Semarak Kemerdekaan, Upacara dan Perlombaan

DiaryMahasiswa.com | Rabu ini merupakan tanggal 17 Agustus 2016. Tanggal dimana merdeka untuk bangsa Indonesia. Aku sendiri senang karena masih bisa melihat dan ikut serta dalam HUT RI ke-71. Biasanya aku mengikuti upacara di lapangan Sukanagara. Desa tempat kelahiranku. Namun kali ini aku ikut serta di lapang Cintajaya, Nambo. Selain ikut memeriahkan, aku juga ingin melihat teman-teman PRAMUKA SMA Negeri 1 Lakbok mengibarkan bendera. Karena aku sendiri alumni dari sekolah itu dan 5 tahun yang lalu aku pernah ikut mengibarkan bendera di lapang Cintajaya.

Karena motor dipake Ibu untuk ke lapang Sukanagara. Aku dijemput oleh teman satu angkatan, satu organisasi dalam PRAMUKA juga. Dia adalah Sodikin, aku biasa memanggilnya Soidik. Dia Judat PA di PRAMUKA dulu. Meskipun dia belum pernah ke rumahku. Aku sengaja memberinya ancer-ancer dari lapang Sukanagara agar mudah ke. Setelah dikasih tahu nama-nama tempat ataupun sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumahku. Tujuannya agar Sodik lebih mudah menemukan rumahku. Tapi hal itu sama saja, membuat dia bingung dan harus bertanya ke orang setempat untuk menemukan rumahku.

Kurang lebih pukul 08.00 barulah dia sampai di rumahku. Itupun sempat nyasar yang membuat motor bersihnya berlumuran tanah karena habis hujan malamnya. Tanpa basa basi, aku yang sudah siap, langsung berangkat menuju lapang Cintajaya. Sebelum ke lapang, kami berhenti ke tempat dimana para pengibar bendera berkumpul.

Sejak aku jadi penegibar dulu, tempat ini selalu menjadi tempat persiapan untu para pengibar. Sebelum ke lapang, mereka semua dicek mulai dari perlengkapan yang mereka kenakan. Baris terlebih dahulu dan mengecek kesehatan, karena kesehatan yang utama. Jangan sampai belum sarapan terlebih dahulu. Karena cuaca dilapang panas, jadi jangan sampai kalau ada salah seorang pengibar sakit.

Setelah semuanya siap, mereka berangkat menuju lapang. Lapangan Cintajaya ini memang tidak dipinggir jalan seperti lapangan pada umumnya. Meskipun demikian, siapa sih yang tidak tahu lapang Cintajaya ? Orang yang bukan orang situ juga banyak yang tahu. Selain para pengibar, masyarakat setempat juga mulai banyak yang berangkat ke lapangan dengan mengenakan berbagai kostum.

Ada yang menggunakan kostum boneka, petani dan masih banyak lagi yang lainnya. Para pengibar sudah bersiap-siap di dekat lapang. Sembari menunggu jalannya upacara, bisa melihat masyarakat yang berbondong-bondong ke lapangan, diiringi juga dengan drumband. Bahkan sekumpulan remaja Cintajaya pun ikut meramaikan. Lingga dan kawan-kawannya menggunakan kostum balap motor. Namun motor yang mereka kenakan bukan motor seperti pada umumnya, alias mengguanakn motor kecil. Malahan ada juga yang mengggunakan sepeda gowes.

Saat tiba waktunya, para pengibar bersiap-siap untuk mengibarkan bendera merah putih. Setelah selesai mengibarkan, bubar barisan hingga kembali ke tempat. Alhamdulilah para pengibar bendera dari PRAMUKA SMA Negeri 1 Lakbok sukses. Tidak hanya itu mereka juga dibantu oleh para siswa dan siswi SMP Negeri 2 Lakbok sebagai pasukan 45.

Meskipun aku tidak ikut upacara di lapang Sukanagara. Tapi ada Ibu yang mendokumentasikannya. Di lapang Sukanagara ini terlihat lebih besar lapangnya. Selain di sekeliling Masjid dan sekolah, kebetulan di hari kemerdekaan ini lapang Sukanagara sedang ada pasar malam. Dimana lokasinya sedikit terpenuhi. Meski hanya di belakang gawang saja, selebihnya di dekat balai desa.

Tahun-tahun sebelumnya full semua lapang penuh dengan pasar malam, kalaupun tidak paling setengah lapangnya. Karena dibulan ini mau digunakan jadi tidak banyak lahan lapang yang terpakai. Karena selain untuk upacara agustusan, digunakan juga untuk perlombaan setelah upacara selesai. Terlebih lagi untuk sepak bola antar RW ditanggal 18 Agustus.

Para pengibar bendera di lapang Sukanagara ini terdiri dari berbagai siswa dan siswi dari berbagai sekolah. Mulai dari SMP hingga SMA. Biasanya para peserta upacara baik itu anak sekolah ataupun masyarakat akan melihat jelas muka-muka para pengibar bendera. Kadang ada yang sampai terlihat polangnya atau hitam di bagian muka karena terkena panas disaat latihan. Tapi beberapa hari mendekati hari H di Sukanagara sendiri cuacanya mendung bahkan sampai hujan besar.
Selain terpukau dengan penampilan paskibranya, banyak juga masyarakat yang datang dari berbagai desa dengan  berbagai kostum unik. Seperti foto dibawah ini, masyarakat desa Kalapasawit membawa wayang yang ukurannya lumayan besar, dua kali lipatnya manusia dewasa.
Ada juga yang membawa patung buaya di atas mobil bak. Mungkin ceritanya seperti dalam hutan karena ada orang yang mengenakan topeng lutung diatasnya.
Biasanya bagi masyarakat yang mempunyai usaha selalu menamilkan yang beda juga. Remaja yang menggunakan motor roda tiga dibawah ini kebetulan mempunyai toko seperti jual Al-Qua’an atau lebih lengkapnya jual peralatan ibadan, salah satunya Qur’an. Bagi yang mempunyai mobil sendiri tak kalah keren juga. Mobilnya pun penuh dengan hiasan berwarna merah putih.
Tidak hanya remaja saja yang harus ikut memeriahkan acara kemerdekaan ini. Orang yang sudah punya cucu juga bisa meluangkan waktunya untuk ikut memeriahkan. Seperti halnya dua foto dibawah ini, ada dua orang nenek yang satu mengenakan pakaian hansip dan yang satu lagi menggunakan pakaian SMP.
Sedangkan foto disebelah kanan yang mengenakan pakaian seperti Ustadz itu perempuan semua. Hanya saja mereka berpenampilan semenarik mungkin.
    
Jika kalian pernah main ke Sukanagara pasti tahu gapura “WALUYA” dibawah ini. Miniatur gapura dibawah ini merupakan pintu gerbang masuk ke daerah konyam. Menurutku memang mirip dengan aslinya. Entah dari kayu atau gabus membuatnya. Tapi bagus kan ?
.
.

Tidak hanya mobil saja yang bisa dihias sedemikian rupa. Motor juga bisa. Contohnya seperti foto dibawah ini. Selain unik, orang-orangnya juga kreatif. Pokoknya dihari kemerdekaan itu banyak kejutan yang aneh-aneh.

Sedangkan foto dibawah ini seorang laki-laki mengenakan kuda. Ada yang tahu seperti siapa ? Ya, Jenderah Soedirman. Sekilas memang seperti kudah sungguhan, tapi coba perhatikan lebih detailnya, ada rodanya. hehe. 

<<>><<>>o0o<<>><<>>

Setelah selesai, aku dan Sodik berkumpul dengan para pengibar. Ada juga pa Sutarno, selaku pembina PRAMUKA SMA Negeri 1 Lakbok. Setelah semuanya selesai, kemudian dibagi makan dan pulang. Sedangkan para senior seperti Bantara dan Laksana masih tetap kumpul rapat bersama pembina. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setelah pengibaran pasti ada liburan. Tak jauh berbeda liburannya ke pantai Pangandaran.

Aku dan Sodik tidak langsung pulang. Kami melihat salah satu perlombaan didaerah Baregber, tepatnya di aliran sungan atau irigasi. Selain puacang, ada juga perlombaan saling pukul memukul menggunakan bantal.

Perlombaan panjat pinang juga tak ketinggalan dihari kemerdekaan ini. Salah satunya di desa Baregbeg ini, yang mengadakan lomba panjat pinang di atas air. Perlu kalian ketahui, pohon pinang yang terbuat dari batang pisang itu tidak menancap ke tanah lho. Itu tergantung diatas. Sudah terbayang kan licinnya seperti apa ?
Selain perlombaan panjat pinang. Ada juga perlombaan lainnya. Seperti pada foto diatas dan dibawah. Mereka duduk berhadap-hadapan saling memegang bantal guling. Mereke duduk di satu bilah bambu di atas air. Peserta yang terpukul dan jatuh, itu dianggap kalah.

Karena panas, kami tidak lama di tempat perlombaan tersebut. Karena mau main ke rumah Ari. Sahabat seperjuanganku sedari SMA. Namun sejak lulus sekolah, hingga 3 tahun ini belum pernah bertemu. Setiap lebaran, aku pulang dia tidak. Begitu juga sebaliknya. Setelah sampai dirumahnya, Ari tidak ada. Setelah ditelfon oleh kakaknya, barulah dia pulang. Dan Alhamdulilah bertemu juga. Senang rasanya bisa bertemu kembali setelah sekian lama tak bertemu.

Baru sebentar dirumah Ari, Sodik disuruh pulang oleh Ibunya. Karena tidak mau merepotkan dia, akhirnya Sodik tetap pulang duluan. Sedangkan aku masih tetap dirumah Ari. Setelah Ashar aku diajak untu melilhat perlombaan pucang di desa Kalapasawit. Sesampainya disana salah satu orang yang ikut pucang sudah ada diatas. Kami telat melihatnya, jadi tidak tahu awal perjuangannya. Tapi tak apalah, yang penting bisa melihat dan ada yang berhasil naik ke atas puncak.

Sedikit berbeda dengan pucang yang ada di Baregbeg tadi. Di desa Kalapasawit diadakan diatas tanah tapi berlumpur, dan diadakan disamping jalan raya. Jadi setiap orang yang lewat jalan itu akan melihat serunya panjat pinang. Banyak juga yang mendadak berhenti karena ingin melihat. Begitu juga aku dan Ari yang melihat dari dekat. Meskipun telat datang..hee

Setelah ada yang berhasil naik ke atas dan menghabiskan hadiahnya semua. Terakhir bendera yang tertanam diatas pohon pinang dicabut kemudian dikibarkan tanda berhasil. Salah satu penonton ada yang antusias, dan memberikan tambahan hadiah Rp. 70.000,- Kami melihat perlombaan tersebut sampai selesai.

Setelah itu kami pergi ke lapang Kalapasawit untuk melihat perlombaan lagi. Disepanjang jalan begitu indah hiasan air yang dibungkus plastik menyala terkena sorotan matahari.

Di lapang tersebut ada lomba tarik tambang, namun sudah selesai. Yang masih berlanjut yakni lomba voli. Perlombaan ini diikuti oleh kaum hawa, sedangkan laki-lakinya duduk menonton sembari memberikan semangat.

Karena musim hujan, wajar saja lapangnya bacek. Tapi jangan salah, lapang kalapasawit ini pernah jadi tempat turnamen sepakbola dan ditutup rapat tidak bisa lihat kecuali yang membeli tiket. Sedikit bandelnya dulu aku pernah tidak membayar dan menerobos ke bawan tenda yang tak terlihat oleh panitia. Tapi sudahlah, itukan dulu..hehe..

Setelah itu kami bingung mau lihat lomba dimana lagi. Ari mengajak aku pergi ke Langen. Sembari ngabuburit aku pun mengiyakannya. Di tengah perjalnan banyak juga yang memasang bungkusan air berwarna warni, bahkan hampir sepanjang jalan.
 

Di daerah Tambakerja, dimana daerah itu dilewati kami ketika menuju Langen sari. Karena di daerah itu ramai, kami pun mampir untuk melihat perlombaannya. Di dekat perlombaan ada patung yang berbentuk meriam dan orang yang sedang mengendarai motor. Awalnya kami menganggap itu orang betulan. Ternyata patung yang mengenakan pakaian manusia pada umumnya.

 
Jika diperhatikan meriam diatas seperti sungguhan, namun itu hanya gerobak yang didesain seperti meriam. Diatasnya pun terbuat dari galon aqua. Tapi ini sungguh keren. Sedangkan patung laki-laki dan perempuan dibawah ini seperti mengendarai motor sungguhan.

Di perlombaan tersebut, terlihat sekilas banyak perempuannya dibandingkan dengan laki-laki. Setelah kami hampiri ternyata memang benar, sedang ada perlombaan yang diikuti oleh perempuan.

Lomba joget dengan mengampit jeruk di kepalanya. Peserta yang jogetnya heboh dan jeruknya tidak jatuh itulah pemenangnya. Biasanya tidak menggunakan jeruk, tapi balon. Mungkin balon sudah biasa jadi menggunakan jeruk saja. Setelah selesai bisa langsung dimakan.

Ada yang kasihan melihatnya, jeruknya sampai ke hitung, mata dan mereka semua menahan agar tidak tertawa. Karena tidak kompak sedikit saja, jeruk itu akan jatuh. Sedangkan masyarakat di sekeliling mereka tertawa terbahak-bahak. Begitupun aku dan Ari, karena memang lucu dan seru.

Setiap berapa menit sekali lagu akan dihentikan, dan posisi mereka harus diam seketika, bagaimanapun caranya. Ada yang posisi jeruknya dimata, bahkan ada juga yang sampai jatuh alias gugur dalam perlombaan.

 

Ibu satu ini yang megnenakan pakaian pink garis-garis sejak awal jogetnya tidak karuan. Dalam artian lebih heboh dibanginkan dengan peserta lain. Namun yang membuat salut, jeruk yang ada di jidatnya tidak jatuh sampai mereke masuk dalam 3 final.

Semakin kesini, setelah masuk 3 final. Ibu yang menggunakan pakaian pink jogenya makin heboh dan menggila. Coba lihat saja ekspresinya. Sedangkan ibu yang sebelah kiri, meskipun slow jogetnya, mereka bisa sampai 3 final juga. Menurut kalian siapa pemenangnya ?

 

Karena hari semakin sore, kami memutuskan untuk pergi ke Langen langsung. Ternyata di Langen sedang berlangsung penurunan bendera. Sembari duduk, kami melihatnya. 
.

Setelah selesai kami pun berbegas pulang kerumah. Itulah cerita dihari kemerdekaan. Silahkan teman-teman berikan komentar dan ceritakan juga boleh bagaimana keseruan di tanggal 17 Agustus ini.

39 Responses for Semarak Kemerdekaan, Upacara dan Perlombaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *