Qur’ban, Sate & Tongseng Jadi Menu Andalan Anak Kost


DiaryMahasiswa.com | Idul Adha kali ini aku belum bisa di rumah. Lagi-lagi masih di perantauan. Tapi justru di perantauan lah kami bisa merasakan kebersamaan untuk mengolah daging qur’ban. Entah itu di sate ataupun di bikin tongseng, semua prosesnya secara bersama-sama.

Senin pagi aku, Endro, Mukhlas, dan Mugni pergi ke lapangan untuk sholat Idul Adha. Dari kost, kami hanya beberapa orang saja,  berbeda dari tahun sebelumnya. Karena di tahun ini, Idul Adha masih ada dihari libur kuliah. Jadi wajar saja, sebagian teman-teman belum datang semua ke Yogyakarta. Sengaja aku menyiapkan sajadah untuk sholatnya. Di tahun-tahun sebelumnya aku tidak membawa karena pikirku sudah di sediakan sadajah.

Memang sudah di sediakan, namun tidak semuanya kebagian. Karena banyaknya warga yang sholat di lapangan. Terlebih lagi anak-anak kost sekitar yang banyak juga sholat di tempat tersebut. Sudah dua kali aku merasakan sholat dengan beralaskan koran di jalan aspal. Maka dari itu, di tahun ini aku tidak mau seperti itu lagi.

Tidak jadi masalah sajadah kotor, toh bisa juga dicuci. Suasana sholat sangat ramai sekali. Waktu dimulainya pun rata-rata di Yogyakarta pukul 06.30, bahkan masih ada juga yang baru berangkat. Sedangkan di tempatku biasanya pukul 05.30 atau pukul 06.00 sudah siap-siap untuk berangakt ke Masjid.

Sepulang dari shola, entah kenapa naluri narsis Endro muncul. Biasanya setiap aku dan Endro gowes ada kalanya semangat untuk foto ada juga tidak sama sekali. Tapi kali ini Endro ingin sekali foto, mau tidak mau aku fotokan.

Gayanya seperti model saja. Selain gaya seperti itu ada juga gaya-gaya yang lainna. Mulai dari menghadap ke belakang, ke depan, samping hingga foto seperti layaknya foto KTP juga ada. Entah kenapa naluri narsisku juga muncul setelah beberapa kali melihat endro narsis. Waktu itu aku langsung masuk kamar, pake jaket lagi, pake peci dan foto. Padahal tadinya kurang semangat untuk foto tapi karena ketularan Endro jadilah ikut.

Memang foto atau dokumentasi aku rasa penting. Selain bisa melihat momen atau pakaian yang aku gunakan ini. Suatu saat jika kangen dengan suasana Idul Adha bisa melihat fotonya kembali. Malahan aku sendiri megnajak Endro pergi ke lanti 3 hanya sekedar untuk foto. Awalnya aku kira bagus, tapi karena ada sinar matahari jadi tak begitu jelas.
Diatas terlihat berantakan, karena sebelumnya belum dibereskan. Sedangkan satu hari sebelum hari H Idul Adha baru dilantai satu saja yang dibereskan. Tapi meskipun seperti itu aku tetap mendokumentasikannya. Backgroundnnya masjid Al Munir. Dimana setiap sholat kami ke masjid tersebut. Dekat sekali jaraknya, hanya dibelakang kost.
Sebenarnya foto diatas tidak seberapa, tapi kalau dikumpulkan kurang lebih 50-an foto. Bisa dilihat seperti foto dibawah ini. Banyak gaya yang menurutku sama, hanya saja senyumannya yang berbeda. 
Tapi itu juga belum seberapa dibandingkan kalau kami main ke tempat yang asri, indah dan belum pernah di kunjungi sebelumnya, gunung juga demikian. Terakhir gowes ke pantai Ngunggah kami mengumpulkan 300 foto lebih. Pernah juga ke curug Cimandaway aku sampai habis 5GB. Tapi itu sudah lengkap, mulai dari foto dan video.
Setelah selesai kami istirahat sembari menunggu giliran dipanggil untuk mendapatkan dading Qur’ban. Karena setiap tahun kami selalu mendapatkan jatah. Kebetulan kami tidak ikut melihat proses penyembelihan. Kami hanya menunggu sampai jadi. Pukul 14.00 barulah pengumuman untuk mengambil daging di umumkan.
Setelah Mukhlas mengambilnya kami mulai untuk mengolahnya setelah sholat Ashar. Kami hanya 7 orang. Meskipun sedikit kami tetap mengolahnya menjadi makanan yang lezat ala anak kost. Dengan 7 orang itu kami bagi tugas dengan rata. Ada yang membersihkan dagingnya, motong daging kemudian ditusuk. Karena kami semua membuat sate dan rencana ingin membuat tongseng juga. Aku sendiri kebagian membeli bumbu untuk sate dan tongseng ke pasar.
Aku sengaja berangkat ke warung yang dekat terlebih dahulu. Sesampainya disana aku sampai kesusahan palkir motornya. Saking penuhnya, setelah masuk aku melihat banyak sekali orang membeli tusuk sate, arang, alat untuk memanggang sate. Intinya peralatan untuk nyate semua.
Benar-benar menguntungkan kalau orang yang bisa memanfaatkan momen Idul Adha ini dengan menjual peralatan yang ada kaitannya dengan daging. Aku sendiri tidak terlalu banyak yang akan dibeli. Berikut catatannya;

Diwarung aku hanya mendapatkan bawang merah, bawang putih, tomat dan kecap. Jadi aku harus mencari jeruk nipis dan cabe rawit serta bumbu tongsengnya. Awalnya bingung, tapi aku teringat untuk pergi ke pasar Gading yang biasa jadi langganan saat hari-hari biasa masak di kost. Sesampainya disana penuh juga. Memang di momen Idul Fitri seperti ini harus sabar dan antri ketika pergi ke pasar.

Di pasar Gading ini ada dua lantai, di lantai satunya saja sudah terlihat penuh dan aku hanya mendapatkan jeruk nipis saja. Sedangkan cabe rawit dan bumbu tongsengnya ada di lantai dua. Ingin rasanya aku cepat-cepat pulang setelah mendapatkan apa yang akan aku beli. Tapi terlihat dari kejauhan ramai sekali orang yang mengantri di lantai dua.

Di lantai dua bukan main ramainya, melebihi di lantai satu. Setiap sudut toko ini penuh sekali dengan orang yang membeli bumbu-bumbu dapur untuk masak. Mulai dari bumbu tongseng, rendang, gulai dan tusuk sate sekalipun tak ketinggalan. Dan kebanyakan ibu-ibu, aku sampai capek sekali berdiri. Mungkin ada setengah jam lebih aku mengantri, awalnya aku berdiri dari kejauhan sembari melihat-lihat cabe rawit dan bumbu tongseng, tapi tak kelihatan karena penuh dengan orang. Mau mendekat belum bisa. Masih ramai orang-orang yang ngantri.

Jujur saja, aku sebenarnya sedikit malu karena banyak sekali perempuannya. Aku merasa tidak PD untuk belanja. Setelah satu per satu keluar dari pasar. Aku langsung menyerobot tempat yang waktu itu ada bapak-bapak yang sedang antri juga. Namun disitu masih lama antrinya.
Setelah bapak penjual dibantu oleh anaknya, sedikit cepat terbantu para pelanggannya. Kebanyakan ibu-ibu yang belanja mengeluarkan uang lebih dari 100 ribu untuk belanja. Tapi wajar menurutku, kalau di rumah aku melihat ibuku juga belanja sampai banyak. Meskipun pada waktu itu belum diperlukan, tapi ibu sudah mempersiapkannya untuk esok harinya.

Lega rasanya setelah aku mendapatkan apa yang aku beli. Sesampainya di kost teman-temanku banyak yang bertanya sembari menyindir.“Pasarnya pindah ya ?”, Mungkin mereka heran karena aku belanja sampai lama sekali. Setelah aku jelaskan mereka baru paham. Padahal tak begitu banyak yang aku beli, tapi habis antriannya membuatku capek.

Dibawah ini total semua bahan-bahan atau bumbu yang aku beli di warung dan pasar Gading;

Bahan Yang Dibeli
Harga
Bawang Merah
Rp. 2.500,-
Bawang Putih
Rp. 2.500,-
Cabe Rawit
Rp. 2.000,-
Jeruk Nipis 2
Rp. 2.000,
Tomat 2
Rp. 1.000,-
Bumbu Tongseng 2
Rp. 6.000,-
Kecap 2
Rp. 6.000,-
Jumlah
Rp. 22.000,-

Ketika sampai kost, teman-teman belum selesai. Mereka masih membakar satenya secara bergantian. Terlihat ramai, tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Satu tahun yang lalu kami lebih seru lagi, memasak nasinya saja sampai 3 magicom, itupun masih kurang. Namun kali ini kami memasak nasi 2 magicom dan yang satunya magicom besar.

Selain membakar sate, ada juga yang mempersiapkan piring, dan ada juga yang membuat sambalnya. Cabe rawit yang aku beli dua ribu semuanya di sambal. Belum juga mencicipi aku sudah mengira sambalnya akan pedas. Dari baunya saja sudah terlihat.

Waktu itu kebetulan ada dua orang yang datang ke kost, mereka semua teman Mugni yang kamarnya di lantai dua. Sekalian kami ajak untuk nyate. Selain tambah orangnya, jadi ramai juga suasana kebersamaannya.
Kami sengaja menggunakan kipas, agar tidak capek mengipasinya. Bagaimanapun caranya anak kost harus kreatif. Alat untuk memanggang satenya pun kami tidak beli ataupun punya. Kami membuatnya dengan sederhana dari batu bata. Ketika aku ke warung tadi banyak sekali orang-orang yang membelinya.
Untuk tusuk sate dan arengnya, Alhamdulilah kami masih punya sisa nyate tahun kemarin. Karena isinya banyak jadi kami simpan untuk keperluan nyate lagi. Begitu juga dengan arengnya, mungkin setelah nyate kami berfikir untuk tidak mengguankannya lagi lalu dibuang. Kami tidak begitu, tidak penting sekalipun di waktu itu, suatu saat pasti akan perlu dan digunakan.
Inilah sambel yang kami buat, selain kacangnya yang menggoda, cabenya juga terlihat merah dan akan terasa pedas. Tak lupa juga untuk mengecek magicom apakah sudah mateng atau belum nasinya. Nasi yang aku masak di magicom yang disimpan di kamar sudah hampir matang sebentar lagi.

Sedangakn di magicom yang satu lagi yang disimpan diluar ketika dilihat masih belum matang sama sekali. Ternyata tombol ONnya belum di pencet. Waktu itu juga kami bersorak kepada salah satu teman yang menanak nasi dengan magicom itu.

Mungkin lupa, pernah juga aku dan Endro mengalami hal seperti itu. Tapi dari situlah aku belajar. Setiap menanak nasi dengan magicom harus ingat ada satu tombol yang harus di pencet agar nasinya matang. Setelah itu, barulah dinyalakan dan menunggu lama lagi untuk matangnya nasi. Kebetulan satenya sudah matang semua. 
Tak lama suara adzan Maghrib sudah berkumandang. Jadi sate kami simpan terlebih dahulu kamudian kami semua melaksanakan sholat.

Cukup banyak jadinya sate yang kami bakar. Padahal di ember masih ada banyak daging sapi yang belum di olah. Tadinya mau sekalian dibuat tongseng, tapi takutnya tidak kemakan dan nantinya akan mubajir. Jadi kami simpan terlebih dahulu.
Terlihat sedikit gosong sebagian satenya, tapi percayalah jika dimakan bersama-sama pasti akan tetap terasa nikmat. Karena dengan kebersamaan makanan sedikit pun jadi cukup.
Setelah selesai sholat Maghrib kami masih menunggu lama nasinya. Tapi kami gunakan untuk istirahat terlebih dahulu sembari menunggu sholat Isya. Setelah itu, barulah melihat nasi. Setelah Endro cek ternyata sudah matang.
Dia langsung berteriak, “Ayo, makan-makan, waktunya makan”. Dengan begitu kami semua berkumpul dan bersiap makan. Karena piring yang kami punya ada yang pecah dan hilang entah kemana. Aku membeli kertas nasi ke warung untuk pengganti piring.
Tapi teman-teman memilih untuk di gelar secara bersama. Jadi makannya seperti anak santri. Jika kalian anak santri atau pernah nyantri pasti tahu dan pernah mengalaminya.

Bermula dari magicom yang kecil, kemudian di tumpahkan nasinya semua untuk ditaburkan diatas kertas nasi. Sedikit susah karena panas. Kemudian kami simpan juga sate dan jangan lupa lumuri dengan bumbunya.

Awalnya kami kira tidak pedas, sekali dua kali kami makan tetap nikmat tapi setelah beberapa kali, Umar kepedasan. Dan tak kuat sehingga meminta minum dengan muka sedikit merah. Memang aku akui sambalnya pedas. Bagi yang suka pedas mungkin tidak masalah. Tapi dari kami semua hampir merasakan pedasnya sambal.

Meskipun terasa pedas, tapi kami semua berhasil menghabiskannya. Malahan kami kekurangan nasi, sehingga menambah dari magicom yang satu lagi. Nasi yang baru di tambahkan, masih panas. Tak kebayang kan, sudah panas, pedas. Beuh, apalagi kalau minumnya air panas, pasti akan terasa bergetar tuh bibir.

Tak lupa juga setelah selesai kami membereskan bekas makannya. Mencuci piring, gelas dan yang lainnya. Sengaja kami langsung membersihkannya, tidak disimpan ditumpukan cucian piring. Karena kalau tidak langsung dicuci nantinya akan terasa malas dan ketika ingin menggunakannya lagi kita tentu akan males karena harus membersihkannya terlebih dahulu.

Keesokan harinya barulah kami memasak tongsengnya, karena sudah membeli bumbunya jadi akan terasa mubajir kalau tida dimasak. Tapi yang masak tongseng kali ini tidak banyak, mungkin tidak semuanya suka. Dan cara masaknya juga lebih cepat, karena tidak membutuhkan waktu seperti halnya nyate. Harus menusuk daging terlebih dahulu, mengipas dan yang lainnya.
Karena waktu itu masaknya sore, setelah Maghrib barulah tongseng ala anak kost selesai dan siap disantap untuk makan bersama. Seperti inilah penampakan tongseng dan nasi yang aku makan.

Backgorund nasi dan tongseng di atas bukanlah editan, tapi itu tulisan di dinding kamar kostku. Selamat Hari Raya Idul Adha πŸ™‚

52 Responses for Qur’ban, Sate & Tongseng Jadi Menu Andalan Anak Kost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *