Merasakan Suasana Pagi di Padang Pasirnya Yogyakarta

DiaryMahasiswa.com | Sudah lama aku mengetahui padang pasir yang ada di Yogyakarta. Namanya Gumuk Pasir, yang letaknya di Jalan Pantai Parangkusumo, Parangtritis, Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sering melihat beberapa fotonya di internet, tapi aku rasa ada yang kurang kalau aku tidak langsung melihatnya.

Dua hari aku terdampar di kasur kesayanganku. Gara-gara kehujanan dan kurangnya istirahat. Jadi badan ini drop. Keluar kamar saja tidak kuat dinginnya. Di malam kamisnya Alhamdulilah aku sudah mendingan dan kebetulan ada Eko, sahabatku. Aku jadi lebih mudah untuk pergi keluar makan. Ada yang nganterin πŸ˜€

Setelah makan, dia memberitahu ada buy one get one di toko eiger jalan kaliurang. Aku langsung penasaran, karena sedari SMP ingin sekali membeli tas merk eiger namun belum kesampaian sampai sekarang karena mahalnya.

Baca juga : Spot Wisata Kekinian di Daerah Mangunan Yogyakarta

Di malam itu juga aku dan Eko langsung pergi ke toko eiger kaliurang untuk melihat tas yang sedang diskon. Ternyata lumayan banyak pilihan. Tidak hanya tas saja, ada juga baju yang di diskon. Kebetulan hanya sampai akhir bulan Oktober. Bagi sahabat yang tidak mau ketinggalan dengan diskonnya, silahkan mampir di eiger jakal Yogyakarta.

Sesampainya disana, kami fokus di depan tas saja, melihat-lihat mulai dari bawah hingga atas. Setiap tas kami lihat dan cek, mulai dari harganya hingga dalamnya. Tas eiger yang dibandrol buy one get one tidak semuanya, hanya yang digantung di dekat pintu saja, itupun harus tas yang sama.

Lumayan lama kami melihat dan muter mencari yang pas, aku ingin yang ini, Eko yang itu. Begitu juga sebaliknya. Hingga akhirnya kami saling pilih, kalau tetap membeli sesuai dengan keinginan masing-masing tentu harganya tidak but one get one. Jadi beli sendiri-sendiri dengan harga normal.

Aku sendiri tadinya ingin memilih tas yang nomer 1 pada gambar diatas, sedangkan Eko kurang setuju dan memilih yang nomer 2. Setelah difikir kembali aku pun setuju dengan pilihan Eko. Pertama bentuknya bagus, penuh warna tidak hanya hitam saja. Kemudian lumayan besar juga 22 liter. Cocok buat kuliah, bersepeda ataupun jalan-jalan.

Tas yang kami pilih dibandrol dengan harga Rp. 345.000,- Meskipun sama tapi tak apalah, karena tasnya Eko rencana dikasihkan untuk adiknya yang di Kalimantan. Setelah dibayar kami bergegas pulang, tapi sayang hujan pun turun, dan menemani kami ketik pulang.

Padahal malam itu kondisi badanku kurang fit, setelah dua hari terkapar di kamar. Aku butuh ketenangan, Eko mengajaku untuk menginap di rumah neneknya. Kebetulan selama di Yogyakarta dia tinggal di rumah neneknya di Bambanglipuro, Bantul.

Baca juga : Wedangan Kampoeng, Tempat Makan Bernuansa Tempo Doeloe di Jogja

Aku pun mengiyakannya, malam itu juga kami berangkat ke rumah neneknya. Dengan rencana pagi harinya kami jalan-jalan ke pantai. Karena jaraknya dari rumahnya tidak begitu jauh menuju pantai. Meskipun pagi harinya gerimis, kami tetap berangkat menju pantai dengan tujuan akhir yakni gumuk pasir.

Di rumah Eko, aku bisa tenang, selain bisa istirahat tanpa mendengar bisingnya kendaraan motor, disekeliling jalan menuju rumahnya pun bisa melihat sawah. Tidak seperti di dekat kostku, yang ada hanya rumah, rumah dan rumah.

Meskipun sebelumnya aku sudah pernah bersepeda ke pantai Samas, tapi baru kali ini aku ke pantai samas bisa melihat langsung papan nama Pesona Pengklik Pantai Samas.  Di hari libur biasanya banyak yang berkunjung kesini, ada juga gubuk-gubuk yang disediakan dipinggir pantai Samas.

Kami hanya duduk sembari melihat orang yang mancing, padahal masih pagi tapi yang mancing sudah banyak. Setiap orangnya tidak hanya satu pancing, tapi lebih dari satu. Tak lupa juga untuk mengabadikan foto di pantai Samas ini.
Dengan PD nya aku berfoto dengan tas baruku πŸ˜€ Tak apalah beli juga untuk dipakai. Sekalian perdana mengguankannya, sekaligus dibawa ke pantai. Eko sendiri tidak memawanya, karena aku membawanya untuk digunakan, membawa gadget, gopro dan jaket.
Di pantai Samas ini kami tidak lama, kami melanjutkan perjalanan menuju gumuk pasir. Dengan semangatnya aku menuju kesana. Karena penasaran dengan tempatnya. Namun ketika diperjalanan kami melihat tembok besar berwarna orange dan biru. 
Karena kami penasaran, akhirnya menghampirinya. Dan itu adalah pintu masuk keMANGROVE BAROS, KAWASAN KONSERVASI TAMAN PESISIRyang letaknya berada disebelah barat muara Sungai Opak dan disebelah timur Pantai Samas.
Tapi kondisi pintu masuk ke Mangrove Baros tersebut sedang tahan penyelesaian, sahabat bisa lihat sendiri seperti apa. Disitu juga masih banyak kayu-kayu dan besi yang digunakan untuk penyelesaian pintu masuk Mangrove Baros.

Setelah melihat dan berfoto dipintu masuk yang belum jadi itu tadinya kami mau melanjutkan perjalanan menuju gumuk pasir. Tapi Eko mengajaknya untuk masuk ke dalam hutannya. Setelah masuk, sebenarnya kami ingin melihatnya ke dalam lagi. Tapi karena jalannya tidak memungkinkan, selain becek dan banyak lumpur. Licin juga, karena malamnya terkena hujan.

Hutan Mangrove Pantai Baros ini merupakan kawasan ekowisata hutan mangrove dan wisata pantai selatan di kabupaten Bantul. Kawasan ini dibangun atas dasar inisiatif dari masyarakat setempat yang peduli dengan alam. Khususnya di daerah tepian muara sungai Opak dan Pantai Baros.

Kawasan tersebut, perlahan-lahan dilakukan penanaman pohon bakau secara bertahap. Dan hasilnya tahun demi tahun tanaman bakau tumbuh dengan lebat dan berhasil membentuk hutan bakau kecil.

Kami hanya berfoto-foto disekitar, tidak masuk ke dalam. Sebenarnya ingin masuk dan berharap bisa bermain rakit. Tapi aku ada janji sama teman-teman siang itu. Takut tidak tepat, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. 

Di perjalanan aku diajak menelusuri perjalanan yang tidak biasa, selain melewati kampung. Jalannya juga sangat kecil dan disamping kanan ada sungat, banyak juga pepohonan seperti pohon bambu dan yang lainnya.

Setelah keluar dari kampung, kami membelokan arah untuk melihat kawasan landas pacu pesawat. Karena waktu tidak ada pesawat, kami mengendarai motor dengan santai. Ada juga yang berfoto-foto, lari dan lain sebagainya.

Memang tempatnya bagus, apalagi untuk yang suka balapan, tapi jujur bagiku cocok untuk berolah raga. Lari pagi misalnya atau bersepeda beberapa. Selain pagi, biasanya sore hari juga banyak orang yang datang ke tempat ini, hanya untuk mengabadikan foto. Baik yang berfoto dengan kendaraan ataupun tidak.

Di landasan pacu kami hanya sebentar, kemudian lanjut ke gumuk pasir. Di perjalanan kami bertemu dengan beberapa orang yang mau ke gumuk pasir juga. Meskipun masih pagi, tapi sudah mulai ramai, karena suasana pagi tidak panas, berbeda dengan siang hari. Sudah pasirnya panas, ditambah cuacanya juga sama.

Gumuk Pasir yang mirip Gurun Sahara ini merupakan salah satu objek wisata yang paling di favoritkan oleh warga Yogyakarta. Selain tempatnya unik, gumuk pasir ini juga letaknya tidak jauh dari pantai Parangtritis. Bagi sahabat yang hendak pergi ke pantai Parangtritis, sangat disayangkan jika tidak mampir ke tempat ini.

Gumuk Pasir Parangkusumo ini tempatnya sangat mirip dengan gurun Sahara di Arfika Utara. Konon disebutkan gundukan pasir seperti ini hanya ada dua di dunia. Salah satunya ada di Meksiko, dan yang paling dekat dan mudah dijangkau adalah Gumuk Pasir Parangkusumo Yogyakarta.

Adapun tarif penitipan atau parkir di Gumuk Pasir Barchan, sebagai berikut :

Unuk parkir motor cukup membayar Rp. 3.000,- mobil sebesar Rp. 10.000,- sedangkan untuk mobil bis sebesar Rp. 20.000,- Namun waktu aku ke gumuk pasir ini tidak membayar sama sekali. Mungkin karena masih pagi. Para pengunjung juga tidak begitu banyak yang datang.
Di gumuk pasir ini sahabat bisa bermain ayunan, selain sembari menikmati pemandangan, sahabat juga bisa mengenang kapan terakhir maen ayunan. Aku sendiri dulu ketika TK.

Sebenarnya ketika kami berganti-ganti pose foto, kaget ketika melihat tali pada ayunan yang hanya di solasiban saja. Aku rasa kalau yang naikin berat badannya berat pasti bisa lepas tuh tali. Tapi kalau hanya buat duduk dan berfoto saja sepertinya tidak apa-apa.

Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi, baik ayunan atau tempat-tempat yang lainnya. Agar setiap pengunjung yang datang tetap terawat, terutama pengunjung yang sengaja datang jauh-jauh dari luar Yogyakarta.

Selain bisa bersantai di ayunan, para pengunjung juga bisa menikmati sanboarding di gumuk pasir ini. Bagi yang suka tentu akan senang sekali karena bisa merasakan meluncur diatas pasir seperti halnya bermain selancar di pantai. Aku sendiri waktu kesini tidak bermain sanboarding, selain memang kurang minat aku juga tidak ada niatan untuk bermain sanboarding ketika ke gumuk pasir.
pict : infowisatajogjaku.blogspot.com
Aku juga belum tahu berapa biaya untuk bermain sanboarding. Tidak kepikiran juga untuk menanyakan. Tapi aku mendapatkan info dari salah satu blog yang sudah pernah bermain sandboarding di gumuk pasir pada 2015 yang lalu dengan harga Rp. 150.000,- Meskipun sepuasnya untuk bermain tapi aku rasa cukup mahal dengan harga segitu. Kemudian aku mendapatkan info kurang lebih di bulan Februari 2016 biaya sewa sebesar Rp. 70.000,-
pict : penulispro.com
Di bulan Oktober ini mungkin bisa lebih mahal, atau mungkin juga lebih murah. Jika sahabat penasaran bisa dicek sembari main ke gumuk pasir. Klau dilihat dari gambar diatas memang terlihat seru dan menyenangkan. Apalagi bisa bermain sanboardingnya bersama teman, bisa balapan juga.
Ada juga papan yang aku anggap sebagai hiasan, selain hiasan bertuliskan juga nasehat. “YA TUHAN… Jauhkanlah JODOH orang-orang yang BUANG SAMPAH Sembarangan.” Tulisan tersebut megnajak para pengunjung agar tidak membuang sampah sembarang.
Karena di pasir, setiap buang sampah sembarangan tentu akan terlihat. Maka dari itu jangan buang sampah sembarangan. Apalagi sampai di kubur di pasir. Jangan sampai !

Selain itu ada suatu hiasan atau apa ya, aku menyebutnya hiasa bunga berbentuk love. Bisa sahabat lihat seperti dibawah ini. Tempat ini sangat cocok bagi pengunjung yang berniat untuk berfoto pree wedding. Atau bagi mereka yang sudah mempunyai pasangan halal.

Setelah cukup puas di gumuk pasir, kami memutuskan untuk pulang. Selain sudah mulai siang, aku juga ada rencana mau bertemu teman-teman untuk berkumpul. Ketika diperjalanan kami merasa lapar, Eko sendiri menyarankan untuk beli mie ayam di daerah Samas. Karena sudah lapar, aku pun mengiyakannya.
Kami memesan mie ayam bakso dengan minum es jeruk. Sahabat awas jangan sampai ngiler melihat mie ayam bakso ini. Meskipun baru pertama kalinya makan mie ayam bakso arema ini, rasanya lumayan enak dan pas di mulutku.
Sahabat sepertinya harus mencoba mie ayam ceker arema ini. Kami membeli mie ayam ceker + bakso dan minumnya es jeruk. Semuanya cukup membayar Rp. 10.000,-

Itulah suasana selama aku menikmati pagi di padang pasirnya Yogyakarta. Sahabat kalau ke Yogyakarta jangan lupa untuk main juga ke tempat ini.

110 Responses for Merasakan Suasana Pagi di Padang Pasirnya Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *