Masangin, Mitos Tutup Mata Lintasi Pohon Beringin di Alkid Jogja

DiaryMahasiswa |Hai, sahabat diary. Gimana kabar kalian? Semoga tetap ada dalam lindungan-Nya. Sehat selalu, dimudahkan rezekinya ya. Aamiin. Kota Yogyakarta merupakan ibu kota sekaligus pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Banyak sekali sebutan untuk kota ini, mulai dari kota kota wisata, kota gudeg, kota pelajar, kota seni dan budaya, kota buku, keraton, seniman, pasar tradisional, komunitas, batik dan yang sudah pasti kota ini istimewa.

Hayo, siapa yang ngaku kalau kamu istimewa. Jangan pernah bilang istimewa sebelum menginjakan kaki di Jogja. He, canda ding, lagipula kalau ditanya mau ke Jogja atau nggak, tentu semua orang mau. Namun, tergantung dari dana dan waktunya saja.

Semoga kalian semua yang ingin menginjakkan kakinya di Jogja. Disegerakan ya, yang udah ada agenda lagi. Semoga dipercepat. Bagi yang sudah merantau di Jogja, baik sedang bekerja ataupun menuntut ilmu. Semoga semuanya dilancarkan. Gak cuma yang ada di Jogja kok. Tapi bagi siapa saja yang membaca diaryku kali ini. Semoga kalian sehat selalu, sukses dunia akhirat ya. Aamiin..

Di diary kali ini, aku mau bercerita tentang salah satu tempat di Jogja, yang sudah tidak asing lagi buat para wisatawan, termasuk kamu, iya, kamu. Apa itu? Namanya ALKID, atau kepanjangan dari alun-alun kidul Yogyakarta. Kali ini aku meu bercerita dari sisi mitosnya.

Tapi sebelum itu izinkan aku bercerita sedikit sebelum masuk ke mitos dari alkid. Waktu itu aku kedatangan saudaraku dari Ciamis. Ade namanya. Selain hobinya jalan-jalan, dia juga suka banget sama yang namanya olahraga bola. Aku sengaja mengajaknya keliling Jogja selagi dia berlibur.

Mulai dari nol kilo meter Jogja, Malioboro, Tugu, Kali Code, Museum Benteng Vredeburg, dan tak lupa juga ke alun-alun selatan dan utara. Satu lagi, aku ajak ke keliling juga ke Jogja Street Sculpture Project 2017.

Kalau kalian belum tahu tentang Jogja Street Sculpture Project (JSSP) 2017 bisa dibaca dibawah ini :

Baca juga : Jogja Street Sculpture Project (JSSP) 2017

JSSP ini dilaksanakan dua tahun sekali lho, dan di tahun ini hanya sampai tanggal 10 Januari 2018. Kalau kalian penasaran, baca aja di tulisan JSSP yang aku tulis.

* * *

Pagi itu kurang lebih pukul 07.00-an aku ajak Ade ke nol kilometer Jogja. Sebenarnya aku manggilnya Aang, atau kakak gitu. Tapi karena sudah kebiasan, dan entah kenapa, kami saling panggil dengan sebutan “dun”. Tidak hanya kami saja, beberapa teman yang lain juga gitu. Tapi, ya sudah lah. Lanjut!

Masih sepi kalau pagi, jadi buat kalian yang mau ke nol kilo meter Jogja, lebih baik dipagi hari. Selain sepi, kamu bisa bebas berfoto selfie.

Setelah puas di nol kilometer, aku ajak masuk ke Museum Benteng Vredeburg. Foto dibawah ini hanya perwakilan dari ratusan foto yang ada. Ya, memang begitu, aku suka mengabadikan foto banyak.

Berikut foto depan pintu masuk Musem Benteng Vredeburg Jogja. Kalian tentu tidak asing lagi kalau yang sudah masuk ke tempat ini.

Di dalam juga pagi itu masih sepi, hanya satu dua saja yang datang, mereka juga terlihat orang luar Jogja, sepertinya sekalian liburan ke Jogja, main ke museum vredeburg.

Suasana di dalam cukup luas, dan kalau ajak anak kecil sepertinya cukup capek jalan-jalannya. Tapi yang aku suka selain tertata rapih, tempatnya juga bersih.

Sebelum masuk ke ruangan juga terdapat beberapa patung tentara di depannya, salah satunya meriam ini.
Setelah puas, dilanjut pergi ke Jembatan Sayidan Jogja. Kalau kalian penikmat lagu Shagy Dog, tentu tahu tempat ini dari salah satu lagunya.

Tak lama di jembatan sayidan karena panas dan banyak kendaraan juga, karena tempatnya dekat jalan raya. Aku lanjutkan ke patung-patung Jogja Street Sculpture Project 2017. Tidak semuanya sih, dan tidak dipublish disini juga, Namun, kalau kalian mau lihat silahkan lihat dibawah ini.

Puluhan Patung Karya Seni Jogja Street Sculpture Project 2017

Setelah cukup puas, dilanjut ke Malioboro lagi, katanya Ade pengen banget mengabadikan foto di depan tulisan Jl. Malioboro.

Sebenarnya setelah dari Malioboro aku ajak ke Tugu Jogja. Tapi karena rame dan cukup panas. Alhasil gak jadi foto di tugu. Ade sendiri tak masalah, asalkan bisa mengabadikan foto di Jl. Malioboro.

Oh, ya di tengah hiruk pikutnya kota Yogyakarta yang saat ini semakin tersentuh modernisasi, ternyata masih banyak juga lho mitos-mitos yang tetap dipercaya sekalipun oleh masyarakat modern. Salah satu mitos yang selalu membuat penasaran para wisatawan di Yogyakarta yaitu mitos dari si beringin kembar di Alun-alun kidul Yogyakarta. Makannya aku ajak Ade ke alun-alun kidul Jogja, biar gak penasaran. Dan aku suruh mainan masangin.

Masangin. Mitos ini semakin kuat dengan adanya kepercayaan bahwa di tengah pohon tersebut terdapat jimat tolak bala untuk mengusir musuh. Konon, ketika tentara koloni melewati tengah pohon, maka kekuatan mereka langsung sirna. Karena itu muncul juga kepercayaan siapapun yang berhasil menyebrangi kedua beringin tersebut, ia mampu menolak bala.

Masangin itu mudah kok, cukup menutup kedua mata dengan slayer dan berjalan untuk menembus area di antara dua pohon beringin yang berada di tengah Alun alun Kidul. Mitosnya barang siapa yang mampu melewatinya, segala keinginan akan terwujud!

Meskipun mitosnya segala keinginan akan terwujud jika bisa melewatinya. Itu semua tergantung kalian mau percaya atau nggak. Aku pribadi buat seru-seruan aja sih, kalau gak bisa syirik. Bisa juga olahraga pagi di alkid, kalau capek mau sarapan bisa sekalian. Karena di sekitar alun-alun banyak orang jualan makanan.

Masangin memang terdengar mudah, tapi banyak juga yang gagal lho. Tidak sedikit juga banyak yang sudah berkali-kali mencoba dan berhasil, namun ketika kembali ke Alkid, tetap saja penasaran untuk mencobanya kembali.

Tradisi Masangin sendiri sudah ada sejak zaman dulu saat Kesultanan Yogyakarta masih Berjaya. Pasalnya Masangin dilakukan saat tradisi topo bisu yang dilakukan setiap malam 1 suro. Tradisi Topo Bisu dilakukan oleh para prajurit dan abdi dalem dengan mengelilingi benteng tanpa mengucap satu katapun.

Gimana, aku udah kaya tour guide aja ya. Tapi hal ini gak cuma sekali atau dua kali, tapi sering ketika teman-temanku maen ke Jogja. Dan, perjalanan nganter saudaraku ini foto-fotonya gak aku publish semua. Pasalnya kalau aku post banyak diatas 100 foto lebih. Yang penting ini foto mewakili selama jalan-jalan.

So, itu aja dulu ya, next time aku sambung lagi dengan diary yang tak kalah seru.

Sahabatmu,
@DiaryMahasiswa

197 Responses for Masangin, Mitos Tutup Mata Lintasi Pohon Beringin di Alkid Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *