Gowes Sehari Bersama Fijo (Fixie Ijo)

DiaryMahasiswa – Dear diary, hallo SDM (Sahabat Diary Mahasiswa). Hari libur ataupun tidak aku biasanya menyempatkan untuk selalu olahraga yakni dengan bersepeda. Selain hobi membuat badan juga menjadi sehat.

Dulu di tahun 2015 aku lebih sering lagi yang namanya bersepeda, karena selalu ditemani oleh Eni. Sepeda kesayanganku yang dipinjam namun sampai saat ini belum dikembalikan.

Setelah Eni menghilang tentu aku beberapa bulan tak bersepeda. Kangen ? Jelas. Tapi aku percaya dan yakin, suatu saat nanti Allah menggantinya dengan yang lebih baik lagi. Setiap kejadian aku berusaha untuk selalu berfikir positif. Meskipun tidak diganti dengan sepeda lagi, aku yakin masih bisa untuk bersepeda.

Keseharianku selain pinjam sepeda ke Sulis, teman dekat yang biasa gowes bareng. Meskipun tidak sering karena sepedanya dia juga sering gunakan, tapi setidaknya beberapa saat bisa mengobati rasa kangenku mengkayuh pedal.

Di tahun 2016 ini aku malah sering sekali bersepeda. Dengan senang dan penuh syukur karena salah satu sahabat saya mas Ale meminjamkan sepedanya kepadaku. Bahkan disuruh menggunakannya dan merawatnya. Fijo, iya sepeda itu aku beri nama FIJO (fixie ijo).

Mas Ale sendiri memang asli Yogyakarta dan dia mempunyai salah satu usahanya bernama Jeva Tour & Travel. Bagi sahabat yang ingin jalan-jalan keliling Yogyakarta bisa menggunakan jasanya, terutama pergi ke tempat seperti Kali Biru, Gumuk Pasir Parangkusumo, Waduk Sermo, Tebing Breksi dan tempat-tempat lainnya yang tak bisa dilewati angkutan umum seperti bis atau trans Jogja.

Kebetulan aku sendiri sangat suka dengan warna hijau. Awalnya aku tidak suka dengan fixie, tapi setelah kenalan malah jadi ketagihan untuk menggunakannya terus. Ada beberapa pengalaman bersepeda dengan fijo di tahun 2016 ini.

Tidak hanya aku saja yang sering bersepeda, tapi sangat banyak sekali di Yogyakarta. Bahkan banyak komunitas sepedanya. Seperti Jogja gowes, pitnik dan lain sebagainya. Salah satu dari mereka setiap Minggu atau bulannya selalu kopdar bareng dan mengadakan gowes bersama ke salah satu tempat di Yogyakarta.

Selain itu ada juga komunitas BMX yang biasa latihan di stadion Mandala Krida atau di titik 0 KM Yogyakarta setiap sorenya. Hampir setiap harinya selalu ada yang bersepeda. Karena di Yogyakarta sendiri masih sangat sangat nyaman untuk bersepeda.

Selama kehilangan Eni ada beberapa tempat yang aku kunjungi dengan sepeda sahabatku, selain ke Hutan Pinus dan Curug Banyunibo.

Btw, semenjak aku menggunakan fijo ini banyak sekali orang yang lebih memperhatikannya. Ketika dijalan, di warung dan ditempat-tempat ramai yang aku lewati. Sepeda ini juga di dapat bukan dari Indonesia lho, tapi dari Amerika langsung. Menurut temanku beli kurang lebih dengan harga Rp. 4.000.000,- itupun bekas. Terbayang kan berapa harga barunya ?

Selain keren menggunakannya, sepeda ini juga enteng. Meskipun terlihat tanpa rem, tapi ini sepeda torpedo. Bisa di rem dengan menekan pedal sepeda kebelakang. Tapi disaat ngebut tak kuat menekanya, kita sendirilah yang akan terangkat.

Minggu itu aku mengajak Isya. Sahabat kost yang selalu meluangkan waktunya ketika aku membutuhkan pertolongan. Kami mempunyai tujuan bersepeda ke Tugu Yogyakarta, Malioboro dan terakhir alun-alun kidul yang akan kami tuju. Karena tidak direncanakan benar-benar. Hanya saja kami ingin berolahraga dipagi hari.

Suasana pagi di taman parkiran Abu Bakar Ali terlihat masih sepi, karena sehabis shalat Subuh langsung berangkat. Selain jalanan masih sepi, udara juga masih sejuk belum banyak kendaraan yang lewat. Masih fresh seperti dipegunungan πŸ™‚

Sebelum ke Malioboro, kami menuju ke tugu Yogyakarta terlebih dahulu, ingin melihat suasana pagi di tugu. Sebelum sampai, aku banyak menemukan pemandangan gedung-gedung yang membuatku untuk berhenti sejenak.

Setelah itu, melanjutkan perjalanan dan berhenti lagi di jembatan kali code dan memotret indahnya KAMPUNG CODE. Kampung ini terletak di bawah jembatan Gondolayu. Kenapa dinamakan code ? Karena lokasi rumah-rumah yang ada di kampung code berada di bantaran Kali Code.

Sekarang tempat ini terlihat indah dan mengundang banyak perhatian setiap yang melihatnya. Berbeda sekali dengan dulu yang terlihat kumuh seperti tak terurus. Banjir merupakan kekhawatiran terbesar bagi warna yang ada dikampung tersebut.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kampung code sudah memiliki wajah baru. Dan terlihat lebih rapih dan bersih dibanding sebelumnya. Meskipun terlihat sempit tetapi masyarakatnya hidup rukun dan saling berbagi.

pict : www.voxmuda.com

Jalan menuju kampung code ditata rapih mengikuti kontur tanah sehingga terlihat berundak-undah. Wisatawan pun bisa datang untuk sekedar main atau jalan-jalan melihat keindahan kampung code di sepanjang pinggir sungai atau cukup dari atas jembatan.

Setelah cukup puas melihat kampung code, kami melanjutkan perjalanan ke tugu Yogyakarta. Terlihat masih sepi juga. Serasa bebas kalau mau berfoto dekat tugu, biasanya kalau sudah siang, bahkan sampai malam sekalipun, tugu ini tak pernah sepi.

Selalu ada orang yang mau mengabadikan fotonya dekat tugu. Setiap yang pergi ke Yogyakarta rasanya ada yang kurang jika belum berfoto di tugu ini.

Di tugu ini kebetulan ada tempat duduk, kami manfaatkan untuk istirahat sembari melihat kendaraan yang semakin lama makin banyak melintas. Selain beraktifitas, ada juga yang bersepeda, lari dan bahkan mengabadikan foto di tugu.

Setelah cukup lama, kami melanjutkan perjalanan ke Malioboro yang nantinya dilanjutkan ke alun-alun kidul Yogyakarta sembari pulang.

Seperti biasa aku tak lepas dengan topi. Selain hobi menggunakannya, dirumah aku mengkoleksinya ada beberapa puluh. Tak tahu sekarang masih atau tidak. Biasanya kalau ditinggal merantau, kamar dibereskan oleh Ibu. Dan topi entah dimana disimpannya.

Di Malioboro terlihat pemandangan yang berbeda. Banyak orang yang sedang kerja bakti membersihkan sekitaran Malioboro. Dengan baju seragam warna orange.

Setelah kami dekati ternyata semua karyawan kantor pos. Mulai dari ujung hingga titik 0 KM kota Yogyakarta dipenuhi dengan orang-orang yang mengenakan pakaian orange.

Tidak hanya orang dewasa saja, banyak juga para pegawai kantor pos yang masih mudah dan giat membersihkan jalan Malioboro. Memang perlu adanya kerja bakti yang melibatkan banyak orang. Agar cepat selesai dan terlihat bersih. Jika bersih tentu tidak hanya penjual yang senang, pengunjung pun demikian.

Tidak hanya kami yang bersepeda, namun ada juga yang lainnya bahkan menggunakan sepeda yang unik menurutku. Banyak yang berkelompok hingga panjang. Ada juga yang menggunakan sepeda tinggi atau tingkat. Sepeda yang sudah dimodifikasi dengan sedemikian rupa.

Sudah lama aku tak mengabadikan foto dekat papan Jl.Malioboro. Dikesempatan itu, aku juga memanfaatkannya. Itupun harus ngantri dan ketika berfoto beberapa kali saja, sudah ada orang yang menyuruhku pindah, karena dia juga ingin foto.

Daripada ngatri untuk berfoto, kami melanjutkan perjalanan menuju 0 KM Yogyakarta. Disitu kami duduk santai sembari istirahat. Seperti biasa tak lupa juga untuk mengabadikan foto juga di depan istana Yogyakarta yang lebih dikenal dengan nama Gedung Agung.

Letaknya di pusat keramaian kota, tepatnya di ujung selatan Jalan Ahmad Yani yang dulu dikenal dengan Jalan Margomulyo. Dekat sekali tempat istirahatku dekat 0 KM.

Tak terasa aku terus yang difoto, Isya juga ingin eksis gantian. Karena bingung gayanya seperti apa. Akhirnya seperti dibawah ini lah posenya. Dan itupun kebanyakan tidak sengaja, kalau sengaja pose untuk berfoto selalu gagal dan tak bagus hasilnya. Entah kenapa.

Menyempatkan juga bergaya seperti halnya orang yang tidurnya dibawah pohon. Aku juga sengaja untuk mencopot sendalnya agar menyakinkan tidur beneran di bawah pohon.

Aku kenalkan siapa sahabatku yang satu ini. Nama lengkapnya Muhammad Isya. Hobinya minum coklat panas ditambah gula sedikit. Kalau akhir bulan kopi hitam gulanya sesendok teh.

Kalau sahabat butuhΒ  hosting dan domain bisa pesan lewat dia. Cek saja disini : BlogPintar.com Hubungi facebooknya saja ya : Muhammad Isya.

Semakin siang semakin banyak juga orang yang bersepeda. Ramai dan seru tentunya. Terkadang kalau tak ada teman yang mau diajak gowes dengan alasan masih tidur aku selalu berangkat sendiri. Yang penting bisa olahraga dan menikmati segarnya udara dipagi hari.

Kami sengaja tidak melewati jalan raya, karena tak mau ramai macet di lampu merah. Dengan PDnya Isya melewati jalan yang ada pembatas besinya. Alhasil terlihat jatuh, kebetulan aku sedang pegang handphone. Jadi aku abadikan.

Setelah itu pergi ke gembok cinta atau apalah. Yang jelas disitu bentuknya love dan banyak gembok yang bergantungan. Aku sendiri tak begitu memperhatikannya, yang penting mengabadikan foto.hehe..

Karena sudah cukup puas, kami lanjutkan perjalanan menuju alun-alun kidul Yogyakarta. Di alun-alun kami sengaja menuju tengah lapangan dekat pohon beringin.

Disitu juga banyak sekali yang bersepeda. Tidak hanya tua dan muda, anak kecil juga tak mau kalah.

Selain bersepeda, banyak juga yang lari pagi. Terutama yang menggunakan pakaian putih. Mereka semua anggota silat yang sedang lari pagi. Senang melihatnya, kompak dan tentu membuat tubuh sehat.

Tak terasa perut mulai lapar. Kami melanjutkan pulang sembari mampir di Krapyak untuk beli soto. Awalnya kami menuju soto yang tempatnya di tanggung, seperti pada foto dibawah ini.

Selain porsinya lumayan, harganya cuma Rp. 5.000,- lagi. Tapi sayang, pagi itu bukan rezeki kami. Sesampainya disitu, bahkan sudah merapihkan sepeda dan menunggu antrian. Eh, habis.

Kami tetap mencari penggantinya soto. Karena ingin soto pagi itu. Kami puter balik untuk mencari soto yang tempatnya lebih nyaman, sesuai lah dengan harganya karena diatas Rp. 5.000,-

Sudah ramai juga para pembeli soto. Terutama orang yang sudah bersepeda. Ada juga yang bersama keluarga kecilnya makan disitu.

Aku rasa soto yang ini lumayan enak rasanya. Meskipun baru pertama kalinya tapi bumbu dan rasanya sangat cocok di lidahku.

Dan baru tahu juga soto disini penyajian nasinya dipisah dengan sotonya. Biasanya soto-soto yang aku beli selalu digabungkan. Tapi dengan dipsiah seperti ini terlihat lebih banyak lagi. Cukup lah sampai sore bertahan.. hehe

Setelah selesai makan, kami lanjut pulang ke kost. Seperti biasanya menyempatkan ke warung langgananku untuk membeli es batu. Selama di kost jarang aku membeli minuman es yang langsung jadi. Seringnya beli es batu dan buat minuman sendiri. Selain puas, murah dan bisa buat orang banyak.

Di kost karena libur. Aku tetap manfaatin waktu untuk ngeblog, blogwalking, baca dan nulis. Iya nulis ini πŸ™‚ Kalau sempat aku gunakan untuk tidur siang. Tapi sorenya karena suntuk aku lanjutkan bersepeda ke Pasar Seni Gabusan.

Biasanya aku hanya berfoto di depannya saja, tapi sore itu kami penasaran dalamnya seperti apa. Kami pun masuk untuk melihat-lihat banyak kerajinan yang ada di pasar seni gabusan tersebut. Sahabat bisa lihat foto-fotonya dibawah ini.

Tempat ini memang tertutup atau diselimuti dengan benteng yang banyak sekali gambarnya. Tentunya gambar yang unik, keren dan tidak membosankan.

Sebenarnya semua kerajinan yang ada di pasar seni gabusan ini dijual. Setiap patung atau kerajinannya disini ada harganya masing-masing dengan tertera harganya dengan ditempel.

Jika para pengunjung ingin membeli bisa menghubungi no handphone yang tertera seperti pada foto dibawah ini.

Di pasar seni gabusan ini kami sangat senang dan asik melihat bagusnya kerajinan yang ada di pasar seni gabusan hingga lupa waktu. Sampai-sampai disuruh pulang oleh petugasnya karena sudah mau tutup.

Malam harinya kebetulan hujan dan mati lampu juga di kost. Aku paling kesel kalau sudah mati lampu. Karena sering sekali giliran dan itu lama sekali. Terkadang handphone dalam keadaan lapar. Begitu juga pemiliknya. Sampai pukul 23.00 belum nyala juga. Aku megnajak Isya untuk keluar bersepeda ke alun-alun utaara dan selatan Yogyakarta.

Selain bisa menghilangkan suntuk, menghilangkan bosan juga karena di kost lampunya belum nyala. Sepanjang perjalanan lampu-lampu di rumah warga yang lainnya nyala semua. Hanya di kostku yang masuk daerah Bantul perbatasan.

Meskipun habis hujan, tapi tak menghalangi para pencari rezeki di alun-alun kidul tetap buka. Mulai dari makanan hingga mobil-mobilan yang di gowes.

Foto dibawah ini berada di alun-alun utara kota Yogyakarta. Terlihat sepi karena memang kami foto itu kurang lebih pukul 01.00 pagi.

Itulah kegiatanku selama seharian bersama fijo. Tentu sahabat juga memiliki pengalaman dengan sepednya masing-masing ya. πŸ™‚

Silahkan berikan komentar sahabat tentang fijo ya πŸ™‚

92 Responses for Gowes Sehari Bersama Fijo (Fixie Ijo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *