Menikmati Pagi di Puncak Becici Yogyakarta

DiaryMahasiswa.com | Apa kabar sahabat diary. Aku baru bisa posting lagi di blog ini setelah beberapa hari sakit. Alhamdulilah sekarang sudah baikan. Semoga teman-teman sehat selalu, bisa berbagi dan menginspirasi terus lewat blog. Karena sudah sehat, aku mengawali udara pagi diluar. Tepatnya di puncak becici.

Ceritanya, Mas Isya. Teman satu kost sedang libur kerja. Setelah shalat Subuh mengajakku pergi main. Aku mengusulkan ke puncak becici. Selain belum pernah pergi kesana, katanya pemandangan pagi dan sore bagus. Banyak juga foto yang aku lihat di instagram. Pagi itu kami berangkat. Sebenarnya sudah lama aku ingin pergi ke puncak becici. Ketika aku gowes ke hutan pinus belum sempat karena waktu yang tidak memungkinkan.

Bisa dibaca : 

Dulu sepulang dari hutan pinus hari Jum’at. Sekarang kebalikannya, aku ke puncak becici dihari Jum’at. Lokasi puncak becici berada lebih jauh dari pada hutan pinus. Kurang lebih 2 KM lagi untuk sampai kesana. Dulu rencananya ketiga gowes ingin sekalian kesana. Tapi waktu tidak memungkinkan, ditambah jalannya yang naik membuatku agak kesusahan menaiki sepeda.

Oh, iya, lokasi puncak becici berada di Gunungcilik RT. 07 / RW. 02, Muntuk, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau teman-teman pernah ke hutan pinus atau sering mendengar namanya saja. Pasti tidak asing dengan puncak becici. Karena sebagian besar orang yang berkunjung, mereka pergi ke puncak becici terlebih dahulu, pulangnya baru ke hutan pinus. Sebenarnya nama Becici memiliki cerita sejarah tersendiri. Baik, aku ceritakan sejarah singkatnya ya.

Nama Becici berasal dari gabungan kata “ambeg” yang artinya berdiam diri dan kata suci, dua kata yang merujuk pada cerita turun temurun kepercayaan masyarakat setempat. Cerita tentang putra pendiri desa Muntuk yang bertapa di bukit di bagian barat hutan pinus. Kemudian ingin disemayamkan di bukit yang sama ketika meninggal dunia. Terlepas dari benar tidaknya cerita tutur ini, di puncak Bukit Becici memang ditemukan sebuah petilasan menyerupai makam.

Sesampainya di puncak becici, kurang lebih pukul 06.00. Meskipun sudah siang tapi aku berharap bisa mendapatkan pemandangan yang cukup indah. Tempat ini buka sekitar pukul 15.00 sampai 19.00. Jadi sangat cocok bagi para pengunjung untuk melihat sunrise ataupun sunset. Untuk tiket masuknya, semuanya Rp.6.000,- Parkir motor Rp.2.000,- tiket masuk untuk dua orang Rp.4.000,- Satu orangnya dua ribu.

Begitu sampai disana kami disambut dengan pemandangan yang luar biasa indah. Aku serasa berada di atas awan. Sudah lama aku tidak mendaki gunung, di puncak becici ini aku merasa sedikit terobat kangennya. Mas Isya pun langsung minta difoto.

Jum’at pagi, aku rasa sangat cocok waktunya untuk berkunjung ke puncak becici ini. Lebih bisa menikmati pemandangannya karena tidak terlalu ramai pengunjung.  Kami serasa bebas mau foto dimanapun tanpa perlu menunggu bergantian dengan para pengunjung lainnya. Memang ada dua kelompok pengunjung waktu itu. Kurang lebih satu kelompoknya ada yang 3 orang dan 4 orang.

Aku sempat mendengar pembicara kelompok yang tiga orang. Mereka perempuan semua. Ngomongnya lo, gua, lo, gua. Ternyata dia dari Jakarta. Dan dihari itu juga dia sedang membicarakan kepulangannya untuk naik kereta. Perlu disyukuri bagi yang berkunjung atau liburan ke Yogyakarta bisa menikmati keindahannya. Karena diakhir-akhir ini sering sekali terjadi hujan. Tapi hari itu terlihat cerat sekali.

Sedangkan kelompok yang satunya lagi yang berempat. Aku melihat mereka sempat mendorong motor ketika menuju puncak becici. Karena jalannya cukup menanjak. Mereka menggunakan motor matic tapi tidak kuat. Mungkin saja beban mereka cukup berat.hehe Tapi memang cukup tinggi jalannya. Dulu ke hutan pinus saja aku mendorong sepeda capek sekali.

Dari ketinggian puncak becici, kota Yogyakarta terlihat. Sembari bersyukur aku sangat senang sekali karena bisa melihat secara langsung indahnya puncak becici. Tapi sayang teman-teman gowesku belum semuanya kesini. Semoga dilain kesempatan bisa ke tempat ini lagi bersama teman-teman gowesku. Ingin nyoba sore hari, sepertinya lebih indah pemandangannya.
Jujur, awalnya aku kira tidak ada pohon pinus di sekitar puncak ini. Ternyata ada, jadi sebelum ke puncaknya kita melewati pohon pinus terlebih dahulu. Bahkan becici ini disebut juga puncak pinus becici. Udara dipagi hari sedikit membuatku kedinginan. Apalagi bagi mas Isya yang belum sempat mandi sedari berangkat. Dia juga membawa kayu putih, karena dingin.

Pohon pinus disekitar puncak becici juga diambil getahnya oleh warga sekitar. Katanya hingga saat ini puncak becici masih dikelola oleh warga sekitar juga. Dan puncak becici ini dijadikan salah satu destinasi wisata baru yang lagi hits.

Selain dikenal dengan panoramanya yang indah. Kita juga bisa melihat deretan pepohonan hijau dari ketinggian dengan latar pegunungan. Dijamin deh bagi siapa saja yang datang kesini sudah pasti mengabadikan fotonya. Baik selfi ataupun video. Jika teman-teman sudah berada di puncak becici ini jangan khawatir tidak bisa menikmati pemandangan yang lainnya.

Karena ada beberapa tempat atau lokasi yang jaraknya tidak jauh dari puncak becici yakni kebun buah mangunan, hutan pinus mangunan, gua cerme, dan air terjun lepo. Aku sarankan sebaiknya sebelum teman-teman kesini harus mempersiapkan dana yang utama, dan list lokasi yang mau dikunjungi.

Di puncak ini, kami mengelilingi tempat-tempat yang sengaja kami abadikan foto. Rasanya hampir semua kami kelilingi. Ketika aku menuju jembatan kayu ada papan, awalnya aku kira petunjuk arah atau tulisan lokasi. Tetapi bukan, tulisannya FOKUS PADA JALAN. HATI-HATI SAAT MAIN POKEMON GO.

Bagiku tak perlu diperingatkan, karena aku tidak bermain pokemon go, dan selalu fokus sama kamu, ehh, kamsudnya pada jalan…hehe. Lagi pula pokemon sudah lama tak terdengar lagi ya. Tapi siapa tahu ada yang kecanduan sama game pokemon go, jadi sangat penting papan peringatan itu.

Awalnya aku kira tidak kokoh jembatan kayu itu, setelah mas Isya berjalan dan bahkan duduk di pegangannya kuat. Tapi aku menyarankan lebih baik yang merasa berat badannya lebih berat lebih baik jangan duduk di atasnya. Cukup jalan dan berfoto saja. Tak terbayang kalau aku pergi ke puncak becici ini dihari Minggu. Sudah pasti ramai sekali yang berkunjung.

Tepat di depan mas Isya memandang, disitu juga ada semacam gapura, penyangganya dari pohon kelapa. Cukup tinggi, aku memikirkan bagaimana cara menancapkannya. Asli keren, karena belakangnya pemandangan yang keren. Secara berada digubug namun diketinggian.
Agak lama kami menunggu orang yang sedang duduk diatas gardu pandang. Rasanya ingin cepat menikmati pemandangan dari atas gardu pandang. Tapi harus sabar menunggu orang yang sedang diatas turun. Ada tiga orang sebenarnya mereka, yang satu naik gardu pandang, dan yang satunya lagi naik gardu pandang yang ada di sebelahnya. Sedangkan perempuan satu lagi duduk dibawah karena ketakutan naik.

Sempat aku melihatnya naik. Baru sampai tengah tidak jadi karena takut. Aku saranin bagi yang benar-benar takut ketinggian jangan berani coba-coba. Aku sendiri jujur takut juga dengan ketinggian. Tapi aku suka penasaran dan ingin mengabadikan foto diatas gardu pandang. Terlebih ingin melihat pemandangan dari atasnya. Tetap satu, harus hati-hati.
Kami melihat-lihat pemandangan sekitar sembari menunggu mba-mba itu turun. Sempat mengabadikan video juga. Setelah gardu pandang kosong kami berbegas naik karena takut ditempatin oleh orang lain. Tapi waktu itu kami berdua dalam satu gardu. Rencananya mau naik yang satu lagi. Tapi sudah ada orang yang menempati, kebetulan mereka baru datang juga.

Setelah itu kami turun dan ingin mencoba salah satu gardu pandang yang ada di bawah. Tapi kalau berada disana pemandangannya tak kalah keren juga. Karena terasa lebih dekat dengan pemandangan gunung. Sempat jenuh sebenarnya, tapi aku punya cara tersendiri untuk mengobati kejenuhan itu.

Setiap aku main, aku selalu membawa buku. Entah itu bukuku sendiri, buku guruku atau buku yang sebelumnya aku baca tapi belum selesai. Caraku ini bisa juga teman-teman coba. Asik lho baca buku ditempat terbuka, apalagi sembari menikmati pemandangan yang indah. Setelah gardu pandang yang berada dibawah kosong. Kami berbegas untuk naik.

Agak sedikit turun memang, tapi tetap indah pemandangannya. Setahuku pemandangan yang ada gardu pandang seperti ini banyak sekali. Salah satunya di kali biru. Dulu aku pernah kesana, ingin sekali naik di gardunya tapi belum bisa karena ramai sekali. Bahkan temanku, di kalibiru ingin berfoto antri dari pukul 09.00 sampai pukul 13.00 baru bisa foto.

Di gardu pandang ini, lebih sering aku yang difoto. Entah kenapa mas Isya tidak mau. Tapi alhamdulilah lah, sahabat yang baik pasti rela untuk mengabadikan foto sahabatnya, begitupun sebaliknya. Di gardu ini juga ada tulisan, RASA TAKUT JANGANLAH UNTUK DINIKMATI, TETAPI UNTUK DIHADAPI. Teman-teman setuju ?

Ketika aku ada di tempat ini, sebagian orang-orang langsung pulang. Tapi semakin siang beberapa orang datang ke tempat ini. Sepertinya sampai sore bakal ada terus yang berdatangan, tapi sepertinya tidak seramai dihari Minggu. Tapi bagi anak kuliah yang tidak ada jam dipagi itu bisa datang. Menurutku lebih baik dihari-hari sepi, jadi lebih leluasa untuk mengabadikan foto maupun video.
Sebelum ke puncak becici, aku sering melihat foto orang yang sudah ke becici sebelumnya. Baik di blog ataupun instagram. Beberapa kali aku melihat papan yang ada di pohon, yang tulisannya. DILARANG MELEMPAR MANTAN. Di puncak becici aku menemukannya, memang benar-benar ada tulisannya. Dan banyak orang juga yang menjadikan background untuk foto.

Tapi sedikit ada perbedaan, aku melihat di blog entah punya siapa lupa namanya. Papan bertuliskan dilarang melempar mantan itu berbeda dari yang sekarang. Mungkin saja itu dulu dan sekarang sudah diganti. Yang dulu terlihat banyak coretannya juga. Sepertinya banyak orang yang masih suka mencoret-coret ataupun menulis namanya gitu, baik dibatu ataupun dimana saja. Ahh, itu kan kurang baik, jangan ditiru ya.

Setelah puas, kami pun bergegas untuk pulang. Mudah-mudahan dilain kesempatan bisa ke puncak becici lagi. Di becici ini teman-teman jangan khawatir, kalau ada yang laper ataupun haus. Disini juga tersedia warung-warung yang siap membuat kenyang perut. Tersedia juga kamar mandi. Meskipun tempatnya tidak seperti di tempat-tempat makan pada umumnya, tapi disini juga terjaga kebersihannya.

Karena kami melewati hutan pinus pulangnya, jadi sekalian mampir. Aku juga ingin merasakan perbedaannya sama Oktober 2016 dulu aku ke hutan pinus. Mas Isya juga kebetulan belum pernah masuk jadi sekalian jalan-jalan terlebih dahulu sebelum pulang.

Pertama yang aku rasakan perbedaannya yaitu pintu masuk dan keluarnya. Saat ini sudah seperti pintu masuk di wisata-wisata pada umumnya. Dulu aku kesini masih gratis, sekarang bayar Rp.2.000,- Dan untuk parkir motornya juga Rp.2.000,- Untuk harga segitu bagi mahasiswa masih terjangkau. Perbedaan lainnya disini bertambah warung makan.

Baca juga : Suka Duka Bermalam Di Hutan Pinus

Dulu warung di hutan pinus belum begitu banyak seperti sekarang ini. Tempat parkirnya juga khusus, mobil dan motor dipisah. Untuk keluar dari tempat parkir saat ini sudah tidak melalui pintu yang sama. Sempat foto daftar harga makanan dan minuman. Siapa tahu bisa jadi referensi teman-teman yang mau ke hutan pinus.

Di hutan pinus ini kami tidak lama, tidak keliling ke hutan pinus duanya juga. Cuma ditempat yang utama saja, yang pernah dulu aku singgahi. Tapi ramainya luar biasa. Meskipun bukan dihari libur tapi tetap ramai. 

Ada yang baru datang rombongan, entah dari daerah Jogja juga ataupun dari luar Jogja. Begitu dia melihat ayunan langsung mainan seperti orang yang sudah lama tidak naik ayunan, dan itu bergantian dengan teman-temannya. Meskipun sebelumnya aku mainan ayunan tapi tak begitu juga, sewajarnya.

Pusing juga lihat yang main ayunan, aku sempatkan baca buku saja. Sedangkan mas Isya membawa handphoneku, katanya mau keliling lihat-lihat pemandangan. Ketika kami jalan, melihat ada seorang laki-laki yang sedang memohon-mohon sama perempuan. Aku rasa itu sedang berantem. Ucap mas Isya malah lagi shoting buat video gitu.

Kami sengaja mendekat, ternyata berantem lagi, bahkan si laki-laki sampe nangis mohon-mohon gitu. Duh, aku rasa jangan gitu ditempat umum lah, kan jadi pusat perhatian banyak orang yang sedang berkunjung. Tapi tak lama mereka pergi entah kemana. Mungkin pulalng.

Aku juga sempat mengabadikan video selama di puncak becici. Bagi yang mau lihat videonya dibawah ya.

Itulah perjalanku untuk menikmati pagi di puncak becici. Teman-teman sudah pergi ke puncak becici ? Yang belum semoga disegerakan bisa ke puncak ini ya.. aamiin..

159 Responses for Menikmati Pagi di Puncak Becici Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *