Liburan Keluarga – Mantai di Pantai Pangandaran (Part 2)

DiaryMahasiswa| Hai sadayana, seperti janjiku sebelumnya di postingan liburan keluarga part-1. Kali ini aku akan menceritakan liburan keluarga part ke-2nya. Semoga makin puas dan tahu pantai Pangandaran ya.

Bagi yang belum baca part ke-1, kalian baca dulu disini :

Liburan Keluarga – Mantai (Part 1)

LALAYARAN

Setelah puas jalan-jalan dipantai. Teteh dan bibi mengajak untuk naek perahu menuju pasir putih. Awalnya ibu menolak, karena masih trauma dulu ketika naik perahu ombaknya besar banget. Tapi, akhirnya tetap ikut naik perahu.

Sebenarnya ada 2 jalan untuk bisa sampai ke pasir putih. Pertama naik perahu seperti kami ini, kedua jalan kaki lewat pintu masuk dekat parkiran.

Tapi beda harga, jalan lewat pintu masuk bayarnya Rp.25.000,- sedangkan naik perahu Rp.15.000,- cepat sampai dan ditunggu juga setelah puas bermain di pasir putih.

Kami bergegas naik perahu untuk bisa sampai ke pasir putih. Terakhir tahun 2015 aku ke Pangandaran, sama juga mampir ke pasir putih. Tapi ada satu perbedaan dengan sekarang. Dimana sekarang ada kapal besar yang katanya sempat di tenggelamkan menteri Susi.

Lanjut baca dulu ya, nanti aku ceritakan kenapa kapal itu di tenggelamkan. Kami naik perahu semua dengan jumlah 8 orang. Tapi dihitung 6 orang. Karena Danial, Bilqis dan Zahra masih kecil. Jadi dijadikan satu aja bayarnya.

Cukup panas cuaca siang itu, kebetulan aku duduk paling depan. Dimana tepat kepanasan, tapi aku senang karena bisa mengabadikan pemandangan lewat depan.

Selama di perahu, aku melihat ke dasar laut, begitu bening dasar lautnya. Andaikan lebih pelan lagi, ingin rasanya menangkap ikan kalau ada yang lewat..hehe..

Selama perjalanan sebenarnya aku penasaran dengan ucapan bapak pemilik perahu tadi. Beliau kasih tahu nanti bisa melihat dan foto puas dekat kapal yang ditenggelamkan mesteri Susi katanya. Sepanjang perjalanan di perahu sudah terlihat kapalnya. Dari jauh terlihat kecil dan seperti perahu biasa.

Semakin dekat semakin terlihat besarnya. Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, bahkan sampe ingin bisa memegangnya.

Well, aku ceritakan singkatnya kapan ini ya.

Kapan ini bernama FV Viking. Selama ini FV Viking merupakan satu dari enam kapal yang digunakan untuk menangkap ikan toothfish Antartika dan tootfish Patagonia yang langka.

Dari informasi Interpol, kapal tersebut sudah 13 kali berganti nama, 12 kali berganti bendera dan 8 kali berganti call sign.

Pada akhir Februari 2016, ‎Kapal perang Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) KRI Sultan Thaha Saifudin-376 berhasil menangkap kapal FV Viking saat berada di perairan utara Berakit, Kepulauan Riau.

Selama ini kapal yang dinakhodai warga negara Chili itu dicari-cari oleh 13 negara, termasuk interpol Norwegia. Dicari karena diduga melanggarhukum internasional itu karena terlibat pencurian ikan.

13 negara bertahun-tahun memburu FV Viking, kapal pencuri ikan lintas negara. Dan Indonesia berhasil menangkapnya.

Dan saat ini kapal FV Viking dijadikan monumen melawan pencurian ikan (illegal fishing). di Pangandaran.

Sekilas memang atasnya terlihat seperti karat ya. Wajar sepertinya gitu, karena memang terkena air terus jadi karat. Tak lama sampai di pasir putih. Sebenarnya kapal viking itu juga ada di pasir putih, tepat di tepi pantainya.

Tak lama sampe, dan kami mendarat sampai. Tinggal puasin foto-foto dan bermain. Kalau sudah puas, tinggal telfon bapak pemilik perahu untuk menjemput kami.

Agar kami tetap ingat, aku sengaja abadikan dengan foto perahu yang kami tumpangi tadi. Kebetulan namanya aniversary 23. Dibacanya sih sama, penulisannya beda dengan anniversary. Pas banget lagi 23. Tepat di tanggal 16 kemarin bertambah.

Sesampainya disana aku langsung selfie…hehe.. Sedikit permeritahuan aja ya, di pasir putih ini memang banyak monyetnya. Kalau dari segi tempat aku sangat suka, selain teduh karena banyak pepohonan, kalau terkena angin itu semeliwir adem.

Selain ada monyet di pasir putih ini juga ada rusa. Kalau kalian ke Pangandaran, dan pergi ke pasir putih. Harus hati-hati, apalagi kalau bawa makanan, jangan sampe di masukan kantong keresek. Nanti di rebut sama monyet. Jangankan pake keresek, dibawa aja, di tenteng gitu aquanya pasti di rebut.

Selain ada monyet dan rusa, ada juga biawak. Tapi baru pertama kali aku liat biawak ini ada di pasir putih, beberapa tahun yang lalu ketika aku ke pasir putih belum ada.

Setelah foto biawak, kami mencari tempat yang teduh untuk istirahat. Tapi selalu gak tenang, bukan karena tempatnya yang gak nyaman. Tapi banyak gangguan dari monyet-monyetnya. Ngedeketin, terus lari-lari ngeganggu para wisatawan yang sedang istirahat.

Sedangkan Bilqis dan Zahra sudah di air aja, sedang asik berenang. Pokoknya mereka berdua sejak pertama datang, udah betah banget mainan air. Gak ada bosan-bosannya, meskipun panas tapi tetap bermain.

Bagi yang mau berenang dengan sewa kacamata selam atau pelampung juga bisa. Tapi gak tahu harganya berapa, soalnya waktu itu aku gak berenang sama sekali. Gak bawa salin pakaian.

Aku mengajak teteh dan bibi untuk foto dengan background kapal viking. Semakin dekat ternyata baru tahu kalau kapal ini cukup besar, dan semua orang yang datang tentu mengabadikan foto dengan background kapal.

Karena semakin penasaran, aku lebih mendekat dann naik ke atas. Kalau dari foto terlihat pendek naiknya. Padahal aku sendiri waktu naik itu susah, selain tinggi, licin juga sendal yang aku gunakan.

Tak ketinggalan juga, teteh dan bibi ikut narsis. Semakin siang justru para pengunjung semakin banyak berdatangan.

Karena ini kapalnya cukup besar, dan ada ruang celah dimana bisa digunakan untuk berenang. Seperti yang dilakukan sebagian pengunjung yang sedang berenang.

Gimana, kalau kalian ke Pangandaran mau nyempetin berenang ?

Saking nakalnya itu monyet, sampe-sampe mengejar-ngejak para pengunjung yang sedang istirahat. Sampe ke dekat pantainya terus di kejak.

Tapi satu hal yang membuat monyet itu takut, kita takutin dengan mengepal batu, seakan-akan kita akan melempar batunya. Tapi tetep, meskipun gitu, monyetnya bandel.

Bahkan sampe ada yang berantem antar temannya sendiri. Rebutan makanan, rebutan gebetan juga ada. Soalnya aku lihat waktu itu monyet satu dan yang satu lagi berantem merebutkan satu monyet. Aku rasa itu gebetannya.

Waktu aku mau kembali ke tempat istirahat tak sengaja melihat monyet yang sedang ada di pantai. Monyet itu terdiam lama banget, entah kenapa, awalnya aku bingung. Tak lama ada seorang laki-laki yang mendekatinya terus memoto monyet itu.

Aku juga sempat mengabadikan foto laki-laki yang sedang foto monyet.

Karena aku penasaran aku dekati dan foto itu monyetnya. Ternyata kaki kirinya berlumuran darah. Terus, di mukanya juga berdarah. Aku rasa monyet itu habis berantem dengan monyet lainnya.

Aku lihatnya kasian, udah sendirian. Terkena ombak karena monyet itu cuma diem aja. Sepertinya jalan juga terasa sakit. Lihat aja bulunya, basah semua terkena ombak.

Setelah itu, aku bantu ibu ngumpulin batu dari pasir putih itu, rencana buat di pot di rumah. Di bantu juga sama Bilqis dan Zahra. Mereke berdua malah seneng nyarinya, sekalian berenang. Gak banyak sih, cuma dapet setengah kresek. Itu juga sembari menunggu yang lainnya selesai foto dan berenang.

Soalnya nunggu dekat pohon diganggu monyet terus. Jadi nunggu samping pantai. Setelah semuanya selesai, sebelum menelfon bapak pemilik perahunya, kami mengabadikan foto bersama. Minta tolong sama teteh-teteh yang sedang duduk di dekat pantai juga.

Setelah itu, aku bantu ibu nyariin batu dari pasir putih itu, rencana buat di pot di rumah. Di bantu juga sama Bilqis dan Zahra. Mereke berdua malah seneng nyarinya, sekalian berenang terus. Gak banyak sih, cuma dapet setengah kresek. Itu juga sembari menunggu yang lainnya selesai foto dan berenang.

Soalnya nunggu dekat pohon diganggu monyet terus. Jadi nunggu samping pantai. Setelah semuanya selesai, sebelum menelfon bapak pemilik perahunya, kami mengabadikan foto bersama. Minta tolong sama teteh-teteh yang sedang duduk di dekat pantai juga.

Sayang, Danial malah mainan mobil terus, jadi gak keliatan saat difoto. Tapi tetap hari itu hari yang sangat menyenangkan, bisa berlibur bersama keluarga. Bersenang-senang meskipun sederhana tapi bahagia. Alhamdulilah..

* * *

Setelah merasa puas, kami mempersiapkan untuk bergegas pulang. Sempat menunggu perahunya karena masih nganterin penumpang yang lain.
 
Ketika udah di perahu, tiba-tiba ada perahu yang datang dan baru sampai ke pasir putih. Perahu MINA CIAMIS 434 itu sempat menabrak perahu yang kami tunggangi. Para ibu-ibu penumpangnya rame jerik menjerik. Bikin panik saja.

Ketika di perahu, bapak yang punya perahu menawari kami untuk melihat ke sarang walet, tidak sampe turun lihat dari dekat, sih. Tapi cuma lewat saja, dan lokasinya semakin jauh dari pasir putih.

Yang jelas ombak saat itu cukup besar, aku rasanya seperti naik mobil di jalanan renjul atau bebatuan berlubang. Begitu kenceng ombaknya, tapi perahu terus saja menerjangnya. Zahra juga sampe nangis ketakutan. Alhasil pindah duduknya bersama ibu.

Ini beberapa foto saja sebenarnya. Yang lainnya aku gak sempet foto. Ini aja sampe basah smartphoneku. Karena gak pake pelindung air, jadi aku gak berani foto lagi. Setidaknya ini ada dokumentasinya lah..he

Setelah mau pulang, kami melewati pasir putih dan tempat perahu dimana menjemput para penumpang. Rasanya masih kangen, tapi karena waktu sudah sore. Kami memutuskan untuk pulang.

Seperti biasanya, disaat pulang waktu terasa semakin cepat. Dan sampai kurang lebih pukul 16.30. Setelah beres-beres dan shalat ashar. Kami backup foto.

Kalian tahu berapa foto yang dihasilkan dari handphoneku. Ya, 499 foto. Belum lagi dari smartphone teteh. Ya, gitulah. Ada beberapa foto yang sama, tapi nanti disleksi satu persatu mana yang bagus.

Sahabatmu,
Andi Nugraha

205 Responses for Liburan Keluarga – Mantai di Pantai Pangandaran (Part 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *