Menjelajahi “Hutan Buku” di Gudang Gramedia Yogyakarta


DiaryMahasiswa.com | Mencari buku di toko sudah menjadi hal yang biasa. Tapi mencari buku dengan langsung ke gudang penyimpanannya itu baru luar biasa. Kini para pencinta buku boleh menjelajah gudang salah satu unit penerbitan dan toko buku terbesar di Indonesia, yakni PT Gramedia Asri Media. Yang letaknya di Jalan Raya Tajem Nomor 197 (Utara LotteMart) Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Selama di Yogyakarta aku meluangkan waktu dan menyisihkan sedikit uang jajanku untuk belanja buku setiap bulannya. Meskipun satu bulan belanaja buku hanya satu. Tapi bagiku itu menjadi kewajiban, setidaknya ada pengetahuan baru yang kudapat. Terlebih lagi jika uang yang aku sisihkan belum memenuhi target, aku tetap belanja buku. Namun tidak belanja di Gramedia. Melainkan di toko buku lain dengan harga yang tentu lebih murah.

Baca juga : Grhatama Pustaka, Perpustakaan Terbesar SeAsia Tenggara

Di Yogyakarta sendiri banyak toko buku yang murah, salah satunya Shoping Center. Dimana toko buku ini merupakan toko buku yang tempatnya tidak jauh dari Taman Pintar, letaknya hanya sebelah timurnya. Sekarang Shoping Center namanya menjadi Taman Pintar Bookstore.

Buku di Taman Pintar Bookstore

Di Taman Pintar Bookstore ini buku yang dijual harganya cukup murah. Mulai dari Rp.5.000,-  Rp.10.000,- hingga puluhan ribu rupiah. Untuk lebih lengkapnya tentang Taman Pintar Bookstore bisa sahabat baca  DI SINI.

Sering juga bazar buku di Yogyakarta. Setahuku kalau tidak di depan halaman toko buku Gramedia, di kampus UIN Sunan Kalijaga juga sering diadakan.  Buku yang dijual bermacam-macam harganya, mulai dari Rp. 5.000,-

Selama kurang lebih 3 tahun di Yogyakarta baru kali ini ada cuci gudang Gramedia. Yang di adakan di gudangnya langsung. Mungkin akunya saja yang baru tahu. Dan itu disebut Hutan Buku. Awalnya aku bingung kenapa hutan buku, aku pun dikirim gambarnya yang berisi info tentang cuci gudang penerbit Gramedia.

Gramedia mengadakan acara yang namanya “Open Warehouse”. Yang dilaksanakan mulai tanggal 8-30 September 2016. Mulai dari pukul 09.00 – 15.00. Tersedia buku motivasi, novel, kamus, buku kecantikan, manajeman, buku masak, buku anak dan masih banyak lagi yang lainnya. Pertama kali melihat foto gudang yang temanku kirim melalui whatsapp, aku semakin penasaran dengan tumpukan buku yang begitu rapih tertata. Ingin rasanya cepat pergi ke tempat tersebut.

Aku rasa dengan harga serba Rp. 5.000,- sangat cocok untuk harga seorang mahasiswa. Dengan harga murah tapi dapet buku berkualitas. Pasti bakal ramai yang berkunjung, dan akan banyak juga yang memborong. Selain buat koleksi sendiri, pasti ada juga yang bakal dijual kembali. Di Yogyakarta sendiri banyak yang menjual buku bekas, namun masih bagus dan berkualitas. Sahabat bisa cek DI SINI.

Waktu itu ketika aku sedang duduk dikampus, baru saja aku mau menceritakan kepada Bahrul, sahabat satu kelasku. Kalau di Gramedia sedang ada cuci gudang. Bahrul malah bercerita terlebih dahulu kalau dia baru saja kemarin dari sana. Mendengar itu aku sedikit kesel karena dia tidak ngajak ketika pergi kesana. Namun dia mengajak untuk besok pergi lagi kesana. Mendengar itu, kesalku hilang seketika. πŸ˜€ Sebenarnya aku hanya becanda. Alhamdulilah ada teman untuk kesana.

Kami berangkat dihari Kamis pukul 07.30 pagi. Bahrul menyarankan berangkat pagi, agar tidak panas dijalannya. Sampai disana kurang lebih pukul 08.10. Tepat sampai di depan gerbang kami di sambut hangat oleh satpam yang sudah siap mengunci tas yang kami guankan. Intinya setiap orang yang datang membawa tas, rek seletingnya di kunci menggunakan ripet atau tali yang biasa digunakan untuk mengikat kabel. Alasannya mungkin agar setiap orang yang datang tidak bisa memasukan buku ke dalam tasnya.

Baca juga : Menikmati Sore di Grhatama Pustaka Jogja

Setelah sampai depan pintu gerbang, sudah banyak sekali orang yang mengantri di depan pintu masuk ke gudang Gramedia. Aku sendiri tidak bisa duduk karena penuh, terpaksa berdiri kurang lebih 30 menit sampai pintu gerbangnya dibuk. Pukul 08.50 barulah gerbang dibuka, semua orang yang menunggu berbondong-bondong masuk. Ada yang tergesa-gesa jalanya, ada juga yang berlari. Aku memilih jalan dengan santai agar tidak terjadi apa-apa.

Sesampainya didalam gudangnya, susah sekali untuk jalan. Kami harus berdesak-desakan. Banyak debu juga dibeberapa rak bukunya. Ada juga yang sampai bersin karena terkena debu. Namun bagi orang yang sudah tahu, mereka banyak membawa masker dari rumahnya masing-masng. Setiap harinya yang berkunjung dibatasin waktunya. Bahkan dibagi menjadi 3 gelombang.

Gelombang 1 : Pukul 09.00 – 10.30
Gelombang 2 : Pukul 11.00 – 13.30
Gelombang 3 : Pukul 14.00 – 15.30

Di gudang bukunya, arah mau ke atas terdapat petunjuk yang menunjukan di lantai dua ada hutan buku. Ketika sampai diatas memang betul. Banyak sekali buku-buku yang masih numpuk. Pasti akan lebih banyak lagi orang yang memborongnya. Bagiku inilah suatu harta karun yang jangan sampai disia-siakan.
Hari itu aku berhasil mengumpulkan 7 harta karun. Jadi Rp. 5.000,- x 7 = Rp. 35.000,- Sedangkan Bahrul mendapatkan 4 harta karun. Tinggal dikalikan saja. Kurang lebih pukul 10.15 panitia acara sudah mengingatkan bahwa waktu kami sudah tinggal sedikit. Jadi bagi yang belum selesai, segera diselesaikan. Selama disana memang tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tahu-tahu sudah mau habis saja waktunya.

Untuk sahabat yang suka dengan komik. Harga di sini lebih murah dari buku-buku pada umunya, yakni hanya Rp. 2.500,- Jadi dengan uang Rp. 5.000,- sudah mendapatkan komik dua. Tentu lebih hemat. Selagi ada acara seperti ini tak ada salahnya mengeluarkan uang untuk mencari harta karun.

Tepat pukul 10.30 kami baru keluar dan mengantri di kasir yang cukup panjang dan panas. Alhasil pulang pun jadi pukul 11.00. Sesampainya di kost tepat dengan waktu Dzuhur. Berikut ke-7 harta karun yang berhasil aku dapat selama berdesak-desakan. Aku sengaja lebih membeli novel. Selain ingin mencoba membaca novel. Aku juga penasaran dengan isinya.

Ketika malam harinya temanku, Eko. Mengirim pesan singkat yang berisi ajakan untuk pergi ke hutan buku di Gudang Gramedia hari Jum’at. Kebetulan diahri itu aku sedang longgar, jadi aku pun menemaninya. Selain memberi petunjuk jalan, karena aku sudah kesana sehari sebelumnya. Aku juga penasaran bakal ada buku yang terbaru.

Keesokan harinya Eko menghampiriku di kost. Berangkat lebih telat dibandingkan dihari sebelumnya bersama Bahrul. Dari kost pukul 08.00. Sesampainya disana kurang lebih pukul 08.50. Baru sampai jalan tempat parkirnya sudah tidak muat lagi. Kami diarahkan untuk pindah ke tempat yang lain. Yang jaraknya lumayan jauh dari tempat parkir sebelumnya.

Tapi beruntungnya ketika kami sampai lokasi, tepat sekali dengan dibukanya gerbang masuk untuk ke gudangnya. Seperti biasa sebelum masuk tas yang aku gendong di tali terlebih dahulu. Setelah itu barulah kami masuk.

Namun di dalam kondisi bukunya semakin tidak tertata, sudah tidak seperti pada awal-awal dibuka. Ada yang masih di rak, dibawah berserakan. Dan bahkan sampai ada yang terinjak-injak. Sedih aku melihatnya. Meskipun berdesak-desakan aku berusaha jalan dengan hati-hati agar bukunya tidak terinjak. Sepi sedikit aku mencoba memindahkan buku yang ada dibawah. Meskipun tidak semuanya. Aku memindahkan agar terhindar dari orang jalan.

Di gudang buku Gramedia juga banyak buku yang aku rasa tidak laku dipasaran. Buktinya masih banyak sekali buku-buku yang bertumpukan dengan judul buku yang sama. Tidak hanya novel saja, buku-buku yang lainnya juga banyak.

Jika ada yang menarik buatku, aku ambil salah satu untuk dibaca. Ada juga yang masih tertata di rak yang atasnya dengan rapih. Seakan terlihat tanpa ada sentuhan seorang pun yang berkunjung. Entah tidak menarik atau memang tidak tahu. Seperti buku yang dibawah ini.

Kalau buku yang cabai ini setahuku masih ada yang cari, ada beberapa orang yang membelinya. Bahkan ada salah seorang yang membeli buku sangat banyak, sampai dus-dusan lebih, bahkan ada yang menggunakan kantong yang biasa buat padi tapi yang kecil. Sampai-sampai aku melihatnya bengong, karena mengambilnya saja tanpa dibaca apalagi dilihat, seperti memindahkan buku saja dari tempat ke tempat lain dengan cepat.

Setelah selesai kami keluar, selain bisa duduk istirahat, kami juga masih bisa mencari buku yang ada dibagian luar. Meskipun hanya ada 2 meja tapi yang minatnya banyak juga. Setelah selesai kami harus mengantri panjang. Saking panjangnya, tidak tersedia tempat yang teduh, terpaksa harus ditempat yang panas. Karena ditinggal sebentar saja posisi antri sudah direbut sama orang lain.

Dihari pertama ada salah satu orang yang membayar buku tepat berdiri di depanku. Dia membeli buku yang berjudul. “Cinta Sang Sufi” namun oleh kasirnya disimpan, katanya tidak dijual buku yang ini. Keesokan harinya ketika aku sedang memilih buku bersama Eko, aku menemukan buku itu juga. Awalnya mau diambil juga karena aku tertarik, namun disisi lain aku teringat kejadian kemarin bakal disimpan karena tidak dijual.

Eko sendiri tetap membawanya karena dia juga tertarik. Aku menyarankan untuk membawanya, siapa tahu kali ini dijual. Dan itu memang benar, setelah panas-panasan mengantri di kasir, buku Cinta Sang Sufi pun bisa dibawa pulang. Aku sendiri bingung kenapa tidak disita lagi. Apa mungkin buku yang kemarin disita hanya untuk kasir yang ingin memiliki buku tersebut juga. Namun tidak mau mencarinya. Tapi entahlah πŸ™‚

Ketika ke gudang Gramedia bareng Eko aku juga dapet harta karun lagi dan jika digabung dengan yang hari pertama dengan Bahrul jumlahnya jadi 18 harta karun alias buku.


 18 Buku x Rp. 5.000,- = Rp. 90.000,-

Jarang-jarang dengan uang Rp. 90.000,- dapet buku sebanyak itu. Selagi ada waktu dan kesempatan harus bisa dimanfaatkan. Demikian caraku memanfaatkan waktu untuk menjelajah Hutan Buku di Gudang Gramedia.

63 Responses for Menjelajahi “Hutan Buku” di Gudang Gramedia Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *