Menelusuri Curug Banyunibo dengan Sepeda

DiaryMahasiswa.com | Sudah 3 tahun lebih aku, Maman, Bayu, Kholid dan Anin berteman. Namun belum pernah sama sekali main ke rumah mereka. Aku dan Maman kebetulan ngekost yang jaraknya tidak lumayan jauh. Sengaja aku mengajaknya untuk bersepeda ke daerah Bantul. Selain mencari suasana bersepeda baru, kami juga ingin main ke rumah Anin ataupun Bayu. Kebetulan kalau ke rumah Kholid aku pernah main. Tapi jika waktunya cukup kami juga ingin main ke rumah mereka semua.

Baca juga : Gumuk Pasirnya Jogja, Keren Banget!

Dari awal sebenarnya aku tidak muluk-muluk untuk bisa main ke curug Banyunibo. Aku hanya ingin bersilaturahmi ke rumahnya dan bersepeda bareng. Jika ada waktu boleh juga untuk main ke curug Banyunibo. Selain penasaran ingin juga basah-basahan.

Sebelum berangkat malamnya aku menghubungi Anin terlebih dahulu. Tapi dia ada kegiatan sedari pagi hingga siang, kurang lebih sampai Dzuhur. Untuk Kholid dan Bayu nanti aku hubungi di rumah Anin saja. Kurang lebih pukul 11.00 kami berangkat menuju rumah Anin.

Ketika sampai di Pasar Seni Gabusan aku meminta berhenti selain istirahat ingin mengabadikan foto juga.

Setiap aku bersepeda, khususnya yang melewati pasar seni gabusan ini. Ingin sekali mengabadikan foto di tempat ini. Pernah ketika pergi ke pantai Parangtritis, pantai Samas, pantai Pandansari, pantai Goa Cemara.
Jarang sekali kesampaian foto ditempat ini, ketika berangakat ke pantai pasti direncanakan sore atau ketika pulangnya untuk berfoto. Tapi karena pulangnya malam terus jadi baru kali inilah kesampaian foto.
Menurutku unik tempatnya, apalagi gongnya yang besar ini. Jadi teringat Gong Perdamaian Dunia yang berada di Ciuang Wanara Ciamis. Gong tersebut merupakan gong peninggalan kerajaan Galuh. Sedangkan gong besar yang ada di pasar seni gabusan ini merupakan simbol dari besarnya semangat persatuan dan kebersamaan masyarakat Bantul.

Gong yang bertuliskan“Bantul Projo Taman Sari” itu berdiameter 6.3 m dan disematkan sebagai maskotBantul Expo pada tahun 2008. Gong tersebut dibuat oleh pengrajin gamelan bernama Poniman ( 52 ) dari Kalinongko, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, yang kini gongnya telah terpasang di komplek Pasar Seni Gabusan Jl. Parangtritis Km.9,5.
Setelah cukup untuk mengbadikan foto, kami melanjutkan perjalanan. Tak lama terdengar suara adzan. Kami mempercepat bersepeda dan mencari Masjid terdekat untuk melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu.

Di Masjid Al-Ikhlas inilah kami melaksanakan sholat sembari istirahat. Belum banyak orang juga yang datang. Selain adem berada di Masjid ini, tempatnya juga sangat mudah dijangkau bagi para pengendara sepeda, motor ataupun mobil. Karena letaknya dekat sekali dengan jalan.
.
Setelah selesai sholat kami melanjutkan perjalanan. Dapat kabar dari Anin dia menunggu di Masjid Agung Bantul. Kami berbegas pergi kesana. Sebenarnya aku ingin bertemu teman-teman karena kangen. Sudah berapa bulan libur dan ingin bertemu sekalian main.
Ketika sampai depan Masjid Agung, Anin menyambut kami dengan senang, begitu juga kami. Setelah itu kami langsung pergi ke rumah Anin. Dia mengajak untuk putar balik hingga jauh sekali. Tapi karena di jalannya banyak sekali pepohonan jadi serasa adem. Kemudian bertemu pertigaan di depan. Anin yang memimpin dijalan mengarahkan jalan lurus. Karena tidak sabar Maman langsung mendahului aku.
Dan tahu apa yang terjadi. Ternyata salah, Anin ngerjain Maman. Untung saja aku tidak mengikuti Maman. Ternyata tidak hanya Maman saja yang dikerjain, aku pun demikian. Selama 5 menitan lebih jalan menelususi jalan, ternyata ujung-ujungnya kembali lagi depan Masjid Agung Bantul.
Padahal jarak dari Masjid Agung Bantul untuk ke rumah Anin tinggal belok ke kiri dekat lampu merah pertama kami bertemu. Karena kesal aku menegurnya,“Nin kenapa tadi kamu malah ngajak muter-muter, kalau akirnya kesini juga ?”, dengan polosnya dia menjawab, “ya biarin lah, biar jauh saja.”
Tidak dikampus, tidak di luar kampus. Tetap saja seperti itu. Tapi senangnya ketika menelususi jalan menuju ke rumah Anin. Kami bisa melihat pemandangan indah, banyak sawah disekeliling kami bersepeda. Berbeda di daerah kostku. Tidak ada sawah satupun.

Sesampainya di rumah Anin, kami langsung menyimpan sepeda dengan rapih. Dan disambut hangat juga oleh ibunya. Sembari istirahat kami saling bercerita selama liburan. Tak lama kami di kasih minuman dingin yang cukup segar. Sehingga bisa mengobati rasa haus kami selama diperjalanan.
.
Karena sinyal handphone bagus, Maman tak henti-hentinya membuka internet. Begitu juga denganku.  Udara disekitar rumah Anin sangat sejuk, tak ramai kendaraan. Malah banyak anak-anak yang bersepeda. Tak sedikit juga yang memperhatikan sepeda yang aku kenakan, si Fijo. Banyak sekali mendapatkan perhatian dari setiap orang yang melihatnya.
Di rumah Anin juga membuka warung. Selama kami dirumahnya, Ibunya menyajikan jajanan warungnya buat kami. Aku dan Maman tidak enak untuk memakannya, karena itu kan jajanan untuk dijual. Dan akhirnya kami tidak memakannya. Namun Anin malah sangat asik dan menikmatinya. Mungkin saja ini kesempatan untuk Anin ngemil. πŸ˜€
.
Sembari duduk santai, Maman mengajak untuk pergi ke curug. Dia sangat suka sekali dengan basah-basahan, makannya sangat semangat. Kebetulan waktu itu Anin juga bersedia untuk mengantarkan kami pergi ke curug Banyunibo. Bayu dan Kholid tidak ikut bukan karena kami tidak mengajak, tapi nomer dan media sosial mereka sangat susah dibubungi. Bahkan nomernya tidak aktif.
Foto diatas merupakan gang menuju rumah Anin. Kami sebelumnya tidak ada bayangan jalannya seperti apa menuju curug Banyunibo. Anin sendiri yang sudah pernah ke sana sudah lupa. Karena itu dulu ketika dia masih SMP. Itupun menggunakan mobil. Sedangkan kami sekarang menggunakan sepeda.
Tapi tak apalah, kami tetap melanjutkan perjalanan. Baru saja setengah jam perjalanan, Maman ingin sekali minum es kelapa. Aku mengiyakannya nanti kalau bertemu dijalan. Tak lama memang ada, beruntung sekali nih. Kami semua memesan es kelapa untuk mengobati rasa haus.
.
Sahabat sekalian bisa melihat es kelapanya. Gimana bikin pengen kan ? Satu gelas es kelapa tersebut harganya Rp. 3.000,- Sebelum Idul Fitri kemarin harganya masih Rp. 2.500,- Setelah lebaran jadi naik, tapi tidak hanya es kelapa saja, makan pun naik, rata-rata naiknya hanya Rp. 5.00,-

Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan. Awalnya kami semua semangat mengayuh sepeda. Apalagi Maman dan Anin semangatnya luar biasa.

Tapi setelah menelusuri jalan yang cukup naik. Mereka terkapar kecapean. Maman memaksakan diri dengan mengayuh lebih cepat lagi. Namun baru saja berapa meter, dia langsung duduk kecapean.
.

Begitu juga dengan Anin yang berusaha keras mendorong sepedanya. Bisa sahabat lihat jalannya seperti apa. Luamayan capek jika tetap menunggangi sepeda. Jika menggunakan motor tak terasa capek sekalipun. Tapi dengan sepeda kami jadi tahu perjuangan untuk sampai ke tempat yang dituju.
.
Aku sendiri tidak sedikit capek, karena sebelumnya, kurang lebih minggu kemarin sudah bersepeda ke Gunung Kidul. Aku jadikan pemanasan untuk bersepeda selanjutnya. Ketika ke curug Banyunibo ini juga aku menggunakan sepeda fixie, jadi sedikit enteng mengayuhnya ke atas.
Tak lama suara adzan sudah terdengar, kebetulan sekali jarak dimana kami berhenti dekat dengan Masjid, hanya berada disebelah kanan jalan. Kami langsung berbegegas menuju Masjid.
Selain adem, unik juga tempat parkir sepedanya. Dindingnya penuh dengan gambar, namun gambar yang penuh arti. Seperti ada tulisan minal aidzin walfaidzin, ada juga gambar Masjid dan orang mengenakan sarung dan peci.
Di Masjid Muchlisin Waung ini kami melaksanakan sholat Ashar. Ketika sholat tidak banyak orang yang datang, hanya kami bertiga ditambah satu Imam dan jamaah satu lagi. Sangat disayangkan sebetulnya, Masjid sudah bagus, besar dan nyaman pula. Tapi penghuninya sepi entah kemana.
Setelah selesai, kami kaget ketika melihat jalan. Ternyata masih naik dan jauh. Setelah sampai dipertigaan yang seingat Anin itu adalah masuk ke arah curug Banyunibo kami berhenti. Bingung mau ambil arah yang mana. Aku menyarankan untuk bertanya, karena menurut pepatah juga, kalau malu bertanya sesat dijalan. Seperti halnya kami yang tengah kebingungan ini, kalau tidak bertanya tentu akan tersesat.
Setelah bertanya kami menemukan jalan menuju curug Banyunibo. Namun sudah tidak lagi jalanan aspal, karena masuk ke dalam kampung. Jalannya bebatuan dan ada juga tanjakan dan turunan. Aku mengkhawatirkan Fijo, karena fixie jadi takut bocor atau pecah pada bannya.
Terkadang jika jalannya sangat susah, aku lebih baik mengangkat Fijo demi keselamatannya. Apakah itu berlebihan ? Ahh, tidak. Toh aku senang.. hee

Setelah melewati jalan yang kurang bagus, kami bertemu jembatan yang dekat dengan peta di daerah tersebut. Sembari melihat kami istirahat. Di aliran sungai jembatan tersebut terlihat air jernih yang mengalir. Sudah tidak sabar ingin bertemu dengan curugnya.

Setelah itu, ternyata kami harus melalui jalan turun yang cukup ekstrim. Coba sahabat lihat foto dibawah ini. Tentu akan bahaya jika menunggangi sepeda tanpa rem. Kami memutuskan untuk menuntun sepeda dengan jalan pelan-pelan dan penuh hati-hati.
.

Namun dibalik jalan turun itu ada parkiran curug Banyunibo. Itu tandanya kami telah sampai. Dengan senang hati kami langsung menyimpan sepeda. .
.

Kebetulan dekat parkiran ada kolam yang isinya penuh dengan ikan. Maman berbegas untuk minta difotokan dengan background kolamnya. Dan aku pun tidak mau kalah. Anin sendiri malah tidak mau ketika difoto. Mungkin dia masih terasa capek.
 

Meskipun sepi tak ada orang yang berkunjung. Mungkin karena sudah sore jadi tak ada yang datang lagi. Aku merasa percaya dengan tempat parkirnya. Karena rumah dan ada penghuninya, jadi kami merasa aman meskipun baru pertama kalinya.

Ikan ditempat tersebut cukup banyak, kami jadi ingin berlama-lama bermain dengan ikan. Aku jadi teringat kolam depan rumahku yang sama, penuh dengan ikan. Namun beberapa tahun kebelakang pecah tersambar petir. Dan ratusan ikannya hilang terbawa air. 

Maman mencoba bermain dengan ikan. Menjulurkan tangannya seperti halnya kasih makan. Dan ikannya pun berkumpul semua ke arah dimana tangan Maman diletakan.

Aku semakin penasaran, dan mencobanya dengan tangan lebih dalam agar ikan lebih banyak yang berkumpul. Namun apa yang terjadi, aku kaget sekali karena salah satu ikannya menggigit tanganku. Mungkin dikiranya makanan.
.

Setelah puas bermain dengan ikan, kami harus jalan kurang lebih 100 meter untuk sampai ke curugnya. Kami lalui dengan senang, dengan harapan bakal bertemu curug yang indah dan bisa mengabadikan fotonya. 

Jalannya lumayan mudah jika ditelusuri dengan sepeda, hanya saja untuk sampai ke jalan seperti foto dibawah ini cukup luamyan turun. Jadi kalau mau membawa sepeda harus diangkat untuk sampai ke bawah.
.
Sebenarnya kami sudah sedikit curiga, karena jarak dari 100 meter tadi tak terdengar suara air curug sekalipun. Sesampainya di curug kami kecewa. Karena air curugnya tidak ada. Tapi meskipun seperti itu, kami tetap bersyukur karena bisa sampai ke curug Banyunibo dengan bersepeda. Mungkin karena cuaca jadi airnya tidak ada, berbeda dengan temanku dulu yang pernah pergi ke curug ini, dia sampai bisa berenang.
.
Di curug Banyunibo ini kami dikagetkan dengan salah seorang laki-laki dan perempuan sedang duduk berpelukan. Momen sepi seperti inilah yang banyak dijadikan tempat untuk mojok, bermaksiat dan hal-hal lain yang berujung dosa.
Anehnya ketika kami datang, mereka berdua tetap tenang dan diam. Aku kira mereka akan pergi karena malu. Tapi mereka tidak. Anehnya yang membuat kami bingung di parkiran tadi tidak ada kendaraan satu pun selain sepeda kami yang dititipkan.
Tapi entahlah, kami tetap bersenang-senang dan menghiraukan mereka. Meskipun airnya mengalir sedikit kami tetap jadikan sebagai background foto.

Maman sendiri asik bermain dengan kepiting. Dia mencari tali untuk memancing kepiting keluar. Sedangkan Anin lebih asik duduk sembari mengganggu Maman memancing kepiting dengan cara melempari batu ke air.

Entah kenapa dia senang sekali bermain dengan kepiting. Aku juga melihat sembari mengabadikan fotonya saja. Setelah bosan kami jalan-jalan disekitar curug.
.

Awalnya Anin tidak mau diajak foto. Setelah dibujuk mau juga, bukannya kenapa. Aku hanya ingin mengabadikan foto saja.
.

Disini juga ada papan instagram, namun terlihat sudah tidak dirawat. Aku mencoba mengabadikan foto disitu. Kemudian bermain air di pancuran air yang kecil.
Setelah cukup lama kami berada di curug Banyunibo. Laki-laki dan perempuan yang sedang berduaan tadi pergi. Dan membuat kami kaget, karena mereka pergi ke arah semak-semak yang mungkin saja tembusannya itu jalan menuju rumah mereka.  
Cukup mengelus dada, dan hal itu jangan terjadi pada kami. Tak lama kami juga berbegas untuk pulang. Sebelum pulang Maman dan Anin ingin berfoto terlebih dahulu.

Sesampainya di tempat parkir, kami bermain dengan ikan lagi. Tak lama Ibu sang pemilik rumah keluar dan memberikan makan untuk ikan. Begitu pakan ikan dilemparkan. Semua ikan langsung lahap makan. Wajar saja ketika tanganku tergigit, ikannya belum dikasih makan.

Ketika pulang kurang lebih dari curug pukul 17.00 lebih. Hampir maghrib kami masih ada diperjalanan. Tepat di Masjid Muchlisin Waung kami mampir terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat Maghrib. Terlihat berbeda karena jamaahnya terlihat cukup banyak, terutama perempuannya. Tidak seperti ketika shalat Ashar.
Setelah sholat Maghrib aku mengajak teman-teman untuk istirahat dulu sembari duduk di teras Masjid. Tak lama ada seorang bapak-bapak duduk menghampiri kami. Aku ingat, beliau adalah imam sholat ketika Ashar.
Bapak tersebut entah siapa namanya, namun beliau serasa akrab sekali dengan kami. Malahan sampai cerita tentang dirinya sendiri. Beliau itu mantan tentara, punya anak dua, semuanya sudah nikah. Yang satu dengan orang ambon dan yang satu lagi mendapatkan istri seorang guru.
Beliau juga menyarankan kalau mau menikah dengan orang Yogyakarta saja, karena jika sama orang ambon seperti putra beliau. Maharnya harus Rp. 100.000.000,- Selain itu beliau juga menasehati kami agar menjadi anak yang sholeh.
Kami seperti di interview, satu per satu ditanya. Mulai dari asal, tempat kuliah dan dari mana. Pokoknya beliau seperti sudah akrab saja dengan kami. Aku rasanya seperti gimana ya. Beliau bercerita namun seperti meninggikan dirinya. 
Kami tetap berbaik sangka. Beliau berbicara dengan bahasa Jawa, terutama banyak bicara dengan Anin. Karena tahu bahwa Anin orang Bantul. Aku sendiri ngerti artinya, namun belum bisa mengucapkannya. Sedangkan Maman sedikit bingung karena tidak mengerti artinya.
Tak lama ada salah seorang perempuan yang sedang duduk diatas motor tepat berada di depan masjid. Bapak yang tengah duduk disampingku melihat perempuan tersebut dan berkata : Itu namanya Mba Cui. Sembari memberitahu kami semua. Dia anak juragan tas, setiap hari ngajinya di Masjid ini.

Cocok dijadikan istri pokoknya. Sudah cantik sholehah lagi. Kami sendiri masih bingung kenapa pembicaraannya jadi ke arah pernikahan. Dan kami juga belum tahu persis muka perempuan itu yang dibilang cantik oleh bapaknya. 

Aku dan Maman memojokkan Anin. Bapak itu pun terus membicarakan tentang mba Cui dengan Anin. Setelah itu, kami minta pamit untuk pulang. Selama diperjalanan aku dan Maman mengejek Anin terus dengan mba Cui. “Besok sholatnya ke masjid itu lagi ya nin, biar ketemua mba cui.” ucapku sembari becanda. 
“Sudah nikah saja nin, nanti langsung jadi juragan tas lho.” ujar Maman. Anin sendiri hanya tertawa sembari malu.
Sepanjang jalan kami tertawa kalau mengingat bapak yang tadi, yang tiba-tiba akrab dengan kami. Tak terasa sembari ngobrol di jalan, Anin harus belok ke arah yang berbeda. Karena dia langsung pulang ke rumah. Sedangkan aku dan Maman berencana untuk pergi ke telkom. Tempat dimana orang-orang banyak berkumpul untuk internetan.
Tujuan utamanya bukan kesitu, tapi ke Kholid, yang jualan roti bakar di-samping telkom. Selain ingin bertemu, aku juga ingin memakan roti bakar. Sudah lama tidak makan roti bakar. Sesampainya di tempat Kholid, kami langsung masuk duduk sembari menunggu Kholid yang sedang membakar roti.
pict : @rotibakartelkom

Luar biasanya, kami disambut seperti halnya tamu. Ketika masuk ke dalam, kami sudah disediakan roti bakar yang siap disantap. Hhmmm,, rasanya bikin nagih dan nambah.. hehe
Roti bakar telkom milik Kholid ini biasa tutup pukul 22.00. Sedangkan roti kabar yang lain umumnya ada yang sampai pukul 24.00. Tapi karena dia juga masih kuliah jadi jangan sampai larut malam. Yang namanya rezeki kan sudah ada yang ngatur.
pict : @rotibakartelkom
Tak lama Kholid izin pamit untuk pulang kerumah terlebih dahulu. Sedangkan yang menjaga ada Lukman, adik dari Kholid. Setelah pulang dia membawa daging kambing yang sudah siap disantap dan pecel lele. Dan itu untuk Aku dan Maman.
Akhirnya kami bertiga makan bersama. Dalam hatiku, senang sekali. Lagi laper juga, aku mendoakan agar Allah membalasnya dengan yang lebih. Aku percaya setiap kita memberi tentu Allah membalasnya dengan lebih, entah itu berupa materi ataupun kesehatan. Berbaik sangkan itu baik. πŸ™‚

Setelah selesai makan, kami mencuci tangan dan membereskan bekasnya. Tak lama ada orang yang datang untuk membeli roti. Lukman sendiri yang membakarnya hingga minta bantuan Kholid. Awalnya aku bingung, padahal dia sendiri juga bisa.
Dan apa yang terjadi ? Pembeli roti itu memborong semua rotinya. Pantas saja Lukman minta bantuan kepada Kholid.
Disitulah, Allah membalas kebaikan Kholid. Roti yang dibeli pembeli itu jumlahnya ada 11 roti. Hal itu terjadi ketika kami selesai makan.
Alhamdulilah pukul 21.00 roti bakar telkom pun habis dan tutup. Beberapa pelanggan yang lain sampai ditolak karena sudah habis. Alhamdulilah, kami ikut senang.
Sembari duduk, aku mencoba menghubungi Bayu agar datang ke tempat roti bakar Kholid. Kami juga ingin bertemu. Bayu sendiri orangnya sangat susah dihubunngi, sedari siang baru malam harinya aktif nomer dan whatsappnya. Bayu membalas chatku, “oke mau datang ke telkom tapi mau makan dulu.” ujar Bayu melalui akun whatsappnya.
Setelah ditunggu lama, hampir setengah jam, dia tak kunjung datang. Kholid sendiri menyuruh Maman untuk melihat di telkom saja, biasanya dia disitu. Ketika Maman lihat memang benar. Dia sudah duduk manis di depan laptop dengan telinga tertutup headset.
Maman kembali lagi menghampiriku, setelah itu aku diajak ke telkom untuk melihat Bayu. Aku sengaja diam-diam merekannya. Dan Maman sendiri, aku suruh duduk disampingnya namun diam-diam, maenan handphone saja. Bayu sendiri tidak aneh kalau disampingnya ada Maman.
Setelah itu aku suruh Maman untuk menepuk punggungnya. Dan Bayu baru tersadar, aku langsung bertanya, “kepana telfonku tak diangkat, dan pesan singkatku tak dibalas ? Bayu hanya menjawab, Iya po. Kemudian melihat tabletnya dalam tas.
Setelah itu kami ngobrol-ngobrol sembari santai. Sekiranya jarum jam menunjukan pukul 23.00. Kami pamit untuk pulang karena sudah larut malam. Ketika diperjalanan kami teringat belum sholat Isya. Kami pun mampir di Masjid Shohibul Iman yang jaraknya kebetulan dekat dengan kami waktu itu.

Setelah sholat Isya, kami melanjutkan perjalanan kembali. Sampai di kost kurang lebih pukul 24.00 lebih. Aku melanjutkan untuk mandi dan kemudian istirahat.
Itulah perjalanan kami selama pergi ke rumah Anin, menelusuri curug Banyunibo hingga kembali lagi selamat sampai kost. Yuk berikan komentar kalian ?

50 Responses for Menelusuri Curug Banyunibo dengan Sepeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *