas merupakan tempat dimana kami duduk istirahat. Di sebelah pohon itu ada tempat duduk yang waktu itu kami gunakan. Rasanya ingin sekali cepat minum es dan makan. Perlahan kami melanjutkan perjalanan. Kurang lebih 30 menitan kami baru sampai di tempat makan yang menjual soto. Kalian bisa lihat di papan jualnya, sotonya harga Rp. 3.000,- Dan aku merasa kurang percaya gitu.

Karena penasaran, kami bergegas masuk. Kebetulan warung tersebut tidak di pinggir jalan. Jadi kami harus masuk, tempatnya dekat dengan stasiun, kami merasa aman karena bisa santai sembari menunggu keberangkatan kereta ke Yogyakarta. Sesampainya di dalam kami menemukan papan harga soto yang lebih jelas. Dan itu memang benar harganya Rp. 3.000,- Tapi aku masih ragu dengan porsinya, paling tidak seberapa. 

Dari pada penasaran, kami pesan soto dua porsi. Meskipun banyak pilihan, seperti gado-gado, nasi goreng, mie goreng dan yang lainnya. Kami pilih soto. Dan minumnya es teh. Setelah disajikan aku kaget karena porsinya cukup banyak. Coba kalian lihat foto dibawah ini.
Siapa coba yang tidak pengen. Andai harga dan soto seperti ini ada di tempat kalian. Apa yang akan kalian lakukan. Tentu yang pertama dan utama membelinya. Hayo jangan ngiler ya. Tapi jujur ini porsinya sama seperti soto pada umumnya. Dan dagingnya juga tidak kalah, apalagi taburan bawang gorengnnya, bikin pengen pokoknya. Ditambah minumnya es teh. Bismillah, mari makan.

Sembari menikmati soto kami juga bisa melihat kereta yang melintas di dekat warung tersebut. Meskipun terletak dekat stasiun, tapi tempatnya tidak panas, malahan adem. Serasa capeku hilang dan terisi kembali tenagaku. Oh, iya, ini ada daftar nama makanan yang dijual di warung dimana kami makan soto. Untuk harga bisa kalian lihat sendiri dibawah ini.

Ketika aku makan, tak lama para ibu-ibu berbondong-bondong datang ke warung tersebut. Awalnya sepi. Entah baru buka atau tidak, aku kurang tahu. Yang jelas semenjak kami disitu jadi rame. Alhamdulilah jadi banyak yang datang. Semoga selalu dilancarkan rezeki penjualnya.

Alhamdulilah bersyukur bisa menikmati salah satu makanan di Solo. Meskipun yang namanya soto bisa ditemukan dimana-mana. Tapi setiap kota aku rasa beda rasa dan tentu beda harga. Pun di Yogyakarta. Sotonya pasti beda. Bisa kalian baca harga soto yang pernah aku beli di Yogyakarta.
Setelah kenyang kami istirahat terlebih dahulu, kemudian pergi untuk ke stasiun. Baru aja kami sampai stasiun, hujan besar turun. Alhamdulilahnya tadi kami tidak jadi jalan-jalan. Coba saja kalau jalan-jalan sudah pasti basah kuyup kehujanan.

Di stasiun kami merasa ingin buang air kecil. Karena kamar mandinya di dalam, kami harus masuk dan menitipkan KPT terlebih dahulu. Awalnya kami nyari dekat parkiran, karena dulu kata Endro ada dekat tempat parkir. Tapi setelah dicari ternyata sudah pindah.

Setelah dari kamar mandi tadinya kami mau langsung masuk untuk menunggu keretanya dari dekat. Tapi aku pengen ngabadiin foto terlebih dahulu di stasiun. Alhasil seperti inilah jadinya.

Jangan dilihat mukaku, rasanya melas banget dan tak ada tenaga meskipun sudah makan. Pucat gimana gitu. Bayangkan saja, jalan kurang lebih 12 kilo meter. Berangkatnya jalan kaki sejauh 6 km dan pulangnya juga sama. 

Setelah foto kami bergegas masuk dan duduk sembari menunggu pemberangkatan kereta. Sembari duduk santai, kami istirahat. Aku rasanya ingin cepat-cepat sampe kos, pengen berbaring tidur di kasur. Rasanya lelah.
Tak lama kami naik juga ke kereta. Alhamdulilah di perjalanan pulang ini kami bisa duduk. Tak lagi berdiri seperti berangkat di awal. Selama perjalanan pulang, hujan semakin deras. Indah rasanya melihat hujan dari dalam kereta. Ketika perjalanan pulang, aku juga mendapati salah satu penumpang yang serius baca buku. Seperti ketika aku berangkat tadi. Tapi ini perempuan.

Perjalannya agak lama, kami berusaha tidur selama di perjalanan. Ketika sampai merasa agak enakan. Meskipun duduk, alhamduliah bisa tidur meskipun belum senyenyak di kos. Penumpang yang lain juga sama, ada yang tidur sembari duduk dan ada juga yang duduk sembari menikmati pemandangan. Sesampainya di Yogyakarta alhamdulialh hujan reda.

Kami turun di stasiun tugu, tidak lagi di stasiun lempuyangan. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Karena sorenya Isya kerja jadi kami tidak minta di jemput. Awalnya mau jalan sampe kos, tapi karena takut hujan, kami memutuskan untuk naik trans Jogja. Dan benar, ketika perjalanan naik trans Jogja, hujan pun turun. Untung naik mobil, kalau jalan bisa terhambat pulang.
Halte yang dekat dengan kos jaraknya tidak dekat banget. Sehingga kami harus jalan kurang lebih 20 menitan untuk sampai ke kos. Tapi tak apalah. Yang penting bisa sampai dengan selamat. Tak lupa juga ketika melewati warung makan, kami makan lagi. Agar nanti langsung istirahat tidak keluar.

* * * * * * *
Singkat cerita, alhamdulilah Endro diterima jadi programer di tempat kerja tersebut. Aku senang mendengarya. Untuk masalah tempat tinggal di Solo Endro ngekos. Dan kos yang di Yogyakarta tetap di bayar. Kerjanya dari Senin hingga Jum’at sore. Setelah itu, Endro ke Yogyakarta dan kembali lagi ke Solo malam Senin. Biasanya pukul 22.00 dari Yogyakarta atau tidak pukul 24.00. Tergantung dia juga.
Karena di Solo belum ada temannya jadi sering pulang pergi Jogja-Solo. Untuk kos di Solo lokasinya dekat dengan kantor dimana dia kerja. Tepatnya dekat UNS, harganya juga terbilang mahal yaitu Rp.300.000,- per bulan. Untuk kosnya saat ini diisi oleh Isya. Sahabat kami juga. Tiap minggu kalau tidak ada halangan dia sempatkan untuk pulang ke Yogyakarta.
Itulah cerita perjalanku menemani Endro ke Solo. Dan perjalanan ini benar-benar jalan-jalan di Solo. Alias jalan kaki, kurang lebih di total pulang pergi dari stasiun balapan Solo ke tempat interview jadi 12 kilo meter. Gimana menurut kalian ? Strong apa strong..haha
Terima kasih, Solo.

177 Responses for Jalan-Jalan di Solo Sembari Interview Kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *