Ramadhan ini Eni tak Lagi Menemaniku :(

DiaryMahasiswa| Dear diary, sejak awal aku merantau di Yogyakarta, aku punya rencana membeli sepeda untuk pergi ke kampus. Selain itu agar bisa mengantarkanku pergi keliling kota pelajar.

Dengan uang kurang dari Rp.400.000,- aku mendapatkan sepeda BMX berwarna hitam. Black namanya. Meskipun bekas tapi aku bersyukur bisa membeli sepeda. Aku membeli sepeda ditemani oleh Sulis Tianto sahabat satu kostku, dia juga punya rencana untuk membeli sepeda namun nunggu uangnya terkumpul terlebih dahulu.

Setelah aku beli, aku bisa pergi kemana-kamana menggunakan sepeda terutama pergi ke kampus, cari makan, jalan-jalan sembari boncengan sama teman, dengan berdiri di atas step roda sepeda belakangku.

Memang capek, apalagi jaraknya jauh. Karena gear rantai sepedaku kecil. Jadi meskipun aku mengayuhnya dengan cepat tetap saja jaraknya tidak begitu jauh. Hanya capek yang ku dapat, namun seru dan asik bisa berkeliling di kota gudeg ini.

Beberapa bulan kemudian Sulis beli sepeda juga dengan harga dua kali lipar dari sepedaku. Setelah beli aku jadi bisa lebih jauh untuk gowes dengan teman-teman. Ditambah lagi Endro, teman sekaligus sesepuh di kostku. Dia juga suka gowes, bahkan pergi ke tempat kerja yang jaraknya cukup jauh pun naik sepeda.

Makin banyak teman, jadi semakin seru untuk gowes mengelilingi kota istimewa ini. Tepat satu tahun lebih sepeda BMX menemaniku diperantauan.

Setelah itu aku terasa capek jika terus menerus menggunakan sepeda BMX untuk pergi dengan jarak yang lebih jauh. Hingga akhirnya aku membobol celenganku yang ada di beberapa botol big cola yang tersimpan di pojok kamar kostku.

Dengan rasa senang uang sudah terkumpul. Tak lama berfikir aku langsung membuka laptop cari sepeda MTB yang harganya terjangkau. Syukur-syukur dapet murah dan bagus..hehe

Si Black sepeda BMX hitamku aku jual dengan harga yang cukup lumayan untuk menambah biaya beli sepeda yang lebih baik lagi. Aku pun mendapatkan info sepeda gunung dengan merk PHOENIX, setelah ditanya-tanya melalui pesan singkat ternyata masih ada. Aku ngajak Endro untuk mengantarku ke lokasi orang yang jual sepeda.

Karena Endro lebih tau tentang sepeda, jadi aku minta tolong untuk cek dan lihat-lihat masih bagus atau nggak sepedanya. Setelah kurang lebih setengah jam sepeda di cek, akhirnya aku memutuskan untuk membelinya dengan harga dibawah Rp. 1.000.000,-

Dengan senang hati aku mengayuhnya menuju kost. Sampai kost pun langsung aku bersihkan dan cuci hingga bersih. Sepeda ini aku kasih nama Eni. Lengkapnya PHOENIX, sesuai dengan merk sepedanya..hehe..

Kurang lebih satu semester Eni menemaniku kemana-mana. Jalan-jalan, ke kampus, ke toko buku, pantai dan tempat-tempat keren lainnya di Jogja.

Gak cuma aku, sahabat-sahabatku juga bisa merasakan naik sepedaku. Setiap bulannya aku rawat Eni, aku service rutin seperti halnya kendaraan bermotor. Karena sayang jadi harus dirawat.

Banyak kenangan bareng si Eni. Dan saat ini tinggal kenangan, sedihnya untuk mendapatkan Eni ini penuh perjuangan, mulai dari perkenalan, PDKT, nembak dan pada akhirnya sayang hingga cinta.

Dan saat ini kau entah kemana, ada yang ngambil tapi tak bertanggung jawab, Eni baik-baik ya disana, semoga kau bahagia. Dan dirawat sama pemilik barumu yang entah siapa nama dan wataknya.

Hilangnya kapan sih, Ndi?

Malam? Bukan-bukan. Jadi gini sahabat, hari Rabu pagi tepat pukul 07.00 sebelum teman-temanku kerja, Eni ada ditempat biasanya dengan rapih dan tenang, masih ingat betul pagi itu Eni masih istirahat, bahkan belum mandi sama sekali.

Karena aku gak ada jam kuliah jadinya hanya tiduran dan santai di kost, biasanya lah hari libur sehari pun senangnya luar biasa, karena hari-hariku penuh dengan tugas.

Pagi itu di lantai 1 kostku, ada 5 kamar, dan ketiga kamarnya terbuka, termasuk aku, Sulis dan Endro. Pagi itu Endro mau pinjam sepedaku buat kerja.

Endro : “Ndi, sepeda aku pake ya? Gak kamu pake to?”, tanya Endro.
Andi : “Pake aja, Mas. Aku gak keluar kok”, ucapku dengan santai.

Memang hari itu aku gak ada rencana kemana-mana sih, tepat pada siang harinya, setelah duhur kalau gak salah, mas Endro nanyain sepedaku kok gak ada, padahal aku ya gak pake.

Waktu itu aku gak begitu panik, pikirku palingan dipinjem teman kost di lantai dua. Aku tunggu tuh sampai sore, gak pulang juga. Besoknya aku cari gak ada juga.

Agak curiga dan panik juga sih, Eni kok gak pulang-pulang. Jangan-jangan ๐Ÿ™ ah pikiranku udah kemana-mana, apa ada yang ngambil ya.

Waktu terus berjalan, shalat gak tenang, makan pun demikian. Eni kamu kemana sih ๐Ÿ™

Sudah dua sampai tiga hari lebih gak ada kabar. Bahkan hingga pertengahan di bulan Ramadhan ini belum ada kabar sekali, sudah saatnya aku mengikhlaskan dan semoga Allah mengampuni orang yang mengambil Eni sepedaku.

Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Semoga kita semua semakin dimudahkan, dilancarkan rezekinya, puasa serta sholat selama ini, Allah terima dan semoga dibulan Ramadhan ini kita dapat mengumpulkan bekal untuk pulang nanti..aamiin..

2 Responses for Ramadhan ini Eni tak Lagi Menemaniku :(

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *