Mengisi hari Libur dengan Gowes ke Pantai

DiaryMahasiswa.comHari yang cerah, secerah libur kuliuah. Hari itu hari dimana para mahasiswa diliburkan kuliahnya. Tidak hanya mahasiswa saja melainkan semua sekolahan diliburkan karena ada pemilihan Bupati. Aku berusaha untuk memanfaatkan hari libur dengan bersepeda. Meskipun sekarang tidak punya sepeda, tapi dulu aku pernah punya kok beneran dan sepeda itu aku kasih nama Eni lengkapnya Phonenix.

Berawal dari sepeda BMX yang aku tukar tambah dengan sepeda yang besar. Dengan hasil uang celenganku, aku sangat bersyukur bisa membeli sepeda yang sejak kecil aku inginkan. Berharap bisa dibawa pulang ketika lulus kuliah nanti. Tapi Allah berkehendak lain, sepeda yang kuberi nama Eni telah pergi meninggalkanku, entah siapa yang tega melakukan semua itu. Semoga Allah mengampuninya. Dan semoga Eni digantikan dengan yang lebih baik lagi. Lebih lengkapnya bisa dbaca dibawah ini ya.

Baca juga : Hilangnya Eni Entah Kemana

Terkadang kalau melihat orang bersepeda bawaannya ingin memiliki sepeda lagi. Ingin gowes lagi. Ingin menikmati pemandangan sembari gowes. Tapi aku harus sabar dan tunggu waktu yang tepat untuk memiliki sepeda lagi. Di waktu libur ini aku bersyukur karena temanku meminjamkan sepedanya untuk gowes ke pantai. Kebetulan di kost hanya ada sepeda Sulis sahabatku satu-satunya, dan kebetulannya dia sedang pulang kampung karena ada kepentingan.Aku pinjam untuk gowes bareng Endro, tapi dia tidak ada sepeda. Kasusnya sama denganku, sepedanya ada yang membawa pergi entah kemana disaat dia kerja di warnet. Mau tidak mau harus mencarikan sepeda agar aku ada teman untuk gowes. Aku teringat dengan Irwanto atau biasa disapa Kang Ir. Setelah meminjam melalui pesan singkat, alhamdulilah boleh pinja. Tak lama kami pun membawanya.

Meskipun aku menggunakan sepeda BMX tapi bagiku tidak masalah. Memang ada perjuangannya sendiri jika kita menggunakan sepeda kecil, jadi harus untuk mengayuh pedalnya. Sebagai anak kost kami tidak pernah lupa akan kebersihan, sebelum berangkat gowes aku dan Endro beres-beres kost terlebih dahulu.

Tak lupa juga ngirit, kami membawa bekal untuk dipantai nanti. Endro pun membeli dua bungkus nasi+telur untuk dipantai nanti. Tak lupa juga mengisi air aqua penuh untuk dibekal. Karena akan terasa mahal jika terus-menerus beli. Sekitar pukul 11.00 kami berangkat dari kost. Awalnya aku bingung tujuan gowes kemana. Hingga akhinrnya sebelum gowes pun sempat searching di mbah google.

Belasan menit sudah berlalu akhirnya tujuan gowesnya ke pantai. Dengan bekal dua bungkus nasi dan satu botol air akhirnya perjalanan gowes pun dimulai. Beberapa kilo terlewati rasanya lelah dan capek, serasa ada yang beda dengan sepeda yang aku tunggangi. Setelah dicek ternyata ban belakangku kempes.

Untungnya di depan ada bengkel sepeda. Setelah selesai di kompa sepeda pun terasa ringan untuk dikayuh. Tak lama suara adzan berkumanang, sebagai anak kost yang taat akan kewajiban, kami tak lupa untuk melaksanakan sholat di Masjid, karena selain dua bungkus nasi telur dan air putih aku pun menyelipkan satu buah sarung yang nantinya akan digunakan setiap sholat ketika diperjalanan.

Ketika wudlu aku baru sadar ternyata tanganku polang berwarna coklat sebelah karena terkenan sinar matahari yang begitu panas. Ini dia tanganku;
Setelah itu aku melanjutkan perjalanan menuju pantai. Rasanya cuaca semakin panas tapi aku berusaha untuk menikmati perjalanannya. Disetiap perjalanan bisa melihat hamparan sawah yang luas. Karena di dekat kostku sendiri tidak ada yang namanya sawah. Mungkin ada tapi jauh. Tapi kali ini tidak hanya gowes biasa karena sekaligus menikmati cuaca panas menelusuri sawah.

Tak terasa haus kian melanda, aku pun ingin sekali rasanya minum. Tak lama Endro nyeloteh,“Mampir minum es yuk didepan sana, langgananku”. “Ayo-ayo, sepertinya enak nih”,ucapku. Memang terasa nikmat minum es dipinggir jalan dan disamping itu kami juga disugi pemandangan sawah dengan hijaunya.

Satu gelas es teh yang dapat menghilangkan hausku ditenggorokan. Es teh ini sangat murah sama seperti di daerah kost yakni seharga Rp. 2.000,- Sembari minum es teh kami duduk santai melihat pemandangan sekitar. Selain pemandangan sawah yang terbentang luas banyak juga orang yang menggunakan sepeda pergi ke sawah. Kalau lihat itu, aku jadi ingat dengan rumah. Karena rumahku sangat dekat dengan sawah.

Dengan gowes ke pantai ini aku sangat bersyukur karena bisa melihat hijaunya daun padi terbentang luas. Harapannya sembari minum, ingin makan soto juga. Tapi sepertinya mahal, dan lagi pula kami sudah membawa bekal makanan yang rasanya jauh lebih enak. Setelah satu gelas habis aku melanjutkan perjalanan menuju pantai. Karena terlalu lama hanya akan mengulur waktu sampai sore.

Cukup terobati rasa haus yang dirasa. Kami melanjutkan perjalanan untuk pergi ke pantai. 30 menit berlalu dan tepat jarum jam menunjukan pukul 13.29 aku baru sampai ke Pantai Samas. Dimana dipantai ini akan dibuka bekal makanan, karena tak terasa waktu sudah siang. Namun setelah beberapa menit muter-muter mencari tempat atau lokasi yang nyaman untuk makan. Tidak ada yang nyaman, selain panas, banyak anjing juga berkeliaran bebas disekitaran pantai.

Setelah itu kami melanjutkan gowes lagi ke Pantai Goa Cemara, jaraknya memang agak jauh tapi tak apalah demi tempat yang nyaman untuk makan, meskipun perut ini sudah tak bisa lagi ditahan. Setelah sampai kami langsung menuju ke ke pendopo di sekitar warung dan palkiran yang ada disekitar pantai. Tak pikir panjang nasi bungkus dan air dalam tas pun langsung aku keluarkan. Hmmm yammi 😀

Endro sendiri dengan lahapnya sampai lupa untuk minum terlebih dahulu. Sedari tadi di pantai samas memang sudah terlihat lapar. Tidak hanya Endro saja yang lahap, aku pun demikian. Karena sejak pagi belum makan. Biasa anak kost pagi-pagi sarapan itu sangat jarang sekali. Biasanya sarapan sering digabung dengan makan siang. 😀

Aku pun demikian, karena sangat lapar jadi langsung makan. Tapi tak lupa juga untuk cuci makan dan berdoa sebelum makan. Selamat makan.. 🙂
 Tak lupa juga untuk selfie, ya mengabadikan foto ketika gowes.. hehe
Setelah makan kami menunggu adzan asar sembari duduk santai. Setelah waktu sholat tiba, barulah sholat ashar kemudian pergi menuju pantai untuk mengabadikan foto.

Awalnya papan yang bertuliskan “Jagalah Kebersihan” itu tergeletak tak terurus, bahkan terinjak-injak oleh setiap orang yang lewat. Namun dengan baiknya Endro mengambilnya dan menancapkannya kembali di tempat dimana papan itu tergeletak. Dan tak lupa untuk mengabadikannya.

Baca juga : Gowes Sore ke Malioboro

Kemudian kami pergi ke tepi pantai dengan membawa sepedanya. Awalnya aku naikin namun tak bisa karena  sangat susah mengayuhkan sepeda diatas pasir. Jadi mau tidak mau harus didorong sampai tepi pantai. Ditengah perjalanan banyak bunga-bungan disekitar nan indah. Banyak sekali orang disekitar, kanan, kiri pojok dan tempat yang lainnya serasa penuh sekali dengan orang. Tapi kebanyakan mereka melakukan maksiat yakni pacaran.

Sampai-sampai aku lewat juga susah karena ada yang sedang duduk berdua didekat jalan. Setelah sampai ditepi pantai, kami bisa merasakan semilir angin ditengah teriknya matahari, meskipun waktu sudah sudah sore tapi cuaca sangat panas dan mendukung perjalanan gowesku hari ini.

Bisa dilihat kedua sepeda yang ada difotoku, itulah sepeda yang sudah membawa kami sampai ke dua pantai ini. Dan rencana setelah dari pantai ini mau lanjut ke pantai Pandansari. Rasanya akan lebih seru lagi kalau ramai-ramai pergi gowes ke pantai ini. Seperti dijalan tadi aku melihat puluhan orang menggunakan sepeda, entah dari mana dan entah siapa. Namun mereka membunyikan bel yang ada disepedanya ketika berpapasan dengan kami.Senang melihatnya dan aku balas dengan senyuman, mau dibalas dengan membunyikan bel sepeda tapi aku tidak punya..hehe.. Nanti kalau sudah ada rezeki untuk beli sepeda akan aku pasang kembali bel sepeda seperti dulu. Cuaca memang panas tapi terasa kurang jika kaki ini belum basah terkena air laut. Kami segera lari untuk pergi ke tepi pantai.

“Birunya lautan terlihat jelas disaat siang,
saat lagit begitu biru teranng benderang,
semilir angin membelai lembut walau tak kelihatan
membuat diri ini takjub atas ciptaan-Mu Tuhan”
-Andi Nugraha-

Selain semilir angin yang aku rasakan, dipantai ini juga bisa melihat perahu para nelayan dan orang-orang yang sedang memancing ditepi pantai. Meskipun kepanasan tapi mereka berani untuk bersabar menunggu hingga umpan pancing itu dimakan ikan. Memang setiap kita ingin mendapatkan sesuatu harus bersabar. Tidak hanya disekitarku saja yang memancing, tapi hampir disetiap tepi pantai Goa Cemara banyak orang yang memancing.
Ada yang dengan sabarnya memegang pancing itu hingga umpannya dimakan, ada juga yang menancapkannya ke pasir karena enggan kepanasan. Tapi jujur memancing itu sangat asik lho. Kita bisa merasakan bahagia ketika umpan yang ada dipancing kita berhasil dimakan oleh ikan. Apalagi sampai tarik-tarikan dengan ikan. Pokoknya seru deh. Gak percaya, coba saja 🙂
Tak terasa waktu sudah sore, kami bergegas pergi ke pantai Pandansari sembari pulang. Tapi coba lihat kakiku banyak dtempeli dengan pasir laut, hanya kukunya saja yang terlihat..hehe..
Di pantai Pandansari aku ingin sekali untuk naik mercusuar. Rasanya sudah tidak sabar ingin menaiki dan melihat indahnya pantai dari atas. Sedari jauh mercusuar itu sudah terlihat dan sudah banyak orang yang sedang ada diatas melihat indahnya pantai. Tak lama kami sampai di pintu masuk Pantai Pandansari, namun terlihat sepi tanpa orang satu pun.
Aku menghiraukan dan melanjutkan mengayuh sepeda, selang beberapa menit didepan ada ramai banyak orang. Ternyata pintu masuknya dipindahkan ditempat yang lebih dekat dengan mercusuarnya. Setiap motor dan mobil pasti diberhentikan karena untuk membayar masuknya ke pantai. Berbeda dengan kami yang membawa sepeda pasti tidak akan dikenai biaya. Kalaupun disuruh bayar aku lebih baik tidak masuk. Akhinrya sampai juga di depan pintu gerbang mercusuar. Tapi sudah tertera tulisan “Mohon untuk palkir diluar saja, kendaraan tidak boleh masuk”
Tapi Endro dengan PDnya terus mengayuhkan sepedanya ke dalam. Aku sempat ragu untuk mengikutinya karena takut dimarahin karena di depan pintu sudah ada tulisan tidak boleh palkir didalam. Namun aku melihat Endro dengan santainya tidak apa-apa. Dan aku pun mengikutinya. Baru juga menyimpan sepeda di samping mercusuar dan berniat mau masuk ada salah satu orang tua yang terus mengikuti kami tapi tanpa bicara apapun.
Setelah dekat, dia berkata,“Mas setiap orangnya Rp. 5.000,-“, dengan tegas Endro menjawab, “Oh ya sudah mas, saya tidak jadi saja”, dia mengajakku untuk pergi dari tempat itu dan mencari tempat untuk beristirahat.

Karena lelahnya perjalanan, aku pun tidur diatas akar sembari ngobrol santai. Bersyukur sekali bisa gowes dari pagi hingga sore hari. Dan sudah pergi ke 3 pantai sekaligus.

Sebenarnya ada alasannya, kenapa Endro tidak mau masuk ketika ditagih uang masuk tadi. Endro menjelaskan, “Sebenarnya itu mercusuar dikelola oleh pemerintah dan seharusnya kita masuk itu tidak usah bayar.” Beberapa tahun yang lalu Endro punya cerita mengenai bayar membayar ketika naik mercusuar.
Jadi dulu itu Endro dan sahabatnya pernah mengalami kejadian yang serupa yakni ditarik untuk biaya masuk ke mercusuar, namun dulu lebih mahal katanya sampai Rp. 15.000,- Tapi temennya membentak orang yang minta uang itu dengan bicara, “Tidak apa-apa aku bayar asalkan minta karcisna”, namun setelah dibilang seperti itu hanya terdiam saja orang yang meminta uang itu.
Memang harusnya ketika kita memasuki kawasan pariwisata dimana saja, harus diberikan karcis terlebih dahulu seperti halnya palkir motor. Dari pada pusing mikirin itu aku mengabadikan foto di dekat mercusuar dulu sebelum pergi ke tepi pantai Pandansari.
Setelah itu kami pergi ke tepi pantai Pandansari. Jalannya seperti memasuki semak-semak belukar. Gelap seperti masuk hutan. Tapi setelah keluar terbentang luas nan indah birunya lautan.
Di tepi pantai Pandansari ini pun banyak orang mancing ikan, mulai dari yang sendirian, ada juga yang berkelompok. Meskipun cuacanya cukup panas. Sembari duduk santai kami membuka air dalam tas. Sedikit haus pun hilang ditambah dengan semilir angin yang membelai lembut walau tak kelihatan.
Meskipun cuacanya panas tapi aku nyaman duduk di tepi pantai ini, serasa beban pikiran hilang terbawa angin yang lewat. Melihat ombak-ombak dipantai, orang memancing serta nelayan-nelayan yang siap untuk mencari ikan. Setelah puas menikmati suasana sore dipantai aku bergegas untuk segera pulang. Pengennya bisa melihat sunset di pantai ini. Tapi karena aku menggunakan sepeda jadi akan larut malam pulang nanti.
Sebelum pulang aku rasa ada yang kurang kalau tidak naik mercusuar tapi aku juga tidak mau kalau harus bayar tapi tak ada karcisnya, rasanya diri ini tidak ikhlas. Tapi tak apa lah aku bisa foto dengan background mercusuar itu.
Cukup puas rasanya mengisi hari libur ini, meskipun hanya dapat background foto di mercusuar ini aku tetap senang dan bahagia karena bisa mengayuhkan kaki ini dengan sepeda sampai di pantai ini, apalagi dengan sepeda BMX.
Awalnya aku tidak yakin tapi akhirnya sampai juga. Dan ini pengalaman yang tak bisa aku lupakan. Suatu saat akan aku tunjukan kepada adekku yang sedang sekolah di Bekasi, Dia juga suka bersepeda, mudah-mudahan bisa nyepeda bareng.
Detik demi detik jarum jam terus berputar mengiringi kayuhan kaki ini bersepeda menuju kost. Akhirnya waktunya pulang tiba. Suasana dijalan pun semakin ramai beda dengan siang tadi. Banyak orang yang berfoto dijalan, entah itu yang menggunakan motor ataupun mobil. Banyak sekali yang menyempatkan berhenti untuk berfoto, bahkan ada juga keluarga yang berfoto. Kami pun tak mau kalah untuk berfoto. 😀 😀
Sepeda merah inilah yang telah berhasil mengantarkanku pergi gowes ke tiga pantai sekaligus dalam sehari. Memang sepeda ini bukan miliku, tapi milik Sulis sahabatku. Dari mulai beli sepeda ini hingga saat ini perawatannya aku tahu semua. Meskipun sepedanya kecil tapi sepeda ini kokoh untuk digunakan bersepeda jauh, hanya saja harus ekstra lebih keras mengayuhnya, apalagi di jalan yang nanjak.
Beberapa kali kaki ini sakit tepatnya dibagian lutut karena tidak tegak lurus ketika mengayuhkan sepeda. Dan seringkali juga aku mengayuh sepeda itu dengan berdiri ketika dalam jalan yang nanjak.  Berbeda dengan Endro yang sepedanya besar dan mempunyai gigi juga. Jadi akan lebih mudah ketika jalan nanjak ataupun tidak.
Ini dia sepeda yang Endro gunakan, sama dia juga bukan sepeda milik sendriri. Setelah kami memutuskan untuk langsung pulang tidak berhenti-henti terus. Namun ditengah perjalanan tetap saja harus berhenti karena kaki yang aku rasa sakit harus diistirahatkan terlebih dahulu begitu pula dengan pantat Endro yang  sering sakit. Memang benar apa yang Endro rasakan pernah aku rasakan juga ketika gowes menggunakan sepeda itu ke pantai Parangtritis.
Kilometer demi kilometer sudah terlewati, memang terasa sedikit malam untuk pulangnya, apalagi perut ini mulai lapar kembali. Setelah itu berhenti untuk sholat maghrib dan dilanjutkan gowes lagi. Tak lama ketika diperjalanan aku merasakan tetesan demi tetesan air membasahi tanganku. Ternyata gerimis hujan, meskipun kecil tapi kalau jalan terus-menerus akan basah juga. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak. Kebetulan di depan ada angkringan. Sembari duduk santai bisa minum dan makan gorengan.
Di angkringan ini aku membeli es teh dan gorengan, lagi-lagi aku bertemu es, dimana biasanya aku meminum es itu tidak cukup satu gelas. Memang benar di angkringan ini aku habis dua gelas sendiri. Bukannya tidak mau nambah tapi aku ingat sama harganya. Dulu sempat ketika pulang futsal sampai habis 5 gelas sendiri. Temanku hanya geleng-geleng kepala 😀
Selain es teh tak lupa mengambil teman es itu sendiri yakni gorengan. Kebetulan gorengan di angkringan itu cukup besar dibandingkan gorengan yang ada di angkringan yang lainnya, jadi kamipun makan 4 cukup mengganjal perut ini sampai kost. Awalnya hanya angkirngan itu masih sepi, namun setelah kami berteduh angkringan itu, jadi banyak orang yang datang ke angkringan untuk makan sembari berteduh. Alhamdululah hujan ini membawa manfaat untuk penjual angkringan itu.

“Sembari duduk santai ditemani rintikan air hujan dansegelas es teh manis, rasanya luar biasa nikmatapalagi makannya bersama sahabat. Karena bukanrasa makanan yang aku cari, melainkan rasa kebersamaan”

Hampir 15 menit lebih menunggu akhirnya hujan reda juga, aku dan Endro melanjutkan perjalanan pulang kembali. Satu demi satu lampu merah kulewati. Karena dari tempat angkringan itu untuk sampai ke kost kurang lebih ada 4 lampu merah yang harus kami lewati.
Sesampainya di gabusan aku teringat bahwa tadi pagi aku ingin sekali berfoto ditempat itu. Aku memprediksikan untuk sampai ditempat ini sore hari, tapi ternyata malam hari, padahal ingin sekali rasanya berfoto di tempat ini. Lihat saja foto gabusan ketika siang hari, bagus kan.
Ketika itu aku tak sempat foto karena malam dan banyak orang juga yang duduk di dekat tulisan itu. Ditambah rintikan air hujan membasahi tempat duduk. Kami tetap mampir ditempat itu sembari melihat foto-foto hasil dipantai tadi. Selain itu banyak juga anak kecil yang sedang maenan pancing ikan dan mobil-mobilan. Jadi ingat waktu kecil dulu. Aku rasa dulu ketika kecil maenan yang dikasihkan orang tua kita sangat sederhana namun membuat senang. Berbeda dengan maenan anak kecil zaman sekarang.
Setelah rasa pegal ini sedikit pulih aku melanjutkan pulang ke kost dan berniat jangan berhenti lagi. Karena jaraknya tidak terlalu jauh. Dengan rasa senang dan penuh semangat kami mengayuh sepedanya. Sesampainya di kost rasanya lega dan plong dan tak lupa untuk bersyukur karena di hari libur ini masih bisa menikmati indahnya pantai meskipun denga bersepeda. Alhamdulilah. #AlwaysBersyukur. Sampai bertemu di cerita gowes berikutnya ya 🙂
Yogyakarta, 09 Desember 2015

16 Responses for Mengisi hari Libur dengan Gowes ke Pantai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *