Menikmati Secangkir Kopi di Tebing Breksi

DiaryMahasiswaΒ | Minum kopi merupakan salah satu minuman favorit sebagian besar orang. Di Indonesia sendiri, kopi sudah mulai menjadi bagian dari gaya hidup. Selama di Yogyakarta sering sekali aku diajak ngopi. Terutama oleh teman satu kostku Endro. Sering sampai pagi di tempat kopi. Tidak hanya ngopi saja, tapi sembari mengerjakan suatu hal. Biasa Endro memilih tempat kopi untuk mengerjakan skripsi. Aku juga sama, namun bukan skripsi tapi nulis buku atau tidak blog.

Sebenarnya aku sendiri tidak terlalu suka ngopi, kalau lagi pengen minum, baru aku beli atau tidak bikin sendiri di kost. Berbeda dengan Endro yang hampir setiap pagi pasti minum kopi. Selain suka ngopi bareng, kami juga sering bersepeda bareng.

Baca juga : Gumuk Pasirnya Yogyakarta

Sudah lama kami merencanankan untuk pergi bersepeda ke Tebing Breksi. Namun cuaca membuat kami gagal untuk bersepeda. Jika malam harinya hujan sampai pagi, biasanya siang sampai sore harinya cerah. Kebetulan Rabu itu cuaca sore cerah. Kami pun menyempatkan untuk pergi ke Tebing Breksi.

Karena waktu itu ada keperluan sebelum berangkat, jadi kami putuskan untuk menggunakan motor saja. Tak lama mas Ale, teman kami mendaki datang ke kost. Mendengar kami mau ke tebing breksi, dia juga mau ikut.

Jadi kami bertiga pergi ke tebing breksi sehabis sholat Ashar. Mas Ale sendiri sebenarnya sering sekali jalan-jalan di daerah Yogyakarta. Karena dia mempunyai usaha yang bernama Jeva Tour and Travel. Jadi setiap tamu yang menggunakan jasanya. Mas Ale sering ikut mengantar tamunya jalan-jalan.

Jadi wajar kalau dia banyak tahu tempat wisata di Yogyakarta. Setelah Ashar kami berangkat dari kost. Kurang lebih perjalanan 45 menitan dari kost. Sampai disana pukul 16.30.

Sampai di tempat parkir, terlihat Tebing Breksi sangat indah. Sudah banyak juga para pengunjung yang datang. Tidak hanya yang menggunakan motor saja, mobil juga ada. Bahkan ada beberapa orang yang menggunakan sepeda. Aku jadi pengen bersepeda ke tebing breksi.

Sesampainya di Tebing Breksi kami disambut oleh para penjaga parkir dan penjaga di pintu masuk.Β  Di tepat parkir, sudah penuh motor dan mobil para pengunjung.

Untuk masuk ke Tebing Breksi, sahabat hanya membayar parkir sebesar Rp. 2.000,- untuk kendaraan motor, untuk mobil Rp. 5.000- dan untuk bus, Rp. 10.000,- Sedangdan uang masuknya seikhlasnya. Waktu itu kami membayar Rp. 10.000,- untuk masuk kami bertiga dan parkir dua motor.

Tebing Breksi ini juga ada sejarahnya. Jadi dulu sekitar puluhan tahun yang lalu, bukit kapur yang sekarang dinamai Tebing Breksiini, menjadi sumber mata pencaharian warga. Mereka menambang dan memperoleh pendapatan dari sana. Namun seiring berjalannya waktu, penambangan tersebut dihentikan oleh Pemerintah.

Meskipun demikian, para warga tidak kehabisan akal. Kemudian munculah ide, ketika melihat bekas-bekas galian meninggalkan gurat-gurat yang indah pada tebing. Perpaduan warna putih berkilau memberikan panoramik yang indah.

Pernah juga ada sejumlah peneliti melakukan kajian dan hasilnya batuan kapur breksi disana ternyata adalah endapan dari abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran. Maka, kawasan ini masuk dalam cagar budaya dan harus dilestarikan.

Sama halnya dengan keberadaan Gunung Api Purba Nglanggeran, Candi Ijo, Situs Ratu Boko dan sebagainya. Dulu ketika tahun 2015 sempat aku pergi main ke Candi Ijo, tapi tebing breksi belum sebagus sekarang ini. Di tahun 2106 ini justru tebing breksi terlihat lebih bagus.
Banyak orang setiap harinya yang mengunjunginya. Selain bisa untuk mengabadikan foto. Di kawasan tebing breksi ini juga tersedia warung-warung yang menjual berbagai makanan, minuman dan cemilan. Tersedia juga Mushola untuk melaksanakan Sholat. Karena kebanyakan yang berkunjung ke sini sore hari. Sebelum ngopi, kami keliling untuk melihat keindahan di sekitar tebing breksi.
Sesampainya di Tebing Breksi Endro langsung minta foto di dekat ukiran di dinidng tebing. Karena penuh yang foto, jadi harus sabar dan bergantian.
Aku juga tidak mau kalah, akhirnya berfoto juga dengan sabar karena lagi-lagi yang mau berfoto di background ukiran tersebut sangat banyak. Terutama perempuan, sekali foto bisa lama dengan banyak gaya pula.
Selain bisa foto di background ukiran, para pengujung juga bisa berfoto dengan burung hantu. Dengan membayar biaya seikhlasnya. Bagi sahabat yang tidak takut bisa berfoto dengan burung hantunya. Biar seperti master Limbad πŸ˜€
Disamping ukiran aku foto, ada juga dua foto wayang yang di ukir. Aku salut kepada para pengukirnya, begitu bagus nan indah. Yang tadinya batu sekarang jadi pemandangan bagus di tebing.
Ada juga mobil yang mengangkut pecahan-pecahan batu dari tebing. Tidak hanya satu mobil saja tapi banyak.
Mas Ale sendiri memilih selfie dengan Endro. Meskipun di tempat yang ramai, tapi tetap PD untuk mengabadikan foto. Setelah itu kami melanjutkan keliling ke atas.
Setelah itu kami melanjutkan keliling ke atas, melewati tangga. Tidak sedikit juga yang mengabadikan foto di tangga menuju atas. Tidak perempuan tidak laki-laki semuanya bergantian mengabadikan foto.
Ketika sampai atas disambut dengan pemandangan yang sangat indah. Dengan tulisan, “Welcome to Tebing Breksi, Kawasan Wajib Senyum” Jadi bagi sahabat yang mau kesini jangan lupa selalu tersenyum ya πŸ™‚
Selain itu, kami juga dapat melihat indahnya gunung Merapi. Meskipun dari kejauhan tapi pemandangannya sangat indah dan bagus dijadikan background foto.
Disini juga ada beberapa tempat duduk yang terbuat dari bambu, yang disediakan khusus untuk para pengunjung. Ada juga beberapa papan yang tertancap dengan tulisan yang unik dan berbeda-beda.
Seperti papan yang bertuliskann di belakangku, “Dimana Ada Kamera Disitu Anda Selfie” dan “Jast Go And Play”Karena aku yang difoto terus, akhirnya gantian untuk difotkan.
Setelah itu aku ingin foto di bawah, namun diambil dari atas, aku rasa bagus. Aku pun langsung turun untuk duduk ditempat yang aku inginkan. Semakin sore bukan malah sepi tempat ini, tapi justru malah rame sekali.
Semakin sore pemandangan semakin bagus, banyak juga bendera sang merah putih yang di pasang di setiap pojok. Memang Indonesia banget tempatnya. Aku pikir kalau pagi hari juga akan lebih indah. Bisa melihat terbitnya matahari pagi.

Di bawah juga ada lapang yang berbentuk lapangan. Di kelilingi juga dengan bangku-bangku untuk duduk. Biasanya digunakan untuk pementasan. Kalau sore akan lebih jelas jika dilihat dari atas.

Semakin kami jauh keliling, semakin banyak juga melihat tempat duduk, papan yang bertuliskan kata-kata. Papan yang dibawah ini bertuliskan,“Lupain aku gapapa, tapi jangan lupain SHOLATMU”
Menurutku selain bagus jadi mengingatkan para pengunjung atas kewajiban kita menjadi seorang muslim. Meskipun sudah menjadi kewajiban, kami tetap saja lalai. Jadi tak ada salahnya saling mengingatkan.
Semakin sore semakin bisa melihat matahari terbenam. Namun pengunjung yang berdatangan semakin banyak. Tak sedikit juga yang membawa kamera untuk mengabadikan foto di tebing breksi ini.
Tak lama suara adzan berkumandang. Kami berbegas untuk turun ke bawah dan bersiap-siap untuk ngopi. Dan yang membuatku salut, para petugas di tebing breksi ini datang ke atas untuk mengingatkan para pengunjung untuk turun. Selain memang mau tutup, untuk menjaga jika terjadi seusatu.
Ketika sampai bawah kami langsung duduk dan memesan kopi. Disinilah sebenarnya tujuan kami baru dimulai. Menikmati secangkir kopi di tebing breksi. Selain kopi kami juga pesan gorengan untuk menemani kopi.
Itulah caraku menikmati kopi sembari mengabadikan foto di tebing breksi. Aku yakin sahabat pasti pernah ke tempat ini duluan dibangkan denganku. Silahkan berikan komentarmu dibawah ini πŸ™‚

68 Responses for Menikmati Secangkir Kopi di Tebing Breksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *