Ribuan Pengunjung Padati Festival Layang Lakbok Ciamis 2018

DiaryMahasiswa | Dear diary, rasanya kegalauan di bulan Agustus sampai sekarang masih terasa. Galau kepana, Ndi? Gak bisa pulang, gak bisa makan nasgor buatan ibu, gak bisa ketemu ibu dan yang pasti di daerahku sedang ada acara yang menarik banget. Sebuah festival yang didalamnya terdapat suatu lomba berhadiah. Lomba permainan ini sangat aku sukai sedari kecil. Panas-panasan, lari-lari di tengah sawah hingga kejar-kejaran demi mengejar sebuah tali yang putus tertiup oleh angin.

Padahal saat ini aku tahu rasanya di tarik ulur itu sakit. Apaan sih ^_^
Tapi sewaktu kecil mengejar benang yang putus itu merupakan sebuah petualangan yang seru. Apalagi bisa dilombakan.

Lomba apa, Ndi?

Kalian juga tahu. Seperti judul yang sudah aku tulis diatas. Ya, layang-layang atau biasa disebut layangan. Sebuah lembaran dari bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan terhubungkan dengan tali atau benang ke daratan atau pengendali.

Oh, iya, yang belum explorediary mahasiswa mungkin ada yang belum tahu foundernya orang mana. Yang jelas sejauh ini aku banyak banget nulis diary tentang Jogja. Ya, Jogja sebuah kota yang beberapa tahun terakhir ini jadi tempat dimana aku berkarya dan merangkai kata.

Baca juga : Milangkala Sanggar Seni Simpay ke-15 Tahun

Aku aslinya orang Ciamis, tepatnya di daerah Lakbok. Inget, Lakbok ya, bukan Lombok. Jadi inget, jangan lupa terus doakan saudara kita yang di Lombok. Semoga selalu ada dalam lindungan Allah Swt. Aamiin.

Lokasi layang lakbok ini gak begitu jauh dari rumahku. Paling 10-15 menit sampai menggunakan motor. Makannya aku sangat nyesel gak bisa pulang untuk menghadiri acara yang keren ini. Bukan aku tak mau, bukan juga aku tak berusaha. Tapi ini soal tanggung jawab di Jogja, yang mana harus diselesaikan disaat acara Layang Lakbok dilaksanakan.

Senangnya, sahabat-sahabatku yang ikut hadir turut mengabariku tentang foto dan juga video terkait layang lakbok. Gak cuma itu sih, kalau masalah info memang aku selalu updatedan ikut share juga. Karena aku tergabung dalam grup whatshappdimana festival layang lakbok dibahas di dalamnya. Ikut bangga jadi warga Ciamis.

Yang sedang baca ada orang Ciamis juga? Pantes kasep jeung gareulis :))
Aku sarankan yang sedang baca diary kali ini ambil dulu kopinya, siapkan cemilannya. Soalnya cukup panjang, serius! Dah ambil dulu gih..

Oh, iya sebenarnya Paguyuban Pematang Sawah melaunching Layang Lakbok “Art and Culture Festival 2018″ ini sudah sedari tanggal 15 April 2018. Yang lokasinya berada di Baregbeg-Sidaharja, Lakbok, Ciamis, Jawa Barat.

Menurut Paiso selaku Direktur Paguyuban Pematang sawah, acara launching Festival Layang Lakbok ini bertujuan untuk mengenalkan tradisi masyarakat Lakbok.

Tradisi apa, Ndi?

Jadi gini teman-teman, di Lakbok sendiri biasanya kalau sehabis panen ada tradisi bermain layang-layang di sawah. Gak cuma yang muda tapi yang tua juga ikut.

Hal ini aku rasa memang sudah dari dulu, makannya diadakanlah festival layang lakbok yang bertujuan memajukan kebudayaan melalui media sebuah festival layangan pasca panen.

Selain itu, masyarakat juga didorong menjadi pelaku utama festival. Dimulai dari penelitian potensi desa, melakukan ekplorasi estetika lokal, merancang acara, mengembangkan kelompok-kelompok sadar wisata serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan.

Karena aku sendiri sangat sadar akan potensi yang ada di daerah Lakbok untuk dikembangkan menjadi potensi wisata.

Wargi Lakbok hayu urang sami-sami majukeun Lakbok 🙂

Persiapan demi persiapan pun terus dilakukan hingga hari H menjelang. Memang aku gak ikut membantu secara langsung.  Namun keseruan dalam persiapan hingga launchingLayang Lakbok terus di sharemelalui akun facebook dan instagramresminya Layang Lakbok Festival.

Seperti foto-foto dibawah ini merupakan persiapan menuju launchingLayang Lakbok. Membuat suatu kerajinan dari jerami. Kira-kira sahabat Diary Mahasiswa pernah bikin mainan apa nih dari jerami?

Banyak cara memang yang bisa dilakukan dengan jerami, selain memang berguna untuk hal yang bermanfaat, misalnya bahan bakar pembuatan batu bata. Dengan jerami aku sendiri mempunyai kenangan, yaitu brondong.

Ya, dulu waktu masa-masanya cari jangkring sama teman-teman ke sawah, aku nyempatkan untuk mencari brondong dari tumpukan jerami padi yang sudah dibakar. Kecil sih tapi rasanya cukup lumayan dan kejadian itu jadi kenangan sampai sekarang. Saat ini rasanya susah sekali untuk di ulang 🙁 Kalau kalian punya kenangan apa?

Begitu juga kenangan bersama layang-layang. Mulai pembuatannya dari bahan kertas buku, kertas wajik dan kertas payung. Asiknya pada masa itu yaitu bisa membuat layang-layang sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Seperti yang sudah aku ceritakan tadi di awal, aku dan sahabatku suka sekali mengejar layang-layang yang putus akibat gesekan dengan layang-layang lainnya atau putus dengan sendirinya. Kami beramai-ramai lari untuk mengejarnya.

Entah berhasil atau tidak, intinya kejar saja dulu. Kalau berhasil beruntung bisa buat sendiri kalau dapetnya rame-rame biasanya dibagi, ada yang dapet layangannya atau nggak talinya. Dan biasanya kalau dapet konyolnya kami langsung menyembunyikannya sampai kira-kira aman dan orangnya gak mencari 😀

Tidak hanya persiapannya saja yang seru tapi disaat hari puncaknya pun tambah seru. Melihat fotonya begitu ramai, rasanya ingin ikut hadir disana.

Seperti inilah suasana di tempat launchinglayang lakbok. Suasana pedesaan, dekat sawah adem rasanya. Terlebih disaat sore, ditambah main layangan. Duh ngingetin banget pada masa kecil.

Dalam acara launching Layak Lakbok, dimeriahkan juga dengan pementasan kesenian Ébég dari masyarakat Lakbok. Teman-teman tahu kan ébég? Sama seperti kuda lumping gitu, namun ébég yang satu ini suka mendem. Alias kesurupan gitu sama makhluk ghaib.

Eh, memang kuda lumping itu memang gitu ya, kerusupan. Di Lakbok sendiri sih gitu, gak tahu kalau kuda lumping di daerah teman-teman. Apakah sama?

Gak sedikit juga teman-temanku yang ikutan ébég, kebanyakan sih malah adek kelas, bahkan yang sepantaran dengan adekku yang saat ini baru masuk sekolah menengah atas. Entah kenapa, memang hobi atau sekedar ikutan saja.

Kerusupan disini memang benar adanya, aku sendiri pernah menyaksikannya secara langsung. Disaat kesurupan biasanya para pemain itu memakan sesaji yang sudah di sediakan.

Ada sesaji berupa buah-buahan, bisa juga beling (kaca) atau genteng. Dan itu mereka makan. Para pemain tentu tak sadar, karena pada dasarnya yang memakan itu bukan mereka, tapi arwah yang ada di dalamnya.

Wajar saja ketika kesurupan semangatnya luar biasa. Namun begitu mereka sadar barulah merasa lelah, pegal-pegal. Saat ini kesenian yang satu ini tidak hanya diikuti oleh kaum laki-laki saja. Perempuan pun ada yang ikut.

Tidak hanya ébég saja, tapi aja juga Eduaksi Budaya yaitu Nyerat Aksara Sunda, dimana kita bisa belajar nulis dengan aksara sunda di acara launchingini. Kalau kalian belum tahu aksara sunda, bisa dilihat foto dibawah ini.

Jujur sih, aku juga belum bisa. Pengen banget belajar untuk bisa, sebagai orang Jawa Barat aku juga pengen melestarikan aksara sunda. Nyerat Aksara Sunda di acara launchingLayang Lakbok Festival dari Pangauban Kawargian Nonoman Galuh

Senengnya melihat anak-anak sekolah dasar belajar aksara sunda. Rasanya gak mau kalah untuk ikut belajar bersama.

Tahu kan arti dari nyerat?
Nyerat itu sama artinya dengan menulis. Jadi belajar menulis aksara sunda.

Itu aja, Ndi?

Tidak dong, ada juga pementasan musik angklung dari SD Negeri 2 Sidaharja – Kecamatan Lakbok, Tatar Galuh Ciamis. Seru kan? Kalian ada yang bisa bermain angklung? Kalau di Jogja sendiri kalian akan sering melihat pementasan angklung di jalan Malioboro.

Cukup efektif memang kalau sedari duduk di sekolah dasar sudah belajar angklung. Kedepan nanti bisa terus dikembangkan, intnya terus belajar dan ikut bergabung juga dengan teman-teman yang mau belajar angklung.

Di asrama KPM Galuh Ciamis sendiri, biasanya ada hari dimana belajar angklung bareng-bareng. Hanya saja jadwalnya selalu gak pas denganku, makannya belum sempet ikutan.

Yang nonton juga cukup ramai, mulai dari anak kecil hingga dewasa. Memang suara khas angklung itu sangat indah. Terlebih bisa dimainkan dengan berbagai musik yang sedang hits.

Seru kan acara lauching Layang Lakboknya. Nah singkatnya di bulan Agustus tahun 2018 ini dilaksanakan juga Festival Layang Lakbok.

Iya Agustus kemarin yang membuatku galgau gak bisa hadir secara langsung. Acaranya berlangsung pada tanggal 24-26 Agustus 2018. Yang tempatnya di Pesawahan Blok Kuntul, Desa Baregbeg-Sidaharja, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Memang acara ini sudah lewat disaat diary ini aku tuliskan. Karena memang baru bisa aku publish. Meskipun sudah lewat tak ada salahnya kan aku share lokasinya, siapa tahu kalian lain kali mau datang langsung ke lokasi layang lakbok dilaksanakan.

Ada yang paham dengan peta diatas. Coba pertahatikan, lokasinya itu dekat dengan Langensari, Sidareja dan dari Banjarsari juga cukup terjangkau. Karena jalannya juga sudah bagus, jadi cukup cepat untuk sampai. Yang penting hati-hati dalam perjalanan.

Di acara Layang Lakbokbulan Agustus ini akan ada beragam pertunjukan seni tradisi, gelaran jajanan kuliner, pesta layang malam, festival aksara sunda dan Lakbok world music festival yang tentunya akan memberikan nuansa baru di area pesawahan Lakbok ini.

Kebayang kan bakal seperti apa serunya. Masih penasran? Lanjut baca ya 🙂

Seperti sebelum acara lauching, layang lakbok festival pun penuh persiapan yang matang. Para panitia sedang melakukan persiapan menuju hari H Festival Layang Lakbok dilaksanakan.

Selama Festival Layang Lakbok dilaksanakan terdapat juga daftar harga Paket di Layang Lakbok beserta fasilitas yang akan didapatkannya. Acara ini terbuka untuk umum dan tentunya gratis alias tidak di pungut biaya sedikit pun.

Selain itu, terdapat juga paket dan voucheryang disediakan untuk memenuhi kebutuhan pengunjung selama festival. Paket dibuat untuk menumbuhkan ekonomi lokal, karena semua produksi paket berasal dari masyarakat.

Untuk lengkapnya, teman-teman bisa baca di beberapa gambar dibawah ini.

Selain persiapan secara internal,  persiapan external pun dipersiapankan. Ada panggung utama Festival Layang Lakbok dan beberapa standyang ada di acara ini. Di lokasi ini terdapat juga salah satu lokasi yang dapat dijadikan foto oleh para pengunjung. Sebuah menara yang terbuat dari bambu.

Pintu masuknya seakan seperti masuk ke sebuah istana, padahal masuk ke pesawahan. Kreatif ya, aku yakin kalau kalian datang langsung pasti gak lupa untuk foto disini.

Dikutip dari harapanrakyat.com, menurut panitia penyelenggara Festival Layang Lakbok ini, Bapak Asep Zery Kusmaya mengatakan, acara tersebut merupakan gagasan dari para pemuda serta masyarakat Lakbok yang bertekad untuk bersama-sama menjaga tradisi yang ada di Lakbok.

“Kami sangat bahagia dan terharu pada kesempatan kali ini bisa tumbuh kebahagian-kebahagian kecil dari hal yang sangat sederhana. Melalui kegiatan ini yang memang sangat erat kaitannya dengan kehidupan pedesaan bisa terus dilaksanakan pada kesempatan selanjutnya. Kami juga sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan sehingga bisa berjalan dengan lancar,” katanya dalam sambutan.

Lokasi layang lakbok sendiri sebenarnya cukup mudah ditemukan. Selain memang tersedia petanya, dekat lokasinya juga terdapat sebuah bannerbesar yang lengkap dengan foto, tanggal dan juga sponsor dalam acara ini. Kalau sudah lihat bannernya, sudah dipastikan kalian sudah sampai.

Di hari pertama, tepatnya di hari Jum’at tanggal 24 Agustus terdapat beberapa pertunjukan, seperti pada rundowndi bawah ini. Ada pertunjukan seni, karinding, ébég dan yang lainnya.

Dihari pertama melihat fotonya bener-bener keren, pengen deh aku hadir langsung dan mendokumentasikannya.

Ada yang berani memecahkan balok dengan kepala seperti ini? Jangan ditiru kalau memang bukan ahlinya ya..he

Terlihat seperti bukan di sawah ya panggung di acara Festival Layang Lakbok ini. Padahal ini di sawah lho. Unik ya, kalau di lapangan kan udah biasa, kalau di sawah itu baru keren. Karena bisa sekalian mainan layang-layang.

Aneka ragam makanan tradisional khas pedesaan tampak menempati stand-stand yang didirkan di sekitar lokasi layang lakbok ini. Terlihat sederhana tapi itulah khasnya. Dimana festival ini memang bernuansa serba tradisional.

Sementara itu, panggung utama yang terletak di areal pesawahan tersebut menjadi perhatian para pengunjung disaat hari pertama acara ini dilaksanakan. Terlebih ketika puluhan perempuan memakai caping dari orchestra pematang sawah sambil menari yang diiringi musik angklung dari anak-anak dan alunan kecapi.

Kalau kalian pengen lihat bisa tonton video dibawah ya. Baca terus aja, nanti juga ketemu sama videonya.

Oh, iya, kuda lumping yang tampil di festival ini lengkap dengan barongannya. Di tempat kalian apa sih namanya? Biasanya aku menyebutnya barongan atau nggak bangbarongan. Sepertinya ada nama yang lainnya deh, tapi aku lupa 🙂 Apa ya?

Bangbarongan ini aslinya berat lho. Memang ukurannya ada yang kecil dan ada juga yang besar.

Kedatangan juga Laskar Bebegig Sukamantri. Semacam reog tapi ini wajahnya lebih serem. Coba kalau pertunjukannya malam lebih serem ya.

Pertunjukannya memang sore sebagaimana jadwal yang sudah ada di rundown. Semakin sore pemandangannya semakin indah, terlebih disaat matahari mulai terbenam.

Diary kali ini agak panjang ya?

Bacanya break dulu gak apa-apa, diminum dulu kopinya. Udah bawa kan tadi. Kalau belum, sok atuh ambil dulu, haus kan. :))

Suasana malamnya pun gak kalah keren. Coba kalian lihat foto-fotonya.

Bukan ratusan pengunjung lagi, tapi pengunjung yang datang hingga ribuan lho. Wow, andai malam itu bisa hadir langsung pasti bakal seru banget. Bisa ngedokumentasikan secara langsung.

Padahal ini di sawah lho, tapi terlihat seperti di lapangan ya. Pesawahan yang disulap jadi lapang..hehe

Asli sih ini keren dan apalagi bisa duduk diatas jerami gitu bersama teman-teman tanpa gadget hanya fokus nonton festival layang lakbok. Beuh pengen banget.

Sorotan lampu-pampunya menandakan kemeriah acara ini. Pasar malem mah lewat lah..he

Oh, iya, dari tadi lihat foto-foto penampilan di festival ini ya. Sampe lupa kasih tahu informasi tentang layang-layangnya. Jadi gini teman, lomba layang-layang ini penyisihan lombanya sedari tanggal 17-23 Agustus 2018. Sedangkan di tanggal 24 Agusuts merupakan hari atau babak final. Biaya pendaftarannya pun cukup terjangkau.

Cukup membayar Rp.30.000,- / layangan.

Sedangkan untuk daftar ulangnya cukup membayar Rp. 20.000,- / layangan.

Layangan saat ini bentuknya sudah bagus dan orang-orang juga semakin kreatif. Buktinya bentuknya gak melulu kotak atau persegi empat. Udah gitu bisa dipasang lampu lagi. Jadi disaat di udara terlihat keren, layaknya seperti pesawat di tengah malam.

Syarat untuk ikutan lomba ini pun gak sulit, para peserta mulai daftar yang dibuka hingga tanggal 14 Agustus. Lampu yang dipasang minimal 3 dan itu harus terpisah. Dan lampu yang akan di pasang di layang-layang jangan sampai mati.

Kalau mati maka panitia langsung mendiskualifikasi. Kemudian layang-layang harus sudah terbang sebelum pukul 20.00. Untuk senar yang bunyi itu maksimal panjangnya 100 meter. Nah ini yang bikin penasaran para pembaca diary kali ini. Apa sih sebenarnya hadiah lomba layang-layang ini.

JUARA 1 : SATU UNIT SEPEDA MOTOR 

JUARA 2 & 3 : BEASISWA PENDIDIKAN

Itu baru di hari pertama, nah di hari kedua tepatnya di hari Sabtu lebih seru lagi. Seperti rundown yang sudah tersusun, ada penampilan karinding beatbox, tunanada, Gaya Gayo, NOS dan yang lainnya. Pasti penasaran kan? Lanjut baca ya 🙂

Sebelum tampil malam hari sesuai jadwal, mereka cek sound terlebih dahulu. Oh, iya band yang bernama NOS ini berasal dari Yogyakarta lho. Kalau kalian asli Jogja mungkin tahu band yang satu ini.

Masyarakat Lakbok juga ikut pentas angklung di acara festival ini.

Gak cuma angklung tapi masyarakat Lakbok tampil membawakan kesenian khas Lakbok yaitu Jidur.

Nah MC dalam acara Layang Lakbok Festival ini adalah teh Yosie Arsyani. Panggil aja Ochi, orangnya cantik, super kécé, dan yang pasti dia kuliah di Yogyakarta juga lho. Aku pernah ketemu waktu main di asrama KPM (Keluarga Pelajar Mahasiswa) Galuh Rahayu.

Malam harinya banyak pengunjung yang datang. Gak cuma saudara, teman dekat yang datang. Sepertinya memang warga Lakbok rata-rata datang. Karena sangat sayang kalau di lewatkan acara sekeren ini gak dateng. Selagi bisa kenapa nggak.

Selain mempersembahkan angklung dan Jidur, masyarakat Lakbok juga menampilkan sebuah orkestra Pematang Sawah untuk Layang Lakbok Festival 2018.

Untuk tahu kerennya festival ini seperti apa? Silahkan teman-teman lihat foto-fotonya ya 🙂

Semangat banget kan, ini tampilan dari NOS.
Penampilan dari Gayagayo
Para pengunjung juga bisa sembari menikmati kuliner khas Lakbok disini. Beli dan kembali menonton. Seru banget ya.

Secara gak langsung sekilas suasana kulinernya mirip dengan tempat kuliner di Pasar Kangen Jogja 2018 ya. Kalau kalian penasaran dengan pasar kangen, cari aja di diary sebelum ini. Atau bisa klik disini.

Pada malam harinya sesuai rundown kuda lumping juga tetap ikut tampil. Tapi memang seperti itu sih, maksudnya di Lakbok sendiri kalau ada hajatan kan suka tuh ada kuda lumpingnya. Biasanya selain siang malamnya juga tetap tampil. Bahkan sampai larut malam.

Ini dia para pemain kuda lumpingnya yang kesurupan. Kalau kalian penasaran coba deh searching di youtube pasti ada kuda lumping. Bagi yang penasaran lho ya..hehe

Di diary ini gak detail tentang siapa juara dari lomba layangan ini. Karena memang aku sendiri belum dapet infonya. Yang jelas kegiatan puncaknya nanti masyarakat disini akan memperlihatkan kreatifitasnya dalam membuat layangan yang akan diterbangkan pada saat malam harinya.

Ada sedikit cuplikan wawancara dengan bapak Camat Kecamatan Lakbok yang ditanya langsung oleh teh Ochi. Penasaran? Klik aja videonya.

Nih yang tadi cari videonya, tonton aja dibawah ini. Aku cantumkan dua vidoe dari youtube. Semoga bermanfaat dan menjadi bahan pengetahuan juga tentang Layang Lakbok 🙂


Acaranya lancar dan sukses. Bahkan dapat apresiasi dari bapak Camat Kecamatan Lakbok, Kabupatén Ciamis untuk Layang Lakbok Festival 2018.

Tidak hanya itu, setelah acara selesai pun para panitia tidak tinggal diam. Tapi membongkar stand-stand hingga bersih-bersih.

Memang harus seperti itu, dalam acara apapun. Setiap selesai harus dibereskan kembali. Terutama masalah kebersihan. Selain kebersihan sebagian dari iman, kebersihan juga salah satu cara untuk jauh dari penyakit.

Segitu dulu ya, tunggu terus updatean diary-diary terbaru di Diary Mahasiswa. Semoga kalian juga puas, meskipun gak bisa hadir secara langsung seperti aku.

Oh, iya gimana tanggapan sahabat Diary Mahasiswa akan Festival Layang Lakbok 2018 ini?

Kasih tahu di kolom komentar ya 🙂

Sumber tulisan, foto dan video :

  • https://www.instagram.com/layanglakbok.fest/
  • https://www.facebook.com/Layang-Lakbok-Festival-2096575933888824/
  • https://twitter.com/layanglakbok
  • https://www.harapanrakyat.com/2018/08/festival-layang-lakbok-ciamis-sedot-ribuan-pengunjung/
  • https://fokusjabar.co.id/2018/04/15/paguyuban-pematang-sawah-launching-festival-layang-lakbok/
  • https://www.youtube.com/watch?v=be8WB8BJI5o
  • https://www.youtube.com/watch?v=QtKW6Q3aChs

147 Responses for Ribuan Pengunjung Padati Festival Layang Lakbok Ciamis 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *