Wisuda yang Tak Pernah Terlupakan, Hendro Yuwono

DiaryMahasiswa.com | Disini aku akan menceritakan bagaimana perjuangan sahabatku Endro untuk bisa memakai toga yang kedua kalinya. Setelah dulu pernah memakai toga ketika berhasil menyelesaikan D1. Tidak hanya sahabat satu kost, namun lebih dari itu. Sahabat gowes, masak, jalan-jalan hingga ngopi.

Akhir tahun 2013 aku memutuskan untuk pergi merantau ke kota Yogyakarta. Meskipun tak ada satupun saudara di Yogyakarta tapi aku percaya disana akan mendapatkan saudara bahkan keluarga yang sama-sama anak rantau. Belum juga sampai Yogyakarta, aku sudah dikenalkan dengan salah satu teman kuliah guruku di SMA. Selain kerja beliau juga seorang dosen di kampus STMIK El Rahma Yogyakarta.

Meskipun belum kenal, beliau sudah membuatku berhutang budi. Sampai-sampai bolos kerja demi mencarikan kost untuku. Agar ketika sampai di Yogyakarta sudah ada tempat tinggal. Beliau mencarikannya mulai dari harga yang murah Rp. 150.000,- per bulan hingga sampai yang harganya Rp. 250.000,- per bulannya.

Sengaja aku memilih yang murah yakni di kost Reges dengan biaya perbulannya Rp. 150.000,-, betah tidaknya urusan nanti. Sesampainya di kost aku bertemu dengan mahasiswa yang tinggal disitu, dia bernama Hendro Yuwono. Namun aku lebih akrab memanggil Endro.

Sejak tahun 2013 hingga sekarang aku masih setia tinggal di kost reges. Bahkan kamar yang menurutku kurang rapih aku rombak hingga bisa nyaman menurut versiku.

Bisa dibaca : Menata Ulang Kembali Kamar Kost

Bukan karena betah saja, teman-teman di kost juga nyaman, aku merasa seperti keluarga. Setiap membutuhkan, mereka selalu ada, begitupun sebaliknya. Pertama kalinya aku mengenal Endro, dia dalam keadaan rambut yang sedikit panjang. Ibuku saja mengenalnya karena gondrongnya itu. Setelah kenalan dan ngobrol-ngobrol, dia sedang menempuh jurusan Teknik Informatika. Waktu itu dia sedang kuliah di semester 8.

Selain kuliah, dia juga bekerja. Berbagai kerjaan sudah digeluti sembari kuliah. Saat itu, dia sedang kerja di warnet, yang jaraknya lumayan jauh dari kost. Setiap hari menggunakan sepeda BMX untuk kerja. Khawatir melihatnya ketika hujan kehujanan dan ketika panas kepanasan. Tapi demi untuk kehidupan sehari-hari dan kuliah dia lakukan.

Di tahun 2013 kebetulan adeknya lulus dari SMA dan melanjutkan kuliah disalah satu universitas swasta di Yogyakarta. Jaraknya dari kost tidak begitu jauh. Endro sendiri ingin kehidupan adeknya lebih baik darinya, sehingga dia memutuskan sepeda yang biasa digunakan untuk kerja diberikan kepada adeknya.

Dia memilih untuk naik kendaraan umum, yakni busway. Tiap pagi dia harus jalan ke halte busway yang jaraknya lumayan jauh. Terkadang jika sudah siang minta diantar temannya sampai ke halte. Meskipun begitu, dia tetap semangat. Bagaimana caranya harus tetap bisa kerja dan kuliah hingga lulus.

Di warnet sendiri gajihnya memang tidak seberapa. Untuk sekarang teman-temanku yang kerja di warnet bayarannya per jam Rp. 3.000,- Untuk sebulan bisa sahabat hitung berapa dapatnya. Itupun kalau full sebulan. Yang namanya mahasiswa tentu tidak full, karena punya tanggung jawab yang lainnya.

Karena gajih di warnet Endro rasa kurang. Sehingga dia nyambi kerja diberbagai kerjaaan, diantaranya menjadi freelance wedding organizer, menjaditeknisi komputer dan jaringan disalah satu pengadaan kompuer di Yogyakarta, dan yang lainnya. Dibawah ini ada salah satu foto ketika Endro sedang bekerja menjadi freelance wedding organizer yang sengaja aku ambil dari facebooknya. 

Sahabat bisa bayangkan, bagaimana Endro harus pintar membagi waktunya untuk kerja di berbagai tempat dan malamnya harus fokus kuliah. Untungnya kuliahnya sudah tidak full seperti di awal semester. Tapi karena nilai yang dia dapatkan banyak yang tidak memuaskan, sehingga harus diulang. Meskipun sudah mengulang, ada beberapa mata kuliah yang nilainya tidak sesuai yang diharapkan. Sehingga dia harus mengulangnya kembali.

Ada mata kuliah yang sampai diulang 3 bahkan 5 kali. Terkadang capek dan hampir putus asa dengan kuliahnya. Pernah menceritakan semuanya kepada kakaknya. Endro dikasih nasihat yang bisa membangkitkan semangatnya, yaitu :

“Milikilah sedikit rasa TANGGUNG JAWAB
terhadap apa yang telah kau pilih sebelumnya”

Setelah direnungkan, semangatnya kembali lagi. Dia percaya rencana-Nya pasti yang terbaik. Teman-teman diwarnetnya juga sangat baik padanya, setiap dia minta pertolongan selalu membantunya. Terutama Ale dan Anton, teman kerja sekaligus main bareng.

Karena bosnya tahu kalau dia setiap berangkat ke warnet menggunakan angkutan umum. Sehingga dengan baiknya sang bos, dipinjamilah sepeda untuk digunakan kerja. Endro pun dengan senang hati menerimanya. Dengan adanya sepeda, dia akan lebih hemat ketika berangkat dan pulang kerja. Karena tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk naik busway.

Ketika diberikan kemudahan oleh bos dengan meminjaminya sepeda, tidak selamanya perjalanan kerja menjadi lancar. Dia mendapatkan musibah. Sepeda bosnya hilang dibawa orang tak bertanggung jawab ketika sedang kerja.

Padahal waktu itu sudah pagi, kurang lebih pukul 04.00. Ketika siangnya, Endro melihat rekaman CCTV, ternyata sepedanya dibawa dengan cara diangkat dan si pencuri tersebut menggunakan topi dan muka tertutup, sehinnga tak terlihat begitu jelas siapa.

Mau marah ? percuma, karena sudah hilang dan si pencuri tidak ketahuan kemana perginya. Disitulah kesabaran Endro diuji. Jika sahabat berada diposisi Endro, tentu akan merasa bingung, takut. Belum lagi ketika ditanya sepedanya kemana ?

Ketika bosnya tahu, Endro tidak dimarahi sama sekali. Karena sudah hilang mau bagaimana lagi. Endro sendiri tidak tinggal diam, dia harus mengganti sepeda yang telah hilang.

Bagaimana pun, sepeda yang bosnya pinjamkan sudah menjadi tanggung jawab Endro. Waktu itu dia sangat bingung dari mana uang untuk mengganti sepeda itu, yang dia tahu sepeda yang hilang harganya diatas 1 juta.

Endro berusaha untuk tetap berfikir positif dan percaya, bahwa Allah pasti punya rencana lain. Dengan terpaksa Endro menjual komputer kesayangan dia satu-satunya. Komputer yang sudah membantu mengerjakan tugas, membantu mencairkan pikiran ketika penat, dengan cara bermain game itu akan berpindah tangan kepada si pembeli.

Kalau saja waktu itu aku ada uang, pasti aku beli, karena komputernya bagus, dengan spek yang tinggi. Tapi sayangnya belum ada uang. Disaat itu juga dia mengiklankannnya melalui jual beli online. Setelah satu minggu, lakulah komputer kesayangnnya. Dan beruntung bagi yang membeli, aku jamin tidak akan menyesal dengan membeli komputer Endro.

* * *

Tak terasa kerja di warnet, menjadi freelance wedding organizer dan menjadi teknisi komputer jaringan sampai tahun 2014. Setelah kejadian itu, Endro dikasih tawaran untuk membantu bosnya kerja, menjadikoordinator panen ayam sekaligus ikut panen ayamnya. Namun kerjaan ini sedari pagi, kurang lebih pukul 02.00 atau 03.00 dan selesai kerja biasanya pukul 09.00. Karena pagi harinya ayamnya harus disetorkan ke pasar.

Menjadi koordinator dia lakukan lebih dari satu tahun. Hingga akhirnya pekerjaan di warnet dan menjadi teknisi dia tinggalkan. Setelah satu tahun lebih dia merasa capek, sehingga kuliah banyak yang tertinggal. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk berhenti bekerja. Dengan berat hati Endro meminta izin kepada bosnya.

Meskipun sudah berhenti, dia tetap menjadi freelance wedding organizer. Karena tidak setiap hari, dia gunakan waktu lungnya untuk istirahat sembari fokus lagi kuliah. Setelah satu bulan, dia mencari pekerjaan kembali. Kurang lebih bulan Februari 2016 dia diterima kerja di salah satu lesehan ternama di Yogyakarta. Kerjanya pun sif-sifan, terkadang siang, terkadang juga malam.

Sejak pertengahan tahun 2014 sebenarnya Endro sudah mengambil skripsi. Namun ditahun 2015 dia belum diberikan kesempatan lulus kuliah. Putus asa ? Tentu tidak, dia terus memegang apa nasehat dari yang berikan kakaknya. Dengan sabar dia terus menjalankan kuliah sembari bekerja.

Ketika dia kerja di lesehan, terkadang minta diantar aku ataupun teman kost yang lain. Kalau motor salah satu teman kost tidak digunakan Endro meminjamnya. Seringnya aku mengantarkannya dan menjemputnya hingga sampai bulan Ramadhan 2016 ini. Dia mengorbankan malam-malam istimewanya untuk shalat tarawih demi bekerja.

Memang itu resiko kerja, apalagi sehabis adzan Maghrib yang makan di lesehan dimana Endro kerja sangatlah banyak. Selain banyak, para pembeli juga tidak semuanya muslim, jadi selama aku tarawih, katanya pembeli tetap saja ada.

Aku yang antar jemput, terkadang selalu dibawakan es setiap malam ketika Endro pulang kerja. Tidak hanya itu, bahkan ceker ayam, kepala ayam dan lengkap dengan nasinya. Sepulang kerja biasanya pukul 22.00. Sampai dikost, mandi kemudian istirahat. Itulah kerja, yang dapat menguras kegiatan kita sehari-hari, apalagi selama bulan Ramadhan.

Ngomongin bulan Ramadhan, aku sendiri sempat menuliskan diary Ramadhan tahun 2016, sahabat bisa baca dibawah ini :
 

  1. Diary Ramadhan #1, Shalat Tarawih di Masjid Al-Munir
  2. Diary Ramadhan #2, Terimakasih Atas Pinjaman Payungnya Bu…
  3. Diary Ramadhan #3, Makan Sahur Oseng Kangkung ala Anak Kost
  4. Diary Ramadhan #4, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Masjid Kauman Yogyakarta, Namun Kurang Beruntung
  5. Diary Ramadhan #5, Ngopi di Lembayung
  6. Diary Ramadhan #6, Makan Sahur Terong Dicabein ala Anak Kost
  7. Diary Ramadhan #7, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Kampung Ramadhan
  8. Diary Ramadhan #8, Tidak Kebagian Takjil
  9. Diary Ramadhan #9, Teringat Ketika Membangunkan Sahur
  10. Diary Ramadhan #10, Pertama Kalinya Keluar Mencari Makan Sahur
  11. Diary Ramadhan #11, Belajar Memahami SKS, Hindari dan Jauhi
  12. Diary Ramadhan #12, Buka Puasa di Kedai Cadudu
  13. Diary Ramadhan #13, Teringat Masa Kecil Yang Menyenangkan
  14. Diary Ramadhan #14, Buka Puasa Bareng Keluarga Teknik Informatika
  15. Diary Ramadhan #15, Dua Malam Tak Sempat Tidur
  16. Diary Ramadhan #16, Ngabuburit Bareng Vebi Keliling Malioboro
  17. Diary Ramadhan #17, Tokai Bangkit
  18. Diary Ramadhan #18, Bukber Makan Bakso Jumbo
  19. Diary Ramadhan #19, Ngabuburit Sembari Menikmati Senja di Candi Ijo
  20. Diary Ramadhan #20, Alasan Mengapa Jamaah Sholat Tarawih Semakin Sedikit
  21. Diary Ramadhan #21, PPT (Para Pencari Takjil) | Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
  22. Diary Ramadhan #22, Kurangnya Persiapan Seminar KP
  23. Diary Ramadhan #23, PPT (Para Pencari Takjil) | Buka Puasa di Masjid Islamic Center Ahmad Dahlan
  24. Diary Ramadhan #24, Gagal Mudik di Akhir Bulan Juni
  25. Diary Ramadhan #25, Kado Terindah Sebelum Mudik (Bukber di Ayam Panggang Mbah Dinem-Bantul)
  26. Diary Ramadhan #26, Mudik ke Kampung Halaman
  27. Diary Ramadhan #27, Sahur Pertamaku di Puskesmas
  28. Diary Ramadhan #28, Masih Merasakan Sahur di Puskesmas
  29. Diary Ramadhan #29, Alhamdulilah Kakek Sudah Bisa Pulang ke Rumah
  30. Diary Ramadhan #30, Menikmati Malam Takbir di Rumah

Itulah diary Ramadhanku, jika sahabat menyempatkan untuk membaca, silahkan berikan komentarnya ya πŸ™‚

Ditengah kesibukan kerjanya, Endro harus tetap mencicil untuk menyusun skripsinya. Ditahun 2016 ini targetnya harus bisa lulus. Karena dia sudah duduk disemester 14. Kalau tidak lulus juga, dia bakalan di DO oleh pihak kampus.

Selain sibuk kerja dan nyusun skripsi, Endro juga biasa menulis di website newswantara.com, dan kemudian ngoding yang bisa membuat dia lupa waktu, sering juga tidak tidur sampai pagi hari.

Tidak hanya itu, Endro juga jago dalam memasak, sering sekali ketika masak di kost dia yang masak lauknya, mulai dari sambal, sayur kacang, balado terong dan masih banyak lagi yang lainnya. Sangat cocok untuk dijadikan calon suami idaman nih πŸ˜€

Di pertengahan Juni tepat ketika bulan Ramadhan, teman-teman kost sebagian sudah mudik karena libur kuliah. Aku sendiri tanggal 25 Juni baru mudik. Lebih lengkapnya bisa dilihat di diary Ramadhanku diatas.

Di kost tersisa dua orang dengan Endro. Mereka satu hari sebelum lebaran baru mudik. Aku dan teman-teman yang lain libur kuliah cukup lama hingga 3 bulan. Endro sendiri mudik hanya satu Minggu saja. Karena harus segera kembali ke Yogyakarta untuk menyelesaikan skripsinya.

Di bulan Agustus Endro sudah masuk ke tahap pendadaran. Dia sangat bersyukur karena berkat pa Edi Iskandar, ST., M.Cs, skripsinya berhasil selesai. Karena sebelumnya dia mendapatkan pembimbing yang menurut dia belum bisa mengantarkannya lulus.

Diakhir bulan Agustus aku kembali lagi ke Yogyakarta, selama libuan Idul Fitri ada beberapa kegiatan atau liburan yang aku lakukan, jika sahabat ingin tahu silahkan baca dibawah ini :


Diary Idul Fitri #1, Kupat Tahu Menjadi Menu Andalah Dihari Lebaran
Diary Idul Fitri #2, Kongkow Alumni β€œNostalgia” SD Negeri 1 Sukanagara Angkatan 2007
Diary Idul Fitri #3, Reuni Dadakan
Diary Idul Fitri #4, Liburan Ke Jembatan Mangrove dan Batu Karas

Sesampainya di Yogyakarta, di kost tepatnya. Aku senang mendengar Endro sudah beres semuanya, dibulan Oktober dia resmi  wisudah yang kedua kalinya. Sebelum wisuda Endro menyempatkan bersepda juga denganku, bukan karena memaksakan diri tapi kami memiliki hobi yang sama, yakni bersepeda.

Bisa dibaca : Menelusuri Pantai Ngunggah dengan Bersepeda

Kami memang sering sekali bersepeda ke tempat-tempat yang asri di Yogyakarta. Mulai dari yang dekat hingga yang jauh sekalipun seperti gunung kidul. Kami seringnya bersepeda ke pantai.

Bisa dibaca :

Sebetulnya masih banyak lagi, hanya saja belum kutulis di blogku ini. Di awal bulan Oktober Endro bingung karena sebentar lagi mau wisuda. Dan harus membayar biayanya diatas 1 juta. Karena dia belum bekerja lagi. Kebetulan oleh pihak pemilih lesehan, Endro dipindahkan ke cabang lain di lesehan tersebut. Karena jaraknya lebih jauh, Endro sendiri tidak mengambilnya.

Lesehan yang tutup hanya satu, yaitu lesehan dimana Endro kerja. Dicabang lain tidak, karena lesehannya banyak cabangnya, setahuku lebih dari 20 cabang. Itupun di Yogyakarta saja, tapi dikota lain aku kurang tahu. Untuk membayar uang wisuda banyak teman-temannya yang membantu terlebih dahulu. Begitulah pentingnya punya sahabat diperantauan. Ketika saling membutuhkan, bisa membantu satu sama lain.

Endro sendiri orangnya terlihat santai sekali. Ketika hari dimana dia harus pembekalan wisuda malah tidak hadir karena bangunnya telat setengah jam. Meskipun baru setengah jam, dia sendiri bukannya berbegas untuk mandi dan berangkat ke kampus. Dia memilih untuk santai karena sudah telat.

Saat tiba di hari H, dimana wisuda akan dilaksanakan, tepatnya pada tanggal 8 Oktober 2016. Dua hari sebelumnya dia merasa bingung, entah mau menghadapi wisuda atau bukan. Pernah juga pergi maen bersamaku dan mas Ale untuk ngopi di tebing breksi.

Bisa dibaca : Menikmati Secangkir Kopi di Tebing Breksi

Dipagi harinya ketika hendak berangkat wisuda, seperti biasa Endro tak pernah melupakan untuk ngopi dipagi hari. Terlihat sedikit berbeda dimatanya, karena pada malam harinya Endro tak tidur. Setelah selesai ngopi dipagi hari, Endro berangkat menjemput Ibunya ditempat kakaknya. Yang jaraknya tidak jauh dari kostnya.

Aku dan teman yang lainnya sudah bersiap-siap untuk menghadiri wisuda Endro. Sekitar pukul 10 aku dan Eko baru bisa berangkat menju UC (University Club) Universitas Gajah Mada. Disana aku bertemu dengan Sulis, Anton dan Ale.

Kami semua menunggu Endro keluar. Ketika acaranya selesai, satu demi satu peserta wisuda keluar. Namun beberapa kali peserta wisuda keluar, itu bukanlah Endro. Dengan sabar kami menunggu dia keluar. 5 menit kemudian barulah dia keluar.

Dengan sedikit bingung, dia melihat kanan, kiri, mungkin saja mencari aku dan teman-teman. Setelah mendekati, kami menyorakinya dengan nada semangat. Endro pun senyum tersipu malu. Dihari yang bahagia itu, Endro bisa merasakannya dengan orang yang paling dia sayang, yakni Ibu.

Yang sedari kecil telah merawatnya hingga saat ini. Sejauh apapun kita berada, Ibu akan tetap mendoakan anaknya. Tak lama kami semua berfoto secara bergantian.

Pertama Endro dan Ibunya yang aku foto. Karena sejak dikost dia meminta untuk aku fotokan bersama ibunya. Bunga yang dipegang Endro, sengaja kami sediakan untuk dia. Meskipun bentuknya kecil dan tidak seberapa. Tapi keikhlasanlah yang lebih besar dari bunga itu. Kemudian Ale dan Anton yang minta untuk berfoto.
Dilanjutkan dengan aku, Mugni, Eko dan Sulis yang bergantian berfoto. Menghadiri acara wisuda seperti ini memang membuatku iri dan ingin segera wisuda. Mudah-mudahan giliranku ditahun depan..aamiin.
Hampir semua fotonya, Endro tersenyum bahagia. Setelah sekian lama, kurang lebih 14 semester akhinrya Endro wisuda juga. Dengan perjalanan yang cukup panjang ini tentu banyak pelajaran dan hikmah yang didapat. Bagaimapun perjalannya tetap harus di syukuri.

Endro bertemu juga dengan Eriska, aku dan Endro kenal dia ketika mendaki bersama ke gunung prau. Ketika wisuda dengan semangatnya Endro meminta untuk difoto bersamanya. Eriska sendiri membawa teman satu pondoknya yakni Nurul. Terlihat begitu bahagianya ketika Endro bisa berfoto dengan mereka.
Setelah itu aku mengantarkan Endro untuk berfoto dengan beberapa dosen yang menurut dia berharga dalam hidupnya. Yakni pa Yuli Praptomo PHS, S.Kom., M.Cs dan bersama pimpinan kampus STMIK El Rahma yakni Bapak Eko Riswanto, ST., M.Cs.

Sebenarnya dia mencari bapak Thoha dan satu lagi pembimbing skripsinya yakni pa Edi Iskandar. Namun karene mereka tidak ada, jadi foto dengan dosen seadanya yang hadir dalam wisudanya.

Hendro Yuwono, S.Kom dan Yuli Praptomo PHS, S.Kom., M.Cs

Hendro Yuwono, S.Kom dan Eko Riswanto, ST., M.Cs

Terakhir Endro menyempatkan berfoto dengan teman-teman yang pernah mendaki bareng. Teman-teman seperjuangan, hanya beda angkatan. Senang sekali melihat hari wisuda Endro. Semoga ilmunya barokah, dan semoga doa serta cita-cita yang Endro inginkan tercapai dan dimudahkan oleh Allah Swt..aamiin..

Sahabat bisa memberikan tanggapan untuk Endro, silahkan tulisakan dalam kolom komentar dibawah ini πŸ™‚

77 Responses for Wisuda yang Tak Pernah Terlupakan, Hendro Yuwono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *