Naik Helikopter Keliling Wisata Watu Goyang

DiaryMahasiswa | Hai, sahabat diary. Udah bangun belum? Jangan aneh kenapa aku tanya bangun, aku nulis diary ini pagi hari. Tepat pukul 03.00. Aku sengaja nulis di jam segini karena besoknya mau pergi ke Ngawi, Jawa Timur.

Ada keperluan apa, Ndi?
Kepo nih? Kebetulan ada kesempatan aku mau belajar di pondok Al Fatah Ngawi, sembari memanfaatkan waktu luang, tak ada salahnya untuk cari ilmu. Nanti kalau ada kesempatan in shaa Allah aku ceritain.

Biar kalian tahu, biasanya jam seginianlah aku nulis diary. Aku berusaha untuk istirahat atau tidur dibawah pukul 24.00. Dan bangun paling awal pukul 02.00, kalau hari ini tadi hampir mepet ke setengah tiga dikit.

Di pagi hari seperti ini banyak hal yang bisa dilakukan. Nulis diary hanya salah satunya. Selebihnya bisa digunakan untuk ngaji, baca buku atau yang lainnya seperti belajar. Belajar apa saja. Karena seorang blogger itu akan amat haus sama ilmu. Makannya jam-jam seginilah, waktunya yang bagus untuk menyerap ilmu.

Btw, ngomongin judul diary kali ini. Pasti kalian sudah bisa menebak, kalau ini diary pasti tentang jalan-jalan lagi. Ya, ini tentang jalan-jalanku ketika eksplor daerah Mangunan. Oh, ya, awal tahun sudah liburan kemana aja nih? Semoga sudah dapat destinasi yang masuk daftar list kunjungan ya. Aku tunggu di Jogja.

Diary ini masih berkaitan dengan jalan-jalan di hari Jum’at waktu itu. Dimana dalam sehari itu dapat mengeksplor 7 tempat wisata di Yogyakarta, tepatnya di daerah Mangunan. Bagi yang belum tahu, jadi waktu itu aku dan sahabatku, Maman namanya. Dalam sehari kami berkesempatan mengunjungi tempat wisata di Mangunan, diantaranya;

1. Watu Goyang
2. Jurang Tembelan
3. Bukit Mojo
4. Bukit Panguk
5. Goa Gajah
6. Lampeng Wonolagi
7. Tebing Watu Mabur

Yang sudah aku ceritakan waktu itu no 5. Yaitu goa gajah. Silahkan cek diarynya ya.

Bisa dibaca : Keindahan Cahaya dari Surga (Goa Gajah)

Well, kali ini sesuai reques sahabat diary mahasiswa di postingan sebelumnya. Mereka banyak yang menginginkan aku menceritakan watu goyang.

Masa sih Ndi ada yang reques gitu? 
Berikut buktinya;

Wisata Watu Goyang merupakan objek wisata perbukitan yang ada di desa Mangunan. Kalau kalian pernah mendengar atau pernah datang ke ke tempat wisata yang satu ini pasti udah nggak asing lagi. Apa saja di dalamnya, berapa tiket masuknya dan seperti apa suasannya.

Baca juga : Menikmati Pagi di Puncak Becici

Jum’at itu aku ke Watu Goyang sebelum Jum’atan, kalau nggak salah setengah sepuluhan. Wisata watu goyang ini satu arah dengan Hutan Pinus. Hanya saja ini tempat berada sebelum pintu masuk hutan pinus. Dan tepat berada disebelah kiri.

Kalau sudah menengok ke sebelah kiri, kalian akan melihat plang atau gapura yang ada tulisannya, WISATA WATU GOYANG. Kalian tinggal masuk saja dan ikuti terus hingga bertemu parkiran.
Untuk tiket masuknya waktu itu Rp.2.000,- dan untuk parkir motornya juga sama Rp.2.000,-

Dari jalan raya menuju lokasi jalannya memang berbatu, tapi masih dalam tingkat kewajarah kok. Lokasi parkirnya juga cukup luas. Jadi nggak cuma kendaraan roda dua aja, mobil juga bisa masuk. Baik truk ataupun bis.

Di dekat parkiran terdapat suatu peringatan atau sebuah satu papan yang disebut sapta pesona. Sama seperti di wisata hutan pinus. Kalau kalian pernah kesana pasti tahu. Dan sapta pesona ini ada tujuh point isinya, diantaranya ada aman, tertib, bersih, sejuk, ramah, indah dan kenangan.

Tempatnya memang agak naik ke watu goyang ini. Tapi nggak begitu naik sih, kurang lebih 5 sampai 10 menitan juga sampai. Yang bikin lama itu setiap langkah penuh dengan jepretan..he

Sebelum naik ke bukit watu goyang juga terdapat banner dekat gubuk yang bertuliskan wisata watu goyang, lengkap dengan # (hastag), alamat facebook dan alamat instagramnya. Jadi bagi yang lebih penasaran akan suasana pemandangannya bisa follow media sosialnya.

Terlihat jelas juga dari tempat parkir ada semacam taman di sekitar daerah watu goyang. Tanaman yang kuning itu kalau kalian cermati pasti bakal terlihat jelas terbaca WATU GOYANG.

Dari pada penasran kami langsung naik dan melewati pintu masuk menuju bukitnya. Intinya ini pintu masuk ke puncak wisata watu goyangnya. Sedikit mengabadikan foto terlebih dahulu sebelum naik.

Di dekat tanaman yang bertuliskan watu goyang terdapat seperti gubuk tapi hanya sekedar rangkaian rumahnya saja. Uniknya bertuliskan RUMAH RT BANG SOPO dan RUMAH RT 05 BANG JARWO.Udah kayak di film aja ya.

Tepat di depan tanaman yang bertuliskan wisata watu goyang dari tanaman, Maman langsung ingin mengabadikan foto. Seperti inilah gayanya, jangan dilihat mukanya nggak senyum, karena waktu itu cuaca cukup panas.

Setelah itu kami lanjut ke jalan kaki lagi. Awalnya mau niat ke watu goyang langsung. Tapi kami putuskan untuk naik helikopter terlebih dahulu. Jadi selain watu goyang, di tempat ini terdapat sebuah helikopter yang terbuat dari bambu dengan warna lorek seperti halnya warna ABRI. Dan kami nggak sabar ingin terbang bersama helikopter itu..hehe.

Awalnya aku nggak tahu kalau helikopter yang terbuat dari bambu ini ada di sini.  Aku kira sebuah helikopter ini ada khusus di tempat tertentu saja di Mangunan. Ternyata ada di wisata watu goyang. Pertama lihat jelas seneng, akhirnya kesampaian bisa lihat dan naik langsung sembari jalan-jalan menggunakan helikopter.

Ya gantian fotonya sama Maman, asiknya memang gitu kalau jalan-jalan ada temennya, bisa saling gantian foto. Sendiri juga bisa sebenarnya, selfie misalnya, tapi aku sendiri kurang puas kalau selfie.

Aku salut sama pengelola wisata watu goyang ini. Misalnya saja kalau dilihat dari helikopter yang terbuat dari bambu itu. Terlihat sekilas biasa, tapi aku sendiri salut. Dengan bambu bisa disulap seperti halnya helikopter sungguhan. Bagusnya lagi spot yang dihasilkan dari helikopter itu bener-bener bagus. Terlebih kalau cuacanya juga bagus.

Coba deh cek instagramnya watu goyang. Disitu banyak foto yang bagus-bagus. Bagus disini dari waktu juga. Terlebih disaat sunset, bagus banget. Ada juga yang foto malam hari lho. Tapi hasilnya bagus juga.

Waktu sih aku rasa udah sebagian bambu helikopternya ada yang harus diganti, karena udah mulai rusak. Yang membuat kami senang, cuaca siang itu mendukung, alias cerah. Tapi cukup panas, wajarlah Jogja kan panas..hehe.

Di dekat helikopter ini juga terdapat seperti jembatan gitu yang terbuat dari bambu. Dan jika ditelusuri sembari jalan akan menemukan dua ekor rusa yang terbuat dari kayu. Mirip banget seperti aslinya. Dan ini menurutku keren banget. Seperti foto dibawah ini.

Nah dari kedua ekor rusa itu, jika ditelusuri lagi jembatannya lumayan panjang, karena mengelilingi watu goyang. Dan terdapat juga seperti gubuk di jembatan gitu, seperti foto Maman dibawah ini. Menurutku sih bagus pemandangannya, tapi percayalah waktu foto disini panasnya luar biasa. Dan siang itu cuma ada beberapa pengunjung yang datang. Mungkin karena hari Jum’at. Nggak tahu weekend ramainya seperti apa.

Meskipun panas-panasan, Maman tetap asik ngevlog. Udah pegang smartphone, camera serasa ribet sih. Tapi ya gitu, Maman menikmatinya dengan asyik. Inilah hidup, ujarnya.

Selain helikopter yang terbuat dari bambu, ada juga tulisan I LOVE U yang terbuat dari bambu. Dan asiknya bisa buat duduk. Ya seperti foto dibawah ini. Akan lebih asik lagi kalau suasana sore, karena cuaca teduh akan lebih betah berlama-lama di tempat ini.

Nah saat ini aku akan kasih tahu tentang watu goyangnya. Sebelumnya sengaja aku nggak kasih tahu dulu tentang watu goyang. Karena biar kalian tahu kalau di wisata watu goyang ini nggak cuma ada watu goyang aja. Tapi ada helikopter juga.

Oh, ya, selain ada watu goyang, ada juga watu lancip disini. Sama seperti papan petunjuk arah yang dipasang di batu. Kalau ke kiri ke arah Watu Goyang, sedangkan ke kanan ke Watu Lancip. Ada juga Gubuk Renungan. Gubuk disini semacam gazebo gitu. Bisa digunakan untuk para pengunjung istirahat, dan bisa digunakan juga untuk makrab misalnya. Tapi siang itu kami nggak sempat foto gubuknya karena keburu mau Jum’atan.

Kalian sempat kepikiran nggak sih, kenapa dinamai WATU GOYANG?
Nama watu goyang sendiri bukan asal nama. Alasannya adalah batu yang ada di bukit dapat bergoyang jika disentuh atau didorong. Pengelola watu goyang juga bilang goyangan dari batu tersebut masih aman. Dan ada peringatan untuk tidak menaiki batu. Aku rasa untuk mengabadikan foto nggak perlu lah untuk naik ke atas batu.

Batu goyang tersebut ternyata sudah ada sejak dia kecil, alias sejak tempat tersebut masih seperti hutan, yang mana hutan tersebut yang dianggap angker oleh masyarakat sekitar.

Dalam bahasa Jawa, Batu disebut sebagai Watu. Jadi penamaan tersebut sah aja, sesuai dengan kondisinya yaitu Watu Goyang. Siang itu kami nggak sempat memegang atau menggoyangkan watunya. Karena dengan melihat dan tahu saja sudah cukup.

Sedangkan Watu Lancip letaknya tidak berjauhan dengan Watu Goyang. Tapi memang letaknya agak sulit untuk dijangkau. Aku untuk bisa mengabadikan foto aja sebenarnya agak susah. Tapi ya, demi foto. Apapun itu, dilakukan. Asikk..

So, Kapan Kesini Bareng…?
Boleh lah kalau kalian ada waktu, berkabar kalau ke Jogja, aku juga kalau ada waktu, bisa lah main bareng. Kan bisa sekalian bikin postingan jalan-jalan dan sekaligus bersilaturahmi. Nelaktir aku makan juga boleh. Serius!

Siang itu kami nggak berlama-lama, karena hari Jum’at itu waktunya sangat singkat. Sebagai blogger yang tahu akan kewajiban. Tentu keluar dari wisata tersebut dan mencari masjid terdekat untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Sempat tersesat dengan papan petunjuk arah masjid siang itu. Tapi dengan bertanya warga sekitar akhirnya nemu juga masjid yang terjangkau jaraknya. Jujur kami merasakan adem banget di masjid. Nggak cuma masjid ini, tapi semua masjid memang gitu. Kalian juga pasti pernah merasakannya, bukan?

Foto aku dekat banner ini berada di pinggir jalan depan pintu masuk ke wisata watu goyang. Selain banner foto wisata watu goyang, terdapat juga alamat lengkapnya. Sekaligus alamat media sosial watu goyang.

Kalau kalian mau pergi ke tempat ini baiknya sih ajak teman-teman juga. Lebih rame kan lebih seru. Terlebih kalau berangkat sedari pagi. Jadi bisa sekalian pindah ke tempat wisata lainnya. Yang jaraknya tidak jauh dari watu goyang.

Aku ingatkan lagi alamat Bukit Watu Goyang ini berada di lokasi dusun Cempluk, desa Mangunan, kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mungkin itu aja dulu ya, diary wisata watu goyangnya. Terima kasih buat kalian yang kasih aku saran untuk nulis diary ini setelah goa gajah. Semoga jadi tahu dan nggak bikin penasaran lagi. Next time aku lanjut ceritain wisata Mangunannya. Siapa tahu selain jadi referensi wisata kalian kalau ke Jogja.

Baca juga : Merasakan Suasana Pagi di Padang Pasirnya Yogyakarta

Btw, kalian ada saran lagi nggak nih, kira-kira setelah ini aku ceritain wisata yang mana lagi? Silahkan pilih salah satu dari ke-5 tempat wisata yang belum aku ceritain ya.

1. Jurang Tembelan
2. Bukit Mojo
3. Bukit Panguk
4. Lampeng Wonolagi
5. Tebing Watu Mabur

Ke-5 wisata tersebut sudah aku siapkan fotonya juga, tinggal publish sembari nunggu jadwal postnya. Sekalian nunggu saran dari kalian ya.

#JanganLupaPiknik

168 Responses for Naik Helikopter Keliling Wisata Watu Goyang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *