Menata Ulang Kembali Kamar Kost Andi Nugraha


DiaryMahasiswa.com | Sejak 2013 aku memutuskan untuk meranantau ke kota gudeg atau lebih di kenalnya dengan kota pelajar. Yogyakarta, ya. Entah kenapa sejak lulus SMA hati ini terasa nyaman ketika berada di Yogyakarta. Meskipun di Yogyakarta sendiri aku tidak punya keluarga. Tapi aku yakin dengan merantau di Yogyakarta akan mempunyai teman, sahabat yang akan menjadi keluarga di perantauan.

Jangankan keluarga, teman satupun di Yogyakarta aku belum punya sama sekali. Tapi aku bersyukur mempunyai guru SMA yang dulunya lulusan atau kuliah di Yogyakarta. Kebetulan beliau mempunyai teman yang menjadi dosen di kampus dimana aku akan kuliah. Aku menyebutnya pa Eding. Beliau selain menjadi dosen di kelas malam, siangnya juga kerja. Padahal belum sempat bertemu, tahu mukannya juga belum. Hanya lewat pesan singkat saja untuk berkomunikasinya.

Tapi beliau mau mencarikan kost untukku. Bahkan sampai rela tidak masuk kerja demi mencarikan kost untuk orang yang belum pernah bertemu sebelumnya dan belum kenal juga. Sedari pagi mencarikan kost untuku. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa mulai dari harganya Rp. 250.000,- per bulan hingga Rp. 150.000,- per bulan. Aku sendiri karena belum tahu kondisinya sengaja memilih harga yang paling murah. Betah tidaknya itu urusan nanti, yang penting sampai di Yogyakarta ada tempat tinggal.

Nama kostnya REGES. Nama yang unik, tapi entah apa artinya. Mungkin pa kost saja yang tahu artinya. Pemilik kostnya bernama pa Handoyo. Kost Reges ini memang letaknya tidak dipinggir jalan. Tapi masalah makan dan yang lainnya serba dekat. Bahkan setiap malam atau sore ada saja yang lewat orang jualan. Entah itu siomay, jagung, bakso dan masih banyak lagi yang lainnya.

Awal aku kenal di kost Reges dengan mas Endro, dan seiring berjalannya waktu kami akrab hingga sekarang. Bahkan sampai ada yang sudah tidak kost disini juga masih lancar komunikasinya. Karena kami membuat grup untuk yang kost disini.

Papan nama kost diatas merupakan papan nama kost putra Reges yang terletak di Salakan No. 39 B RT 02 RW 04 Yogyakarta. Kost Reges ini memiliki 3 lantai. Dengan lantai ke-3 khusus untuk menjemur pakaian. Kalau malam biasanya digunakan untuk nongkrong atau bersantai sembari melihat senja juga bisa.

Ini bisa di bilang pintu gerbang yang aku foto dari tepi jalan. Memang kecil tapi sepeda dan motor bisa masuk lah. Kadang kalau sepeda yang setangnya panjang akan ngepres pas sekali di pintu tersebut. Motor yang spionnya tinggu juga kadang nyangkut. Jadi harus ekstra hati-hati. Beginilah kondisi kamarku diawal-awal kost.

Foto diatas itu pada tahun 2013. Baju-baju yang dibawa juga masih ada di dalam tas. Belum punya lemari baju. Pokoknya berantakan lah. Lihat saja laptop nyala, colokan dimana-mana. Magicom terbuka. Rasanya kurang tempat dan terlalu sempit. Tapi mungkin saja diwaktu itu aku belum bisa menata ruangan kamar.
Seiring berjlannya waktu aku rasa bosan juga dan kurang nyaman. Apalagi kalau sedang mencari inspirasi untuk nulis. Kadang agak susah. Bagiku suasana kost sangat mempengaruhi sekali. Tapi meskipun demikian kamar kostku selalu ramai. Teman-teman kampusku yang main.

Mulai peningkatan, aku mencoba membeli rak buku untuk sedikit merapihkan buku-bukuku yang berserakan. Namun terlihat sedikit rapih kasur untuk tidurku. Setidaknya nyaman untuk tidur.

Selain rak buku, aku mencoba membeli meja untuk tempat komputer. Ketika di Yogyakarta aku membeli komputer. Awalnya memang tidak ada niat, tapi karena teman dekatku waktu itu sedang butuh uang sehingga menjual komputernya kepadaku. Kebetulan di waktu itu aku sedang ada uang, jadi aku bantu saja. Lagi pula untuk memanjer lama-lama laptopnya kasihan juga. Komputer kan setidaknya sedikit aman dibandingkan dengan laptop jika dilihat dari segi ketahanan nyalanya.
Setiap minggunya kalau ada tugas selalu ramai teman-teman kampus. Bahkan sampai penuh tidak cukup menampung teman-teman yang datang. Kebanyakan teman-teman bukan hanya tugas saja yang main ke reges. Tapi ada bonusnya, yakni bisa internetan gratis dan bisa download sekalian. Ada juga yang sudah menyiapkan flashdisk untuk menampung hasil downloadannya.
Ada juga yang hanya main kemudian tidur, Tapi biasanya saking seringnya teman-teman ke kost, kamarku jadi jarang dibereskan karena tidak ada waktu. Dengan begitu apakah aku tetap membiarkannya ? Tentu tidak, aku berusaha mencari waktlu luang agar bisa menata kembali kamar kost senyaman mungkin.
Selain rak dan meja, aku membeli lemari untuk tempat baju. Setidaknya baju tidak banyak yang di gantung di dinding. Di atasnya juga bisa digunakan untuk tempat menyimpan barang. Meskipun sudah ada lemari aku merasa masih berantakan. Hingga akhirnya aku membuat rak untuk di dinding agar bisa menyimpan buku lagi.
Waktu itu aku tidak ada ide lagi. Sehingga rak itu hanya di tempel dengan seadanya, di atasnya juga menggunakan lakban. Rak ini lumayan lama bertahan, kurang lebih satu tahun menghiasi kamar. Selain untuk buku, kadang buat tempat farfum, peci dan celengan yang aku buat dari botol aqua. 
Di kost ini juga mengalami penaikan harga, mulai yang tadinya harga Rp. 150.000,- jadi Rp. 170.000,- kemudian naik lagi menjadi Rp. 190.000,- Dan sampae saat ini jadi Rp. 200.000,- Tapi itu tidak berlaku untuk semua anak kost, terutama anak kost yang baru dan kamar kost yang besar. Kebetulan di lantai 2 ada dua kamar yang cukup besar sehingga biaya bulanannya juga mahal. Apalagi yang ada kamar mandinya di dalam.

Aku bersyukur hingga saat ini masih bisa membayar cukup untuk tinggal di perantauan. Terutama di kost Reges ini. Sebenarnya masih bisa cari kost yang lebih bagus dan harganya tidak terlalu jauh dari kost Reges. Tapi bukan itu masalahnya. Karena aku sudah merasa nyaman, bukan hanya pada tempatnya tapi pada orang-orang yang kost di Reges sendiri.
Sampai saat ini dengan biaya Rp. 200.000,- per bulan bagiku sudah cukup. Karena Alhamdulilah aku sendiri masih bisa membayarnya setiap bulan. Harga segitu sudah termasuk listrik dan yang lainnya. Biasanya di kost-kost lain ada yang harganya lebih murah tapi itu belum termasuk listri. Di tambah lagi setiap membawa barang-barang bisa nambah biaya lagi.
Misal membawa laptop tambah uang lagi, membawa magicom nambah juga. Yang seterusnya nambah seiring bertambahnya barang yang bisa menggunakan listrik. Jika itu berlaku di kost Reges tentu aku akan kewalahan. Tahu sendiri di kost aku ada komputer, laptop, magicom, setrika dan masih banyak lagi yang lainnya.
Di kost ini juga aku beruntung karena sudah di sediakan dapur. Gasnya kalau habis iuran belinya. Setiap hari kami masak di kost, kalau tidak sempat karena pulang kuliah sore biasanya memilih untuk beli. Memang tidak semuanya ikut masak. Setidaknya ada kurang lebih 5 sampai 7 orang setiap harinya yang ikut masak. Tapi kalau sepi paling hanya 2 orang saja. Sekali masak kalau sedang ramai, bisa sampai 3 magicom kecil masak nasinya.
Kalau yang ikut masak banyak kami bisa bergotong royong masaknya. Ada yang cuci beras dan kemudian dimasak. Ada yang motongin bawang, ada yang beli dulu bahan-bahannya ke pasar. Dan setelah itu masak bareng, makan bareng. Meskipun tidak semewah masakan-masakan di restoran mewah pada umumnya tapi kami senang dan menikmatinya.
Karena bukan rasa makanan yang kami cari, melainkan rasa kebersamaan. Tapi masakan teman-teman kost Reges enak ko. Beneran. Tidak percaya ? Boleh deh kapan-kapan maen ke Yogyakarta. πŸ˜€
***
Setelah dua tahun di Reges, aku kepikiran untuk menata lagi kamar kostku. Karena dengan menata kamar kost ada hal yang tentu berbeda setiap harinya. Mulai dari mengganti posisi lemari, meja, kasur hingga menambah barang-barang yang mengakibatkan penuh kamar.
Aku kepikiran untuk mengganti warna kamar, agar bisa lebih berwarna. Dan terpenting bisa membuat mood ini baik ketika nulis. Sejak itu juga aku meminta teman-teman untuk membantunya. Sulis dan Adul. Mulai dari mengeluarkan barang-barang di kamarku hingga bersih tanpa ada satupun barang yang tersisa.
Untuk menggosok dinding-dinding dari cat yang dulu lumayan capek ternyata. Hal itu membuat tanganku sakit. Tapi demi tampilan yang beda aku terus menggosoknya hingga bersih. Sering juga lembur sampai pagi. Bisa kalian lihat di dinding sebelah kiri ada tulisan-tulisan yang membuat kurang nyaman jika dilihat.
Selain itu banyak juga bekas tempelan-tempelan di dining. Rasanya ingin cepat-cepat selesai aku menggosok dindingnya. Di dekat pintu tepatnya di kaca aku sengaja menuliskan motivasi di kertas yang isinya; “Menulislah Sebelum Namamu Ditulis di Batu Nisan” motivasi itu aku dapat dari guruku, Abdul Hakim El Hamidy. 
Ketika ngeprin banyak orang yang bingung, bahkan tertawa karena mungkin apa hubungannya menulisdan batu nisan. Justru tulisan itu membuatku termotivasi untuk menulis, intinya aku harus mempunyai karya di bidang menulis sebelum aku tiada. Terutama menulis di blog ini. Mulai dari diary, curhatan dan masih banyak lagi yang lainnya.

“Meskipun diary, usahakan berbagi,
meskipun kegiatan sehari-hari,
usahakan menginspirasi”

-Andi Nugraha-
Tak terasa saking semangatnya gosok-gosok tembok berkeringat dan banyak juga tembok yang menempel di tangan. Tidak hanya di tangan, di kaki dan muka juga demikian tapi aku menggunakan masker agar tidak terkena mata. Sekiranya capek istirahat terlebih dahulu karena aku mengerjakannya sendiri. Sengaja aku mengajak teman-teman yang membantu untuk mengecatnya saja. Untuk urusan membersihkan aku sendiri.

Kebetulan tetangga kostku, Mukhlas waktu itu sedang pulang ke Jakarta. Dan kunci kostnya di titipkan ke aku, hal ini merupakan kesempatan untuk menitipkan barang-barang seperti baju dan lemari di kamarnya. Dan mengusahakan sebelum temanku pulang ke kost, kamarku sudah jadi.

Lemari yang satu ini sengaja aku simpan diluar, kalau di kamar akan lebih menghabiskan tempat. Terlebih berat juga menggeser-gesernya. Dulu pertama kali membeli sih di rakit di kost jadi mudah membawanya dari toko.
Terlihat berantakan barang-barangku ketika di titipkan di kamar Mukhlas. Terlihat banyak juga, selain di kamar ini ada lagi di kamar Sulis barang-barang yang aku titipkan. Mungkin hanya aku saja barang-barang yang ada di kost paling banyak. Tidak seperti teman-teman yang lainnya.
Di kamar yang satu lagi juga terlihat ada lemari kecil yang belum lama aku beli. Karena lemari yang satu lagi lembab banyak lumutnya. Memang dibersihkan juga cukup, tapi jika di simpan baju yang cukup lama dan tidak dibersihkan lemarinya akan kotor juga bajunya. Sehingga aku memutuskan untuk membeli lemari yang kecil.
Selain lemari ada juga beberapa buku yang bertumpukan dengan warna yang sama. Itu kebetulan buku aku yang ke-4. Dengan sibuknya menata kamar kost, banyak juga pesanan buku yang berdatangan. Alhamdulilah. Sehingga aku harus membagi waktu, ketika siang aku berusaha packing dan mengirimkannya melalui kantor pos. Untuk sore hingga malam aku menata ulang kamar kost. Meskipun demikian tentu aku tidak lupa dengan kewajibanku untuk sholat.

Kebetulan waktu itu ada pesanan juga dari Timika-Papua. Sering dapat pesanan dari Papua. Meskipun harga ongkir lebih mahal dari harga bukunya. Tapi mereka tetap membelinya. Karena buku bagi setiap orangnya tentu berbeda. Hanya untuk mendapatkan ilmu dalam buku tersebut, uang bukan jadi masalah. Karena uang bisa dicari.
Aku sengaja memilih warna ping. Selain warna kesukaan, bagus juga menurutku. Sama warna seperti warna bukuku ke-4. Awalnya memilih warna ping dan putih. Tapi karena warna putihnya tidak terlalu jelas di dinding. Meskipun sudah beberapa kali di cat ulang. 
Waktu itu juga aku memutuskan untuk membeli cat lagi warna biru. Lagi-lagi warna kesukaanku. Selain dua warna tersebut aku juga suka warna hijau dan hitam. Tapi kali ini untuk warna yang aku pilih ping dan biru. Karena suka corat-coret di dinding, aku juga berencana menuliskan kata-kata di dinding kamarku.
Sejak SMA, mulai dari kelas satu hingga kelas tiga. Aku selalu menghiasi dinding kelas dengan tulisan, namun aku tulis di kertas dan ditempel. Rasanya tidak mungkin juga kalau aku menuliskannya langsung di dinging. 
Sembari menata kost, aku juga kangen ingin mencoretkan kembali di dinding kamar. Berawal dengan pensil terlebih dahulu kemudian di cat menggunakan koas kecil. Terlhat mudah, namun cukup capek karena harus berdiri, jongkok dan berdiri di tangga untuk menuliskannya.

Sebelumnya kalian tahu apa lanjutan penggalan kata dari Hati ? Kalau dari foto kurang terlihat jelas, tapi aku perjelas dengan foto dibawah ini.

Selain di dinding warna ping, aku juga menuliskan kata-kata di dinding warna biru. Terutama dengan tulisan yang sedikit besar. Agar terlihat juga oleh orang lain yang melihatnya dari luar. Bukan pamer, hanya saja bisa memotivasi kata-kata di dinding kamarku. Karena tidak ada kata terlambat untuk belajar. Umur bukan masalah. Hanya satu yang menyebabkan kita tidak bisa belajar yakni jantung berhenti berdetak.

Kurang lebih jika dilihat sedikit jauh akan seperti dibawah ini. Mungkin sebagian dari kalian ada yang tidak suka. Karena sebagus apapun menurut kita, belum tentu menurut orang lain bagus. Tapi membuatku nyaman dan nyenyak ketika tidur. Ketika bangun tidur membuka mata melihat suasana yang begitu gelap (lampus belum di nyalain :D) suasana yang berbeda dari biasanya.
 Di dinding satu lagi juga aku menuliskan di dinding satu lagi dengan tulisan, “Milikilah sedikit rasa TANGGUNG JAWAB terhadap apa yang telah kau pilih sebelumnya.”

Sedangkan posisi di dekat pintu jadi seperti dibawah ini. Rak buku aku pindahkan di dekat komputer. Tujuanya agar lebih mudah mengambil bukunya. Karena setiap hari aku beraktifitas di depan komputer dekat rak buku.
Itulah sedikit penampakan kamar kost terbaruku. Sebenarnya bukan terbaru hanya saja aku menata ulang kembali. Dengan tampilan seperti ini aku sendiri lebih nyaman karena tertata dengan rapih. Melihatnya pun lebih enak dan lebih banyak ide-ide bermunculan ketika menulis. Lebih nyaman  juga ketika membaca. 
Kebetulan kasur yang dulu sudah diganti dengan yang lebih tebal dan empuk. Setiap siangnya aku gulung dan disimpan di samping. Tujuannya agar lebih luas jika ada teman-teman yang main ke kostku.
Tidak hanya itu, beberapa temanku menggunakan kamar kostku untuk merekam video saat nyanyi. Seperti inilah penampakannya :

Itulah proses menata ulang kamar kostku. Apapun pendapat kalian. Boleh di share di komentar di bawah ya. 

79 Responses for Menata Ulang Kembali Kamar Kost Andi Nugraha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *