Kayuh Pedal Ratu Sari – Kulineran Bakso Klenger Ratu Sari

DiaryMahasiswa– Dear diary, hai sadayana, gimana kabar kalian? Semoga tetap ada dalam lindungan-Nya, sehat selalu dan terus bisa berbagi pengalaman dalam untaian kata ya..aamiin..

Lagi-lagi aku mau cerita gowes nih, memang selama di kota gudeg ini, tak pernah ada bosennya untuk mendatangi setiap suduh kotanya. Sore itu aku tak sendirian, di temani oleh sahabatku, Maman namanya. Kalau yang sering baca cerita gowesku pasti tahu dia.

Berbeda dari cerita sebelumnya waktu aku gowes ke karnaval Jogja bersama Anin. Bagi kalian yang belum baca, bisa dibaca dibawah ini.

Baca juga : Gowes Sore – Karnaval Yogyakarta

Biasanya kalau lengkap gak cuma sama Maman atau Anin aja, tapi ada satu lagi yakni Bayu. Karena Anin dan Bayu rumahnya lumayan jauh dari kostku dan Maman, jadi mereka jarang ikut kalau gowes sore. Kecuali gowes yang jaraknya jauh. Ya, semisal waktu itu ke hutan pinus, curug banyunibo dan yang lainnya.

Sore itu sebenarnya aku lagi gak ada niatan kemana-mana, setelah lihat ke luar pemandangannya mendukung alias cerah. Aku ajak Maman untuk keliling Jogja. Dia juga semangat karena pengen bakso makan klenger.

Dari situlah, judul ceritaku ini kayuh pedah ratu sari. Ya, karena gowes ke bakso klenger ratu sari. Namanya memang Bakso Klenger Ratu Sari. Itu tuh, bakso yang gudedenya segede gaban. Syurlah kalau kalian udah nyoba. Yang belum ? Lanjut baca aja ya sampe selesai.

Kami pergi ke daerah Nologaten, yang jaraknya tak begitu jauh dari UIN SUKA (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga) Jogja.

Selama di perjalanan, kami berusaha untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Terutama saat berada di lampu merah. Terkadang kami suka kesel juga, sih, dimana tempat yang di khususkan untuk sepeda, di rebut begitu saja oleh mereka pengendara bermotor.

Kalian pernah gak sih merasakan hal yang sama? Atau bahkan ada juga yang sudah menyerobot di zebra cros. Kan, ngeselin. Semoga itu bukan kalian yang sedang membaca ya πŸ™‚

Kurang lebih hampir satu jam, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Karena kami sama-sama penyuka bakso, akhirnya mampir ke Bakso Klenger Ratu Sari.

Sudah tidak asing sebenarnya nama dan tempat bakso yang satu ini? Kalian juga pasti tahu kan? Di insgragram rame juga dibicarakan, bahkan sudah beberapa kali diliput televisi. Sempat beberapa bulan yang lalu aku juga pernah makan bakso klenger di tempat ini, tepatnya berempat dengan sahabatku, kami memesan bakso yang ukurannya 1 kg.

Sesampainya di tempat, seperti biasa parkiran penuh dengan motor, dan tak ada yang bawa sepeda kecuali kami. Semuanya menggunakan motor. Tapi disitulah yang namanya perjuangan. Perjuangan disaat ingin memakan bakso harus olahraga terlebih dahulu..hehe

Kami langsung disambut duduk, dan di kasih menu. Bisa kalian lihat juga dibawah ini.

Tampaknya memang sudah banyak perubahan, dari tahun lalu, bulan Ramadhan lalu, aku juga pernah buka puasa di tempat ini, tapi belum seperti sekarang. Ini sudah berbeda dari nomor meja, bentuk menunya juga sudah berubah jadu bulat.

Siang ataupun malam tetap saja ramai yang datang. Itu tandanya begitu banyak orang-orang yang suka bakso. Kalian juga kan ?

Gak kuat juga sih kalau cuma aku berdua sama Maman pesan yang 1 kg. Kalau di menunya ukurang 1kg itu untuk orang 4-5 orang. Pernah nyoba dulu berempat juga kenyang banget. Apalagi berdua, atau sendirian.. Olab lah.. haha..

Ini harga dan menu bakso yang ada di bakso klenger ratu sari.

Sedangkan yang ini, daftar harga dan minuman apa saja yang ada di bakso klenger ratu sari.

Setelah itu barulah kami pesan, dan Maman menuliskan apa yang kami pesan. Kebetulan bakso yang kami inginkan 250 gram. Sempet sok-sokan kami mau pesan 1 kg buat berdua, tapi takut gak habis, nanti malah bubajir.

Karena waktu itu sudah banyak yang habis, kami memutuskan untuk beli yang biasa, dengan harga standar alias paling murah yaitu Rp. 15.000,- Untuk mium beli air es aja. Karena memang seringnya air es. Rasanya sore itu minum air es terasa nikmat, seakan dahaga bersepeda hilang seketika.

Di basko klenger ratu sari ini, beuh sambelnya pedes banget. Itu menurutku lho, gak tahu kalau menurut kalian, apalagi yang suka akan kepedasan. Khasnya lagi sambal disini itu kering, tak berkuah gitu.

Semakin sore tempat ini semakin ramai, bahkan ketika aku ngobrol sama ibu pemiliknya, kalau malam minggu biasanya disaat Maghrib aja sudah habis.

Selesai makan, tak lama waktu Maghrib datang, sebelum lanjut gowes, kami cari masjid terlebih dahulu untuk melaksanakan shalat Maghrib. Usahakan adzan selesai sudah di sana, berusaha tepat waktu dalam melaksanakan kewajiban.

* * *

Setelah itu kami gowes ke daerah gejayan, sekalian masuk lingkungan UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) dan masuk juga ke kawasan UGM (Universitas Gadjah Mada). Karena kedua kampus tersebut jaraknya tidak jauh, ibarat rumah itu tetanggaan.

Di daerah UNY kami tak sempat mengabadikan foto, hanya membeli cemilan saja, yaitu tahu bulat. Perlu kalian ketahui tahu bulat saat ini sudah jarang sekali ditemui, dan aku merasa senang ketika malam itu ada.

Beli Rp.5.000,- kemudian lanjut gowes sembari cari tempat untuk makan tahu. Kami juga melewati kantor UGM. Kami mengabadikan foto dekat gerbangnya saja. Agak kurang jelas ya, maklum kamera hape..hehe..

Setelah itu lanjut ke dekat bundaran UGM, dimana tulisan Universitas Gadjah Mada disitu. Kami duduk sembari istirahat.

Setelah dari situ, kami masuk ke Mirota Kampus, niat membeli minum saja, tapi cukup lama disitu. Keliling mulai dari lantai satu hingga dua, lantai tiga tidak sempat karena waktu sudah malam. Aku beli celana juga disitu, antri di kasirnya war biazahh.. Panjang. Cape nunggunya juga.

Setelah itu seperti biasa sembari pulang mampir di 0 kilometer Yogyakarta. Kebetulan malam itu masih suasana kemerdekaan, dimana atribut merah putih masih banyak di kawasan 0 kilometer. Tapi sekarang sudah di copot.

Seperti biasa foto dulu, selagi sepi, maksudnya gak seramai malam minggu.

Nah, kalau ini si Yang, sepeda si Maman yang sejak 2013 akhir menemaninya hingga sekarang. Walaupun sederhana, tapi sudah membawanya ke hutan pinus, candi sambisari, curug banyunibo.

Kalau kalian ke Jogja, lihat aku sama fijo sepedaku, tegur aja ya. Biar nanti sekalian jalan-jalan..he.

Sebenarnya ini kawasan 0 kilometer Yogyakarta masih dalam tahan pembangunan, entah mau dibuat seperti apa aku kurang tahu. Yang jelas kalau sudah jadi aku maen dan foto, kemudian kasih tahu kalian lewat blog ini ya.

Sebelum pulang nanti, Maman juga pengen mengabadikan memen di 0 kilometer. Inilah dia, Maman, sahabatku.

Sama seperti bakso klenger, titik 0 kilometer Jogja juga semakin malam semakin ramai, terlebih disaat malam minggu.

Dan, disaat aku sedang duduk santai sama Maman, tak lama ada seorang perempuan mendekat untuk minta tolong di fotokan. Seperti inilah.

Sebenarnya beberapa pose sih, lebih dari dua yang ada di foto ini. Seperti tak kenal saja, kalau perempuan di foto akan secara tidak langsung fosenya banyak berubah, dan tentu akan banyak juga fotonya yang dihasilkannya.

Setelah itu aku sebenarnya masih pengen bersantai di titik kilometer, tapi Maman minta pulang. Ya, sudah. Kami melanjutakan perjalanan. Masih ada sih, cerita perjalanan gowes, tunggu aja, nanti aku ceritakan lagi di blog ini kok.

Oh, ya, ada orang Solo para pembaca ceritaku kali ini? Kalau ada pengen silaturahmi aja, kebetulan dalam waktu dekat ini aku rencana mau jalan-jalan ke Solo. Kalau ada komen ya, siapa tahu bisa silaturahmi dan jalan-jalan disana.. πŸ™‚

Sahabatmu,
@DiaryMahasiswa

122 Responses for Kayuh Pedal Ratu Sari – Kulineran Bakso Klenger Ratu Sari

Tinggalkan Balasan ke Putu Sukartini Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *